FAZER LOGINRuang kerja pribadi Sofia tampak sunyi, hanya dipecahkan oleh gesekan kertas memo dan denting halus gelang di pergelangan tangannya. Di balik meja kaca, Sofia duduk tegak seraya menandatangani beberapa dokumen rancangan deklarasi partai. Senyum percaya diri tersungging di bibirnya saat pintu kayu ruangan itu terbuka.Irawan melangkah masuk. Pria paruh baya itu tidak langsung menyapa. Langkah kakinya gontai, jas abu-abunya tampak sedikit kusut, dan wajahnya keruh bagai air selokan setelah hujan lebat.Sofia meletakkan pulpennya ke atas meja, tersenyum ramah menyambut kedatangan sang pimpinan partai. "Pak Irawan. Tepat waktu sekali. Saya baru saja selesai memeriksa draf pidato untuk musyawarah nasional minggu depan. Susunan panitia juga sudah beres—""Tahan dulu draf itu, Sofia," potong Irawan pelan, suaranya berat dan nyaris tanpa tenaga.Sofia menghentikan gerakannya. Dahinya berkerut halus. Ia mengamati pria di depannya yang menarik kursi di hadapannya tanpa izin seperti biasanya, la
Rendra melipat kedua tangannya di atas permukaan meja. Sorot matanya menembus tepat ke manik mata Irawan yang semakin gelisah.Irawan menarik napas pendek yang terdengar berat. Jemarinya merapikan jasnya yang kusut, lalu perlahan bangkit berdiri seraya menundukkan kepala dengan takzim."Saya mengerti poin Anda, Pak Presiden.""Keputusan bijak selalu menyelamatkan kapal yang sedang berlayar di tengah badai, Pak Irawan," sahut Rendra datar tanpa senyum sedikit pun.Irawan pamit undur diri dengan langkah kaku. Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat di belakang pria itu, Evan melangkah masuk tanpa suara dari pintu samping, membawa tablet kerja dan berkas harian."Pak," panggil Evan dengan nada hormat. "Apa anda ingin langsung menuju agenda berikutnya, atau …. “Rendra bangkit dari kursinya, membetulkan kancing jasnya yang terbuka. "Aku mau menemui Sera dulu.”Evan kemudian mengangguk, memersilahkan Rendra untuk menemui Sera lebih dulu.Langkah Rendra membawanya menyusuri selasar menuju l
Keheningan menyelimuti kamar tidur utama istana malam itu. Kebaya wisuda dan jubah toga sudah tergantung rapi di dalam lemari. Sera duduk di tepi ranjang, mengenakan piyama katun santai, membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas setelah seharian disanggul kencang.Rendra yang baru kembali dari ruang kerjanya melangkah masuk, hanya mengenakan kaus polos dan celana panjang rumah. Raut wajahnya yang seharian tampak tegas di depan kamera dan publik kini mengendur sepenuhnya, digantikan ekspresi santai yang hanya ia tunjukkan di dalam ruangan ini.Rendra berjalan mendekat, lalu duduk tepat di samping Sera di tepi ranjang. Ia mengulurkan tangan, merapikan beberapa helai rambut Sera yang jatuh menutupi pipi."Pusing kepalamu sudah hilang?" tanya Rendra pelan, suaranya terdengar lembut memecah keheningan kamar.Sera tersenyum tipis seraya menoleh, menyandarkan pipinya pada telapak tangan Rendra yang hangat. "Sudah jauh lebih baik setelah sanggulnya dilepas, Mas. Seharian tadi rasanya berat
Sera menoleh sekilas, Karina tampak berpura-pura sibuk membolak-balik buku panduan wisuda di pangkuannya tanpa berani mengangkat wajah.Prosesi pemanggilan wisudawan berikutnya kembali dilanjutkan oleh pembawa acara. Satu per satu lulusan dipanggil ke atas panggung untuk menerima map ijazah dari dekan. Tepuk tangan terus bergema secara berkala di aula besar itu, namun perhatian seisi gedung auditorium jelas sudah terbelah ke arah pria yang kini duduk tegak di barisan depan bersama para tamu kehormatan.Sekitar tiga puluh menit kemudian, sesi pengalungan medali dan penyerahan ijazah untuk seluruh wisudawan selesai dilaksanakan. Musik pengiring perlahan mereda, digantikan suara pembawa acara dari pengeras suara utama."Hadirin yang kami hormati, sebuah kehormatan luar biasa bagi Universitas pada pagi hari ini. Di tengah-tengah kita telah hadir Presiden Iraya, Bapak Dharendra Narrottama.. Untuk itu, dengan segala hormat kami mengundang Bapak Presiden untuk naik ke atas mimbar guna member
Gemuruh tepuk tangan riuh memenuhi seisi ruangan ketika nama Sera disebut. Sera menarik napas dalam, membetulkan letak selempang di pundaknya, lalu melangkah keluar dari barisan menuju anak tangga panggung utama. Setiap langkahnya terasa mantap, meski di sudut hatinya terselip sedikit ruang kosong karena tahu kursi pendamping di deretan VIP hanya diisi oleh kedua orang tuanya.Namun, tepat saat Sera berdiri di hadapan Dekan Fakultas Kedokteran untuk menerima medali kelulusan, pintu besar di sayap barat panggung tiba-tiba terbuka perlahan.Suasana di area panggung mendadak terasa berbeda. Beberapa petugas protokoler universitas tampak membungkuk hormat ke arah pintu tersebut. Derap langkah kaki yang teratur dan tegas terdengar mendekat dari balik tirai beludru merah.Seorang pria berperawakan tegap dengan setelan jas resmi berwarna abu-abu gelap melangkah masuk ke area panggung. Di balik jasnya, dasi berwarna krem keemasan—warna yang persis senada dengan kebaya yang Sera kenakan—terpas
Rendra mengamati ketulusan di wajah sang istri. Dalam hati, pria itu tersenyum geli sekaligus tak sabar melihat bagaimana reaksi wanita ini beberapa jam lagi. Rendra mencondongkan tubuhnya ke depan, mengecup kening Sera dengan lembut dan lama."Semoga prosesi wisudamu berjalan lancar hari ini," bisik Rendra tepat di pelipis Sera. "Tunjukkan senyum terbaikmu di atas panggung nanti. Aku akan selalu mendoakanmu dari jauh.""Pasti, Mas. Hati-hati di perjalanan dinasnya ya," balas Sera seraya meraih tangan kanan Rendra, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.Rendra bangkit berdiri, meraih jas luarnya, lalu menarik tuas koper dinasnya. Pria itu sempat menoleh sekali lagi di ambang pintu, melemparkan tatapan teduh seraya melambaikan tangannya sebelum menghilang di balik pintu kamar yang tertutup rapat.Sepeninggal suaminya, Sera menghela napas panjang seraya bangkit dari ranjang. Ia menepuk kedua pipinya perlahan di depan cermin. "Ayo Sera, hari ini harimu. Tidak boleh bersedih







