Se connecterErika dan Deo melangkah cepat membelah keremangan taman, mempercepat ayunan tungkai mereka ke arah bangku di bawah pohon rindang. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Erika langsung menghambur ke depan dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Arkan, memeluk anak laki-laki itu dari samping.Arkan tersentak kaku, nyaris berseru heran, namun bisikan cepat Erika di samping telinganya seketika menahan suaranya di tenggorokan."Diam dan jangan bergerak aneh. Ada orang di ujung jalan yang sedang memata-matai kalian berdua."Ratu yang sempat melotot kaget melihat seorang wanita tiba-tiba muncul dan merengkuh Arkan begitu saja, baru hendak membuka mulut untuk memprotes. Namun, Deo sudah lebih dulu berdiri tegap sedikit membelakangi arah mobil penguntit, bersedekap seraya menundukkan pandangan ke arah sepatunya sendiri. Pria itu berbicara dengan bibir yang nyaris tak bergerak, bergaya seolah-olah ia tidak sedang berkomunikasi langsung dengan adik presidennya."Nona, ada seseorang di dalam mobil s
Sementara itu di sebuah taman kota yang temaram, Erika dan Deo duduk berdampingan di atas bangku kayu panjang. Embusan angin malam terasa cukup dingin, namun Erika tampak gelisah seraya meremas kedua tangannya di atas pangkuan.Erika menoleh ke samping, menatap profil wajah Deo yang tenang. "Deo, sebenarnya ada hal penting yang harus kukatakan padamu," buka Erika dengan suara tertahan.Deo menoleh pelan, menatap kekasihnya dengan kening terangkat sedikit. "Ada apa, Erika?"Erika menarik napas dalam-dalam sebelum berucap jujur, "Anak Pak Wapres berniat melamarku ke Papa."Deo tidak langsung bersuara. Pria itu hanya terpaku menatap wajah Erika yang tampak cemas."Tapi tenang saja, Deo," lanjut Erika cepat-cepat seraya memegang lengan jaket Deo. "Besok aku akan jujur ke Papa. Aku akan bilang kalau aku menolak lamaran itu karena aku sedang menjalin hubungan denganmu."Alih-alih merespons lega, Deo justru mengunci mulutnya rapat-rapat. Pria itu menurunkan pandangannya ke arah tanah berbatu
Sera menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa, jemarinya bertaut di atas pangkuan. "Itulah, Mas. Tadi aku sudah meminta Erika untuk jujur saja ke papanya kalau selama ini dia dan Deo memang sedang menjalin hubungan."Rendra menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya kasar lewat mulut. Tangannya yang semula bersedekap kini terlipat di atas lutut seraya menatap lurus ke depan."Sepertinya ada dua hubungan yang harus kita bantu selesaikan sekarang."Kening Sera berkerut dalam mendengar ucapan itu. Ia menoleh cepat menatap suaminya, menyuarakan rasa bingung yang langsung memenuhi kepalanya. "Selesaikan bagaimana maksud Mas Rendra?"Rendra menolehkan kepalanya perlahan, membalas tatapan Sera dengan sorot mata yang tenang. "Setidaknya membuat hubungan-hubungan itu menjadi terang di hadapan keluarga. Pertama masalah Ratu dan Arkan, lalu sekarang masalah Erika dan Deo."Mata Sera membulat sedikit, ia menggeleng pelan tanda enggan. "Tapi aku tidak mau ikut campur, Mas. Aku takut."Rendra mena
Evan membetulkan posisi duduknya, sedikit menoleh ke belakang seraya menjawab dengan sopan, "Nona Sera meminta izin pergi ke kediaman Nona Erika, Pak."Kening Rendra seketika berkerut dalam. Tatapannya menuntut penjelasan lebih. "Ke rumah Erika? Kenapa tiba-tiba sekali ke sana? Apa terjadi suatu masalah?"Evan mengangguk singkat. "Benar, Pak. Tampaknya ada urusan mendesak yang terjadi pada Nona Erika."Beberapa jam sebelumnya.Langkah kaki Sera dan Erika beriringan menyusuri lorong dingin dari arah ruang UGD menuju ruang koas. Suasana koridor cukup lengang, hanya terdengar derit roda brankar yang didorong perawat di kejauhan.Sera menoleh ke samping, memperhatikan Erika yang sejak tadi berjalan lesu dengan tatapan tertunduk ke lantai. Merasa tak tega melihat pundak sahabatnya yang merosot, Sera menyenggol pelan lengan Erika dengan sikunya."Kamu masih terus memikirkan soal rencana lamaran dari anak Pak Wapres?" tanya Sera hati-hati seraya memiringkan wajahnya, mencoba menatap manik ma
Ratu membuang napasnya dengan kasar seraya menyambar kembali gelas kristal di mejanya. Ia menenggak air putih itu hingga tandas tak bersisa, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan mantap."Karena kalau sampai ada yang tahu, pasti pikiran mereka akan persis sama seperti pikiran Mas Rendra sekarang," sahut Ratu ketus seraya melipat tangannya di dada. Matanya menatap sang kakak tanpa gentar. "Paling-paling ujungnya kami akan ditekan dan dipaksa untuk berpisah. Padahal kami ini baru saja berpacaran, belum melangkah ke tahap yang serius sama sekali. Biarkan sajalah kami menjalaninya dulu, nanti lama-lama kalau memang tidak cocok juga kami akan berpisah sendiri."Rendra menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, raut wajahnya tampak jelas tak habis pikir mendengar penuturan enteng dari mulut adiknya itu."Lihat saja sendiri ucapanmu itu," timpal Rendra tajam, tatapannya menghunus tepat ke manik mata Ratu. "Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan barusan? Kamu bar
Siang harinya, di balik pintu kayu berukir sebuah ruang VIP restoran ternama, suasana begitu sepi dan dingin.Rendra duduk tegak di salah satu sisi meja panjang berlapis kain putih bersih. Di hadapannya, Ratu duduk seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan kening berkerut heran.Gadis itu menatap kakaknya lekat-lekat, lalu meletakkan serbet kain di pangkuannya. "Kenapa Mas tiba-tiba mengajak aku makan siang di tempat seperti ini? Bukankah jadwal Mas biasanya sangat padat dan sibuk?"Rendra tidak langsung menyahut. Ia hanya menatap adiknya sekilas tanpa ekspresi berarti.Melihat kakaknya bergeming, Ratu mendengus geli lalu kembali mencecar. "Kemarin juga kita baru saja bertemu di mansion, jadi mana mungkin Mas Rendra kangen sama aku sampai harus mengajak makan berdua begini. Hari ini aku juga tidak sedang ulang tahun, jadi mana mungkin Mas mentraktirku tanpa alasan yang jelas."Rendra mengulurkan tangannya, meraih gelas kristal berisi air putih di samping piringnya. Pria i







