Share

6. Ibu Negara Iraya

last update Last Updated: 2026-01-29 21:42:12
Hening yang mencekam seketika menyapu seluruh ballroom.

Rendra masih tak melepas dekapannya, justru menarik Sera semakin merapat ke dadanya. Tangan kanannya yang kekar melingkar protektif di pinggang Sera, sementara tangan kirinya perlahan merapikan helaian rambut Sera yang berantakan dengan gerakan yang sangat lembut.

Sera membeku menerima perlakuan seperti ini dari Rendra.

"P-Pak Rendra?" suara pemilik hotel bergetar hebat.

"Maaf, kami... kami ... ah saya tidak tahu kalau Nona ini. Mak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (17)
goodnovel comment avatar
Sari 💚
Tetap saja akan ada yang mencibir dan mengorek latar belakang Sera. Moga saja Sera pelan² bisa memiliki mental kuat nantinya
goodnovel comment avatar
Sri Hardyanti
aduhhhh iklan untuk buka kunci nya sangat lama
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
Smoga aj Rendra bsa jwb prnytaan dr wrtwan dgn baik y jd g bkin Sera sdih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   87. Kartu Sakti

    Langkah kaki Sera terasa ringan saat menyusuri trotoar menuju kompleks Rumah Sakit Narita kembali. Di sampingnya, Erika berjalan dengan langkah berirama, sementara Lana dan Deo mengekor beberapa langkah di belakang. Aroma kopi yang kuat menguar dari empat cup di tangan mereka. Erika menyesap latte-nya, memejamkan mata sejenak seolah sedang menikmati sesuatu yang luar biasa. "Ser!" panggil Erika tiba-tiba, suaranya naik satu nada karena antusias. "Apa karena kopi ini dibayar menggunakan black card, jadi rasanya jauh lebih enak dan mewah begini? Serius, ini latte terenak yang pernah aku minum." Sera mengernyitkan dahi, menatap cup kopinya sendiri dengan bingung. "Maksudmu apa?" Melihat ekspresi polos Sera, Erika hampir tersedak. Ia menghentikan langkah, membuat Lana dan Deo yang sedang asyik mengobrol di belakang hampir menabrak mereka. Erika menatap Sera seolah-olah sahabatnya itu baru saja mengatakan bahwa bumi itu kotak. "Sera, kamu ini benar-benar ya," Erika menggelengkan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   86. Notifikasi Kartu

    Rendra hanya diam mendengar penuturan Evan. Perlahan, ia menutup dokumen di tangannya lalu menoleh, melempar pandangannya ke luar jendela mobil yang dilapisi kaca antipeluru. Di luar sana, deretan gedung pencakar langit Jayakarta tampak berkelebat, namun fokus Rendra jauh melampaui itu. Sementara itu, Evan yang duduk di kursi depan tiba-tiba memikirkan kembali apa yang pernah Rendra ucapkan dulu. Atasannya itu pernah berkata politik memang kejam. Sejak awal, Rendra sudah tahu bahwa kursi nomor satu Iraya tidak datang hanya dengan kekuasaan, melainkan juga dengan kesepian. Setiap kedekatan Rendra dengan orang tertentu bisa menjadi bumerang yang mendatangkan curiga bagi lawan-lawannya. Maka dari itu, Evan merasa wajar jika Rendra menetapkan batas yang sangat kaku, karena setiap cangkir teh yang diminum bersama bisa diartikan sebagai konspirasi. *** Rumah Sakit Narita Sera yang baru tiba tampak melangkah memasuki ruang koas dengan jas putih yang tersampir di bahunya. Langkahny

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   85. Kejanggalan Bencana

    Mata Rendra menyipit tajam, menatap nanar layar ponsel yang memancarkan cahaya di kamar yang temaram. Jemarinya bergerak lincah, membuka lampiran dokumen yang dikirimkan Evan melalui email pribadinya. Ia mengabaikan denyut halus di pelipisnya dan rasa lelah yang mulai menggerogoti tubuh. Apa yang tertulis di dalam baris-baris laporan itu bukan sekadar rangkuman teknis pasca-bencana biasa. Deretan angka, grafik, dan catatan lapangan itu menyiratkan sesuatu yang jauh lebih gelap, indikasi kelalaian dan potensi penyelewengan yang jejaknya mengarah pada nama-nama besar. Punggung Rendra menegak, fokusnya tercurah sepenuhnya pada data sensitif itu. KLEK Suara gagang pintu yang diputar pelan membuat Rendra tersentak halus. Ia reflek mematikan layar ponselnya, menyembunyikan cahaya terang itu, lalu menoleh ke arah pintu. Sera melangkah masuk dengan ragu, separuh tubuhnya masih tertahan di ambang pintu, matanya yang sembab menatap Rendra dengan canggung. "Tuan Rendra..." Sera berbi

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   84. Tak Sekeras Itu

    Sera terpaku di tempatnya berdiri, kedua tangannya meremas ujung baju yang dikenakannya. Kalimat Rendra barusan merayap masuk ke dalam relung hatinya. Sera masih terdiam, sampai suara berat Rendra kembali memecah keheningan yang canggung itu. "Kamu nikmati saja waktumu bersama keluargamu," ucap Rendra sambil melonggarkan sedikit simpul dasinya, gestur yang menunjukkan dia benar-benar ingin melepas penat. "Aku mau istirahat dulu." Sera tersadar dari lamunannya dan mengangguk pelan. "I-iya, Mas. Terima kasih." Angga yang berdiri di samping mereka segera menangkap sinyal itu. Ia menoleh ke arah sofa, tempat kedua anaknya yang lain masih duduk mengawasi. "Ara, tolong antar Tuan Rendra ke kamar atas." Ara tersentak kecil, lalu bergegas berdiri. Gadis itu merapikan bajunya yang sedikit kusut sebelum berjalan mendekat dengan langkah sopan. "Mari, Tuan! Saya antar ke kamar," ucapnya sedikit gugup. Rendra hanya mengangguk singkat, mengikuti langkah kecil Ara menuju tangga yang terletak d

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   83. Adik Ipar

    Udara mendadak dingin, bukan karena embusan angin, melainkan karena kalimat tajam yang meluncur dari bibir Arkan. Pemuda itu berdiri tegap, menatap lurus ke arah Rendra dengan sorot mata menuntut. Keheningan yang mencekam jatuh seketika. Angga dan Siwi terpaku, napas mereka seolah tertahan di tenggorokan. Sera pun tersentak. Ia melepaskan pelukannya dari Siwi, bahunya masih terguncang kecil, namun matanya yang sembab kini membulat sempurna ke arah adiknya. Isakannya terhenti paksa oleh rasa terkejut yang menjalar hingga ke ujung jari. Sera melihat Rendra hanya diam. Pria itu tidak membalas dengan kemarahan, justru hanya menyipitkan mata, menatap Arkan dengan tatapan yang sulit diartikan, dingin namun penuh selidik. Sudut bibir Rendra tertarik, membentuk senyum tipis yang sarat akan sarkasme namun tetap terlihat berwibawa. "Adik ipar," suara Rendra rendah, bergema di antara mereka dengan nada yang tenang namun menusuk. "Sepertinya kamu begitu sayang dan jauh lebih mengerti kakak

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   82. Seperti Obat Penenang

    Sera menoleh cepat ke arah Rendra, mengabaikan sisa air mata yang masih menggantung di bulu matanya. Bibirnya sedikit mengerucut, membentuk gurat cemberut yang samar namun nampak menggemaskan di bawah pendar lampu jalan yang masuk ke kabin mobil. "Padahal saya sudah sembunyi-sembunyi sekali. Saya cari sudut paling gelap supaya tidak ada yang melihat," gumam Sera dengan nada sedikit tidak terima. "Tapi tetap saja Anda tahu semuanya." Rendra tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan. Tangannya dengan lihai memutar kemudi saat mobil melewati tikungan besar. Sera mengusap matanya lagi dengan gerakan kasar, lalu membuang napas panjang seolah ingin melepaskan beban yang menyesakkan dadanya. "Kalau tidak di dekat gudang, kamu menangis di bawah anak tangga menuju rooftop mansion," sahut Rendra pelan, suaranya memecah keheningan yang mulai terasa hangat. "Waktu itu, kamu benar-benar membuatku berpikir kalau mansion keluargaku be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status