Share

7. Tumbal

Penulis: Adinasya Mahila
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 21:42:12

"Membalas budi tidak harus dengan menjual hidupku, Yah!" potong Sera dengan suara bergetar. Ia menyambar tasnya, mengabaikan panggilan ayahnya, dan melangkah lebar keluar dari paviliun.

Kepalanya berdenyut. Logikanya menolak keras, namun hatinya dipenuhi kegelisahan yang membuncah.

Alih-alih menuju gerbang luar untuk berjalan ke halte terdekat menuju rumah sakit, langkah Sera justru membawanya ke mansion utama.

Ia harus mendengar langsung penjelasan atas apa yang ia dengar dari sang ayah.

Namun, baru saja kakinya menginjak teras mansion Narrottama, sosok Sintia Narrottama sudah berdiri di sana, seolah memang sedang menunggu mangsa.

"Mau mencari Rendra?" tanya Sintia dingin. Matanya menyapu penampilan Sera dari ujung rambut hingga sepatu kets yang digunakan gadis itu.

Tatapan Sintia penuh penghinaan, seolah Sera adalah noda di lantai mengkilap mansionnya.

"Benar, saya ingin bicara dengan Tuan Rendra, Nyonya," jawab Sera, mencoba menegakkan bahu meski tangannya dingin.

Sintia melangkah mendekat, aroma parfum mahalnya yang menyengat seakan mencekik Sera. "Jangan bermimpi terlalu tinggi! Kamu pikir karena Eyang Utari memilihmu, maka kamu akan mendapatkan restu dariku?"

Sintia tertawa hambar. "Dengarkan baik-baik. Jika pernikahan ini benar-benar terjadi, itu bukan karena Rendra mencintaimu. Kamu hanyalah alat untuk menenangkan rakyat yang bodoh. Kamu hanyalah tumbal untuk sebuah mitos."

Sera terdiam, namun matanya tetap menatap tajam.

"Kamu itu tidak pantas." Sintia berbisik tepat di telinga Sera. "Lihat dirimu. Kamu hanya anak seorang sopir yang kebetulan bisa sekolah karena belas kasihan suamiku. Kamu tidak punya kelas, tidak punya koneksi, dan tidak akan pernah bisa mengimbangi dunia Rendra. Kamu akan dibuang saat kegilaan rakyat Iraya mereda."

"Kalau begitu, kenapa Nyonya tidak melarang putra Nyonya?" tantang Sera berani.

Wajah Sintia mengeras, kilat amarah muncul di matanya karena merasa harga dirinya diusik oleh seorang gadis yang ia nilai rendahan.

"Aku akan melakukannya. Tapi sebelum itu, pastikan kamu tahu diri. Jangan sampai kamu merasa besar kepala hanya karena Rendra sedang terdesak."

"Saya tahu posisi saya, Nyonya," ucap Sera tenang namun tegas. "Saya ingin bicara dengan Tuan Rendra untuk menolak pernikahan ini."

"Tidak usah sok polos, kamu .... "

Sintia hendak mengucapkan kalimat jahat lagi ke Sera, akan tetapi Evan yang baru saja datang sudah lebih dulu mendekat.

"Apa kamu sudah memberikan suntikan antibiotik ke Pak presiden?" tanya Evan tanpa basa-basi.

Sera menundukkan kepala memberi salam pada Evan, sebelum menjawab," Belum."

"Apa kamu membawa obat itu? Aku antar temui pak Presiden."

Sera langsung mengangguk mengiyakan dan menerima tawaran Evan. Ia tahu kalau Sintia tidak akan mungkin mencacinya di depan orang kepercayaan Rendra.

Sera menunduk pamit ke Sintia lalu mengekor Evan masuk ke mansion.

Langkah Sera terasa berat mengikuti Evan menyusuri koridor mansion. Ia menunduk merasakan sakit di dada mengingat ucapan Sintia.

Sera ingin jujur pada Evan bahwa ia tidak membawa obat untuk Rendra, dan itu hanya alasan agar bisa menghindari Sintia.

Namun, di tengah perjalanan menuju sayap bangunan tempat kamar dan ruang kerja Rendra berada, langkah Sera mendadak terhenti melihat Eyang Utari.

Sera menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

"Pak Evan, boleh saya minta waktu sebentar? Saya ingin bicara berdua dengan Nyonya besar," pinta Sera pelan.

Evan melirik jam tangannya, lalu menatap Sera sejenak. Tanpa banyak tanya, pria itu mengangguk. "Lima menit saja. Aku tunggu di depan ruang kerja Pak Rendra!"

Setelah Evan menjauh, Sera melangkah mendekati wanita tua — yang Sintia sebut mendukung pernikahan antara Rendra dan dirinya itu.

Eyang Utari tersenyum hangat melihat Sera.

"Nyonya besar, apa Anda yang melakukan semua ini?"

Eyang Utari menatap heran pada Sera.

"Apa maksudmu?"

"Pernikahan," ucap Sera. "Saya tidak mungkin menikah dengan Tuan Rendra, saya tidak bisa."

Eyang Utari berjalan lebih dekat ke Sera lalu sebelah tangannya meraih tangan Sera.

"Bagaimana bisa kamu berpikir aku yang melakukan ini? Tidakkah kamu berpikir kalau Rendra yang memilihmu sendiri?"

Sera terdiam. Banyak pertanyaan yang kini mengisi kepalanya.

'Kenapa dia bisa begitu jahat padaku? Kenapa aku yang harus menjadi tumbalnya?'

Tepukan lembut di lengannya dari Eyang Utari menarik kembali kesadaran Sera.

“Nyonya tapi …. “

Sera bingung harus berkata apa. Mungkinkah ia memang harus membalas budi? Terlalu banyak kebaikan yang ia dan keluarganya terima dari keluarga Narrottama, tapi ia juga ingin tahu kenapa harus dirinya yang dipilih menjadi istri Rendra.

Sera akhirnya memilih pergi dari sana dan urung menemui Rendra.

Ia berjalan keluar menuju halte, langkahnya begitu berat seolah seluruh beban kini berada di pundaknya.

Sementara itu, Evan yang ada di depan pintu ruang kerja Rendra melihat kembali jam di pergelangan tangannya. Ia heran karena Sera belum juga muncul, bahkan sampai Rendra membuka pintu.

“Ada apa? Kenapa wajahmu tegang begitu?”

“Tadi Sera ke sini, saya pikir akan memberikan obat pada Anda, saya bilang lima menit, tapi dia belum muncul juga,” ucap Evan memberi penjelasan. “Dia tadi berbicara dengan Nyonya besar.”

Rendra mengangguk pelan, kemudian berjalan mendahului Evan seolah informasi yang ajudannya sampaikan tidak begitu penting.

“Aku akan menikah.”

Ucapan Rendra membuat Evan kaget dan langsung menghentikan langkah.

“Apa Anda sudah menemukan wanita yang tepat? Kapan Anda akan menikah?” tanya Evan penasaran.

“Hari ini panggil kandidat menteri agama Iraya yang sudah aku pilih, tugas pertamanya adalah mengurus pernikahanku," ucap Rendra tanpa ragu.

“Lalu siapa wanitanya, Pak? Kenapa Anda tidak menjawab saya.” Evan mulai frustrasi sampai mengejar langkah Rendra.

“Wanita itu pasti belum pergi jauh, dia mungkin bukan ingin memberi obat, tapi ingin bicara padaku.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Sai
baru juga mulai udah dibikin sakit hati na
goodnovel comment avatar
Christina Galingging
Ditunggu lanjutannya ya Na...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   7. Tumbal

    "Membalas budi tidak harus dengan menjual hidupku, Yah!" potong Sera dengan suara bergetar. Ia menyambar tasnya, mengabaikan panggilan ayahnya, dan melangkah lebar keluar dari paviliun. Kepalanya berdenyut. Logikanya menolak keras, namun hatinya dipenuhi kegelisahan yang membuncah. Alih-alih menuju gerbang luar untuk berjalan ke halte terdekat menuju rumah sakit, langkah Sera justru membawanya ke mansion utama. Ia harus mendengar langsung penjelasan atas apa yang ia dengar dari sang ayah. Namun, baru saja kakinya menginjak teras mansion Narrottama, sosok Sintia Narrottama sudah berdiri di sana, seolah memang sedang menunggu mangsa. "Mau mencari Rendra?" tanya Sintia dingin. Matanya menyapu penampilan Sera dari ujung rambut hingga sepatu kets yang digunakan gadis itu. Tatapan Sintia penuh penghinaan, seolah Sera adalah noda di lantai mengkilap mansionnya. "Benar, saya ingin bicara dengan Tuan Rendra, Nyonya," jawab Sera, mencoba menegakkan bahu meski tangannya dingin.

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   6. Balas Budi

    Rendra memulas senyum tipis. “Yang pasti aku harus menikah dengan wanita yang tidak memiliki tujuan apapun dari pernikahan ini,” jawab Rendra dingin tanpa menoleh pada ibunya. Sintia semakin heran, keningnya berkerut samar. “Aku tidak ingin pernikahan ini dimanfaatkan untuk kepentingan lain.” “Tetap saja kamu butuh dukungan agar bisa terus bertahan di posisimu ini.” Sintia mendekat ke Rendra, memegang lengan putranya itu. “Mama masih yakin, kalau ada yang mengincar keselamatan nyawamu.” Rendra hanya diam menatap dalam wajah wanita yang melahirkannya itu. Sintia melepaskan pegangannya, napasnya mulai tidak teratur. "Lalu siapa? Siapa wanita yang menurutmu pantas menjadi pendampingmu?" Rendra menatap langsung ke mata ibunya. "Sera." Sintia terperangah, butuh beberapa detik baginya untuk memproses nama itu. Saat ingatan tentang putri sopir mereka muncul, wajahnya memucat karena emosi. "Sera? Anak Angga si sopir itu?!" Suara Sintia meninggi."Apa kamu sudah kehilangan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   5. Wanita Pilihan

    Rendra berpaling tanpa menunggu jawaban dari ibu dan neneknya. Saat menoleh tatapannya bertemu dengan Sera.Namun, gadis itu langsung menundukkan kepala.Selepas Rendra pergi, Sintia tampak memukul meja pajangan yang ada di dekatnya.Sintia membuang muka saat Eyang Utari menatap sengit padanya. ‘Wanita tua pikun ini, bisa-bisanya ingin ikut campur urusan pernikahan Rendra.’Tak lama Sera mendekat, memberanikan diri bicara ke Sintia.“Nyonya, jika tidak ada yang ingin dibicarakan saya pamit untuk kembali ke belakang,” ucapnya sopan.“Tunggu! Kamu harus memberitahu kondisi Rendra.” Sintia melirik pada Eyang Utari.Sera mengangguk, kemudian berjalan mendekat agar suaranya bisa terdengar jelas."Tuan Rendra mengalami luka robek yang cukup dalam di bahu kirinya. Luka itu sudah ditangani dengan tindakan penjahitan untuk menghentikan perdarahan dan merapatkan jaringan kulit yang terbuka."Sera menjeda lisan sejenak, melirik ekspresi Sintia yang masih tampak kesal."Meskipun luka sudah dijahi

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   4. Desakan Untuk Menikah

    Sera menoleh, memandang sosok yang berdiri di ambang pintu dapur.Sintia NarrottamaIbu kandung Rendra itu berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi, meskipun gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.Sera segera mengeringkan tangannya pada celemek dan membungkuk dalam, tubuhnya sedikit gemetar."Nyonya," sapa Sera dengan suara bergetar."Jawab pertanyaanku, Sera. Evan memberitahuku kamu yang menangani luka Rendra di rumah sakit tadi, tapi setelah itu Evan tidak bisa dihubungi, begitu juga dengan putraku," cecar Sintia sembari melangkah maju. "Bagaimana kondisi Rendra? Seberapa parah lukanya?"Sera menunduk, mengatur napas agar suaranya terdengar meyakinkan. "Tuan Rendra mengalami luka robek di bahu kirinya, Nyonya. Tapi kondisinya stabil."Ketegangan di bahu Sintia sedikit mengendur, tapi sedetik kemudian matanya menyipit tajam. Ia menatap Sera dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina."Tunggu dulu," suara Sintia mendadak dingin. "Bukankah kamu ma

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   3. Tidak Boleh Bocor

    Sera hanya terdiam sampai Rendra bertanya untuk yang ke dua kali.“Apa kamu bisa melakukannya?”"Baik, saya akan melakukannya. Jika ada yang bertanya saya akan sampaikan kalau Anda baik-baik saja.”Rendra menatap Sera sejenak, ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi ia tahan.Jadi, yang ia lakukan adalah memberi isyarat pada Evan untuk membukakan pintu.Dengan langkah tegap yang dipaksakan, ia berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Sera.Sera berdiri membeku di tengah ruangan yang kini terasa hampa. Aroma parfum maskulin Rendra yang bercampur dengan bau antiseptik masih tertinggal di udara.Sera segera melangkah menuju ruang konsul Dokter Hans, dokter senior yang tadi memberikan instruksi awal. Ia bermaksud melaporkan bahwa Rendra pergi sebelum waktu observasi selesai."Dokter Hans," panggil Sera saat memasuki ruangan. "Pak Presiden, dia memaksa pulang. Luka jahitannya masih sangat baru dan dia belum menerima dosis antibiotik pertamanya. Saya mencoba menahan, tapi …"Dokter Hans

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   2. Majikan dan Pelayan

    Sera tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu meletakkan nampan besi yang dipegangnya ke troli medis sebelum menoleh pada Rendra."Tuan Rendra," suara Sera mengalun tenang, ia kembali menggunakan panggilan yang biasa ia gunakan untuk menyapa Rendra."Secara logika, tiang itu jatuh karena korosi atau struktur yang tidak stabil. Logika saya mengatakan itu murni kecelakaan konstruksi."Sera menatap lekat Rendra yang hanya diam."Tapi di Iraya, logika seringkali kalah oleh rasa. Rakyat tidak butuh penjelasan teknis tentang baut yang longgar atau besi yang sudah usang. Mereka hanya butuh ketenangan batin. Bagi rakyat Iraya, pemimpin adalah atap. Jika atapnya rusak, mereka merasa air hujan akan masuk ke rumah mereka.” Hening untuk beberapa waktu, sebelum Sera kembali melanjutkan, “Jadi, jika Anda tanya apakah saya percaya mitos itu? Saya lebih percaya bahwa ketakutan jutaan rakyat bisa menjadi kenyataan yang lebih berbahaya daripada mitos itu sendiri."Rendra tertegun. Jawaban itu jauh lebih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status