เข้าสู่ระบบKarina merupakan putri dari salah satu politisi Iraya sekaligus donatur terbesar di universitas mereka. Gadis itu selalu memandang rendah setiap mahasiswa di fakultas kedokteran yang ia anggap tak setara.
Di kalangan mahasiswa kedokteren Universitas Jayakarta, identitas Sera bukanlah rahasia lagi. Semua orang tahu bahwa Sera hanyalah putri seorang sopir yang bekerja pada keluarga Narrottama. Namun, kepintaran Sera membuat ia bisa mendapat beasiswa dari salah satu yayasan yang dimiliki keluarga Narrottama. “Aku tidak salah lihat, ‘kan? Kamu benar Aluna Sera, si anak beasiswa?” Karina bertanya dengan nada menghina, matanya memperhatikan pakaian mahal yang melekat di tubuh Sera. "Dilihat-lihat baju yang kamu pakai bagus sekali. Jangan-jangan kamu punya pekerjaan sampingan menjadi sugar baby!" Tawa teman-temannya yang lain pecah seketika, membuat Sera hanya bisa terdiam menahan diri. "Lagipula, hebat sekali ya taktik keluargamu." Karina melangkah maju, menatap Sera dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "Ayahmu jadi sopir setia, lalu memohon-mohon pada keluarga Narrottama supaya anaknya bisa mendapat beasiswa agar masuk fakultas kedokteran Universitas Jayakarta.” Ujung jari Karina mendorong bahu Sera. “Kamu itu cuma proyek amal yayasan mereka supaya mereka kelihatan dermawan di mata publik. Jangan sampai karena bajumu yang bagus ini, kamu jadi lupa diri. Bajumu tidak bisa menutupi bau jok mobil yang setiap hari ayahmu bersihkan dari tubuhmu ini." "Karina, cukup," bisik Sera tegas. Sera bisa terima jika dirinya yang dihina, tapi ia tidak akan tinggal diam jika itu menyangkut ayahnya. Namun, Sera masih akan menahan diri. Dengan statusnya sekarang, Sera harus lebih berhati-hati. Akan tetapi, ketegasan Sera justru memancing tawa yang lebih keras. "Kenapa? Tersinggung?" Karina tertawa mengejek. "Harusnya kamu bersyukur. Kalau bukan karena belas kasihan Pak Dewa Narrottama, kamu mungkin sekarang sedang sibuk menggosok toilet mereka atau mencuci piring bekas makan mereka." Karina tampak puas dengan apa yang ia ucapkan. Ia bahkan melirik ke temannya masih dengan senyum menghina Sera. “Bukankah dia harusnya tahu diri? Dia bisa masuk ke fakultas kedokteran karena beasiswa dan belas kasihan majikan ayahnya,” timpal teman yang lain dengan sinis. “Atau mungkin kamu di sini ingin mengincar Pak Presiden? Kamu pasti tahu Pak Presiden akan datang ke sini untuk konferensi pers, karena ayahmu sopir dan ibumu pembantu mereka.” "Cih ... mendapat ajudannya saja dia tidak layak, apalagi mendapatkan seorang Presiden," ejek Karina lagi. Sera hanya menatap mereka tanpa berniat membalas. Mendengar mereka terus menghina dirinya, dan mengingat situasi sekarang rasanya hanya akan membuang-buang waktu. Jadi, Sera memalingkan muka dan berjalan meninggalkan mereka. Namun, mata tajam Karina menangkap sebuah kunci kartu yang digenggam Sera. "Tunggu, ini kunci kamar President Suite?!" Karina merampas kunci itu dengan kasar dari tangan Sera. “Jadi kamu benar-benar sugar baby? Atau simpanan pengusaha? Berapa bayaranmu per malam?” Mereka tidak akan ada habisnya. Sera menghela napas. "Kembalikan." Tangan Sera terangkat untuk merebut kunci kamarnya kembali. Namun, tentu saja Karina tidak ingin memberikan kunci kamar Sera. Tidak mungkin seorang anak sopir bisa menginap di kamar President Suite. Karina mengangkat tangan yang memegang kunci kamar Sera tinggi-tinggi. Sera masih terus berusaha mengambil kuncinya, tetapi teman-teman Karina yang lain juga ikut membantu Karina, hingga terjadi dorong-mendorong yang tidak terelakkan. Karina yang lebih dominan mendorong Sera hingga gadis itu terjatuh ke lantai marmer yang dingin. Bukannya membantu atau merasa bersalah, Karina dan teman-temannya malah tertawa terbahak-bahak. Bahkan Karina menghardik staf hotel yang mendekat ingin melerai perdebatan itu. "Heh … anak sopir, apa kamu tahu berapa harga kamar ini per malam? Keluargamu tidak mungkin mampu membayar meski sudah bekerja seumur hidup!" teriak Karina sambil mengacungkan kartu itu di depan wajah Sera. “Orang rendahan dan miskin sepertimu tidak pantas menginjakkan kaki di hotel ini.” Namun, di saat yang bersamaan, sebuah suara menggema di belakang mereka, menghentikan seluruh tawa dan cacian itu.Sera masih menatap layar ponselnya yang menggelap, saat suasana sunyi mendadak terusik oleh derit pintu yang terbuka. Rendra keluar dari dalam kamar ganti dengan langkah yang lebih santai. Ia tidak lagi mengenakan kemeja yang dikancing penuh. Matanya menangkap sosok Sera yang duduk mematung di tepi ranjang. Rendra melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Sera yang diam. "Sedang apa?" tanya Rendra singkat. Suaranya rendah, namun cukup untuk membuat Sera tersentak kecil. Sera segera meletakkan ponselnya di atas nakas, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar tidak terbaca. "Eh... tidak sedang melakukan apa-apa, Tuan," jawabnya cepat, sedikit gugup. Rendra memerhatikan Sera sejenak sebelum bibirnya bergerak lagi. "Apa kamu mau pergi keluar?" Mata Sera membulat. "Keluar? Malam-malam begini? Ke mana?" "Mencoba memakai uang jajanmu," jawab Rendra santai, seolah mengajak pergi ke taman belakang saja. Sera mengerutkan dahi, bingung dengan maksud Rendra. Belum sempat ia me
Sera melangkah masuk ke ruang koas, meletakkan cup kopi latte-nya yang masih mengepulkan uap tipis di atas mejanya yang penuh dengan jurnal medis. Erika menyusul di belakang, melakukan hal yang sama dengan gerakan mantap. Di tengah ruangan, suasana tampak kontras. Beberapa anak koas lainnya terlihat asyik mengelilingi meja tengah, tangan mereka sibuk meraih potongan kue dan buah-buahan premium yang dibawa oleh Karina. Karina, yang sejak tadi berdiri sambil bersedekap, memperhatikan Sera dan Erika dengan tatapan yang tidak bersahabat. Matanya yang tajam menyoroti cup kopi di meja mereka, lalu beralih ke tumpukan stroberi Korea miliknya yang sama sekali tidak disentuh oleh kedua gadis itu. Ia mendengus, merasa kemurahhatiannya diabaikan. "Sera, Erika," suara Karina meninggi, membelah kebisingan ruang koas. Semua mata seketika tertuju padanya. "Kenapa kalian berdua tidak mau mencicipi makanan yang aku bawa? Apa makanan ini kurang cocok untuk lidah kalian?" Sera menoleh, mencob
Langkah kaki Sera terasa ringan saat menyusuri trotoar menuju kompleks Rumah Sakit Narita kembali. Di sampingnya, Erika berjalan dengan langkah berirama, sementara Lana dan Deo mengekor beberapa langkah di belakang. Aroma kopi yang kuat menguar dari empat cup di tangan mereka. Erika menyesap latte-nya, memejamkan mata sejenak seolah sedang menikmati sesuatu yang luar biasa. "Ser!" panggil Erika tiba-tiba, suaranya naik satu nada karena antusias. "Apa karena kopi ini dibayar menggunakan black card, jadi rasanya jauh lebih enak dan mewah begini? Serius, ini latte terenak yang pernah aku minum." Sera mengernyitkan dahi, menatap cup kopinya sendiri dengan bingung. "Maksudmu apa?" Melihat ekspresi polos Sera, Erika hampir tersedak. Ia menghentikan langkah, membuat Lana dan Deo yang sedang asyik mengobrol di belakang hampir menabrak mereka. Erika menatap Sera seolah-olah sahabatnya itu baru saja mengatakan bahwa bumi itu kotak. "Sera, kamu ini benar-benar ya," Erika menggelengkan
Rendra hanya diam mendengar penuturan Evan. Perlahan, ia menutup dokumen di tangannya lalu menoleh, melempar pandangannya ke luar jendela mobil yang dilapisi kaca antipeluru. Di luar sana, deretan gedung pencakar langit Jayakarta tampak berkelebat, namun fokus Rendra jauh melampaui itu. Sementara itu, Evan yang duduk di kursi depan tiba-tiba memikirkan kembali apa yang pernah Rendra ucapkan dulu. Atasannya itu pernah berkata politik memang kejam. Sejak awal, Rendra sudah tahu bahwa kursi nomor satu Iraya tidak datang hanya dengan kekuasaan, melainkan juga dengan kesepian. Setiap kedekatan Rendra dengan orang tertentu bisa menjadi bumerang yang mendatangkan curiga bagi lawan-lawannya. Maka dari itu, Evan merasa wajar jika Rendra menetapkan batas yang sangat kaku, karena setiap cangkir teh yang diminum bersama bisa diartikan sebagai konspirasi. *** Rumah Sakit Narita Sera yang baru tiba tampak melangkah memasuki ruang koas dengan jas putih yang tersampir di bahunya. Langkahny
Mata Rendra menyipit tajam, menatap nanar layar ponsel yang memancarkan cahaya di kamar yang temaram. Jemarinya bergerak lincah, membuka lampiran dokumen yang dikirimkan Evan melalui email pribadinya. Ia mengabaikan denyut halus di pelipisnya dan rasa lelah yang mulai menggerogoti tubuh. Apa yang tertulis di dalam baris-baris laporan itu bukan sekadar rangkuman teknis pasca-bencana biasa. Deretan angka, grafik, dan catatan lapangan itu menyiratkan sesuatu yang jauh lebih gelap, indikasi kelalaian dan potensi penyelewengan yang jejaknya mengarah pada nama-nama besar. Punggung Rendra menegak, fokusnya tercurah sepenuhnya pada data sensitif itu. KLEK Suara gagang pintu yang diputar pelan membuat Rendra tersentak halus. Ia reflek mematikan layar ponselnya, menyembunyikan cahaya terang itu, lalu menoleh ke arah pintu. Sera melangkah masuk dengan ragu, separuh tubuhnya masih tertahan di ambang pintu, matanya yang sembab menatap Rendra dengan canggung. "Tuan Rendra..." Sera berbi
Sera terpaku di tempatnya berdiri, kedua tangannya meremas ujung baju yang dikenakannya. Kalimat Rendra barusan merayap masuk ke dalam relung hatinya. Sera masih terdiam, sampai suara berat Rendra kembali memecah keheningan yang canggung itu. "Kamu nikmati saja waktumu bersama keluargamu," ucap Rendra sambil melonggarkan sedikit simpul dasinya, gestur yang menunjukkan dia benar-benar ingin melepas penat. "Aku mau istirahat dulu." Sera tersadar dari lamunannya dan mengangguk pelan. "I-iya, Mas. Terima kasih." Angga yang berdiri di samping mereka segera menangkap sinyal itu. Ia menoleh ke arah sofa, tempat kedua anaknya yang lain masih duduk mengawasi. "Ara, tolong antar Tuan Rendra ke kamar atas." Ara tersentak kecil, lalu bergegas berdiri. Gadis itu merapikan bajunya yang sedikit kusut sebelum berjalan mendekat dengan langkah sopan. "Mari, Tuan! Saya antar ke kamar," ucapnya sedikit gugup. Rendra hanya mengangguk singkat, mengikuti langkah kecil Ara menuju tangga yang terletak d
Malam hariLampu jalanan Ibu Kota yang berpendar keemasan menyapu wajah Rendra melalui kaca jendela mobil yang gelap. Jarum jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit malam. Setelah serangkaian kunjungan kenegaraan yang menguras energi, punggung pria itu akh
Evan menghentikan gerakan jarinya di atas tablet, lalu menatap pada Sera."Tentu saja, Nona. Hal itu mutlak diperlukan demi menjamin keselamatan Anda sebagai bagian dari keluarga kepresidenan," jawabnya.Sera merasa pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Ia memutar tubuh menghadap Rendra, m
Sera merasakan telapak tangannya semakin dingin dan mulai berkeringat. Pertanyaan wartawan itu seperti peluru tajam. Ia memandang dari samping wajah Rendra yang masih begitu tenang.Rendra tidak segera menjawab, tapi justru memutar tubuhnya sedikit dan membalas tatapan Sera. Di bawah sorotan lampu
Istana PresidenSera masih duduk di sofa setelah Rendra pergi. Namun, tak lama pria itu kembali.Mata Sera langsung tertuju pada sosok Rendra yang melangkah masuk dengan langkah tenang, jauh berbeda dengan kepanikan yang ia rasakan."Tenang saja, Mama baik-baik saja," ucap Rendra datar. Ia meletakka







