MasukSera menoleh, memandang sosok yang berdiri di ambang pintu dapur.
Sintia Narrottama
Ibu kandung Rendra itu berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi, meskipun gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Sera segera mengeringkan tangannya pada celemek dan membungkuk dalam, tubuhnya sedikit gemetar.
"Nyonya," sapa Sera dengan suara bergetar.
"Jawab pertanyaanku, Sera. Evan memberitahuku kamu yang menangani luka Rendra di rumah sakit tadi, tapi setelah itu Evan tidak bisa dihubungi, begitu juga dengan putraku," cecar Sintia sembari melangkah maju. "Bagaimana kondisi Rendra? Seberapa parah lukanya?"
Sera menunduk, mengatur napas agar suaranya terdengar meyakinkan. "Tuan Rendra mengalami luka robek di bahu kirinya, Nyonya. Tapi kondisinya stabil."
Ketegangan di bahu Sintia sedikit mengendur, tapi sedetik kemudian matanya menyipit tajam. Ia menatap Sera dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina.
"Tunggu dulu," suara Sintia mendadak dingin. "Bukankah kamu masih koas?"
"Benar, Nyonya. Saya sedang menjalani masa koasistensi di …."
"Beraninya!" potong Sintia dengan nada tinggi yang membuat para pelayan lain di dapur menunduk takut. "Putraku adalah Presiden Iraya! Nyawanya adalah aset negara, dan kalian membiarkan seorang koas menangani luka putraku? Apa rumah sakit itu sudah kehabisan dokter spesialis?"
Sera hanya terdiam. Bibirnya terkatup rapat.
Dalam situasi gawat darurat, haruskah memikirkan pantas atau tidaknya seorang koas menangani pasien?
"Masuklah ke ruang tengah!” ketus Sintia. "Eyang Utari ingin mendengar laporanmu secara langsung. Semua orang sedang berkumpul di sana."
Sintia langsung memutar tumit pergi, meninggalkan Sera yang berdiri menerima tatapan iba pelayan yang ada di sana.
Di ruang Tengah.
Suasana begitu tegang. Di sana duduk Eyang Utari, nenek Rendra yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, layaknya ibu suri, di mansion Narrottama.
Sera berdiri di pinggir ruangan.
"Luka itu bukan sekadar luka fisik, Sintia," suara Eyang Utari terdengar serak namun penuh wibawa. "Mitos Iraya tidak pernah salah. Seorang pemimpin yang belum memiliki pendamping akan selalu tidak stabil, energinya pincang, dan alam akan menolaknya."
"Tapi Ma, ini zaman modern, aku yakin kejadian ini adalah percobaan pembunuhan dari lawan politik Rendra," bantah Sintia.
"Modern atau tidak, posisi Rendra sedang terancam," sahut Eyang Utari sembari mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Keluarga Narrottama butuh penerus. Iraya butuh Ibu Negara. Tanpa itu, kutukan ini akan terus mengincar nyawa Rendra sampai dia benar-benar tumbang."
Sintia membuang napas kasar, matanya melirik Sera yang masih berdiri mematung. Ia hendak meminta penjelasan tentang kondisi putranya ke anak sopir keluarganya itu.
Namun, Eyang Utari bicara lagi dengan tegas. "Rendra harus menikah, secepatnya. Tidak peduli dia setuju atau tidak, ini demi keselamatan nyawanya."
Di saat bersamaan pintu ruang tengah yang kokoh terbuka dengan suara berderit halus, menghentikan pembicaraan di ruang tengah.
Rendra berdiri di sana, mengenakan kemeja tanpa noda darah, tapi wajahnya tampak sepucat kertas.
"Pernikahan bukan solusi untuk luka yang aku dapat, Eyang," suara Rendra terdengar rendah namun penuh otoritas, memotong keheningan yang mencekam.
Sintia segera berdiri dan menghampiri putranya. "Rendra! Kamu harusnya berbaring. Lihat dirimu, kamu bahkan hampir tidak bisa berdiri tegak!"
Rendra mengabaikan ibunya. Matanya menyisir ruangan hingga berhenti tepat pada Sera yang berdiri di pojok ruangan. Tatapan mereka bertemu.
"Aku tidak akan menikah hanya karena mitos atau ketakutan kalian," lanjut Rendra, suaranya naik satu oktaf meski terdengar menahan nyeri. "Iraya membutuhkan pemimpin yang bekerja, bukan pengantin yang dipajang untuk menolak bala."
Rendra terkekeh sinis seraya melangkah masuk, ia menolak bantuan Evan yang baru saja muncul di belakangnya.
Rendra berhenti tepat di depan Eyang Utari.
"Jika kalian memaksakan pernikahan demi mitos," ucap Rendra dingin, “Aku akan memastikan orang yang kalian pilih tidak akan pernah menginjakkan kaki di mansion ini."
"Lalu apa maumu?" tantang Eyang Utari. "Terus terluka sampai kamu mati dan garis keturunan Narrottama terputus? Kamu harus menikah Rendra, nenek akan memilihkan wanita yang cocok untuk menjadi istrimu.”
Mata Sintia membeliak lebar mendengar usulan Eyang Utari.
“Memilihkan? Mama tidak memiliki hak menentukan istri Rendra, aku lebih berhak,” balas Sintia sengit.
Rendra membuang muka dan tersenyum hambar. Ia muak mendengar desakan menikah dari semua orang sejak kejadian robohnya panggung yang mencederainya.
“Kalian tidak punya kendali atas hidupku.” Suara Rendra dingin dan penuh otoritas. “Aku yang akan memutuskan.”
"Membalas budi tidak harus dengan menjual hidupku, Yah!" potong Sera dengan suara bergetar. Ia menyambar tasnya, mengabaikan panggilan ayahnya, dan melangkah lebar keluar dari paviliun. Kepalanya berdenyut. Logikanya menolak keras, namun hatinya dipenuhi kegelisahan yang membuncah. Alih-alih menuju gerbang luar untuk berjalan ke halte terdekat menuju rumah sakit, langkah Sera justru membawanya ke mansion utama. Ia harus mendengar langsung penjelasan atas apa yang ia dengar dari sang ayah. Namun, baru saja kakinya menginjak teras mansion Narrottama, sosok Sintia Narrottama sudah berdiri di sana, seolah memang sedang menunggu mangsa. "Mau mencari Rendra?" tanya Sintia dingin. Matanya menyapu penampilan Sera dari ujung rambut hingga sepatu kets yang digunakan gadis itu. Tatapan Sintia penuh penghinaan, seolah Sera adalah noda di lantai mengkilap mansionnya. "Benar, saya ingin bicara dengan Tuan Rendra, Nyonya," jawab Sera, mencoba menegakkan bahu meski tangannya dingin.
Rendra memulas senyum tipis. “Yang pasti aku harus menikah dengan wanita yang tidak memiliki tujuan apapun dari pernikahan ini,” jawab Rendra dingin tanpa menoleh pada ibunya. Sintia semakin heran, keningnya berkerut samar. “Aku tidak ingin pernikahan ini dimanfaatkan untuk kepentingan lain.” “Tetap saja kamu butuh dukungan agar bisa terus bertahan di posisimu ini.” Sintia mendekat ke Rendra, memegang lengan putranya itu. “Mama masih yakin, kalau ada yang mengincar keselamatan nyawamu.” Rendra hanya diam menatap dalam wajah wanita yang melahirkannya itu. Sintia melepaskan pegangannya, napasnya mulai tidak teratur. "Lalu siapa? Siapa wanita yang menurutmu pantas menjadi pendampingmu?" Rendra menatap langsung ke mata ibunya. "Sera." Sintia terperangah, butuh beberapa detik baginya untuk memproses nama itu. Saat ingatan tentang putri sopir mereka muncul, wajahnya memucat karena emosi. "Sera? Anak Angga si sopir itu?!" Suara Sintia meninggi."Apa kamu sudah kehilangan
Rendra berpaling tanpa menunggu jawaban dari ibu dan neneknya. Saat menoleh tatapannya bertemu dengan Sera.Namun, gadis itu langsung menundukkan kepala.Selepas Rendra pergi, Sintia tampak memukul meja pajangan yang ada di dekatnya.Sintia membuang muka saat Eyang Utari menatap sengit padanya. ‘Wanita tua pikun ini, bisa-bisanya ingin ikut campur urusan pernikahan Rendra.’Tak lama Sera mendekat, memberanikan diri bicara ke Sintia.“Nyonya, jika tidak ada yang ingin dibicarakan saya pamit untuk kembali ke belakang,” ucapnya sopan.“Tunggu! Kamu harus memberitahu kondisi Rendra.” Sintia melirik pada Eyang Utari.Sera mengangguk, kemudian berjalan mendekat agar suaranya bisa terdengar jelas."Tuan Rendra mengalami luka robek yang cukup dalam di bahu kirinya. Luka itu sudah ditangani dengan tindakan penjahitan untuk menghentikan perdarahan dan merapatkan jaringan kulit yang terbuka."Sera menjeda lisan sejenak, melirik ekspresi Sintia yang masih tampak kesal."Meskipun luka sudah dijahi
Sera menoleh, memandang sosok yang berdiri di ambang pintu dapur.Sintia NarrottamaIbu kandung Rendra itu berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi, meskipun gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.Sera segera mengeringkan tangannya pada celemek dan membungkuk dalam, tubuhnya sedikit gemetar."Nyonya," sapa Sera dengan suara bergetar."Jawab pertanyaanku, Sera. Evan memberitahuku kamu yang menangani luka Rendra di rumah sakit tadi, tapi setelah itu Evan tidak bisa dihubungi, begitu juga dengan putraku," cecar Sintia sembari melangkah maju. "Bagaimana kondisi Rendra? Seberapa parah lukanya?"Sera menunduk, mengatur napas agar suaranya terdengar meyakinkan. "Tuan Rendra mengalami luka robek di bahu kirinya, Nyonya. Tapi kondisinya stabil."Ketegangan di bahu Sintia sedikit mengendur, tapi sedetik kemudian matanya menyipit tajam. Ia menatap Sera dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina."Tunggu dulu," suara Sintia mendadak dingin. "Bukankah kamu ma
Sera hanya terdiam sampai Rendra bertanya untuk yang ke dua kali.“Apa kamu bisa melakukannya?”"Baik, saya akan melakukannya. Jika ada yang bertanya saya akan sampaikan kalau Anda baik-baik saja.”Rendra menatap Sera sejenak, ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi ia tahan.Jadi, yang ia lakukan adalah memberi isyarat pada Evan untuk membukakan pintu.Dengan langkah tegap yang dipaksakan, ia berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Sera.Sera berdiri membeku di tengah ruangan yang kini terasa hampa. Aroma parfum maskulin Rendra yang bercampur dengan bau antiseptik masih tertinggal di udara.Sera segera melangkah menuju ruang konsul Dokter Hans, dokter senior yang tadi memberikan instruksi awal. Ia bermaksud melaporkan bahwa Rendra pergi sebelum waktu observasi selesai."Dokter Hans," panggil Sera saat memasuki ruangan. "Pak Presiden, dia memaksa pulang. Luka jahitannya masih sangat baru dan dia belum menerima dosis antibiotik pertamanya. Saya mencoba menahan, tapi …"Dokter Hans
Sera tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu meletakkan nampan besi yang dipegangnya ke troli medis sebelum menoleh pada Rendra."Tuan Rendra," suara Sera mengalun tenang, ia kembali menggunakan panggilan yang biasa ia gunakan untuk menyapa Rendra."Secara logika, tiang itu jatuh karena korosi atau struktur yang tidak stabil. Logika saya mengatakan itu murni kecelakaan konstruksi."Sera menatap lekat Rendra yang hanya diam."Tapi di Iraya, logika seringkali kalah oleh rasa. Rakyat tidak butuh penjelasan teknis tentang baut yang longgar atau besi yang sudah usang. Mereka hanya butuh ketenangan batin. Bagi rakyat Iraya, pemimpin adalah atap. Jika atapnya rusak, mereka merasa air hujan akan masuk ke rumah mereka.” Hening untuk beberapa waktu, sebelum Sera kembali melanjutkan, “Jadi, jika Anda tanya apakah saya percaya mitos itu? Saya lebih percaya bahwa ketakutan jutaan rakyat bisa menjadi kenyataan yang lebih berbahaya daripada mitos itu sendiri."Rendra tertegun. Jawaban itu jauh lebih







