แชร์

Seperti Sedang Audisi

ผู้เขียน: Adinasya Mahila
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-16 18:42:37
Suara berat dan penuh wibawa itu memotong kalimat sang fashion stylist, menggema di seluruh penjuru ruangan.

Sera tersentak, ia segera menoleh ke arah pintu.

Di sana, Rendra berdiri tegak dengan satu tangan terselip di saku celana kainnya. Kemeja putih yang ia kenakan sudah tidak lagi dilengkapi dasi, dan dua kancing teratasnya terbuka, memberikan kesan yang sedikit lebih santai namun tetap memancarkan otoritas yang mengintimidasi. Sorot matanya yang tajam dan dalam kini mengunci sosok Sera
Adinasya Mahila

like dan komen 🤗 aku pos gaun sera di igeh 🥰

| 34
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (15)
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
awww bkin dagdigdug serrrr nih Mas Rendra xixiiii smbil bca smbil snyum² sndri sking salting ny sm Mas Rendra nih ah wkwkwkkk
goodnovel comment avatar
Eenok Khus
aaaaa pk press bikin meleleh deh
goodnovel comment avatar
Adeena
deg degan ga tuh Sera di ajak foto....
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Kurang Ajar Pada Mertua

    Sera terdiam menyandarkan kening dan pelipisnya pada kaca jendela mobil yang terasa dingin. Pandangan matanya kosong, terpaku menatap deretan kendaraan dan pepohonan jalan raya yang melintas cepat di luar. Suasana di dalam kabin mobil itu begitu hening dan mencekam. Lana dan Deo yang duduk di kursi depan pun hanya bisa bungkam, tak berani mengeluarkan suara karena memahami kekalutan hati Sera setelah keributan besar di rumah orang tuanya tadi.Sera memejamkan mata sejenak seraya meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Dadanya masih berdenyut sesak, dan di kepalanya saat ini hanya ada satu keinginan: ia hanya ingin cepat sampai ke istana, bertemu langsung dengan Rendra, dan menenggelamkan tubuhnya memeluk suaminya itu erat-erat.Begitu mobil berbelok melewati gerbang utama dan berhenti sempurna di pelataran istana, Sera menghela napas lega saat ekor matanya menangkap mobil dinas milik Rendra sudah terparkir rapi di depan lobi. Tanpa menunggu Lana turun untuk membukakan pintu penump

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tidak Mau Lagi

    Sera tersentak di tempatnya berdiri. Matanya membulat menatap profil wajah Arkan dari samping. Ia benar-benar tidak menyangka adiknya yang tadi siang masih bersikap sedikit kekanak-kanakan di kamar, kini bisa berdiri begitu tegak dan merangkai kata dengan sangat tenang dan dewasa.Keterkejutan Sera kian bertambah saat Arkan melangkah satu jengkal ke depan seraya mengulurkan tangannya dengan sopan ke arah pintu rumah."Mari masuk ke dalam rumah dulu, Nyonya Sintia. Duduklah di dalam agar kita bisa membicarakan ini dengan kepala dingin," ucap Arkan menawarkan tanpa nada menantang.Mendengar ajakan dari anak remaja itu, wajah Sintia justru semakin memerah padam. Wanita itu mendengus sinis seraya melangkah mundur, mengibaskan tangannya dengan gestur menolak mentah-mentah."Tidak sudi!" bentak Sintia seraya menatap sekeliling halaman dengan mata menyalang. "Kamu pikir aku buta?! Kalian semua sengaja berdiri di sini untuk mengeroyokku, kan?! Menantu tidak tahu diri, mantan sopir, dan anak n

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Harus Tahu Sopan Santun

    Sofia terkesiap mundur setengah langkah. Kedua matanya membelalak lebar, sama sekali tidak menyangka bahwa Sera yang selama ini selalu bersikap tenang, penurut, dan menundukkan kepala di hadapan keluarga Narrottama, kini berani melotot dan membentaknya tepat di depan hidungnya sendiri. Bibir Sofia terkatup rapat, kehabisan kata-kata karena keterkejutan yang begitu tiba-tiba.Di sisi lain, Lana yang sejak tadi mengepalkan tangan ikut tersulut emosi. Rahang ajudan wanita itu mengeras, dan ia baru saja hendak melangkah maju seraya membuka mulutnya untuk menyemprot Sofia.Namun, sebelum sepatah kata pun sempat meluncur dari bibir Lana, tangan Deo sudah lebih dulu terulur dengan sigap. Telapak tangan pria itu mencengkeram kuat pergelangan tangan Lana, menahan langkah rekannya seraya menggelengkan kepala pelan memberi isyarat agar Lana tidak ikut campur dan tetap menjaga posisinya sebagai pengawal.Tatapan mata Sera yang membara masih menghunus sengit ke wajah Sofia selama beberapa detik, se

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Amarah Sera

    Melihat Angga yang pernah menjadi sopir pribadinya melangkah keluar bersama Siwi, Sintia langsung bergerak maju beberapa langkah. Dagunya terangkat tinggi, tatapannya menyalang penuh kebencian ke arah pria paruh baya yang kini berdiri mematung di ambang pintu teras."Angga! Apa kamu sudah tidak bisa mendidik dan memberitahu anak laki-lakimu itu?!" sembur Sintia tanpa basa-basi, suaranya melengking tajam memecah keheningan sore. "Atau memang dari dulu kamu sebenarnya punya niat lain yang terselubung pada keluarga kami?! Apa kamu sama sekali tidak pernah memikirkan kebaikan kami sebagai majikanmu selama ini?!"Angga tampak terpaku dan bingung menghadapi rentetan cecaran yang begitu mendadak itu. Tangannya yang masih kotor oleh sisa tepung terangkat canggung di depan dada. "Ada apa sebenarnya ini, Nyonya? Saya... saya benar-benar tidak paham apa maksud perkataan Anda. Mari, lebih baik kita masuk dan bicara di dalam rumah dulu, Nyonya...""Tidak mau!" tolak Sintia mentah-mentah seraya men

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tenang Namun Memprovokasi

    Sintia merebut ponsel itu dari tangan Sofia dengan gerakan cepat. Matanya membelalak lebar, terpaku pada gambar yang terpampang di layar. Di sana, terlihat jelas sosok Ratu sedang duduk berdua di sebuah bangku taman dengan seorang remaja laki-laki. "Geser saja layarnya, Tante. Masih banyak foto lain yang menunjukkan betapa dekatnya mereka berdua," bisik Sofia, suaranya terdengar begitu tenang namun memprovokasi. Jemari Sintia bergetar saat ia menyapu layar ponsel ke samping. Foto demi foto menampilkan kedekatan yang nyata. Di salah satu gambar, Ratu tampak tertawa seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Arkan. Napas Sintia seketika tercekat, dadanya bergemuruh hebat hingga genggaman tangannya di ponsel itu mengerat kuat. "Ratu... mana mungkin..." desis Sintia tak percaya, bibirnya bergetar menahan amarah yang mulai membakar ubun-ubunnya. Sofia menarik napas panjang, melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut prihatin yang dibuat-buat. "Aku sendiri yang meminta foto-foto

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Pasangan Romantis

    Deo melangkah mendekat, lalu tangannya terulur meraih kembali jemari Erika, menggenggamnya mantap tanpa keraguan."Aku akan menemanimu bicara ke papamu," ucap Deo dengan tatapan lurus menghujam manik mata Erika. Suaranya terdengar begitu tenang dan dalam. "Aku ingin melihat langsung bagaimana reaksinya. Dan kalau beliau sampai marah besar, aku sendiri yang akan berdiri di depan untuk melindungimu."Erika menatap pria itu lekat-lekat, bibirnya terkatup rapat sementara rasa hangat seketika melingkupi dadanya, meluruhkan sisa-sisa amarah yang tadi membakar kepalanya.Kalimat penuh kesungguhan dari Deo itu rupanya sampai ke telinga Lana yang sejak tadi mengintip dari balik sekat pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah. Lana berdiri menyandarkan bahu di kusen kayu, meneguk air putih dari gelas kaca di tangannya seraya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sejoli itu."Kamu sedang melihat apa, Lana? Kamu menguping ya?" bisik sebuah suara lembut tepat di belakang telinga Lana."Asta

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status