Share

Sebuah Hadiah

last update publish date: 2026-04-17 19:46:14

Sera berdiri kaku, merasakan embusan napas Rendra yang hangat di dekat telinganya. Meski jantungnya berdentum layaknya genderang perang, ia mencoba mengatur raut wajahnya agar terlihat tenang di depan lensa.

Cahaya lampu kilat menyambar beberapa kali saat Andre mengarahkan sudut pengambilan gambar.

Sera memaksakan sebuah senyum tipis, sementara Rendra tetap mempertahankan ekspresi datarnya yang berwibawa, namun tangan kokoh pria itu tidak sedikit pun bergeser dari pinggang Sera.

Setelah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
dehhhh kocakkk lhaa nma ny laki mnjain bini gpp x.. Lhaaa lu spa ny Pa Presiden?? ngaca donk woyy ah..
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Dasar Sofia stres ....
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
sampai kapan Sera panggil Rendra tuan terus !?!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Seperti Pergi Ke Medan Perang

    Malam itu, hening Istana Kepresidenan terasa lebih pekat dari biasanya. Sera duduk di tepi ranjang, matanya sesekali melirik pintu kamar yang masih tertutup rapat. Ia baru saja meletakkan jurnal medisnya saat gagang pintu berputar, menampakkan sosok Rendra yang tampak letih dengan kemeja yang sudah tidak serapi pagi tadi. "Tadi pelayan bilang Anda ada di Istana sampai siang," buka Sera sembari memerhatikan Rendra yang melangkah menuju sofa tunggal di dekat ranjang. "Saya pikir Anda akan di sini sampai malam, ternyata Anda pergi lagi." Rendra menghela napas pendek, jemarinya bergerak lincah melonggarkan simpul dasi yang seolah mencekik lehernya seharian ini. "Ada pertemuan mendadak di luar yang tidak bisa ditunda," jawabnya singkat, suaranya terdengar berat dan serak. Sera terdiam, matanya terpaku pada sosok pria di depannya. Dalam temaram lampu kamar, ia menatap lekat garis-garis tegas di wajah Rendra. Pikirannya melayang jauh, seandainya pria ini bukan seorang Presiden Iraya, se

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tinggal Di Mansion Narrottama

    Sintia melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang berbau antiseptik dengan senyum yang sulit disembunyikan. Setelah merasa memberikan pukulan psikologis pada Sera di ruang Direktur Rumah Sakit Narita, tujuan Sintia kini adalah Sofia. Hari itu, Sofia akhirnya diperbolehkan pulang. Sintia dengan setia mendampingi, bahkan ikut mengantar hingga ke kediaman pribadi keluarga Sofia yang asri. Di taman belakang yang dipenuhi tanaman hias terawat, kedua wanita itu duduk bersisian di kursi rotan putih. Sofia menyesap teh camomilenya perlahan, wajahnya nampak jauh lebih segar meski guratan pasca-operasi masih menyisakan sedikit pucat. "Tante, terima kasih banyak sudah memperhatikanku sampai seperti ini. Tante bahkan mau mengantarku pulang," ucap Sofia lembut, menyandarkan punggungnya dengan hati-hati. Sintia menepuk punggung tangan Sofia dengan sayang. "Jangan pernah sungkan, Sofia. Tante sudah menganggapmu seperti anak Tante sendiri. Kamu tahu itu, kan?" Sofia tersenyum tipis, matany

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Permintaan Ibu Mertua

    Sintia menyandarkan punggungnya pada sofa yang empuk, matanya menatap Sera dengan cara yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Tidak ada makian, tidak ada tangan yang melayang, namun keheningan yang ia ciptakan terasa lebih menyesakkan daripada ledakan amarah. "Sebagai menantu keluarga Narrottama, sudah seharusnya kamu tinggal di mansion," ujar Sintia datar, suaranya tenang namun berisi perintah yang tak terbantahkan. Sera tersentak, matanya membulat tak percaya. Lidahnya seolah kelu, ia hanya bisa diam menatap wanita paruh baya di depannya itu. Pikirannya berputar liar. Meninggalkan Istana dan tinggal di bawah atap yang sama dengan Sintia? Itu terdengar seperti berjalan sukarela masuk ke dalam kandang singa. Sintia menangkap keraguan Sera. Ia menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Aku tahu kamu pasti akan menolak dan merasa harus meminta persetujuan Rendra lebih dulu. Tapi pikirkan ini baik-baik, Sera. Kalau kamu memang ingin kita akur, kamu harus menunjukkan sikap seper

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Nasib Si Pelempar Telur

    Pagi berikutnya. Langkah kaki Sera terburu-buru saat melihat sosok Evan yang baru saja datang, ajudan itu nampak sibuk dengan tumpukan map di tangan. Tanpa membuang waktu, Sera langsung menyambar lengan jas Evan, menariknya sedikit menjauh ke sudut koridor yang lebih sepi. "Pak Evan, tunggu!" bisik Sera dengan nada mendesak. Evan menoleh, sedikit terkejut namun tetap mempertahankan ekspresi profesionalnya yang kaku. "Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu sebelum saya menghadap Bapak Presiden?" Sera menatap Evan lekat-lekat, wajahnya sarat akan rasa penasaran yang sudah ia pendam sejak semalam. "Mas Rendra bilang saya harus bertanya pada anda. Soal pria itu, si pelempar telur. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Evan seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia melirik ke kanan dan kiri, lalu mengembuskan napas panjang seolah sedang memikul beban berat. "Nona, saya rasa lebih baik Anda tidak mengetahuinya. Fokuslah pada koas Anda hari ini." "Pak Evan, tolong! Ma

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Memberi Sedikit Pelajaran

    Rendra tidak segera menyahut. Ia mengambil sepotong wortel panjang, lalu memberikannya pada seekor rusa jantan yang memiliki tanduk bercabang indah. Matanya menatap tenang ke arah rumput yang luas, sementara angin sore menerbangkan beberapa helai rambutnya yang biasanya tertata rapi. "Tidak perlu," jawab Rendra akhirnya, suaranya terdengar datar namun mutlak. "Biarkan saja. Kamu tidak perlu ikut campur urusan itu." Sera mengernyitkan kening, menatap profil samping wajah Rendra yang nampak tak terusik. "Tapi Mas, Nyonya Sintia itu tetap ibu Mas Rendra, Arkan melakukannya di rumah pemberian Mas Rendra, dan bagaimanapun juga itu tidak sopan. Saya merasa bertanggung jawab atas sikap adik saya." Rendra mengalihkan pandangannya pada Sera, menatapnya dalam-dalam. "Arkan pasti tahu kalau perbuatannya itu tidak sopan. Dia sudah dewasa untuk memahami risiko dari tindakannya. Tapi, kamu juga tidak boleh menekannya atau memarahinya soal ini." Rendra menjeda sejenak, tangannya bergerak mengu

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Membujuk Suami

    Rendra tidak segera menjawab. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menyandarkan punggung pada kursi yang kokoh, lalu menatap Sera dengan sorot mata yang sulit diartikan. Keheningan merayap di antara mereka selama beberapa detik sebelum Rendra akhirnya membuka suara dengan nada rendah yang berwibawa. "Menurutmu, pantas tidak seorang kekasih memuji pria lain tampan tepat di depan kekasihnya sendiri? Coba kamu pikirkan baik-baik," ujar Rendra. Sera tertegun. Ia mematung di tempatnya berdiri, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Rendra. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang bukan karena rasa takut, melainkan karena ia menyadari bahwa Rendra sedang serius soal status "kekasih" yang mereka sepakati. "Maaf, Mas," bisik Sera tulus. Ia menundukkan kepala, memainkan ujung jemarinya sendiri. "Saya benar-benar tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya bicara jujur tanpa berpikir panjang." Rendra mendengus pelan, seulas senyum tipis yang tampak kaku muncul di sudut bibirny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status