Beranda / Romansa / Pelukan Sang Majikan di Malam Hari / 120. Pria Lain Yang Melindunginya

Share

120. Pria Lain Yang Melindunginya

Penulis: Rosa Uchiyamana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 22:26:28

Bastian masuk ke ruang perawatan Sera setelah mengetuk pintu, membuat Sera terkejut melihat kedatangannya.

“Kenapa kamu tahu aku di sini?” tanya Sera penasaran.

“Aku lihat kamu waktu di UGD,” jawab Bastian yang kini berdiri di samping Sera. Dia mengecek selang infusan sambil bertanya, “Dokter sudah memeriksamu?”

“Sudah.” Sera mengangguk. Lalu menatap Bastian yang memakai jas dokternya. “Kamu ada jadwal praktek?”

“Baru selesai, aku akan pulang sebentar lagi.” Kini Bastian menatap Sera lurus-lurus.

Sera bisa merasakan keseriusan yang tergambar dalam ekspresi Bastian. “Kenapa menatap aku seperti itu?”

“Aku penasaran, kenapa kamu bisa sampai kelaparan?”

Sera seketika terdiam. Lalu menghela napas panjang dan menjawab beberapa saat kemudian, “Aku kehilangan selera makan.”

“Hanya karena itu?” Mata Bastian menyipit curiga.

Sera mengangguk ragu, meski dia yakin Bastian tak akan percaya begitu saja dengan jawabannya.

Bastian mengembuskan napas kasar. Raut mukanya semakin serius saat bertanya, “
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
lullaby dreamy
setuju bgt kak ^^
goodnovel comment avatar
fauziah Zie
Si sera ini lama² ngeselin juga,, bodohnya gak ketolongan,, wkwkwwk
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   143. Tersiksa

    “Wanita lain?” Raven mengerutkan keningnya. Lalu dia teringat dengan wanita yang disewanya tadi. “Kamu melihatnya?”“Bapak pikir saya tidak melihatnya?” tanya Sera seraya menatap Raven dengan tatapan kecewa.Sera hendak pergi. Tapi Raven tiba-tiba menarik Sera ke dalam pelukannya, membuat Sera terhenyak.Begitu lengan Raven melingkar di tubuhnya, reaksi tubuh Sera terasa terlalu aneh.Tubuh Sera bergetar, karena sentuhan Raven bagai aliran listrik yang melumpuhkan saraf-saraf di tubuhnya. Napas Sera kian memburu. Detak jantungnya semakin tak karuan.“Wanita itu bukan siapa-siapa,” ucap Raven dengan suara rendah. Dia merasa ingin menjelaskan hal itu pada Sera, agar tidak salah paham.“Saya membayarnya untuk membuat saya lupa padamu,” lanjut Raven, “tapi wanita itu gagal melakukannya. Saya tetap… merindukanmu. Dan malam ini saya berencana pulang ke rumah untuk menemuimu.”Sera seketika tertegun mendengarnya. Dia tahu, Raven bukan tipe pria yang akan mengatakan kalimat omong kosong.Dan

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   142. Reaksi Tubuh yang Berlebihan

    Raven mengembuskan napas kasar. Mungkin itu hanya mirip dengan suara Sera saja, pikirnya.Akhirnya Raven melanjutkan langkahnya lagi, berusaha untuk tidak peduli.“Aku bilang jangan menyentuhku! Lepaskan!” seru wanita itu lagi, yang membuat langkah kaki Raven kembali terhenti.Raven menoleh ke belakang, ke arah sumber suara.Seketika itu juga mata Raven melebar ketika melihat seorang wanita yang sedang digoda oleh seorang pria.Sera.Ya, Raven yakin sekali wanita itu adalah Sera.Tapi kenapa wanita itu ada di tempat seperti ini?Di sana, Sera sedang memberontak, berusaha melepaskan lengannya yang dicengkeram pria itu.Namun pria itu langsung memenjarakan Sera di dinding dan nyaris menciumnya. Sera dengan cepat memalingkan wajah ke arah lain, menghindari sentuhan itu. Pemandangan itu membuat darah di kepala Raven terasa mendidih. Rahangnya seketika berubah mengeras dengan sorot mata yang tajam dan berbahaya.“Mundur,” perintah Raven dengan suara rendah dan dingin, yang membuat Sera da

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   141. Minuman Penghilang Rasa Sakit

    Siapa wanita itu?Kenapa dia terlihat berani menggoda Raven?Bahkan, Raven pun tidak mengusirnya. Pria itu hanya diam seolah mengizinkan wanita cantik itu menggoda dirinya.Jari-jari tangan Sera perlahan mengepal.Jadi, Raven tidak pulang ke kediamannya tiga hari terakhir ini karena lebih senang menghabiskan waktu di club malam, bersama wanita lain?Sera tersenyum getir.Miris memang. Sera merasa cemburu padahal hubungan dirinya dengan Raven pun adalah sebuah kesalahan yang amat besar dan kotor.Akhirnya Sera berbalik badan, menyeret langkahnya keluar dari ruangan itu.Dia terus mengingatkan diri sendiri, bahwa dirinya tidak berhak cemburu pada wanita itu.Sera bukan siapa-siapa bagi Raven. Yang patut cemburu dan marah sebenarnya adalah Celine.Namun, tetap saja Sera tidak bisa membohongi hatinya sendiri.Sera berhenti melangkah di ruangan yang ramai dengan musik menghentak-hentak. Ekspresi wajahnya tampak sendu.“Sepertinya lagi nggak baik-baik aja?”Sera tersentak ketika seorang pri

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   140. Seorang Wanita Asing

    Sudah tiga hari berlalu sejak hari itu. Rasa bersalah Sera semakin besar dari hari ke hari.Dia tidak punya kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Raven, karena Raven tak pernah pulang lagi ke rumahnya semenjak tiga hari yang lalu.Sera sadar, Raven sedang menghindarinya. Pria itu masih marah padanya.Seharusnya Sera merasa senang, karena dengan begitu usahanya untuk menjauhi Raven menjadi semakin mudah.Tapi itu berlaku jika dia tidak memiliki kesalahan. Saat ini, hati Sera merasa tak tenang karena bagaimanapun juga dirinya bersalah hari itu.Kini, Sera duduk di tangga beranda samping, sama seperti tiga malam sebelumnya berturut-turut. Untuk menunggu Raven pulang.Dia sedikit menggigil karena udara malam yang dingin. Sesekali Sera melirik ke depan rumah, lalu menghela napas kecewa ketika pria yang ditunggunya tak kunjung pulang.Sera menekan tombol ponsel di bagian samping, hingga layarnya menyala untuk melihat jam. Sudah pukul sembilan malam lewat sepuluh menit.Dia tak pernah m

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   139. Merasa Dibuang

    Raven tetap berjalan dengan tenang. Lalu berhenti di depan dispenser. Detik berikutnya terdengar bunyi air yang mengalir deras dari dispenser yang mengisi gelas kosong di bawahnya.“Bicara apa?” tanya Raven akhirnya dengan tenang, sangat tenang hingga membuat dapur yang sunyi itu terasa mencekam bagi Sera.Sera berdiri tak jauh dari Raven. Hanya ada mereka berdua di sana. Ratna sedang bekerja di ruangan lain, dan Celine tampaknya belum bangun.“Tentang semalam,” ucap Sera, ragu. “Tadi malam saya datang terlambat karena–”“Pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter itu?” Raven menyela dengan suara rendahnya.Sera seketika terhenyak. Menatap Raven dengan bingung. “Bapak… tahu?”Raven meneguk air putihnya sejenak, lalu menaruh gelas yang sudah kosong ke meja dengan tenang. Perlahan dia berbalik, menatap Sera tanpa ekspresi.“Saya menunggu kamu,” ucap Raven datar. “Dan saya tidak pernah menunggu orang lain sebelumnya.”Sera terdiam, jari-jari tangannya mulai meremas rok di sisi tubuhnya. P

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   138. Terlambat

    Setelah orang tua Bastian datang, Sera pun memutuskan untuk pamit bersama adik-adiknya.Dia memulangkan Rania dan Salsa terlebih dulu. Setelah memastikan kedua adiknya naik ke dalam taksi, Sera lantas menyetop taksi yang lain untuk menuju ke Star Restaurant, tempat pertemuannya dengan Raven.Sepanjang perjalanan Sera merasa bersalah dan gelisah. Dia sudah sangat terlambat.Sera hanya bisa berharap Raven akan mengerti ketika dia memberi penjelasan nanti.Beberapa saat kemudian, Sera tiba di Star Restaurant. Dia bergegas turun dari taksi dan melangkah cepat menuju pintu masuk.Ada yang aneh, pikir Sera seraya memperhatikan bangunan dua tingkat yang berdinding kaca nan mewah itu. Suasana di sana tampak sepi. Sera tidak melihat ada pengunjung yang datang.Ketika tiba di depan pintu masuk, Sera tertegun saat melihat papan kecil bertanda CLOSED tergantung di pintu.“Restorannya sudah tutup?” gumam Sera sambil mencoba mendorong pintu itu. Terkunci.Lalu, Sera melihat papan nama restoran yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status