Home / Romansa / Pelukan Sang Majikan di Malam Hari / 201. Sebuah Permintaan Maaf

Share

201. Sebuah Permintaan Maaf

last update Last Updated: 2026-02-02 22:21:59

“Maafkan aku.”

Raven mendongak, menatap Sera dengan tatapan penuh permohonan dan rasa bersalah. Kedua tangannya mengepal di atas lututnya.

Dia bukan orang yang mudah meminta maaf, apalagi sampai rela berlutut di hadapan seseorang.

Tetapi malam ini, Raven melakukannya, karena dirinya benar-benar merasa bersalah telah membuat wanita itu, yang paling ingin dia lindungi, terluka karenanya.

“Maaf,” ucap Raven sekali lagi dengan suara serak. Sorot matanya menyusut. “Aku mohon, maafkan aku, Sera.”

Ser
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Rna 1122
ayokkk raven jelasin kalo km udah cerai sama celin !!! uhhh lemot amat sih jd salah paham kan sera ,, !!! Dan soal ibumu lawan aja biar ga keterusan itu emak2 rempong ngrecok in mulu
goodnovel comment avatar
april_hi
Bagus sera, klu bisa raven nya bikin gila dlu.. sembuhkan lukamu dg hidup bahagia bersama anak2mu. Ingat ucapan terakhir raven dan perbuatan buruknya ke kamu.
goodnovel comment avatar
fauziah Zie
dikit amat ka ocha :(
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   264. Cemburu

    “Gimana, Mas? Enak?” tanya Sera, ragu. Menatap Raven dengan harap-harap cemas.Raven menghentikan kunyahan di dalam mulutnya, menatap Sera sambil menarik sudut bibirnya ke atas tipis. “Makanan buatanmu tidak pernah gagal.”“Syukurlah.”Sera menghela napas lega. Lalu dia menegakkan punggung dan memasukkan potongan pizza ke dalam mulutnya.Pada saat yang sama, tanpa sengaja pandangan Sera tertuju pada iPad Raven yang tergeletak di samping piring.Sera penasaran, apa yang tadi ditunjukkan Raven pada Ririn?Sera ingin bertanya pada Raven tapi dia takut dianggap terlalu ikut campur.Pada akhirnya Sera menurunkan pandangannya pada piring di hadapannya. Makanan di dalam mulutnya seketika terasa hambar dan terasa keras saat melewati tenggorokan.Jika boleh jujur, Sera merasa cemburu saat melihat Raven dan Ririn yang terlalu dekat seperti tadi. Walaupun sebenarnya sikap Raven terlihat dingin pada Ririn.Tapi Sera mengakui kalau Ririn adalah gadis muda yang cantik dan memiliki tubuh proporsiona

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   263. Buat Aku Bosan

    Raven menutup laptop di hadapannya. Lalu mengusap wajah kasar. Diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.Kemudian detik itu juga Raven beranjak dari kursi dan bergegas keluar dari ruangan kerjanya itu. Baru tiga jam tidak melihat Sera, tapi Raven sudah merindukannya.Akhir-akhir ini Raven lebih sering bekerja dari rumah. Karena sebisa mungkin Raven ingin menebus waktu yang hilang bersama Sera. Setidaknya dengan tetap berada di rumah, Raven bisa melihat kondisi wanita itu lebih dekat.Raven mendorong pintu kamar sambil berkata, “Sayang, kamu sudah ti… dur?”Bibir Raven seketika mengatup rapat. Kedua sudut bibirnya terangkat samar. Lalu menutup pintu dan menghampiri Sera yang sudah terlelap di atas sofa panjang dengan kepala bersandar ke sandaran sofa.“Apa aku bekerja terlalu lama?” gumam Raven sambil duduk perlahan di samping Sera.Dipandanginya wajah wanita itu dengan lekat. Sera terlihat damai dan polos. Wajahnya tidak pernah membuat Raven bosan untuk menata

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   262. Ingin Jadi Satu-Satunya

    “Sera, apa semua laki-laki di dunia ini suamimu?”Kelopak mata Sera mengerjap pelan. Menatap suaminya dengan sedikit menelengkan kepala. Pria itu sulit ditebak. Bahkan Sera tidak mengira pertanyaan random itu akan keluar dari mulutnya.“Kenapa Mas tanya begitu?”Lagi, Raven mengembuskan napasnya kasar. Dia bersandar di kursi dan bersedekap dada. Bibirnya masih merengut tipis.“Setiap laki-laki yang berinteraksi denganmu hari ini, kamu panggil ‘mas’,” ujar Raven, rendah. “kasir es krim, pelayan barusan. Dan bahkan tadi di toko perlengkapan bayi, kamu memanggil ‘mas’ pada staf yang membantu mengeluarkan stroller.”Sera seketika terperangah. Ternyata itu yang membuat Raven terlihat kesal? Hanya gara-gara panggilan ‘mas’?Tawa Sera akhirnya meledak hingga matanya menyipit. “Panggilan ‘mas’ itu kan universal, Mas. Netral-netral aja. Bukan berarti aku menganggap pria lain suamiku.”Raven berdecak kesal dan memalingkan wajahnya ke arah lain. “Jadi maksudmu, di matamu aku hanya laki-laki bias

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   261. Berwajah Suram

    Mata Sera berbinar-binar ketika memasuki toko perlengkapan bayi yang super lengkap. Semua yang dibutuhkan bayi baru lahir ada di sini.Dia betah berlama-lama di sana untuk melihat-lihat pakaian bayi yang lucu. Tapi dia menahan napas saat melihat label harga.Akhirnya Sera menaruh kembali pakaian yang barusan dia pegang, ke tempat semula. Sera lebih memilih pakaian satu set yang berisi lima, itu jauh lebih rendah harganya daripada baju sebelumnya.“Ayo, Mas, kita cari yang lain.”“Aku pilih yang ini.” Raven mengambil dua stel pakaian yang tadi Sera pegang, yang harganya sangat mahal, dan memasukkannya ke troli.“Mas, lebih baik yang ini saja.” Sera menunjuk lima pakaian yang tadi dia ambil.“Iya, itu juga ambil.”“Tapi yang itu nggak perlu.”Raven menggeleng. “Aku ingin memberi yang terbaik buat anak-anak kita.”Sera mengatupkan bibirnya dan tidak bisa membantah lagi kalau Raven sudah bilang begitu. Akhirnya Sera melanjutkan langkahnya lagi, melihat-lihat pakaian yang lain.Tapi Sera s

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   260. Kamu Menggodaku

    “Pak Raven, Kak Sera, kami pergi dulu,” ucap Rania setelah menghabiskan minumannya, lalu menoleh pada Salsa yang duduk di sebelahnya. “Ayo. Nanti kesiangan.”Salsa mengangguk sambil memasukkan potongan sandwich terakhir ke mulutnya. Hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah setelah libur panjang.“Iya. Hati-hati, ya,” jawab Sera yang sedang merapikan piring kotor bekas dirinya dan Raven.“Hm.” Rania mengangguk. “Oh iya, Kak, aku mau pesan ojek online. Rumah ini nomor berapa ya? Biar driver-nya gampang nyarinya.”“Bilang aja nomor tu–”“Kalian tidak perlu pesan ojek online,” sela Raven, membuat kata-kata Sera seketika terhenti. “Ada sopir yang akan mengantar kalian.”Sera langsung menoleh pada suaminya dengan tatapan penuh tanya. Raven menatap Sera sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada kedua adik iparnya.“Mulai hari ini kalian berdua akan diantar jemput. Jadi tidak perlu lagi pakai ojek online.”“Mas….” Mata Sera seketika berkaca-kaca dan lidahnya mendadak kelu.Sementar

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   259. Sosok yang Berbeda

    Demi Sera.Dia melangkah masuk.Seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang merapikan lapak buah, menatap Raven dengan curiga. “Cari apa, Mas?”Raven mengeluarkan ponsel dan membaca catatan yang ditulis Sera. “Mangga muda keras. Campur jambu dan nanas. Cabai diulek. Gula merah, bukan gula pasir,” ujarnya, dengan nada suara seolah-olah dia sedang membaca dokumen kerjaan.Ibu itu berkedip beberapa kali, lalu tersenyum tipis. “Oh. Mau bikin rujak?”Raven mengangguk samar. “Iya.”“Buat istri yang lagi ngidam, ya?”Raven terdiam selama sepersekian detik, lalu kembali mengangguk. “Iya.”Ibu itu tersenyum lebar. “Tunggu sebentar,” katanya, lalu memilihkan mangga muda, dia tekan-tekan sebentar, memasukkannya ke dalam kantong kresek. Lalu nanas yang masih segar dan jambu yang kulitnya mulus.“Cabenya mau berapa, Mas?”Raven menatap cabe rawit yang merah menyala itu. “Yang pedas sekali.”Ibu itu terkekeh-kekeh. “Kalau gitu yang banyak, Mas. Saya tambahin, ya.”Raven membayar tanpa menawar. Bahkan di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status