INICIAR SESIÓNChris menatap Scarlett dengan sorot mata penuh ketegasan. “Scarlett, kalau kamu mempertimbangkan untuk kembali bersama Tristan, Ayah menentangnya. Kamu bahkan tidak perlu bertanya alasannya. Kamu boleh bersama siapa pun, tapi tidak dengan Tristan.”
Sejak Tristan pernah memintanya mengalah demi Helen, Chris sudah memandang pernikahan itu dengan buruk. Ia tidak pernah berniat membiarkan putrinya terikat seumur hidup dengan Tristan. Sekarang setelah semuanya berakhir, untuk ap
Ruangan mendadak sunyi. Kasusnya sama seperti Lexy, korban mengalami koma.“Undang-undang perlindungan anak membuat semuanya rumit. Orang tua mereka juga sudah menyewa pengacara besar untuk menekan keluarga korban agar berdamai.”Scarlett bersandar di sofa, tatapannya gelap. Ia sudah lama tidak menangani kasus-kasus seperti ini.Sandy menatapnya dengan putus asa. “Aku tahu kamu sedang sibuk dengan persiapan resepsi pernikahanmu. Tapi saat ini, aku butuh bantuanmu langsung, aku tidak tahu harus bagaimana lagi.”Scarlett menutup map kasus itu dan menyerahkannya kembali kepada Sandy. “Besok pagi, bawakan semua dokumen lengkapnya,” katanya tenang. “Aku akan lihat apa yang bisa dilakukan.”Wajah Sandy langsung dipenuhi kelegaan. “Terima kasih, Letty.”Setelah Sandy pergi, Scarlett berdiri beberapa saat di ruang tamu, pikirannya masih dipenuhi foto-foto Claire yang terbaring tak sadarkan
Elena melangkah keluar dari pintu besar kediaman Keith River dengan perasaan campur aduk. Dinginnya angin sore langsung menyapa kulitnya, namun tidak sedingin penolakan telak yang baru saja ia terima dari kakeknya sendiri.Baru beberapa langkah ia menuruni tangga pelataran mansion, ponsel di dalam tasnya bergetar intens. Elena menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya sebelum menggeser layar. Nama 'Ibu' tertera di sana."Elena..."Suara di seberang telepon langsung terdengar parau dan gemetar, memotong bahkan sebelum Elena sempat mengucap salam. Minerva sedang menangis, dan dari intensitas napasnya, Elena tahu ibunya sedang dikuasai badai emosional yang hebat."Ibu? Ada apa? Aku baru saja selesai bicara dengan Kakek, dan—""Pulanglah, Elena. Tolong, pulang sekarang..." bisik Minerva di sela isak tangangnya. Suaranya terdengar begitu rapuh, jauh dari sosok ibu yang biasanya penuh ambisi dan tuntutan.Elena menghentikan langka
Tristan menarik Scarlett ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di rambut sang istri sembari menghirup aroma familier yang selalu berhasil menenangkannya. Ketegangan yang tadi sempat menghiasi wajahnya kini perlahan memudar, digantikan oleh tatapan penuh kehangatan."Sudahlah, Sayang," bisik Tristan lembut, jemarinya mengusap pipi Scarlett dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak ingin kamu membuang energi dan pikiranmu untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting."Scarlett hanya menganggukan kepalanya, Ia tahu apa yang akan dilakukan Tristan. Keputusannya tidak dapat diubah, kecuali jika hal itu menyangkut tentang Scarlett atau Nathan. Tristan punya cara sendiri untuk menyelesaikannya."Fokus kita sekarang adalah masa depan kita. Aku ingin kamu tetap melanjutkan persiapan resepsi pernikahan kita tanpa ada beban pikiran sedikit pun."Mendengar kata 'resepsi pernikahan', binar di mata Scarlett kembali hangat. Hal yang selalu diinginkannya sejak 8 tahun
Sementara itu, Elena dihempaskan keluar dari lobi gedung Scarnet. Berulang kali ia menghentakkan kakinya ke lantai, mengabaikan tatapan sinis dari orang-orang di sekitar lobi. Napasnya memburu, dipenuhi rasa murka karena tujuannya membawa pulang Tristan justru berakhir dengan penghinaan."Sialan! Dasar kakak tidak tahu diuntung!" umpat Elena kasar.Ia tahu, kembali ke Ravenwood dengan tangan kosong hanya akan membuat ibunya makin merana.Elena memutar otak bagaimana caranya membawa Tristan ke hadapan ibunya. Amarah dan rasa malu masih membakar dadanya, tetapi ia menolak untuk menyerah begitu saja.Lalu, sebuah nama terlintas di kepalanya: Keith. Kakeknya kandungnya yang tidak pernah ia temui.Sebagai kepala keluarga River yang dihormati, Keith pasti memiliki kuasa untuk memaksa Tristan tunduk. Elena segera melangkah menuju tepi jalan, mengangkat tangannya untuk menghentikan taksi yang melintas, dan memberikan alamat kediaman mewah milik kakek
Andrew menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan kalimatnya. "Ada seorang wanita muda bernama Elena di lobi kantor, Tuan. Dia mengaku sebagai adik kandung Anda... dan dia memaksa ingin bertemu. Katanya, dia datang untuk membawa Anda pulang ke Ravenwood untuk meminta maaf kepada nyonya Minerva."Tristan terdiam seketika. Ekspresi hangat dan sisa senyuman yang baru saja ia bagikan bersama Scarlett langsung menguap, digantikan oleh tatapan sedingin es. Aura di sekitar ruang makan berubah mencekam dalam hitungan detik."Tolak dia, Andrew. Aku tidak punya adik," jawab Tristan dengan nada rendah, namun penuh penekanan yang mutlak."Tapi Tuan, dia bersikeras dan membuat keributan kecil di lobi. Dia bahkan mengancam tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Anda," lapor Andrew dari seberang telepon dengan nada makin gelisah.Tristan melirik sekilas ke arah Scarlett yang sedang memperhatikannya dengan raut wajah bingung sekaligus khawatir. Ia mengembuskan
Minerva menggeleng lemah, Keith saja tidak bisa melunakkan hati Tristan, apalagi Elena. “Tidak perlu, sayang. Itu semua sudah berlalu. Tristan bahkan tidak mengetahui keberadaan kami. Sampai pada akhirnya ibu menemui Dia dirumah sakit, ketika kakekmu sedang dirawat.”“Dia mempunyai hidup baru dan membangun dinding es di hatinya. Dia bilang tidak ingin mengenal ibu dan ayah.”Suara Minerva benar-benar hancur. Ia menutupi wajahnya sambil terisak hebat.Elena tidak sanggup diam lagi. Ia memeluk ibunya sambil berbisik menenangkan.Namun di dalam hatinya, sebuah tekad mulai tumbuh, Elena akan menemui kakaknya.Dia akan membawa Tristan ke Ravenwood, membuatnya berlutut di hadapan Minerva, dan memohon maaf atas setiap air mata ibunya yang jatuh.---Elena berjalan dengan langkah mantap menuju ruang kerja ayahnya.Ia mengetuk sekali lalu masuk tanpa menunggu izin.Hans duduk di balik meja mahoni besar, me
Scarlett dengan tenang menyingkirkan tangan Tristan, lalu menuangkan segelas anggur untuknya. “Gemerlap malam dan riuh suasana seperti ini terlalu menyenangkan. Membuat siapa pun enggan untuk pulang.”Tristan merasa seperti sedang disindir secara halus, seolah Scarlett sedang menyinggungnya untuk k
Tristan tiba-tiba mengangkat topik tersebut, dan Scarlett menoleh sekilas sebelum tersenyum dan berkata, “Apa? Kamu berharap aku akan membuat keributan? Mengejarnya dan mengambil kembali kalung itu?”Tristan belum sempat membuka mulut untuk menjawab ketika Scarlett kembali berkata, “Jangan bilang k
Scarlett tampak sedikit terkejut. Tristan melangkah mendekat, mengangkat tangannya untuk mengacak rambut Scarlett, lalu memeluknya dengan lembut. “Kamu telah melakukan pekerjaan yang luar biasa,” ucapnya dengan nada lembut.Scarlett, yang telah membela kliennya dengan penuh semangat dan dedikasi, m
Tatapan mereka saling bertemu, lalu Tristan menggoda, “Masih belum puas?”Scarlett menjulurkan kakinya dan dengan santai menggesek tulang kering Tristan menggunakan kuku kakinya yang sudah dipoles, sebagai tanda bahwa ia tidak menyukai komentar Tristan. Tristan tertawa kecil dan menarik Scarlett ke







