Masuk“Aku sudah dengar soal itu. Tristan masih belum menemukan siapa pelakunya? Aneh, itu tidak seperti dirinya yang biasanya cepat,” kata Scarlett.Nicole menghela napas panjang, terdengar kesal. “Selama bertahun-tahun aku bekerja mendampingi Tristan, dia tidak pernah membahasnya. Bahkan saat aku baru-baru ini menyinggung soal Helen yang bertanya tentang kebakaran itu, dia juga tidak menjelaskan apa pun. Kamu pengacara. Bisakah kamu menyelidikinya?”Belum sempat Scarlett menjawab, wajah Nicole sudah berubah dingin. “Lagipula, kebakaran itu benar-benar menghancurkan hidupku.”Scarlett tersenyum tipis. “Kamu ingin memintaku menjadi pengacaramu?"Nicole mengernyit. “Aku tidak punya uang untuk membayar pengacara.”Scarlett tertawa kecil sambil melirik jam di meja. “Sudah malam, dan demamku juga sudah turun. Aku akan menyuruh sopir mengantarmu pulang.”“Tidak apa-apa. Aku bawa mobil sendiri,” jawab Nicole sambil berdiri.Scarlett menyilangkan tangan dan menatap Nicole. Melihat reaksinya, Nicol
“Scarlett.” Nicholas melangkah mendekat dengan gaya santai, alisnya terangkat penuh percaya diri. “Scarlett, aku sudah bilang, kan? Tristan memang dirawat di rumah sakit. Aku tidak berbohong.”Belum sempat Scarlett membuka mulut, Nicholas sudah lebih dulu tertawa kecil. “Kamu datang kemari untuk menjenguk Tristan, ya? Tenang saja, aku tidak akan mengganggu pasangan sejoli. Aku pergi dulu.”Sambil memasukkan tangannya ke saku, Nicholas berlalu. Saat melewati Scarlett, ia mengangkat alisnya dengan licik, seolah berkata, ‘Aku tahu kamu pasti tidak bisa menjauh dari sahabatku, Tristan. Aku tahu kamu pasti datang.’Scarlett yang masih menyelipkan kedua tangan di saku jaketnya langsung menendang kaki Nicholas dengan cepat.“Scarlett, tidak usah pura-pura malu,” goda Nicholas. Setelah itu, sambil bersiul ringan, ia berjalan pergi.Tak lama kemudian, Tristan mendekati Scarlett dengan langkah pelan. Melihat wajahnya yang pucat dan pakaian khas pasien rumah sakit, ia bertanya, “Kamu juga sakit?
Scarlett menghela napas. “Aku tidak tahu, Nicholas. Dan sejujurnya, itu bukan urusanku.”Nicholas terkekeh, sengaja menggoda. “Aku hanya memberitahumu, Tristan kita sedang sakit karena terlalu merindukanmu. Sejak kamu menjatuhkan bom berupa dokumen perceraian itu, dia tumbang total. Demamnya tembus 45 derajat. Dokter-dokter di rumah sakit sampai angkat tangan—demamnya tidak mau turun. Kalau begini terus, dia benar-benar tamat.”Mendengar cerita Nicholas yang berlebihan, Scarlett tertawa. “Demam setinggi itu? Dia bahkan tidak perlu dikremasi.”Melihat Nicholas terdiam, Scarlett iseng memukul kepalanya dengan tumpukan dokumen di tangannya. “Kamu seharusnya naik panggung komedi.” Kalau seseorang benar-benar demam setinggi itu selama berhari-hari, pasti sudah mati, bukan masih hidup sampai sekarang.“Scarlett, rambutku jadi berantakan,” protes Nicholas sambil merapikannya kembali, lalu menambahkan dengan serius, “Aku tidak bercanda. Aku benar-benar khawatir soal Tristan. Kalau kamu tidak
Sudah tiga tahun sejak terakhir kali mereka bertemu. Namun, Scarlett justru terlihat semakin memikat—lebih dewasa, lebih anggun, dan membawa aura dominan yang sulit diabaikan.Pandangan mereka bertemu. Bibir Scarlett melengkung membentuk senyum tipis bernada mengejek saat ia menatap Tristan. “Jangan bilang setelah tiga tahun tidak bertemu, kamu malah tidak bisa hidup tanpaku?”Nada bicaranya terdengar santai, tetapi Tristan langsung mengencangkan lengannya di pinggang Scarlett dan menariknya lebih dekat. Kerinduan yang selama ini ia pendam tak lagi bisa disembunyikan.Tristan menatapnya dalam diam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Scarlett pun meletakkan kedua tangannya di dada Tristan dan mendorongnya. “Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan? Kalau ada yang ingin kamu katakan, simpan saja untuk di ruang sidang.”Namun Tristan sama sekali tidak berniat melepaskannya. Pelukannya justru semakin erat. Wajah Scarlett langsung berubah dingin. “Tristan, jangan salah paham.
Scarlett menghela napas lelah. “Kita cari waktu untuk mengurus berkas-berkasnya, ya?” katanya. “Aku juga banyak urusan, begitu juga kamu.”Scarlett pikir pertemuan mereka kemarin berjalan cukup baik. Dia berharap mereka bisa membicarakan semuanya dengan tenang dan menyelesaikannya. Tapi ternyata Tristan masih sama keras kepalanya seperti tiga tahun lalu. Walaupun ide bercerai itu datang dari Scarlett, dia tetap kesal karena Tristan seolah tidak pernah mempertimbangkan bagaimana dia memperlakukannya dulu. Entah itu soal Nicole atau Helen—semua orang seolah lebih penting bagi Tristan daripada dirinya.Tristan tahu kalau mereka terus berbicara, pertengkarannya hanya akan makin parah. Dia menatap Scarlett lama sebelum membuka pintu mobil dan turun. Selama hampir 30 tahun hidupnya, ini pertama kalinya dia “diusir” keluar dari mobil.Pintu mobil tertutup keras, dan Scarlett langsung menyalakan mesin tanpa menatapnya lagi, kemudian melajukan mobilnya.Dengan tangan di saku, Tristan menatap m
Scarlett tak kuasa menahan tawa kecil. “Jangan khawatir. Sekarang aku sudah punya anak, aku tidak akan melakukan hal bodoh. Lagipula, aku masih punya harga diri.”Meski dulu ia pernah mengabaikan peringatan dari teman-temannya demi Tristan, masa itu sudah lama berlalu. Sejak musim dingin di Bougenville Residence, ia merasa seolah seluruh perasaannya terhadap Tristan selama bertahun-tahun telah terhapus bersih.Setelah mendengar penegasan Scarlett, Bruce pun sedikit melunak. “Syukurlah kalau begitu. Setidaknya kamu masih punya harga diri.”Scarlett meliriknya tajam, namun Bruce hanya tertawa sambil mengacak rambutnya. “Aku pergi dulu. Kamu sebaiknya masuk ke dalam.”“Baik,” jawab Scarlett. Namun ia tetap berdiri di luar sampai Bruce menyalakan mobilnya dan melambaikan tangan, menyuruhnya masuk. Setelah itu, dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jaket, ia berjalan santai kembali ke rumah.Selama tiga tahun ia tinggal di luar negeri, terutama saat Nathan lahir, Scarlett sangat bersyukur







