Share

Bab 60

Author: Mrs.Jeon
last update Last Updated: 2025-07-18 01:42:11

Setelah selesai pergulatan panas, Tristan menyandarkan kepala pada tangannya dan berbaring miring, menatap Scarlett dengan penuh kekaguman. Bagi Tristan, rona kemerahan di wajah Scarlett tampak sangat mempesona.

Menyadari tatapan itu, Scarlett membuka matanya dan membalas pandangan Tristan dengan ekspresi sinis. “Belum pernah melihat perempuan cantik sebelumnya?”

“Aku belum pernah melihat yang secantik kamu,” jawab Tristan sambil mengusap lembut punggung dan lehernya.

“Anak kita nanti lebih bai
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Peluklah aku Seperti Dulu   Bab 159

    Suara lembut Nathan adalah hal terakhir yang didengar Scarlett sebelum ia buru-buru menyelinap ke bawah selimut seperti pencuri di malam hari. Ia membungkus dirinya rapat-rapat, bahkan menutupi kepala, seolah-olah dengan tidak melihat Summer, rasa canggung itu akan hilang begitu saja.Mendengar Nathan memanggil, Summer tersadar. Pipi wanita itu memerah karena malu saat melihat Tristan tergeletak santai di atas tempat tidur. “Tristan, bagaimana kamu bisa ada di sini? Kenapa tidak memberi tahu dulu?”Seandainya ia tahu Tristan ada di kamar Scarlett, pasti ia akan mengetuk dan menunggu jawaban sebelum masuk. Sekarang mereka bahkan belum resmi menikah lagi, dan Nathan masih saja membuat keributan di atas tempat tidur. Dengan terpaksa Summer menelan rasa canggung itu dan mengangkat Nathan. “Ibu bawa Nathan keluar dulu. Kalian berdua cepat bangun dan turun untuk sarapan.” Saat menggendong Nathan keluar, ia juga berbalik untuk mengambil pakaian anak itu.Begi

  • Peluklah aku Seperti Dulu   Bab 158

    Scarlett menyindir, “Nathan sudah tidur pulas, kenapa kamu masih bangun?”Tristan tersenyum sendu. “Aku merindukan anak kecil itu. Bahkan aku sampai bermimpi menerbangkan helikopter hanya untuk menemuinya.”Scarlett tak kuasa menolak tatapan memohon Tristan yang seperti anak anjing itu.Melihat sikapnya yang mulai melunak, Tristan menggenggam tangannya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah, seolah-olah ia sedang membawanya pulang ke kediaman keluarga King.Di kamar, Nathan tidur dengan tenang. Tristan membungkuk dan mengecup lembut kening bocah itu.Scarlett menaruh dua hadiah yang dibawa Tristan ke samping, lalu melepas mantel sambil berkata, “Set Lego yang kamu pilih terlalu sulit untuknya. Dia belum bisa memainkannya.”Tristan menyerahkan mantelnya pada Scarlett sambil tertawa kecil. “Nanti aku yang bantu dia.”Dalam momen itu, mereka benar-benar tampak seperti sebuah keluarga kecil.

  • Peluklah aku Seperti Dulu   Bab 157

    Scarlett pergi selama tiga tahun. Dan selama itu juga Tristan tidak merayakan Natal, maupun mengunjungi rumah keluarga lamanya, karena ia merasa terlalu malu untuk pulang.Bersandar di tempat tidur, Scarlett berkata, “Menghabiskan Natal di rumahmu rasanya kurang pantas.”Tristan tidak memaksanya. Ia hanya berkata, “Masih ada waktu sebulan lagi. Pikirkan saja dulu.”Scarlett tidak menolak secara langsung, hanya menjawab dengan gumaman pelan. Namun dalam waktu sebulan untuk berubah pikiran, tetap saja mustahil baginya untuk merayakan Natal bersama keluarga King.Setelah mengobrol beberapa saat, Tristan dengan enggan mengakhiri panggilan itu.Di tempat tidur, Scarlett menoleh ke arah Nathan yang sedang tertidur di ranjang kecilnya. Ia membungkuk untuk mengecupnya, lalu mematikan lampu kamar dan beristirahat.Beberapa hari berikutnya, Tristan harus bepergian untuk urusan pekerjaan. Scarlett menikmati ketenangan yang jaran

  • Peluklah aku Seperti Dulu   Bab 156

    Saat Tristan berbicara seperti itu, amarah Scarlett perlahan menguap, seperti uap dari masakan panas yang baru diangkat dari kompor. Tangannya terlepas dari pinggang Tristan, dan dengan nada pasrah ia bergumam, “Baiklah… terserah kamu.”Namun Tristan belum puas. Ia meminta janji untuk benar-benar rujuk kembali. Scarlett memberikannya dengan setengah hati—dan Tristan tahu itu. Baru ketika telepon dari Nathan masuk, Tristan akhirnya melunak dan, meski enggan, namun Tristan mengantar Scarlett pulang.Begitu mereka kembali ke kediaman keluarga Wilson, Summer berkomentar sinis, “Kamu ini sama saja dengan ayahmu dulu, sulit sekali ditemui. Kerjanya keluar terus.”“Ibu.” Scarlett menggendong Nathan yang berlari menghampirinya, mengecup pipinya, lalu menoleh pada Summer. “Tidak sedramatis itu.”Tentu saja, Scarlett tidak mungkin mengaku bahwa ia menghabiskan malam panas di apartemen Tristan. Summer past

  • Peluklah aku Seperti Dulu   Bab 155

    Ciuman Tristan yang membara, kehangatan samar dari napasnya, serta bayangan tentang perjuangannya melawan maut dalam mimpi membuat Scarlett berbisik, “Baik.”Tristan segera menyalakan mobil dan melaju langsung menuju Celestial Manor. Namun karena apartemen Scarlett lebih jauh, Tristan membawa Scarlett ke apartemennya karena lokasinya lebih dekat dan gedungnya tidak setinggi apartemen Scarlett.Saat itu, ia tak ingin membuang waktu sedetik pun. Yang ia inginkan hanyalah berdua saja dengan Scarlett.Tak lama kemudian, mereka sudah berada di dalam apartemennya. Tristan menyalakan lampu, menutup pintu, dan tanpa berkata apa-apa langsung menarik Scarlett ke dalam pelukannya, lalu menciumnya dengan penuh gairah.Scarlett bisa merasakan kegelisahan Tristan dan reaksi fisiknya yang begitu nyata. Di momen itu, kenangan-kenangan pahit perlahan memudar, tergantikan oleh masa-masa indah sebelum hubungan mereka retak, aksi-aksi heroik Tristan saat menyelam

  • Peluklah aku Seperti Dulu   Bab 154

    Begitu kata-kata Tristan terucap, ekspresi Helen langsung menggelap. “Tristan, apa maksudmu?” bentaknya.Tristan menatapnya lekat-lekat, pandangannya terkunci pada mata Helen, seolah berusaha menangkap sedikit saja petunjuk dari reaksi yang mungkin muncul di wajahnya.Setelah kebakaran tujuh tahun lalu, Helen dinyatakan “meninggal”, dan saat itu Tristan tidak terlalu memikirkannya. Namun tiga tahun lalu, Helen tiba-tiba muncul kembali. Kini, bukan hanya kembali dari kematian, ia juga menjadikan bukti itu sebagai alat tawar-menawar. Tristan tak punya pilihan selain memikirkan semuanya dengan lebih dalam. Segala pikiran yang berkecamuk sejak kunjungan ke rumah sakit pagi tadi mendadak terasa jernih saat ia berhadapan langsung dengan Helen.Setelah mendengar tuduhan tersirat dari Tristan, Helen membalas dengan tajam, “Kamu sudah kehilangan akal, Tristan. Kamu begitu terobsesi pada Scarlett sampai tidak mau menerima kebenaran yang jelas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status