Share

Bab 2

Author: Yu.Az.
last update publish date: 2026-10-14 16:12:55

Suara tangisan yang terdengar dari sudut ruangan kembali menarik perhatian Kinara Wang. Perlahan ia membuka matanya, lalu pandangannya jatuh pada seorang gadis yang sedang memegangi pipinya dengan air mata berlinang.

Kania berdiri di hadapan Melin dan Jason dengan tubuh gemetar. Pipinya memerah setelah tamparan yang baru saja diberikan Melin, sementara Jason hanya berdiri di samping istrinya dengan wajah penuh kemarahan.

“Kau ini memang keterlaluan, Kania!” bentak Melin. “Kau yang menyebabkan Tuan Muda Alexander Huang mengalami kecelakaan. Jadi, kau juga yang harus bertanggung jawab dengan menikahinya dan merawatnya seumur hidup!”

Kania semakin terisak. Ia menggeleng berkali-kali sambil memegang kedua tangannya sendiri yang gemetar.

“Aku tahu aku salah, Bu,” ucapnya terbata-bata. “Tapi waktu itu aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. Aku hanya ... aku hanya cemburu ketika melihat Tuan Muda Huang melakukan fitting pakaian pengantin dan melakukan pemotretan sebelum pernikahan.”

“Cemburu?” Melin mendengus. “Karena cemburu, kau malah melakukan hal seperti itu?”

“Aku tidak bermaksud membuatnya seperti ini!” Kania langsung membela diri. “Aku hanya ingin membuatnya takut. Aku tidak menyangka dia akan melindungi tunangannya sampai akhirnya dia mengalami kecelakaan.”

Kania kemudian berlutut di hadapan kedua orang tuanya.

“Bu, Ayah, tolong aku,” pintanya dengan suara bergetar. “Aku tidak mau menikah dengan Tuan Muda Huang. Aku tidak mau menghabiskan hidupku bersama pria yang sekarang bahkan tidak bisa menjalani hidupnya seperti orang normal.”

Kinara hanya diam mendengarkan semuanya. Meski tubuhnya masih lemah karena kecelakaan, pikirannya perlahan dipenuhi kenangan yang sangat familiar.

Hari ini sepuluh tahun yang lalu. Hari ketika dirinya dan Kania mengalami kecelakaan.

Dalam kehidupan sebelumnya, Kania-lah yang mengajaknya pergi ke mal. Awalnya Kinara tidak menaruh curiga karena ia mengira mereka hanya ingin menghabiskan waktu bersama seperti biasanya.

Tpi emuanya berubah ketika Kania tanpa sengaja melihat Alexander Huang sedang melakukan fitting pakaian pengantin bersama tunangannya. Bahkan, pria itu sedang melakukan pemotretan prewedding dengan wanita yang dicintainya.

Kania yang selama ini terobsesi pada Alexander langsung kehilangan kendali.

Karena rasa cemburu, ia mencoba menabrak tunangan Alexander. Namun, Alexander justru melindungi wanita itu dan akhirnya dirinya sendiri yang menjadi korban.

Sejak hari itu, kehidupan Alexander berubah. Tuan Muda Huang yang dahulu dikenal sebagai pewaris keluarga nomor satu kini hanya terbaring tanpa kesadaran. Keluarga Huang tentu saja tidak akan membiarkan masalah itu berlalu begitu saja.

Keluarga Wang dituntut bertanggung jawab. Dan karena Kania adalah penyebab utama kecelakaan tersebut, keluarga Huang meminta Kania menikah dengan Alexander serta merawatnya seumur hidup.

Tapi Kania tidak pernah benar-benar mencintai Alexander. Ia hanya terobsesi pada pria itu karena tidak bisa mendapatkannya. Sekarang setelah Alexander kehilangan kesadarannya, rasa cintanya berubah menjadi jijik.

“Aku tidak mau menikah dengannya,” Kania kembali memohon. “Aku masih muda. Aku tidak mau hidupku berakhir hanya karena satu kesalahan.”

Kinara menatap wajah Kania tanpa ekspresi. Dulu, ia tidak pernah memahami mengapa Kania begitu takut menikah dengan Alexander. Sekarang ia tahu alasannya.

Kania tidak mencintai Alexander. Kania hanya menginginkan sesuatu yang tidak bisa ia miliki.

Ketika Kinara masih tenggelam dalam pikirannya, Kania tiba-tiba menyadari bahwa dirinya sudah sadar. Gadis itu langsung menoleh dan menatap Kinara dengan mata berkaca-kaca.

“Kinara!” panggilnya lirih.

Kinara menoleh.

Kania segera berjalan mendekat lalu menggenggam tangannya.

“Kau sudah sadar?” tanyanya dengan suara penuh kekhawatiran. “Bagaimana keadaanmu? Apakah masih sakit?”

Kinara hampir tertawa. Betapa familiar wajah penuh kepura-puraan itu, tapi ia hanya menggeleng pelan.

“Aku baik-baik saja, kak.”

Kania langsung menggigit bibirnya, lalu air mata kembali mengalir di pipinya.

“Kinara, aku ingin meminta sesuatu padamu.”

Melin yang berada di sampingnya langsung menyela dengan wajah tidak senang.

“Kania, jangan macam-macam.” Nada suaranya terdengar jauh lebih lembut daripada sebelumnya.

Kania menundukkan kepala. “Aku ... aku tidak sanggup menikah dengan Tuan Muda Huang.”

Ia kembali menatap Kinara. “Bisakah kau menggantikanku?”

Ruangan itu mendadak hening. Melin dan Jason langsung memasang wajah marah.

“Kania!” bentak Jason. “Jangan lempar tanggung jawabmu kepada adikmu!”

“Benar!” sambung Melin dengan wajah tegas. “Kinara sudah terlalu sering menanggung kesalahanmu. Jangan membuatnya menanggung masalah sebesar ini juga.”

Kinara hampir tersenyum mendengar ucapan itu. Di kehidupan sebelumnya, ia benar-benar tertipu oleh sandiwara mereka. Ia mengira Melin dan Jason sedang membelanya.

Padahal, keduanya hanya ingin memastikan Kinara bersedia menggantikan Kania.

Mereka sengaja bertengkar di kamar rawat inapnya, seolah-olah sedang membela Kinara dari Kania. Semakin keras mereka berdebat, semakin mudah bagi Kania untuk membuat Kinara merasa kasihan.

Dan pada akhirnya, Kinara selalu menjadi orang yang mengalah.

“Kak,” kata Kinara pelan.

Kania langsung menatapnya penuh harap. “Apa?”

Kinara menarik napas panjang. “Kau ingin menikah dengan Damian, menggantikan aku?”

Mata Kania langsung bergerak gelisah. Melin dan Jason pun terdiam. Kinara dapat melihat perubahan kecil pada ekspresi mereka.nMereka sedang menunggu jawabannya.

Seperti kehidupan sebelumnya. Dulu, ketika Kania meminta Kinara menggantikannya menikah dengan Alexander, Kinara langsung menolak untuk pertama kalinya. Ia menolak karena dirinya sangat mencintai Damian.

Bahkan ketika keluarganya terus memaksanya, Kinara tetap mempertahankan pria yang dicintainya itu.

Penolakan tersebut akhirnya memperlihatkan wajah asli keluarga Wang. Tapi setelah beberapa saat, mereka kembali berpura-pura menjadi keluarga yang menyayanginya.

Kini Kinara sudah tahu semuanya. Ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Kania menatapnya dengan mata penuh harapan.b“Iya,” jawab Kania akhirnya. “Aku ... aku tidak mencintainya. Kau jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin menikah dengan pria cacat itu.”

Kinara tersenyum tipis. Jika di kehidupan sebelumnya Kania rela melakukan apa saja untuk mendapatkan Damian, maka kali ini Kinara akan memberinya kesempatan.

‘Kau ingin bersama Damian, bukan? Baiklah. Di kehidupan ini, aku akan mengabulkannya,’ Batin Kinara.

Kinara menggenggam tangan Kania dan memberikan senyum lembut yang sama seperti yang selalu ia berikan di kehidupan sebelumnya.

“Baiklah.”

Kania terdiam.

Kinara kemudian berkata dengan suara tenang, “Kita tukar pernikahan ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 9

    Hari pernikahan yang telah ditentukan akhirnya tiba.Di mansion keluarga Huang, suasana terasa sunyi meskipun upacara pernikahan sedang berlangsung. Tidak ada senyum bahagia maupun ucapan selamat yang meriah. Para tamu hanya menunjukkan wajah muram, seolah-olah mereka sedang menghadiri acara yang tidak diinginkan.Di hadapan semua orang, Kinara berdiri mengenakan gaun hitam sederhana. Di sampingnya, Alexander Huang terbaring di atas ranjang khusus, tidak menunjukkan reaksi sedikit pun akibat kondisinya yang vegetatif.Kinara melirik pria itu sekilas. ‘Jadi, inilah pria yang akan menjadi suamiku.’ Ia tidak mengenal Alexander secara pribadi, tetapi tahu bahwa pria tersebut menjadi korban tindakan gegabah Kania. Dalam kehidupan sebelumnya, Kinara hanya tahu jika Alexander Huang tidak akan pernah bangun dari tidurnya. Sementara itu, keluarga Huang memandang pengantin wanita dengan ekspresi muram dan marah. Sebagian merasa sedih melihat keadaan Alexander, sedangkan yang lain masih menyim

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 8

    “Ingat! Harta warisan itu berupa perhiasan serta harta bawaan milik mendiang orang tua Nona Kinara. Pastikan semuanya disiapkan dengan lengkap. Sedangkan untuk saham perusahaan, enam puluh persen sudah siap diserahkan sesuai hak Nona Kinara,” ujar Tuan Harto dengan tegas.Pria paruh baya itu berdiri di ruang tamu mansion keluarga Wang, menatap Melin dan Jason yang sejak tadi terus berusaha mencari alasan untuk menunda penyerahan warisan tersebut. Di samping mereka, Kania juga duduk dengan wajah muram, jelas tidak menyukai kedatangan pengacara kepercayaan keluarga Wang itu.Setelah menemui Kinara di rumah sakit, Tuan Harto langsung bergegas menuju mansion keluarga Wang untuk menyelesaikan urusan warisan. Ia tidak ingin menunda-nunda lagi, terlebih setelah Kinara sendiri yang memintanya memastikan seluruh hak miliknya segera dipersiapkan.Melin berusaha mempertahankan senyumnya, meskipun jemarinya sudah mengepal di balik gaun yang dikenakannya.“Tuan Harto, bukankah usia Kinara belum c

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 7

    Tuan Harto terkejut mendengarnya. “Mahar pernikahan?” Ia mengerutkan kening. “Nona akan menikah dengan siapa?”Kinara tidak berniat menyembunyikannya. “Dengan Alexander Huang, putra sulung keluarga Huang.”Tuan Harto spontan berdiri dari kursinya. “Apa?! Nona akan menikah dengan Tuan Muda Alexander Huang?”Melihat keterkejutannya, Kinara tetap duduk dengan tenang. “Benar, Paman.”“Nona, apakah Anda sudah mempertimbangkannya dengan matang?” Tuan Harto tampak gelisah. “Paman tidak bermaksud meremehkan Tuan Muda Huang, tetapi bukankah Nona Kania seharusnya menikah dengan pria itu?”Ia menghela napas panjang. “Bagaimanapun juga, kecelakaan itu disebabkan oleh Kania. Seharusnya dialah yang bertanggung jawab, bukan Nona. Mengapa Nona justru bersedia mengambil alih pernikahan ini?”Kinara menatap Tuan Harto tanpa mengubah ekspresinya.“Paman tidak perlu khawatir. Keluarga Huang adalah keluarga yang bisa diandalkan. Mereka memiliki kekuatan dan pengaruh yang cukup untuk membantuku melindungi

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 6

    Damian tiba di mansion keluarga Zhao dengan wajah muram. Sejak meninggalkan rumah sakit, pikirannya terusik oleh sikap Kinara yang mendadak berubah dingin, bahkan berani mengusirnya dari kamar rawat inap.Begitu memasuki ruang utama mansion, langkah Damian terhenti. Ia melihat, ibunya, sedang sibuk mengarahkan para pelayan yang membawa berbagai kotak perhiasan, kain mahal, serta barang-barang berharga lainnya.“Ibu, apa yang sedang Ibu lakukan?” tanya Damian dengan kening berkerut.Maya menoleh. Begitu melihat putranya, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya.“Kau sudah pulang, Damian? Kebetulan sekali. Ibu sedang mempersiapkan mahar pernikahanmu dengan Kinara.”Damian terdiam sejenak. “Mahar pernikahan?”“Benar.” Maya mengangguk antusias. “Tadi keluarga Wang sudah menghubungi kita dan mengonfirmasi bahwa pernikahan kalian akan dilaksanakan seminggu lagi, tepat setelah Kinara keluar dari rumah sakit.”Bukannya merasa senang, Damian justru tertawa sinis.“Cih! Jadi, begitu rupanya.”

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 5

    Tatapan Kinara seketika berubah tajam. Pria yang berdiri di hadapannya adalah Damian, laki-laki yang pernah sangat ia cintai. Pria yang dahulu selalu ia bela, bahkan ketika semua orang memperingatkannya agar tidak terlalu bergantung pada cinta seseorang.Tapi pria yang sama juga telah menghancurkan hidupnya.Ingatan tentang kehidupan sebelumnya tiba-tiba menyerbu pikirannya. Ia masih mengingat bagaimana Damian dengan kejam menyuruh dokter menggugurkan kandungannya demi kepentingan Kania.Saat itu, bayi mereka berusia enam bulan dan tumbuh dengan sehat di dalam rahimnya, putranya yaitu Ethan.Bayi yang bahkan belum sempat ia peluk, tetapi sudah direnggut dari kehidupannya oleh pria yang dahulu ia percaya akan menjadi pelindungnya.Napas Kinara mendadak terasa sesak. Jemarinya mulai gemetar, sementara wajahnya perlahan kehilangan warna.Tidak, ia tidak boleh melupakan apa yang telah dilakukan pria ini.Ia tidak boleh kembali menjadi Kinara yang sama, gadis bodoh yang rela mengorbankan

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 4

    Ketika membuka mata, Kinara mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang sama sekali asing.Di hadapannya terbentang pemandangan yang indah. Sebuah sungai dengan air jernih mengalir tenang di antara bebatuan, sementara pepohonan hijau tumbuh subur di sekelilingnya.Tidak jauh dari sungai itu, berdiri sebuah rumah kecil yang tampak sederhana.Kinara tertegun cukup lama sebelum akhirnya menoleh ke kanan dan kiri.“Di mana ini?”Tentu saja, tidak ada yang menjawab pertanyaannya.Ia memandangi sekelilingnya dengan waspada, berusaha memastikan apakah dirinya sedang bermimpi atau benar-benar berada di tempat asing tersebut.“Bukankah tadi aku masih berada di rumah sakit?” gumamnya. “Bagaimana bisa tiba-tiba berada di sini?”Kinara mencubit lengannya sendiri untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Rasa sakit yang muncul membuatnya mengerutkan kening.“Ini bukan mimpi?”Ia kembali menatap cincin di jarinya. Cahaya yang sebelumnya menyilaukan kini telah menghilang, membuat benda it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status