Share

Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat
Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat
Author: Yu.Az.

Bab 1

Author: Yu.Az.
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-14 16:12:32

Tes!

Setetes air mata jatuh di atas batu nisan kecil yang berdiri sendirian di tengah pemakaman. Pada batu nisan itu hanya tertulis satu nama yang membuat dada Kinara Wang terasa seperti diremas.

"Ethan ...." Suaranya bergetar. Kedua tangannya mencengkeram ujung bajunya. "Maafkan Ibu, Nak."

Anaknya bahkan belum sempat melihat dunia, tetapi sudah dipaksa meninggalkan ibunya. Kinara kehilangan Ethan karena suaminya sendiri memaksanya menggugurkan kandungan demi anak saudara kembarnya.

Kakak yang selama ini yang ia sayangi dengan sepenuh hati dan selalu mengalah untuk sang kakak.

Sebagai seorang dokter yang menguasai pengobatan modern dan tradisional, Kinara mati-matian membantu Kania yang selama bertahun-tahun kesulitan hamil. Ia tidak pernah menyangka bahwa setelah Kania akhirnya mengandung, anak itu justru merupakan darah daging Damian, suaminya sendiri.

Lebih menyakitkan lagi, ketika mengetahui Kinara juga sedang hamil, Damian memaksanya menggugurkan kandungan.

"Kania susah hamil," ujar Damian waktu itu tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Biarkan dia melahirkan penerus keluarga Zhao lebih dulu. Sedangkan kau masih bisa punya anak lagi."

Kalimat itu menghancurkan hati Kinara. Tapi ia tetap bertahan demi Ethan. Sayangnya, perjuangannya berakhir sia-sia.

Kini Ethan telah dimakamkan, sementara Damian dan Kania justru sedang merayakan kelahiran putra mereka. Tidak seorang pun datang menemani Kinara ke pemakaman.

Dengan tubuh lemah dan mata bengkak, Kinara meninggalkan makam putranya.

"Maafkan Ibu, Ethan," bisiknya sebelum pergi. "Ibu akan segera menyusulmu."

Kinara berjalan menuju jalan raya, kemudian menaiki taksi menuju villa keluarga Wang. Ia sengaja masuk melalui pintu belakang karena tidak ingin bertemu siapa pun.

Baru beberapa langkah memasuki villa, suara percakapan dari ruang tengah membuatnya berhenti.

"Untung saja anak Kinara sudah mati," terdengar suara Kania.

Kinara membeku.

"Putraku sekarang bisa menjadi pewaris keluarga Zhao tanpa ada yang menghalangi."

Kemudian terdengar tawa beberapa orang. Kinara mengenali suara mereka. Itu suara ayah dan ibunya.

"Memang sudah sepantasnya," ujar ibunya dingin. "Seharusnya sejak dulu Kinara tidak perlu ada. Kalau dia juga mati dan menyusul ayah serta ibunya, semuanya akan jauh lebih mudah."

Kinara mengerutkan kening. "Menyusul ayah dan ibunya?"

Jantungnya berdegup kencang. Bukankah mereka adalah orang tua kandungnya? Pikir Kinara.

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, suara Damian terdengar.

"Jangan terburu-buru. Kita masih membutuhkan tanda tangan dan stempel Kinara untuk membuka akses harta serta perusahaan Wang."

Kinara menahan napas.

"Setelah semuanya menjadi milik kita, barulah kita bisa menyingkirkannya."

Tubuh Kinara mulai gemetar.

Kemudian Kania tertawa getir. "Aku sudah muak berpura-pura menjadi saudara kembarnya selama dua puluh delapan tahun. Padahal kami hanya sepupu."

Dunia Kinara seakan berhenti. "Sepupu?"

Ia menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Selama ini Kania bukan saudara kembarnya.

Lalu suara ibunya kembali terdengar. "Ibu dan ayahmu juga sudah muak berpura-pura menyayangimu. Semua itu hanya karena harta saudara kembarku dan saudara kembar Jason."

Kinara merasa seluruh hidupnya runtuh.

Orang yang ia cintai sebagai keluarga ternyata hanya berpura-pura menyayanginya demi harta.

"Nona!"

Suara pelayan dari belakang membuat Kinara tersentak.

"Nona Kinara, apa yang Nona lakukan di sini?"

Semua orang di dalam ruangan langsung terdiam.

"Kinara?" suara Damian terdengar panik.

Kinara tidak menunggu lebih lama. Ia mendorong pelayan yang menghalangi jalannya lalu berlari menuju hutan di belakang villa.

"Kejar dia!" teriak Kania.

Kinara terus berlari tanpa menoleh. Ranting-ranting menggores kulitnya, tetapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin menjauh dari orang-orang yang selama dua puluh delapan tahun ia anggap sebagai keluarganya, pelariannya berakhir di ujung sebuah jurang.

Kinara berbalik menatap Damian, Kania, serta orang-orang yang selama ini ia cintai telah mengejarnya.

"Kinara, kembali!" Kania mencoba membujuk. "Semua yang kau dengar tadi salah paham!"

"Salah paham?" Kinara tertawa getir.

Damian maju perlahan. "Aku tahu kau sedih karena kehilangan anak kita. Tapi kita masih bisa punya anak lagi. Dokter bilang kau masih muda dan tubuhmu sehat."

"Jangan sebut Ethan sebagai anakmu."

"Kinara, aku hanya ingin—"

"Cukup!"

Kinara menatap mereka satu per satu dengan kebencian.

"Aku benci kalian semua. Sampai mati pun, aku tak akan sudi memberikan harta keluarga Wang."

Air mata mengalir di wajahnya. "Andaikan aku bisa mengulang waktu ...." Suaranya bergetar. "Aku akan membuat kalian semua hancur berkeping-keping sampai kalian memohon kematian."

"Kinara, jangan!"

Damian berusaha maju. Namun, Kinara justru mundur perlahan-lahan. Hingga tumitnya menyentuh ujung jurang.

"Kinara!"

Ia tersenyum tipis. "Ibu ... Ayah ... Ethan ...." Tubuhnya jatuh ke dalam jurang.

"Aku datang."

.…

Kegelapan menyelimuti kesadarannya. Lalu sebuah suara terdengar samar.

"Aku tidak mau menikah dengan pria vegetatif itu!"

Kinara mengerutkan kening. Suara itu sangat familiar.

Plak!

Suara tamparan keras menggema. Kinara lamgsung membuka mata. Cahaya putih menyilaukan pandangannya. Ia mengangkat tangannya dan mendapati kulitnya jauh lebih muda.

Napasnya tertahan. Di hadapannya berdiri orang-orang yang sangat ia kenal.

Kinara menatap sekeliling dengan mata melebar.

"Ini ...."

Tangannya menyentuh wajahnya sendiri. "Jangan-jangan ...."

Kinara melihat pantulan dirinya di cermin. Wajah berusia dua puluh delapan tahun yang penuh luka telah menghilang. Kini ia kembali menjadi gadis berusia delapan belas tahun.

Air mata perlahan memenuhi matanya.

"Apa ini? Aku lahir kembali?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 9

    Hari pernikahan yang telah ditentukan akhirnya tiba.Di mansion keluarga Huang, suasana terasa sunyi meskipun upacara pernikahan sedang berlangsung. Tidak ada senyum bahagia maupun ucapan selamat yang meriah. Para tamu hanya menunjukkan wajah muram, seolah-olah mereka sedang menghadiri acara yang tidak diinginkan.Di hadapan semua orang, Kinara berdiri mengenakan gaun hitam sederhana. Di sampingnya, Alexander Huang terbaring di atas ranjang khusus, tidak menunjukkan reaksi sedikit pun akibat kondisinya yang vegetatif.Kinara melirik pria itu sekilas. ‘Jadi, inilah pria yang akan menjadi suamiku.’ Ia tidak mengenal Alexander secara pribadi, tetapi tahu bahwa pria tersebut menjadi korban tindakan gegabah Kania. Dalam kehidupan sebelumnya, Kinara hanya tahu jika Alexander Huang tidak akan pernah bangun dari tidurnya. Sementara itu, keluarga Huang memandang pengantin wanita dengan ekspresi muram dan marah. Sebagian merasa sedih melihat keadaan Alexander, sedangkan yang lain masih menyim

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 8

    “Ingat! Harta warisan itu berupa perhiasan serta harta bawaan milik mendiang orang tua Nona Kinara. Pastikan semuanya disiapkan dengan lengkap. Sedangkan untuk saham perusahaan, enam puluh persen sudah siap diserahkan sesuai hak Nona Kinara,” ujar Tuan Harto dengan tegas.Pria paruh baya itu berdiri di ruang tamu mansion keluarga Wang, menatap Melin dan Jason yang sejak tadi terus berusaha mencari alasan untuk menunda penyerahan warisan tersebut. Di samping mereka, Kania juga duduk dengan wajah muram, jelas tidak menyukai kedatangan pengacara kepercayaan keluarga Wang itu.Setelah menemui Kinara di rumah sakit, Tuan Harto langsung bergegas menuju mansion keluarga Wang untuk menyelesaikan urusan warisan. Ia tidak ingin menunda-nunda lagi, terlebih setelah Kinara sendiri yang memintanya memastikan seluruh hak miliknya segera dipersiapkan.Melin berusaha mempertahankan senyumnya, meskipun jemarinya sudah mengepal di balik gaun yang dikenakannya.“Tuan Harto, bukankah usia Kinara belum c

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 7

    Tuan Harto terkejut mendengarnya. “Mahar pernikahan?” Ia mengerutkan kening. “Nona akan menikah dengan siapa?”Kinara tidak berniat menyembunyikannya. “Dengan Alexander Huang, putra sulung keluarga Huang.”Tuan Harto spontan berdiri dari kursinya. “Apa?! Nona akan menikah dengan Tuan Muda Alexander Huang?”Melihat keterkejutannya, Kinara tetap duduk dengan tenang. “Benar, Paman.”“Nona, apakah Anda sudah mempertimbangkannya dengan matang?” Tuan Harto tampak gelisah. “Paman tidak bermaksud meremehkan Tuan Muda Huang, tetapi bukankah Nona Kania seharusnya menikah dengan pria itu?”Ia menghela napas panjang. “Bagaimanapun juga, kecelakaan itu disebabkan oleh Kania. Seharusnya dialah yang bertanggung jawab, bukan Nona. Mengapa Nona justru bersedia mengambil alih pernikahan ini?”Kinara menatap Tuan Harto tanpa mengubah ekspresinya.“Paman tidak perlu khawatir. Keluarga Huang adalah keluarga yang bisa diandalkan. Mereka memiliki kekuatan dan pengaruh yang cukup untuk membantuku melindungi

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 6

    Damian tiba di mansion keluarga Zhao dengan wajah muram. Sejak meninggalkan rumah sakit, pikirannya terusik oleh sikap Kinara yang mendadak berubah dingin, bahkan berani mengusirnya dari kamar rawat inap.Begitu memasuki ruang utama mansion, langkah Damian terhenti. Ia melihat, ibunya, sedang sibuk mengarahkan para pelayan yang membawa berbagai kotak perhiasan, kain mahal, serta barang-barang berharga lainnya.“Ibu, apa yang sedang Ibu lakukan?” tanya Damian dengan kening berkerut.Maya menoleh. Begitu melihat putranya, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya.“Kau sudah pulang, Damian? Kebetulan sekali. Ibu sedang mempersiapkan mahar pernikahanmu dengan Kinara.”Damian terdiam sejenak. “Mahar pernikahan?”“Benar.” Maya mengangguk antusias. “Tadi keluarga Wang sudah menghubungi kita dan mengonfirmasi bahwa pernikahan kalian akan dilaksanakan seminggu lagi, tepat setelah Kinara keluar dari rumah sakit.”Bukannya merasa senang, Damian justru tertawa sinis.“Cih! Jadi, begitu rupanya.”

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 5

    Tatapan Kinara seketika berubah tajam. Pria yang berdiri di hadapannya adalah Damian, laki-laki yang pernah sangat ia cintai. Pria yang dahulu selalu ia bela, bahkan ketika semua orang memperingatkannya agar tidak terlalu bergantung pada cinta seseorang.Tapi pria yang sama juga telah menghancurkan hidupnya.Ingatan tentang kehidupan sebelumnya tiba-tiba menyerbu pikirannya. Ia masih mengingat bagaimana Damian dengan kejam menyuruh dokter menggugurkan kandungannya demi kepentingan Kania.Saat itu, bayi mereka berusia enam bulan dan tumbuh dengan sehat di dalam rahimnya, putranya yaitu Ethan.Bayi yang bahkan belum sempat ia peluk, tetapi sudah direnggut dari kehidupannya oleh pria yang dahulu ia percaya akan menjadi pelindungnya.Napas Kinara mendadak terasa sesak. Jemarinya mulai gemetar, sementara wajahnya perlahan kehilangan warna.Tidak, ia tidak boleh melupakan apa yang telah dilakukan pria ini.Ia tidak boleh kembali menjadi Kinara yang sama, gadis bodoh yang rela mengorbankan

  • Pembalasan Dendam: Kutinggalkan Suami Pengkhianat   Bab 4

    Ketika membuka mata, Kinara mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang sama sekali asing.Di hadapannya terbentang pemandangan yang indah. Sebuah sungai dengan air jernih mengalir tenang di antara bebatuan, sementara pepohonan hijau tumbuh subur di sekelilingnya.Tidak jauh dari sungai itu, berdiri sebuah rumah kecil yang tampak sederhana.Kinara tertegun cukup lama sebelum akhirnya menoleh ke kanan dan kiri.“Di mana ini?”Tentu saja, tidak ada yang menjawab pertanyaannya.Ia memandangi sekelilingnya dengan waspada, berusaha memastikan apakah dirinya sedang bermimpi atau benar-benar berada di tempat asing tersebut.“Bukankah tadi aku masih berada di rumah sakit?” gumamnya. “Bagaimana bisa tiba-tiba berada di sini?”Kinara mencubit lengannya sendiri untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Rasa sakit yang muncul membuatnya mengerutkan kening.“Ini bukan mimpi?”Ia kembali menatap cincin di jarinya. Cahaya yang sebelumnya menyilaukan kini telah menghilang, membuat benda it

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status