Share

Bab 2

Author: Ummi
last update publish date: 2025-10-14 11:35:49

Wajah pria bertubuh kekar itu memerah, matanya berkilat marah. "Kurang ajar!! Kamu pikir bisa dengan mudah menghadapi kami, hah?!" bentaknya pada Bima.

Tanpa peringatan, dia mengeluarkan pisau belati dari balik jasnya. Mata dinginnya menatap Bima dengan tatapan membunuh. Tapi Bima lagi-lagi memberikan senyum mengejek seolah ia tidak memiliki rasa takut.

"Bocah kurang ajar! Beraninya kamu ikut campur, akan kuberi kamu pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan!"

"Kalau begitu coba ajarkan padaku," Bima tersenyum mengejek, tangannya memberi tanda agar pria itu maju.

Pria itu melesat maju, pisau belatinya berkilat mengarah ke dada Bima. Gerakan yang terlatih, bukan gerakan preman jalanan biasa.

Tapi apa yang terjadi kemudian membuat semua orang tercengang.

Wush!

Bima dalam satu gerakan cepat yang hampir tidak terlihat mata, membuat pisau belati di tangan pria itu terjatuh ke aspal dengan bunyi dentingan keras. Dalam waktu bersamaan, tangannya yang lain menekan titik saraf di pergelangan si penyerang.

KRAK!

Suara tulang patah menggema. Pria bertubuh kekar itu meraung kesakitan, tangannya menggantung lemah.

"AAARGHH! Tanganku!"

"Ketua!!" teriak kedua anak buahnya tadi.

"Lepaskan dia." Suara Bima tetap tenang, tapi ada aura mengerikan yang mulai menguar dari tubuhnya.

Pria itu menahan sakit, nafasnya tersengal-sengal. Matanya menatap Bima dengan campuran ketakutan dan kemarahan.

"Dengar, bocah ... wanita ini bukan orang sembarangan!" desisnya. "Kedua orangtua wanita ini berhutang lima miliar rupiah pada organisasi kami. Mereka sudah melarikan diri dan meninggalkan hutang. Wanita ini adalah bayaran untuk pelunasan hutang mereka!"

Wanita muda itu menangis semakin keras. "Bohong!! Tolong ... kumohon ... aku tidak tahu apa-apa tentang hutang orangtuaku..."

Rahang Bima mengeras. Darahnya mulai mendidih mendengar penjelasan itu. Aura kekuatan yang tidak biasa mulai menguar dari tubuhnya, membuat udara di sekitar terasa berat dan mencekam.

"Aku bilang, lepaskan dia!" Kali ini suaranya menggelegar, mata tajamnya menyala dengan kemarahan yang sulit dipendamnya.

Lantai aspal di bawah kakinya mulai terlihat retak halus. Beberapa pria berjas hitam itu mundur selangkah, merasakan hawa dingin yang aneh.

"Dasar bocah sombong! Kalian dengar?!" Pria dengan tangan patah itu berteriak kalap. "Panggil semua penjaga! SEKARANG!"

Suara peluit bergema. Dalam hitungan detik, pintu rumah hiburan malam itu terbuka lebar. Para penjaga berbadan kekar keluar berbondong-bondong, masing-masing membawa senjata, ada yang tongkat baseball, pisau, bahkan ada yang membawa rantai besi.

Satu, lima, sepuluh... lima belas orang kini mengepung Bima dalam formasi lingkaran yang rapi. Mereka bukan preman jalanan biasa, gerakan dan postur mereka menunjukkan latihan militer.

"Bocah, kamu sudah terlalu jauh ikut campur!" teriak si pemimpin yang tangannya masih berdarah. "Habisi dia!"

Bima menyeringai. Senyuman tipis yang sama sekali tidak menunjukkan ketakutan.

Lima belas orang? Dia sering menghadapi kawanan serigala lapar di Pulau Kematian yang jauh lebih ganas dan cerdas. Belum lagi ketika dia harus melawan beruang raksasa atau ular python sepanjang sepuluh meter. Manusia-manusia di depannya bukanlah ancaman.

"Kalian yakin ingin melakukan ini?" Bima bertanya sambil meregangkan otot-ototnya dengan santai. "Masih ada waktu untuk mundur."

"Dasar bocah sombong! Serang!"

Lima belas penjaga itu menyerbu bersamaan dari segala arah. Tongkat baseball dan pisau berkilat di bawah lampu jalanan.

Tapi bagi Bima, dunia seolah bergerak dalam slow motion.

Langkah pertama - dia melompat tinggi, kakinya menendang wajah dua penjaga sekaligus. Kedua pria itu terlempar dan pingsan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

Langkah kedua - Bima berputar di udara, sikunya menghantam tulang rusuk penjaga ketiga. Bunyi tulang retak terdengar jelas.

Langkah ketiga - dia mendarat dengan kaki kanan menghentakkan tanah, gelombang kejut kecil membuat tiga penjaga yang mendekat terjatuh.

Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, separuh dari lima belas penjaga sudah tersungkur.

"Apa-apaan ini?!" jerit si pemimpin. "Dia bukan manusia biasa!"

Delapan penjaga yang masih berdiri mulai ragu. Mereka melihat rekan-rekan mereka yang sudah tidak sadarkan diri dengan luka-luka parah.

"Kalian masih mau lanjut?" Bima berdiri tegak di tengah lingkaran, nafasnya bahkan tidak terengah-engah.

Yang tersisa mundur perlahan, ketakutan tertulis jelas di wajah mereka.

"Sekarang," Bima menoleh ke pria yang tangannya patah, "lepaskan wanita itu."

Tanpa banyak kata, si pemimpin memberi isyarat pada dua anak buahnya yang masih memegang wanita muda itu. Mereka langsung melepaskannya dan mundur.

Wanita itu berlari ke arah Bima dalam keadaan masih terisak.

"Te... terima kasih..." lirihnya.

Bima mengangguk pelan. "Kamu tidak apa-apa?"

"Ya... aku baik-baik saja. Aku Irene."

"Bima." Pemuda itu tersenyum tipis.

"Anak muda, aku beritahu... meski kamu telah menyelamatkannya, kamu tidak akan bisa membantunya. Gadis itu, sudah diberi racun. Ia akan mati kalau tidak bertemu Tuan Kevin," ujar pria yang tangannya telah Bima patahkan.

"Racun? Kapan kalian memberiku racun?!" Gadis itu terkejut bukan main, matanya membulat sempurna dengan tubuh yang bergetar.

Pria dengan tangan patah itu menyeringai, "kamu tidak perlu tahu, yang jelas ini cara kami agar penghutang tidak kabur sesuka hatinya."

Bima hanya tersenyum tipis. "Jadi maksud kalian, pria bernama Kevin ini memiliki penawarnya?"

"Tentu saja, penawarnya hanya dimiliki oleh Tuan Kevin. Jadi tindakanmu ini hanya sia-sia belaka. Dalam 12 jam dia tidak diberi penawar, maka ia akan mati."

Bima menatap wanita itu dalam, "apa kamu percaya padaku?" tanya Bima pada Irene.

Gadis itu menatapnya dengan tubuh bergetar dan mengangguk pelan, "aku tidak punya pilihan, tolong selamatkan aku... aku masih ingin hidup."

Bima tersenyum, sebelum akhirnya menatap si pemimpin beserta pasukannya. "Baiklah, kalau begitu aku akan merebut penawar racunnya-!"

"Tidak perlu bersusah payah, aku sudah melihat aksimu dari lantai atas." Sebuah suara menggema diiringi beberapa langkah kaki di belakangnya.

Kevin, 35 tahun. Salah satu perwakilan organisasi Black Panther cabang kota Pandaran. Terlihat tenang dengan langkah yang pasti, bersama beberapa anak buahnya yang mengikuti di belakangnya.

"Dan perlu kamu tahu, wanita itu tidak akan bisa sembuh selain menggunakan penawar dariku. Racun itu akan menghancurkan jaringan syarafnya jika tidak segera diobati," sambungnya lagi dengan seringai kejam di wajahnya. "Jadi baiknya kamu serahkan saja dia padaku."

"Menarik, kalau begitu mari kita bertaruh."

Bima menggendong Irene dalam satu kali hentakkan. Wajah Irene seketika merona karena sentuhan yang tidak biasa.

Biasanya ia tidak sesensitif ini, tapi kali ini sedikit sentuhan dari Bima membuat tubuhnya memanas.

'Sialan! Racun apa yang mereka berikan?!' batin Irene, napasnya mulai tersengal dengan panas menjalar di seluruh tubuh. Irene melingkarkan kedua tangannya di leher Bima, mereka menjauh dari Kevin dan anak buahnya.

"Bos, apa aku perlu mengejarnya?" tanya Joni, preman yang tadi Bima patahkan tangannya.

Kevin menyeringai, "ada yang harus kamu urus lebih dulu ketimbang pemuda itu, saat ini Bos Besar sedang mencari keberadaan dari murid Tabib Badar. Tabib Legenda yang menguasai racun, ada yang melihat perahu berangkat dari pulau kematian."

"Kita harus menemukan keberadaan muridnya lebih dulu, sebelum orang lain menemukannya. Lagipula, aku punya rencana sendiri untuk wanita itu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   113.

    Malam merangkak semakin larut, menyelimuti kota Verox dengan keheningan yang dingin. Di sudut balkon hotel, Bima berdiri mematung.Angin malam menerpa wajahnya, namun tak sedikit pun mampu mendinginkan darahnya yang masih mendidih oleh amarah dan tekad. Ponsel di telinganya menempel erat. Di seberang panggilan, suara Kevin dan Tuan Besar Santoso terdengar serius. "Kevin, Paman Santoso," suara Bima memecah kesunyian, rendah namun sarat akan ketegasan mutlak. "Aku akan berangkat ke Tibet malam ini bersama Nenek Badar. Selama aku pergi, aku meminta satu hal pada kalian." "Katakan saja, Bima. Black Panther akan melakukan apapun," sahut Tuan Santoso tanpa ragu. "Aktifkan protokol Penjagaan Bayangan untuk Irene. Kerahkan pasukan elit terbaik kalian. Jangan biarkan dia keluar dari pengawasan sedetik pun. Sean, sisa-sisa Bulan Sabit di kota ini, atau siapa pun yang mencoba mendekatinya dengan niat buruk... habisi tanpa peringatan." "Dimengerti," jawab Kevin. "Tim Penjagaan Bayangan sudah

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 112.Masa Lalu Bima

    Ruangan rumah sakit itu terasa hening, hanya terdengar suara detak jarum jam dinding dan deru napas Bima yang masih sedikit memburu. Bima menatap Nenek Badar, menunggu jawaban yang selama delapan tahun ini terkubur rapat di Pulau Kematian. Gurunya itu menatap lurus ke arahnya, tidak ada lagi kilat jenaka atau raut galak yang biasa ia tunjukkan. Hanya ada kesedihan yang mendalam. "Kamu pikir pertemuan kita delapan tahun lalu di tengah lautan itu sebuah kebetulan, bocah?" Nenek Badar memecah keheningan, suaranya parau. Bima mengerutkan kening. "Maksud Nenek?" "Ayah dan ibumu... Keluarga Satya," lanjut Nenek Badar, tangannya mencengkeram ujung tongkatnya dengan erat. "Mereka bukan sekadar konglomerat biasa yang kebetulan sedang berlibur di laut. Ayahmu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang mempercayaiku. Saat seluruh asosiasi tabib memusuhiku karena eksperimen racunku, ayahmulah yang menyediakan semua sumber daya, dana, dan tempat persembunyian yang aman untukku." Bima te

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 111

    Dia berdiri dengan susah payah, memegang dadanya yang terluka parah oleh pukulan Tuan Santoso tadi. "Kita mundur untuk hari ini," lanjutnya. "Tapi ini belum berakhir. Aku sudah punya rencana B." Master Feng mengerutkan kening. "Rencana B?" Grandmaster Shadow berjalan ke meja besar di sudut ruangan. Di atas meja ada peta besar dengan beberapa titik yang ditandai. "Teknik Racun Keabadian bukan satu-satunya kekuatan yang kita cari," ujarnya sambil menunjuk salah satu titik di peta—lokasi di pegunungan Tibet. "Ada satu artefak kuno yang tersembunyi di Kuil Racun Kuno," lanjutnya. "Artefak yang konon bisa memberikan kekuatan Racun Keabadian pada siapapun yang menyentuhnya, tanpa perlu belajar tekniknya." Master Feng mata membulat. "Kamu bicara tentang... Poison God's Relic?" "Ya," jawab Grandmaster Shadow dengan senyum kejam di balik topengnya. "Selama ini kami mencari Teknik Racun Keabadian dari Nenek Badar dan Bima. Tapi ada cara lebih mudah—mendapatkan sumber asli kekuatan

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 110

    Dia berjalan menghampiri Bima yang masih terduduk lemah. Nenek Badar berlutut, memeriksa kondisi muridnya dengan tangan gemetar, bukan karena lemah, tapi karena khawatir. "Bocah bodoh, kamu terlalu memaksakan diri," ujarnya dengan nada memarahi tapi penuh kasih sayang. "Kamu menggunakan Teknik Racun Keabadian terlalu banyak. Tubuhmu bisa rusak permanen kalau kamu tidak hati-hati." Bima tersenyum lemah. "Aku tidak punya pilihan, Nenek. Aku harus melindungi Irene." Nenek Badar menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Kamu memang muridku. Keras kepala dan bodoh." "Eiits, nenek!" Bima melindungi kepalanya yang h Ndak dipukul lagi oleh nenek Badar. Pletak!! Tapi Bima tidak bisa mengelak pukulan di kepala itu. Namun, sedetik kemudian nenek Badar mulai mengalirkan energi Mana penyembuhan ke tubuh Bima, menetralkan sisa-sisa racun dan memperbaiki kerusakan internal. Padahal ia tahu, tak perlu melakukan itu karna Bima kebal terhadap racun. Tapi ia masih ingin menutupi kekuatan B

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 109

    Dia mengeluarkan ponsel dan menelepon. "Bawa gadis itu ke sini. Sekarang." 5 menit kemudian, pintu terbuka. Dua orang Shadow Blade masuk membawa seorang gadis muda—Lin Xiao, adik Lin Mei. Gadis itu terlihat pucat dan lemah, tapi masih hidup. Lin Mei langsung berlari dan memeluk adiknya dengan erat sambil menangis. "Xiao! Kamu tidak apa-apa?!" Lin Xiao mengangguk lemah. "Jiejie... aku takut..." "Sudah aman sekarang," bisik Lin Mei sambil memeluk adiknya dengan erat. Nenek Badar tersenyum tipis melihat reuni itu. Lalu dia menatap Grandmaster Shadow. "Gadis itu sudah aman. Aku akan tepati janjiku." Dia mulai berjalan maju, melepas energi Racun Keabadian secara perlahan. Bima terkejut bukan main dengan mata membulat. "Nenek! Jangan!" Tapi Nenek Badar menggeleng. "Bima, kadang kekuatan terbesar bukan datang dari berapa kuat kamu bisa memukul, tapi dari berapa banyak nyawa yang bisa kamu selamatkan. Aku sudah hidup cukup lama. Sudah waktunya aku berkorban untuk generasi

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 108

    Energi ungu gelap meledak dari tubuhnya, membentuk kabut beracun yang menyebar dengan kecepatan luar biasa, memenuhi seluruh ruangan dalam sekejap. 4 Elite Shadow Guard yang berlari langsung terhenti di tengah jalan. Tubuh mereka kaku, tidak bisa bergerak, seperti dibekukan oleh racun. Mereka mencoba berteriak tapi suara tidak keluar. Mata mereka membulat penuh ketakutan saat tubuh mereka perlahan mulai membusuk dari dalam. Dalam 10 detik, 4 Elite Shadow Guard itu roboh menjadi mayat yang sudah membusuk parah, seolah sudah mati berbulan-bulan. 10 Elite Shadow Guard, kekuatan terbaik milik kelompok Bulan Sabit, semuanya mati dalam waktu kurang dari 2 menit. Nenek Badar berdiri di tengah ruangan dengan tenang, dikelilingi kabut beracun yang perlahan menghilang, tidak terpengaruh olehnya sama sekali. Dia menatap Grandmaster Shadow dan Master Feng dengan tatapan dingin. "Kalian berdua," ujarnya dengan suara rendah penuh ancaman, "siapa yang mau mati duluan?" Master Feng mu

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 5

    Irene menatap langit sore dengan napas panjang. Sudah berjam-jam mereka berdiri di pinggir jalan ramai, tapi tak satu pun orang yang tertarik dengan dagangan Bima. "Bagaimana ini? Kita bahkan belum menjual satu pun herbal anehmu itu!" cibir Irene, saat ini wanita itu duduk berselonjor di bawah po

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 4

    Irene berdiri, tatapan yang awalnya mengiba kini berganti dengan tatapan yang dingin. Tak ada lagi keramah tamahan, meski sebenarnya di sudut kecil hatinya ia menyukai sosok Bima. Tapi harga dirinya tidak mengizinkan itu. "Cih! Kamu pikir kamu siapa, mudah bagiku melunasi hutang ini! Tapi hal ya

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 3

    "Tunggu di sini sebentar," ujar Bima, setelah mengatakan itu ia mendongak ke sana kemari. Melompati bangunan dengan begitu mudah hingga akhirnya ia kembali. "Aku menemukan tempat untuk menawar racunmu." Bima kemudian menggendong Irene dengan begitu mudah, wanita itu kembali melingkarkan tanganny

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 1

    “Jangan bunuh ibuku!” Di tengah-tengah kobaran api yang melahap hampir seluruh badan kapal pesiar yang tengah berada di tengah laut, seorang bocah lelaki berdiri berhadap-hadapan dengan seorang pria bertopeng misterius. “Bocah tengik! Kamu pikir orang sepertimu bisa melawanku?!” Pria bertopen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status