Share

bab 32 Menyusun Rencana.

Penulis: Pita
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-23 18:28:13

Malam di istana terasa lebih dingin dari biasanya. Langit begitu gelap, Di salah satu balkon tersembunyi yang menghadap ke halaman latihan prajurit, Kaesar berdiri sendirian. Mata tajamnya menatap langit, tapi pikirannya melayang entah ke mana.

Ia menggenggam pagar batu dengan erat. Di kepalanya, satu nama terus bergema: Jagatra.

“Kau terlalu lembut, Kakanda…” gumamnya pelan. “Dan kelunakan itu… akan menghancurkanmu.”

"Kenapa kau begitu goyah hanya karena seorang gadis kakanda? aku nggak habis pikir seseorang yang dulunya tangguh, penuh pendirian, kuat, dan lebih mementingkan kerajaan kini rapuh hanya karena seorang gadis biasa? aku nggak akan membiarkanmu menjadi raja kakanda, karena kau sudah tak pantas menduduki gelar itu.." gumam Kaesar.

Kaesar bukan tak sayang pada kakaknya. Tapi sejak kecil, ia tumbuh di bawah bayang-bayang Jagatra yang selalu menjadi yang terbaik, paling dikagumi, paling dipercaya. Dan kini, ketika posisi itu mulai terlihat goyah hanya karena seorang gadis bung
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 109 Pangeran Lucas menentang.

    Pagi datang dengan langit pucat di atas Aethelgard,di ruang dewan kecil sayap utara ruangan yang jarang dipakai sejak Jagatra membuka arsip-arsip lama para pangeran berkumpul tanpa protokol resmi.Lucas Zander Maxime berdiri paling depan, kedua tangannya bertumpu pada meja kayu tua,wajahnya tenang, namun rahangnya mengeras tanda bahwa kesabarannya sudah menipis.“Aku mendengar Kaesar menerima pesan semalam,pesan tanpa nama dan tanpa cap.”Beberapa saudaranya saling pandang.“Dan?” tanya Jema dengan nada datar. “Bukankah itu biasa terjadi sejak dia dicabut dari pengaruh politik?”“Tidak,” potong Lucas. “Yang tidak biasa adalah siapa yang menginginkannya merasa itu pilihannya sendiri.”Michael mendecak pelan. “Balai Rahasia.”Lucas mengangguk. “Mereka ingin memaksa Jagatra memilih,dan mereka mengira Kaesar adalah tuasnya.”Pintu ruangan terbuka, Jagatra masuk tanpa pengumuman,tidak ada ekspresi marah di wajahnya hanya keten

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 108 persekongkolan di balai Rahasia.

    Balai Rahasia ruang tua yang tidak tercantum dalam peta istana kini kembali bernapas,pintu batu tebal bergeser perlahan, disusul langkah-langkah yang sengaja dibuat senyap,jubah-jubah gelap menyatu dengan bayangan, wajah-wajah disembunyikan di balik tudung.“Pangeran Mahkota terlalu cepat,” ucap salah satu dari mereka, suaranya serak. “Ia membuka arsip, membiarkan rakyat bicara, dan sekarang bahkan fitnah pun gagal.”“Karena dia tidak sendirian,rakyat berdiri di belakangnya,dan itu lebih berbahaya daripada pasukan.”sahut yang lain.Di ujung meja batu, seorang pria duduk tanpa tudung,wajahnya tak asing bagi siapa pun di ruangan itu,anggota senior lingkar kekuasaan lama, orang yang bertahan di setiap rezim.“Jagatra bukan masalah utamanya,masalahnya adalah preseden,jika dia berhasil, tidak ada lagi tempat aman bagi kita.”Seorang bangsawan perempuan mengepalkan jemarinya. “Dewan Peninjau sudah mulai menggali terlalu dalam,nama-nama akan muncul.”

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 107 Cristian yang tak menyerah.

    Riuh Balai Rakyat memang telah mereda, namun gema keberanian itu menjalar ke lorong-lorong istana, menyentuh mereka yang selama ini mengira kekuasaan selalu berada di tangan yang utuh dan tak terluka.Di sayap timur istana tamu, Pangeran Cristian terbaring setengah duduk di ranjang besar berseprai putih,perban masih membalut bahunya, kainnya bersih namun tubuhnya belum pulih. Setiap tarikan napas terasa berat, bukan karena luka saja, tapi karena kabar yang datang silih berganti.Seorang tabib kerajaan baru saja mundur beberapa langkah. “Luka Anda belum stabil, Yang Mulia. Anda seharusnya belum melakukan perjalanan jauh, apalagi menghadiri urusan politik.”Cristian tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai tekad keras. “Kerajaan boleh menunggu, tapi permainan kekuasaan tidak pernah menunggu orang sembuh.”Di samping ranjang, seorang pengawal kepercayaannya menunduk. “Kabar dari Balai Rakyat sudah menyebar,audina dibebaskan. Rakyat berdiri di pi

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 106 Ellisha memilih mundur.

    Riuh di Balai Rakyat semakin mengental,pintu aula kecil itu dibuka lebih lebar sesuai instruksi baru, tirai ditarik, cahaya pagi masuk tanpa izin,bersama bisik-bisik warga yang kini boleh menyaksikan.Penyelidik utama menatap Audina lebih lama dari sebelumnya.“Jika Anda bersaksi, pahami bahwa setiap kata Anda akan dicatat dan diuji.”Audina mengangguk. “Itulah yang sejak awal tidak diberikan oleh fitnah.” Ia menarik napas dalam.“Aku tidak pernah meminta akses ke istana,aku dipanggil, diajak bicara, dan diperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai alat,jika itu dianggap pengaruh, maka masalahnya bukan padaku, tapi pada sistem yang terbiasa mengatur dari balik tirai.”Beberapa warga di belakang saling berpandangan, salah satu anggota dewan menyela, suaranya hati-hati.“Apakah ada pihak yang mencoba mendekati Anda sebelum tuduhan ini muncul?”Audina terdiam sejenak, lalu mengangguk.“Ada, tapi bukan dengan ancaman, tapi dengan t

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 105 Audina terseret fitnah.

    Di sudut kota bawah Aethelgard, Audina berdiri di depan kios kain tempat ia biasa membantu sejak fajar,Bisik-bisik terdengar bahkan sebelum matahari sepenuhnya naik,tatapan orang-orang berubah lebih lama, lebih tajam, seolah mencari kesalahan di wajahnya.“Audina Veleryna Arsela?” tanya seorang prajurit istana, nada suaranya netral namun dingin.Audina mengangguk. “Aku.”“Kau diminta hadir di Balai Rakyat,sekarang.”Kerumunan langsung bergolak,seorang wanita tua berbisik, “Itu dia yang katanya dekat dengan Pangeran Mahkota.”Audina membeku..Di Balai Rakyat, gulungan kertas telah ditempel rapi,tinta masih segar, cap kerajaan tercetak jelas. Tuduhannya singkat namun mematikan: pengaruh tak pantas terhadap keputusan Pangeran Mahkota, koneksi rahasia dengan pihak istana, potensi ancaman stabilitas.Audina membaca semuanya tanpa berkedip,lalu ia tertawa kecil bukan karena lucu, melainkan karena pahitnya terasa terlalu nyata.

  • Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota   bab 104 Kaesar menunjukkan taring.

    Pintu Balai Agung menutup perlahan di belakang Kaesar,Lorong istana membentang dingin, Kaesar melangkah tanpa pengawal, tanpa gelar yang diteriakkan, tanpa bayang-bayang ibu yang selama ini menuntunnya.Di balik tiang marmer terakhir, seorang pelayan istana menunduk terlalu cepat.“Pangeran..”Kaesar berhenti.“Apa kau tahu bedanya bayangan dan taring?” tanya Kaesar tanpa menoleh.Pelayan itu terdiam.“Bayangan hanya mengikuti,” lanjut Kaesar. “Tapi taring menunggu,Ia diam, ia disembunyikan, tapi sekali menggigit tak ada yang lupa.”lalu melanjutkan kembali langkahnya.Di sayap barat istana, tempat para bangsawan jarang melintas, Kaesar memasuki sebuah ruang baca lama, debu menempel di rak-rak tinggi, namun satu meja sudah bersih terlalu bersih untuk ruangan yang katanya tak terpakai.Seseorang telah menunggu disana.“Pangeran Kaesar,” ucap sosok itu sambil menunduk setengah. “Atau Kaesar saja?”“Cukup Kaesar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status