Share

Bab 639

Author: Lilia
"Saya teringat ucapan Permaisuri bahwa Jelita memiliki Pil Peredam Napas. Karena takut mereka hanya berpura-pura mati, saya sengaja memeriksa luka mereka berdua. Tepat menembus jantung sebelah kiri, lukanya juga sangat dalam, jadi nggak mungkin masih hidup," jelas Sura lebih rinci.

Anggi merenung sejenak. "Hanya karena berselisih dengan Sunaryo, lalu muncul kecenderungan bunuh diri dan akhirnya benar-benar bunuh diri?"

Dika mengangguk.

Luis menatap Anggi. "Kalau kamu masih belum yakin, suruh saja Dika ke kuburan massal dan lihat apakah mayat mereka masih ada."

Anggi menggeleng. "Tepat ke jantung kiri memang nggak mungkin selamat."

Dia memandang ke arah Sura. Tentu saja dia percaya pada Sura dan Dika. Namun, perasaan aneh itu tetap ada. Rasanya mustahil Jelita menyerah semudah itu. Terlalu mirip dengan berpura-pura mati.

Mina dan Torus mengantar Dika dan Sura keluar dari Istana Abadi. Keempatnya berpandangan.

Torus menatap sekilas ke arah Mina, lalu berkata kepada Dika dan Sura, "Mina t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 669

    Ini adalah ramalan yang menguntungkan untuk membuka peperangan.Harfi meninggalkan Paviliun Rembulan, lalu kembali ke kamarnya sendiri dan mulai menelaah kembali semua yang dipelajari selama beberapa tahun terakhir. Kemudian, dia mengurung diri di kamarnya.Hingga malam tiba, Harfi baru keluar dari kamar. Dia buru-buru menuju Paviliun Rembulan, lalu berkata dengan penuh semangat, "Ramalan menunjukkan pertempuran ini bisa dimulai."Aska tersenyum mengangguk. "Bagus, tuliskan hasil ramalanmu, serahkan kepada Kaisar.""Baik." Harfi menanggapi.Dia melihat wajah gurunya terlihat lebih segar dibanding tiga tahun lalu. Gejala takut dingin dan panas juga berkurang. Saat ini adalah awal musim semi yang cukup dingin, tetapi Aska hanya memakai baju tipis dan hanya menggunakan beberapa baskom es. Tubuhnya tak lagi berkeringat.Keesokan harinya saat sidang pagi resmi dimulai, Luis mengumumkan hasil ramalan Biro Falak ke hadapan publik. Para pejabat terbagi antara yang faksi mendukung perang dan ya

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 668

    Zahra bersorak girang, menarik Torus menuju luar istana. Anggi memandang Zahra yang riang, tak bisa menahan pikirannya pada Ishaq. Dia bertanya-tanya berapa banyak kesulitan yang harus dialami Ishaq bersama Cahyo dan Keswan di luar sana."Cuma seekor tikus, biarkan dia dirawat dalam kandang," kata Anggi sambil menatap ke luar pintu.Luis hanya mengangguk pelan, lalu menarik Anggi duduk di atas dipan.Anggi menyerahkan surat yang diterima hari ini kepada Luis. "Ini dari Junaidi. Yang ini tulisan Ishaq, bertanya kabar orang tuanya.""Benar juga, baru tiga tahun, tapi tulisannya sudah jelek begini." Luis mengenang. Ketika dirinya tiga tahun dulu, dia sudah bisa menghafal banyak puisi kuno dan tulisannya cukup rapi."Orang biasa pun belum tentu bisa menulis di usia tiga tahun. Kamu menuntut terlalu tinggi.""Dia bukan orang biasa. Dia pangeran, calon kaisar," tegas Luis.Calon kaisar ....Anggi merasa khawatir. "Kalau dia nggak mau kembali dari jalan Buddha, bagaimana?"Luis berkata, "Jang

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 667

    Kini, dia melihat tulisan di ujung kertas yang tidak begitu rapi. Ishaq menanyakan kabar ayahanda dan ibundanya.Ishaq sudah bisa menulis ....Mengingat Ishaq yang belum pernah ditemuinya, Anggi merasa senang tetapi tak kuasa menahan air mata. Dia benar-benar merindukan Ishaq.Saat Ishaq berusia enam bulan, sebenarnya Anggi sempat menemuinya di Kuil Awan sekali. Setelah itu, Cahyo dan yang lain membawa Ishaq berkelana."Ibunda." Suara lembut terdengar dari jauh. Anggi menoleh, lalu terlihat Mina, Ando, dan yang lain mengikuti Zahra. Satu per satu terlihat sangat cemas, khawatir Zahra jatuh.Anggi buru-buru menghapus air matanya, tersenyum, dan merentangkan kedua tangan menunggu Zahra melompat ke pelukannya."Ibunda, huhu .... Ayahanda bilang mau pukul Bubu sampai mati. Jangan pukul Bubu." Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu. Dia tersedak-sedak, tampak sangat sedih.Mina dan Ando mengejar. Anggi menoleh ke mereka. "Siapa Bubu itu?"Mina berkata, "Saat Putri melewati Istana Lotus, Putr

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 666

    Aska menatap ke luar jendela dengan mata yang kosong. Perlahan-lahan, muncul kilauan di matanya. "Aku nggak pernah ingin mereka berutang budi padaku, semuanya kulakukan atas kemauanku sendiri. Mereka ... ingin aku tetap hidup."Keswan terkejut, tidak tahu harus berkata apa.Beberapa saat kemudian, Keswan berkata, "Dulu aku nggak percaya, sekarang aku percaya. Kaisar dan Permaisuri benar-benar baik hati. Demi nyawamu, mereka rela mengirim satu-satunya putra mereka ke Kuil Awan. Pengorbanan seperti itu bukan hal biasa.""Pasti berat bagi anak itu, aku merasa bersalah padanya."Keswan mengangkat tangan. "Nggak, ini semua adalah karmanya. Dia berjodoh dengan Buddha."Aska tersenyum pahit sejenak, menatap Keswan. "Kamu memang harta tersembunyi di seluruh Biro Falak.""Nggak, aku cuma orang tua yang masih belum mati. Aku ingin tetap menjadi orang tua yang nggak mati." Keswan bercanda, lalu menatap Aska dengan pandangan tegas. "Kamu juga harus berusaha menjadi orang tua yang berumur panjang."

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 665

    Sekarang tubuh Anggi sudah hampir pulih. Dia pun memaksakan diri untuk turun dari tempat tidur. "Zahra menangis, aku ingin melihatnya."Luis berkata kepada Torus, "Suruh para pengasuh membawa Putri ke sini.""Baik." Torus segera melaksanakan perintah."Kamu kembali dan istirahatlah," kata Luis sambil menuntun Anggi kembali ke tempat tidur."Kenapa kamu masih mengurus laporan malam-malam begini?"Luis hanya mengangguk.Anggi berkata, "Mina dan Ando bisa merawatku. Kamu nggak perlu ikut campur untuk urusan sepele begini.""Kamu merasa pelayananku kurang baik ya?""Nggak, aku hanya nggak ingin kamu terlalu lelah."Luis mencium dahi Anggi. "Rasa lelahku masih nggak sebanding dengan pahlawan besarku."Hati Anggi yang sebelumnya berat menjadi lebih lega hanya dengan beberapa kata itu.Tak lama kemudian, pengasuh datang membawa Zahra. Si kecil masih menangis keras. Anggi segera menggendongnya, menepuknya, menenangkannya dengan hati-hati.Mungkin karena mendengar suara yang familier, Zahra men

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 664

    Luis langsung menggendong putra kecilnya. Dia sendiri saja begitu enggan melepaskan, apalagi Anggi.Namun, dia tahu Anggi tak akan mengabaikan Aska. Daripada membiarkan Anggi yang memutuskan dan menanggung sakit, lebih baik semuanya ditangani oleh dirinya.Anak itu tampan. Sambil menguap, dia juga sibuk mengisap jarinya.Pengasuh berkata, "Pangeran Kecil lapar." Dia mengulurkan tangan, ingin menggendong untuk memberi makan.Luis berkata, "Panggil dia Ishaq, Ishaq Giandra.""Pangeran Ishaq." Torus memanggil nama itu, lalu membungkuk ke arah Ishaq. "Hamba bersujud kepada Pangeran Ishaq."Torus memahami isi pikiran majikannya. Luis pasti berharap meskipun Ishaq nantinya masuk jalan Buddhis, setelah dewasa dia akan kembali ke dunia dan mewarisi takhta.Luis menggendong anak itu sambil menatap para pengasuh. "Mulai sekarang, kalian jaga baik-baik Putri Kecil."Menjaga Putri Kecil? Lalu, bagaimana dengan Pangeran Kecil?Luis menggendong Ishaq keluar, sampai dia menyerahkan anak itu sendiri k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status