Share

Bab 7

Author: Nexy91
last update publish date: 2025-11-13 11:34:01

Setelah seharian menghabiskan waktu di luar, akhirnya kembali lagi ke rumah mereka. Raline meletakkan semua barang belanjaan nya di atas meja ruang tamu.

"Ran, coba lihat ini punya kamu yang sebelah kiri. Punya aku kantong yang sebelah kanan, kamu harus cobain semuanya oke."

Rani melongo, karena melihat betapa banyaknya pakaian yang dibelikan untuk dirinya. Dan yang paling membuatnya syok adalah, pakaian itu rata-rata dress, yang memang jarang sekali Rani pakai.

Rani terbiasa memakai kaos dan celana panjang saja, dia tidak begitu suka dengan dress. Rani sangat cuek terhadap penampilan nya, walaupun dengan pakaian biasa saja, dia sudah mampu membuat banyak laki-laki jatuh cinta kepadanya.

"Lu gak bener-bener nyuruh gue pake baju beginian kan?" Tanya Rani masih tidak percaya.

"Ya bener lah, gue beli semuanya pakai ukuran lu. Bukan ukuran gue, berarti emang buat lu Rani Maharani." Jawab Raline.

"Eh buseet, segini banyak gimana gue pake nya gila. Ngapain juga harus baju-baju kayak begini, yang lu beliin." Rani benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Raline.

"Biar lu kelihatan kayak cewek lah. Masa tiap hari pakaian lu kaya gitu mulu, malu kali kalau lu ketemu sama klien yang penting." Raline ingin melihat sahabat nya itu lebih peminim.

"Alah, gue kan masih punya kemeja kalau buat ketemu mereka." Rani masih tetap ngeyel.

"Jangan banyak ngomong, sekarang lu coba dulu. Apalagi rambut lu udah bagus begitu, gue yakin lu bakalan makin cantik lagi." Raline mendorong Rani menuju kamar nya untuk berganti pakaian. Dia juga menyerahkan beberapa paper bag kepada Rani, dan langsung menutup pintu kamar Rani kembali.

Dengan terpaksa, Rani mencoba beberapa dres yang dibelikan Raline untuk nya. Dia melihat pantulan dirinya di cermin yang ada di dalam kamarnya.

Melihat rambut yang rapih, dan bergelombang. Juga tubuh yang sedikit terekspos di bagian tangan dan bahu, membuat wajahnya bersemu merah. Dia merasa malu, dan kagum sekaligus.

Rani tidak menyangka kalau dirinya juga bisa secantik Raline, dia selalu menganggap kalau dirinya itu terlalu biasa jika dibandingkan dengan sahabatnya.

Dengan malu-malu, Rani keluar dari kamar, dan menunjukan pakaian yang dia kenakan pada Raline.

"Cantik banget." Raline sampai terkesima melihat penampilan Rani, dia begitu menakjubkan.

Saat mengenakan kaos saja, dia sudah terlihat sangat cantik. Apalagi saat ini, dengan dress yang Rani pakai itu semakin membuat kecantikan nya terpancar.

"Apaan sih, gue gak PD pake beginian. Mending pake kaos sama celana aja deh kaya biasa." Rani masih belum mau menuruti Raline.

"Eh, mulai sekarang, lu harus bisa rubah penampilan lu. Kita bakalan banyak ketemu klien, terutama lu sendiri. Pekerjaan utama lu itu, harus berhubungan dengan kepeminiman." Ucap Raline menambahkan.

Rani sedikit berpikir, dia setuju dengan apa yang Raline katakan. Pekerjaan utama nya saat ini, memang berhubungan erat dengan ciri khas seorang perempuan, juga kemewahan.

Tapi dia sudah terbiasa dengan kesederhanaan hidupnya, sejak kecil dia selalu tampil apa adanya. Tidak dibuat-buat, dan tidak ingin terlihat menonjol. Walaupun berpenampilan sederhana, dia tetap terlihat menonjol, karena kecerdasan nya sejak taman kanak-kanak.

"Ya, gue juga berpikir begitu. Sepertinya, gue harus banyak beli kemeja sama celana kain yang lebih formal, biar gue kelihatan kayak orang kantoran." Rani berbicara sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Ehmmp, masih aja celana panjang yang lu pikirin. Coba dulu semua dress itu, pasti lu bakalan kelihatan anggun. Toh gak ada yang terlalu terbuka juga dress nya." Pungkas Raline.

"Baiklah." Rani akhirnya menyetujui saran Raline.

Karena dia sudah merasa lelah, akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat saja.

******

Pagi hari Rani terbangun sedikit kesiangan, sudah memasuki pukul enam. Dia segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri, sebelum melaksanakan kewajiban nya. Meski dia bukan orang yang taat, setidaknya dia masih menjalankan kewajibannya yang lima waktu.

Sahabatnya, berbeda keyakinan dengan nya. Sehingga mereka tidak pernah beribadah bersama tentunya. Tapi toleransi mereka memang sangat tinggi, kadang saling mengingatkan untuk tetap mengingat Tuhan mereka masing-masing.

Hari itu adalah hari yang penting untuk mereka berdua. Karena pada hari itu, mereka akan meresmikan pabrik yang mereka bangun bersama.

Pabrik itu termasuk pabrik tekstil, lebih tepatnya memproduksi benang jahit. Mereka mendirikan itu, benar-benar dari hasil kerja keras selama bertahun-tahun, yang akhirnya bisa membangun sebuah pabrik.

Peresmiannya pun, dibuat cukup sederhana. Hanya mengundang kolega, dan teman-teman dekat, juga warga di sekitar pabrik itu.

Mereka berdua sangat menghargai warga sekitar, bagi anak-anak yang sudah lulus SMA sederajat, boleh mengikuti test seleksi untuk bekerja di pabrik itu. Yang pastinya, asal mau berusaha dan belajar, mereka pasti akan diterima.

Para warga sangat antusias, karena mulai sekarang, anak-anak mereka tidak perlu merantau jauh untuk mencari pekerjaan. Warga juga membantu menjaga keamanan, di sekitar pabrik tersebut.

Tidak ada pungli, juga tidak ada preman yang mengganggu. Bahkan satpam pun dipekerjakan dari warga sekitar.

Rani dan Raline sangat teliti dalam segala hal, mereka tidak ingin ada perselisihan dengan orang-orang sekitar. Maka, mereka harus bisa mengambil hati warga di sana.

Dan berhasil, hati warga sudah mereka dapatkan. Semua warga sangat mendukung pendirian pabrik tersebut. Tidak ada hambatan dari pihak warga, tapi tetap ada dari pihak yang berwenang.

Peresmianpun berjalan lancar, dan setelah sesi gunting pita dan sambutan-sambutan, datanglah sesi makan bersama. Semua menu yang dipilih, benar-benar kualitas premium.

Karena menurut dua gadis itu, menjamu tamu itu harus dengan sungguh-sungguh,tidak asal-asalan.

Para tamu undangan menikmati hidangan yang tersaji, Rani dan Raline berkeliling menyapa orang-orang di sana. Menanyakan apakah ada kekurangan, atau sekedar berterimakasih karena telah datang dan memberi dukungan untuk mereka.

Sikap humble dan ramah yang mereka tunjukan, semakin membuat orang-orang merasa kagum. Selain karena kecantikan mereka berdua yang memang sangat mempesona.

"Terimakasih ya, ibu dan bapak sudah pada datang di acara peresmian ini. Kami sangat berterima kasih karena ibu dan bapak sudah menyempatkan diri untuk hadir di sini." Ucap Rani kepada warga yang di undang.

"Harusnya kami yang berterimakasih neng, karena kalian sudah mau mengundang orang kampung seperti kami, dan juga menyediakan lapangan pekerjaan untuk anak-anak kami." Ucap seorang Bapak paruh baya, yang terlihat berwibawa.

"Masya Allah Bapak, saya juga sama orang kampung juga. Jadi kita sama-sama orang kampung kan ya." Ujar Rani sambil tersenyum manis.

"Masya Allah neng, cantik banget. Coba saja kalau saya masih muda, sudah saya jadikan istri kali." Ucap seorang Bapak yang bertubuh kurus. Mereka tertawa bersama.

"Ngaca Dir, udah tua jelek lagi, masih aja ngarep sama gadis cantik." Seorang ibu menimpali sambil tertawa.

Suasana yang hangat pun tercipta karena keramahan Rani. Padahal jika dia berbicara dengan laki-laki yang mengejar nya, dia selalu ketus bahkan tidak ingin melihat wajahnya.

Berbeda saat dia menghadapi orang tua yang memang harus dia hormati, walaupun dia sudah menjadi yatim piatu di saat dia kuliah semester delapan di tahun ke tiganya karena kepintarannya, Dia masih mendapatkan didikan dari orang tuanya soal tatakrama.

Tepat pukul empat sore, acara pun berakhir. Rasa lelah sudah begitu menyiksanya. Rani yang terbiasa memakai kaos dan celana, merasa tidak leluasa karena harus menggunakan dress.

Dress yang dia gunakan saat itu, berbentuk mermaid, yang sedikit membuatnya sulit untuk berjalan. Awalnya dia berniat memakai kemeja dan rok dibawah lutut, juga menggunakan kardigan yang formal. Tapi Raline tidak setuju, dan memilihkan gaun itu untuk nya.

Maka setelah acaranya selesai dan kembali ke rumah, dia langsung mengganti bajunya dengan kaos besar yang bisa menutupi seluruh badannya.

Rani punya satu kaos dengan ukuran ekstra jumbo, hanya untuk tidur atau bersantai. Padahal tubuhnya begitu ramping. Tapi untuknya, baju itu adalah baju paling nyaman yang dia punya.

Setelah mandi dan maghrib tiba, dia segera shalat dan setelah itu tertidur pulas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 107

    Suasana nya begitu hangat, Rani begitu bersyukur melihat Raline yang akhirnya bisa jatuh cinta. "Sebenernya kita ke sini juga merupakan ngomong sesuatu sama kamu Ran." Ucap Raja. Raline langsung menegur Raja. "Ngomong apaan sih kamu!" Raja tersenyum manis ke arah Raline, tatapan penuh cinta dan ketulusan. "Udah lah gak usah maen rahasia-rahasiaan segala. Gue udah tahu kok, kalo lu sama Raja udah jadian, dan gue seneng banget akhirnya lu bisa buka hati lu juga." Raline merasa terkejut, tidak menyangka jika Rani sudah tahu semuanya, dia langsung menatap Raja dengan tatapan tajam. Yang ditatap, malah mengedikkan bahu, tanda dia sama sekali merasa tidak bersalah. "Gak usah marahin Raja, dia gak ngomong apa-apa. Gue yang tahu sendiri, ngelihat tingkah lu aja gue bisa tahu semuanya." Raline langsung merasa bersalah terhadap Rani, di saat Rani kehilangan pasangan nya, dia malah berpacaran dengan sahabat masa remaja Rani. "Ran, maafin gue ya. Gue gak bermaksud nutupin ini d

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 106

    Di perusahaan yang Rani dan Raline pimpin saat ini, sedang terjadi lonjakan pesanan dari beberapa perusahaan Mitra. Mereka cukup sibuk dengan itu, belum lagi Rani yang semakin terkenal dengan design nya. Banyak dari manca negara yang mengajukan permohonan kerja sama dengan dirinya. Rani tidak serta merta menerima semua tawaran yang masuk, dia selalu menyeleksi dengan sangat teliti. Dia tidak ingin mendapatkan Mitra yang tidak bertanggung jawab. Dalam urusan pekerjaan memang Rani lah ahlinya, dia tidak membiarkan sedikitpun celah yang akan membuat pesaing mengunggulinya. Hal ini membuatnya menjadi seseorang yang cukup perfecstionist, dan mengharuskan bawahannya untuk melakukan hal yang sama. Perusahaan design Rani, semakin terkenal. Tapi tidak serta merta membuat Rani menjadi lupa diri. Semakin besar uang yang dia dapat setiap bulan nya, semakin besar pula sedekah yang dia keluarkan. Menyantuni anak yatim piatu, itu adalah agenda rutin Rani. Dia paham betul, bagaimana

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 105

    "Tapi dok, saya sudah lama sekali tidak melakukan hubungan intim, hampir enam bulan saya tidak pernah melakukan nya." Ucap Tedi yang masih tidak Terima dengan diagnosis dokter. "Pak, penyakit ini biasanya memerlukan waktu inkubasi yang bervariasi, ada yang hanya hitungan hari, minggu bahkan bulanan."Tedi langsung merasa lemas dan tidak berdaya, kenapa dia bisa terkena penyakit yang bisa membuatnya mati kapan saja, bahkan itu juga bisa jadi aib bagi dirinya. "Saya akan memberikan surat rujukan, agar bapak bisa berobat ke dokter spesialis, nanti akan lebih mudah untuk pengobatan nya." Perbuatan nya yang tidak mengenal dosa itu, telah membawanya ke jurang yang dalam. Penyakit yang dia derita, itu akibat dari ulahnya sendiri. Terlalu sering dia menyalahkan orang lain atas kesalahan nya, kini Tedi merasakan akibat dari perbuatan nya. Pulang dari puskesmas, Tedi tidak langsung menuju ke rumah, melainkan pergi ke tepi sungai dan berniat untuk memenangkan diri. Mencari tempat yang sepi

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 104

    Suara Indi membuat semua orang mengalihkan pandangan nya. Tedi tidak tahu sejak kapan Indi bangun, dia pikir kalau Indi masih tertidur. Indi terjatuh dan tidak sadasarkam diri. Orang tuanya panik, berlari ke arah Indi dan segera mengangkat tubuh Indi. Mereka baru sadar jika ternyata berat badan Indi semakin menyusut, karena terasa begitu ringan. Sang ayah langsung membawa Indi ke atas tempat tidur, dan sang ibu memijat kepala Indi juga memberikan minyak angin pada tubuh Indi agar terasa hangat. Sedangkan Tedi, hanya duduk dan tidak bergeming sama sekali. Ayah Indi kembali menemui Tedi dan berniat meninjunya, karena sikap acuh tak acuh Tedi kepada anaknya. "Apa yang kamu lakukan, sampai keadaan Indi seperti ini?" Tanya mertuanya. "Saya tidak melakukan apapun, ini semua ulah bapak yang selalu menekan Indi. Dia menjadi depresi dan bahkan sering kambuh, dan mengamuk pak." Suara Tedi tak kalah tinggi. "Kenapa kamu malah menyalahkan saya?" Tanya sang mertua. "Bapak selal

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 103

    Perjalanan hampir memakan waktu selama tiga jam, karena ada sedikit kendala saat diperjalanan. Sampai di terminal yang di tuju, Tedi segera turun dengan membawa tas berisi baju Indi. Indi sama sekali tidak curiga, kenapa tas itu terlihat begitu penuh, padahal dia hanya berlibur sebentar saja di rumah orang tuanya. Yang ada dipikiran Indi adalah, dia dan suaminya akan menginap beberapa hari di rumah orang tuanya, mereka akan berlibur dan akan membuat orang kampung tahu jika dia hidup bahagia bersama Tedi. Indi sudah tidak sabar untuk sampai di rumah masa kecilnya, yang kini sudah berubah lebih layak. Dengan naik angkutan umum, Tedi dan Indi segera menuju desa tempat tinggal Indi. Angkot berhenti di tepi jalan besar, untuk masuk ke kampung Indi, mereka harus berjalan kaki cukup jauh, atau bisa menggunakan ojek yang terbiasa mangkal di sana. Tapi hari itu, tidak ada satupun ojek yang mangkal. Sepi sekali, tidak seperti biasanya. Dengan terpaksa, Indi juga Tedi berjalan ka

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 102

    Jam tiga sore hari, Tedi membawa Indi meninggalkan kediaman sang ibu. Dia tidak ingin kembali menjadi beban untuk sang adik. Walaupun Indi bersikeras ingin tetap tinggal di sana, tapi Tedi membawa Indi secara paksa. Tari sama sekali tidak menemui mereka, karena baginya semua itu sudah tidak penting lagi. Dia berencana untuk mengganti kunci pintu rumahnya, agar tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke rumah itu seenaknya. Tedi sampai di kontrakan nya, sekitar pukul lima. Dia segera membuka pintu yang terkunci dan masuk ke dalam rumah kontrakan itu, Indi malah berdiam diri di luar. "Masuk Indi! ngapain kamu diem di situ terus? " Indi hanya memantulkan mulutnya, dan tidak menimpali Tedi. Tedi malah berdebat dengan Indi, dia lebih memilih untuk segera merebahkan diri di atas tempat tidur. Karena tidak ada yang membujuknya, akhirnya Indipun masuk ke dalam rumah dengan wajah yang ditekuk. "Mas, kenapa kamu gak bujuk aku sih?" Tedi hanya diam, dan memejamkan matanya. I

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 29

    Berbulan-bulan berlalu, sikap Indi semakin menjadi-jadi. Kinerja Tedi memang sangat bagus, bahkan membuat para atasan mempromosikan nya untuk menjadi manager. Tapi kelakuan Indi yang semakin tidak terkendali, membuat para karyawan merasa jengah. Mereka beramai-ramai melaporkan sikap Indi yang sem

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 28

    Keesokan pagi nya, Tedi terpaksa kembali ke rumah kontrakan nya bersama Indi. Jika saja ada baju seragam kerjanya di rumah ibunya, mungkin dia tidak akan pulang ke sana. Tapi dia juga takut jika ibunya curiga, kalau dia dan istrinya yang baru menikah selama satu minggu itu, sudah bertengkar. Sa

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 67

    Tedi mulai terobsesi dengan Vira, dia selalu berusaha memberikan semuanya untuk kekasihnya itu. Walau Vira sering menolak, tapi Tedi malah semakin berusaha untuk memberikan semuanya. Uang gaji nya sudah mulai tidak dapat memenuhi gaya hidupnya yang semakin tinggi, Indi yang semakin boros, juga

  • Pembalasan Istri Sah: Identitas Tersembunyi Rani    Bab 66

    Hari senin, hari yang banyak orang malas menemuinya. Hari sibuk, dan hari di mana di jalanan begitu macet. Indi dan Tedi berangkat bekerja seperti biasa, di luar, hubungan mereka terlihat harmonis. Tapi tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setiap hari berangkat dan pulang kerja bers

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status