LOGINMotor milik Rani, sudah selesai di service. Tedi sudah menunggu kedatangan Rani, dia benar-benar tertarik dengan nya. Wanita cantik, berpendidikan tinggi.
Dia yakin, jika dia bisa mendapatkan perempuan seperti Rani, kelak anak-anak nya akan cerdas dan cakap seperti ibunya. Rani sampai di bengkel yang tadi, dia memarkir motor yang dia pinjam. "Pak, motor saya sudah beres?" Tanya Rani kepada pemilik bengkel. Rani mulai bersikap sopan kepada nya, karena bantuan yang diberikan orang itu kepada nya. "Sudah neng, semuanya sudah beres." Ucapnya. "Wah, terimakasih banyak ya pak. Ini kunci motor bapak, saya juga sudah isi bensin nya full." Rani menyerahkan kunci motor itu. "Wah, pakai di isi segala neng. Padahal mah biarin aja atuh." Pemilik bengkel itu tersenyum ramah. "Gak apa-apa dong pak, kan tadi sudah kepake sama saya. Jadi berapa pak biaya servicenya tadi?" Tedi langsung mendekat dan berkata, "kalau buat neng mah gratis aja. Asal kasih nomor hp nya sama Aa." Pemilik bengkel mendelik kepada Tedi. "Idih, dasar cowok gila. Yang ditanya siapa, yang jawab siapa." Rani semakin tidak suka dengan kelakuan Tedi. "Jangan didenger neng, semuanya jadi sembilan puluh." Ucap pemilik bengkel. "Ini pak, makasih banyak ya pak buat motornya tadi. Kalau gitu saya pulang dulu." Rani pamit, dan pulang dengan motornya yang telah di service. Sementara Tedi merasa tidak diberi kesempatan untuk mendekati Rani, dan dia sedikit marah kepada teman nya itu. "Lu gimana sih lot, gue kan lagi mau deketin tu cewek. Ngapa lu malah biarin dia buru-buru balik?" Protes Tedi. "Lah, klo lu begitu ke setiap pelanggan cewek gue, yang ada kagak bakalan ada lagi yang mau service di tempat gue." Pemilik bengkel itupun menjawab, nama aslinya Rio, tapi teman-teman dekatnya sering menyebutnya kolot, karena dia dianggap berpikiran kolot, terlalu banyak pantangan. "Alah, bilang aja lu juga suka kan sama cewek tadi?" Tedi semakin nyolot. "Mana berani gue suka sama cewek tadi, lu gak tahu apa, kalau dia itu sebentar lagi mau lulus S-2. Gue aja cuma lulusan S-1 doang yot." Rio menjawab, panggilan Tedi itu peyot. "Kenapa, kan lu sama-sama kuliah lot?" Tanya Tedi. "Beda lah, dia itu umur masih muda tapi udah mau lulus S-2. Dia itu pinter banget, walaupun dia sempet berenti kuliah selama setahun, tapi dia bisa dengan mudahnya nyelesain semua materi kuliah nya. Gue bener-bener kagum sama dia." Penjelasan dari Rio, membuat Tedi semakin penasaran. "Kok lu bisa tahu banyak soal dia?" Tanya Tedi lagi. "Siapa yang gak tau dia, kita buka bengkel deket ama kampus nya dia. Anak-anak kampus tuh, pada kagum sama dia. Dan banyak banget orang-orang yang ngomongin keunggulan nya dia." Ternyata Rio tahu Rani dari anak-anak kuliahan yang sering ke situ. "Wah, kalau pinter begitu sih, makin cocok jadi bini gue. Nanti kan kalau punya anak, bakalan dia ajarin tuh semua nya. Jadi nanti anak-anak gue bakalan pinter kaya dia." Tedi semakin bersemangat mengejar Rani. "Jangan terlalu nge khayal lu, dia itu kaya langit yang gak bisa di jangkau." Ucap Rio mengingatkan. "Mana ada, gue yakin bisa bikin dia luluh." Tedi sudah bertekad untuk mendapatkan Rani, bagaimanapun caranya. Tedi mencari tahu lewat teman-teman nya, bahkan anak-anak kampus yang sering nongkrong di dekat bengkel milik Rio. Tidak banyak informasi pribadi Rani, hanya info yang sudah dikatakan Rio saja yang dia dapatkan. Sementara itu Rani, yang sudah kembali ke rumahnya bersama Raline. Langsung masuk begitu saja ke dalam rumah, tanpa salam dan permisi. Rumah itu dibeli oleh mereka berdua, sengaja agar lebih dekat dengan kampus. Alih-alih menyewa atau ngekos, mereka berdua lebih memilih membeli rumah tersebut. Raline yang sedang bersantai, melihat Rani yang nyelonong masuk dan langsung melemparkan dirinya sendiri diatas sofa. Merasa pasti ada yang membuat dia tidak senang hari ini. "Kenapa lagi sekarang?" Tanya Raline "Gak ada." Rani menjawab ketus. "Gak usah bohong sama gue, muka lu aja udah kaya cucian, kusut bener." Ungkap Raline. "Tadi motor gue mogok, mana lumayan jauh lagi dari bengkel yang deket kampus. Sebel banget gue, musti dorong motor jauh-jauh, banjir ketek gue gara-gara tuh motor." Ucapnya kesal. "Ya lagian lu ngapain bawa motor butut begitu, bukannya bawa mobil biar aman." "Kan tadinya gue takut telat, biar gak kejebak macet aja. Eh malah apes lagi." Rani mengerucut kan bibirnya. "Yah, namanya hari apes, ga ka ada di dalam kalender. Tapi lu gak telat kan ketemu Dospem?" "Untungnya gue dikasih pinjem motor, sama yang punya bengkel. Jadinya gue tepat waktu, dan Dospem gue gak nyebelin kaya Dospem lu, yang sering ngilang. Hahahahaha." Rani tertawa puas meledek sahabatnya itu. "Sialan lu, malah ngeledek lagi." Raline melempar bantal ke arah Rani. Bantal itu tepat mengenai wajah Rani, dan Rani pun membalas dengan melemparkan kembali bantal itu. Tapi Raline berhasil menghindar, dan Rani tidak terima, sehingga dia mengejar Ralin untuk menjambak rambut sahabat nya itu. Mereka berdua lebih cocok jika disebut musuh, karena tiada hari tanpa bertengkar. Tapi kalau salah satu dari mereka mendapat masalah, maka yang satu akan menjadi orang pertama yang maju dan membela. Begitulah kedekatan mereka yang sangat membuat orang lain iri, mereka kuliah di kampus yang sama, tapi memilih jurusan yang berbeda. "Udah ah, rambut gue bisa botak gara-gara elu. Gue mau ke salon aja buat benerin rambut gue." Raline bercermin sambil membenarkan sedikit rambut nya. "Ah, lebay lu. Baru juga gue jambak segitu doang, masa langsung ke salon. Dasar ganjen lu." Ucap Rani sambil memainkan bibirnya. "Mending lu juga ikut gue ke salon, rambut lu udah kaya singa begitu. Muka cantik tapi rambut udah kaya hutan aja." Ajak Raline sambil menarik tangan sahabat nya. "Aaaah, males gue. Mending di rumah aja, cape tahu tadi ngadepin cowok gila di bengkel." Tolak Rani. "Cowok gila? Cakep gak cowok nya?" Tanya Raline antusias. "Kalau soal cowok aja lu cepet." Jawab Rani. "Ayok ah ke salon dulu, nanti sambil perawatan, kita ngobrol-ngobrol nya oke sayang ku." Ajak Raline memaksa. "Iiiiih jijik banget gue dibilang begitu." Rani bergidik mendengar panggilan Raline untuk nya. Raline malah semakin sengaja, bermanja kepada sahabat nya, sambil melingkarkan tangan nya di pinggang Rani. Akhirnya, dengan terpaksa Rani pergi ke salon bersama sahabat nya. Mereka memilih perawatan rambut lengkap, kalau masalah kecantikan, Raline lebih percaya dengan klinik kecantikan saja, dia tidak berani jika harus perawatan di sembarangan tempat. Proses itu membutuhkan beberapa jam, sampai Rani tertidur saat rambutnya masih di creambat. Dia paling tidak tahan melakukan perawatan seperti itu, karena terlalu memakan banyak waktu. Menurutnya, lebih baik dia tidur di rumah, dan memakan banyak camilan yang enak. Rani mempunyai tubuh yang sulit untuk gemuk, seberapapun banyak nya makanan yang dia makan, berat badan nya masih saja stabil. Dan itu membuat Raline merasa sedikit iri, karena dia harus tetap diet agar tubuhnya tetap bagus. Tapi rasa iri itu, bukan iri yang membuatnya membenci orang lain. Hanya merasa, jika dia yang seperti Rani, mungkin dia juga akan terus makan apapun yang dia mau, tanpa rasa takut. Setelah semuanya selesai, akhirnya Rani bisa segera pulang dan tidur. Tapi ternyata impian nya tidak dapat dia lakukan, karena Raline mengajaknya untuk pergi ke tempat permainan anak-anak yang ada di dalam mall. Dengan terpaksa dia pun mengikuti keinginan sahabat nya itu, mereka memasuki mall dan berjalan menuju toko pakaian. "Katanya mau ke time zone, kok malah ke sini?" Protes Rani, karena bukan nya ke tempat bermain, malah masuk ke toko pakaian. "Hehehe, cuma sebentar. Gue butuh baju, soalnya udah gak ada lagi baju yang bisa gue pake." Raline menjawab dengan tersenyum. "Ih, dasar aneh. Baju udah penuh tuh di lemari lu, masih aja bilang gak ada baju." Ucap Rani sambil marah-marah. "Itu udah gue pake semua Ran, masa pakai yang itu-itu mulu. Lu juga beli lah baju." "Males lah, baju gue masih banyak yang bisa di pake." "Alah, cuma kaos berapa biji juga. Udah lu diem aja, biar gue yang beliin lu baju." Raline terus memilih berbagai macam pakaian yang ingin dia kenakan, dan juga untuk Rani kenakan. Dia ingin sahabat nya itu sedikit lebih perhatian pada dirinya sendiri, jangan cuma belajar dan bisnis saja yang dia pikirkan. Akhirnya, setumpuk pakaian di beli oleh Raline untuk mereka berdua. Dengan beberapa tas belanja di tangan kanan dan kiri, kini mereka menuju ke tempat permainan untuk sedikit bersantai."Mas, sebenarnya istri kamu ini kenapa si?" Pertanyaan Tari yang tiba-tiba itu, membuat Tedi membeku seketika. Kepalanya seolah tidak bisa berpikir, dan lidahnya kelu tak dapat berucap satu katapun. Tedi takut jika Tari akan menolak Indi karena dia terlihat tidak waras, Tedi takut mereka di usir oleh adiknya. "Mas, kenapa kamu malah diem? Udah kalau kamu gak mau jawab, aku juga gak maksa. Makan aja dulu mas." Lanjut Tari tidak mendesak lagi. Tedi bernafas lega, dia meneruskan makan tanpa berkata apapun. Indi sudah menghabiskan semua makanan nya, dia langsung mencuci tangan dan duduk di depan TV, seperti tidak terjadi apa-apa. Tari berasumsi, kalau kakak iparnya itu, pasti sedang banyak pikiran, mungkin karena Tedi yang berpenghasilan kecil, belum lagi masalah di tempat kerjanya. Tari hanya bisa membatin tanpa ingin ikut campur lebih jauh lagi. Setelah Tari tahu jika Rani adalah seorang bos, apalagi saat dia melihat penampilan Rani di layar TV sebagai seorang designer be
Dengan wajah di tekuk, Tedi pulang ke rumah yang dia tempati, dengan harapan bisa beristirahat. Ingin rasanya segera merebahkan tubuh lelahnya, belum lagi dengan luka yang ada di tubuhnya. Tedi benar-benar merasa sudah tidak memiliki energi untuk melakukan apapun, dia hanya ingin berbaring dan tidur dengan cepat. Tedi membuka pintu rumahnya, dengan langkah lunglai, dia mulai memasuki rumah kontrakan yang kecil itu. Hening, tidak ada suara apapun. Seperti kedamaian yang selama ini Tedi cari. Dia merasa sangat Damai, tidak ada suara berisik sedikitpun. Tanpa memperdulikan yang lain nya, Tedi segera pergi ke kamar mandi, dan berganti pakaian. Dengan mata yang sudah satu karena mengantuk, Tedi langsung merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur, yang membuatnya lupa akan segalanya, hingga dia terlelap dan terbuai dalam mimpinya. Satu jam berlalu, Tedi belum juga terbangun, dia masih tetap nyaman dengan posisi tidurnya. Dua jam berlalu, Tedi masih lelap, bahkan sampai tiga dan e
Keadaan mereka memang terlihat baik-baik saja jika dari luar, tapi Tedi sendiri selalu merasa was-was jika dia harus meninggalkan Indi sendirian di rumah. Kadang kala, Tedi melamun karena merasa jika ujian nya begitu besar. Kenapa bisa dia kehilangan semuanya dalam waktu singkat, bahkan sekarang istrinya sendiri menjadi seperti itu. Tedi merasa jika itu semua tidak adil untuk dirinya, harusnya dia hidup bahagia dan mendapat keturunan. Setelah memikirkan itu, Tedi baru sadar, jika dia dengan Indi pun tidak dapat keturunan, bahkan dengan beberapa perempuan yang pernah menjadi selingkuhan nya, dia tidak pernah membuat mereka hamil. "Apa benar kalau aku sendiri yang mandul?" Gumam Tedi.Tedi terus saja mengingat bagaimana dulu Rani membujuknya untuk periksa ke dokter kandungan, dia meminta Tedi untuk mengecek kesuburan, tapi Tedi selalu menolak. Dia selalu merasa percaya diri, dia tidak mandul, karena bukan perokok dan juga tidak minum alkohol sama sekali. Tedi bisa dibilang bersih
Hari-hari Indi dipenuhi dengan pikiran yang tidak biasa, dia terus di tekan oleh sang ayah, untuk mengirimkan uang kepadanya. Sedangkan Indi tidak bekerja lagi, dan suaminya juga hanya kerja serabutan. Uang yang diberikan suaminya hanya cukup untuk makan saja, tapi tidak untuk yang lain nya. Indi hanya banyak termenung memikirkan tekanan yang diberikan ayahnya. Tedi sudah mengusulkan untuk memblokir nomor sang ayah, tapi Indi masih merasa takut. Sehingga setiap harinya Indi selalu mendapat teror dari sang ayah. Indi benar-benar seperti kehilangan jiwa nya, tapi rupanya Tedi masih mau membersamai Indi. Walau kadang Indi terlihat linglung."Hari ini aku yang masak aja mas, biar kamu gak terlalu capek." Ucap Indi tiba-tiba saja. Tedi tidak keberatan dengan apa yang Indi minta. "Ya udah, mas udah belanja. Kamu masak ya, mas mau mandi dulu." Tedi pergi ke kamar untuk mengambil handuk. "Iya mas." Jawab Indi. Indi mulai memotong sayuran dan juga tahu yang sudah suaminya beli, dia m
Tedi melempar tubuh Indi ke atas tempat tidur, tapi Indi tidak bereaksi sama sekali. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, Tedi tidak paham dengan kondisi Indi saat ini. Menurutnya Indi sudah keterlaluan, bukan nya sadar atas kesalahan yang sudah dia lakukan, malah semakin menjadi saja. Tapi kenapa sekarang dia malah seperti patung, tidak berbicara, bahkan tidak bereaksi saat dia di tarik sedemikian rupa. "Indi, apa yang sebenarnya kamu lakuin? Kenapa rumah kayak kapal pecah?" Tanya Tedi dengan nada tinggi. Indi tidak bergeming sedikitpun, tatapan nya masih terlihat kosong. Seperti tidak lagi memiliki jiwa, seperti cangkang kosong tanpa ada isi sama sekali. "Indi, kamu bisa denger gak sih? Jangan bikin aku makin marah sama kamu!" Bentak Tedi. Tiba-tiba Indi tertawa keras, seperti sedang melihat adegan lucu yang mengocok perut. "Hahahahahahaha" Indi tertawa sampai wajah nya berubah merah, dan setelahnya Indi menangis sesenggukan. "Kamu udah gila ya?!" Ucap Tedi.
Rani merasa bahagia dengan kedekatan Raja dan Raline yang mulai terjalin. Perlahan tapi pasti, Raline mulai membuka hatinya. Lebih banyak tersenyum saat bersama Raja. Dan Rani begitu mendukung kedekatan mereka berdua. Sebenarnya Rani takut, jika Raline sampai tidak mau menikah, hanya karena apa yang terjadi pada rumah tangga Rani, dan membuat Raline berpikir jika berumah tangga itu menakutkan. Sehingga membuat Rani, berinisiatif untuk mendekatkan Raline dan Raja. Selain memiliki keyakinan yang sama, Raja juga baik dan menurut Rani, dia sepadan jika dengan Raline, sama-sama mempunyai latar belakang yang bagus. Dengan semua itu, Rani yakin jika Raja tidak sama dengan Tedi dan akan bertanggung jawab dengan kehidupan Raline nanti. ******* Sementara itu di tempat lain. Tedi hanya bisa bekerja di pasar menjadi kuli angkut, dan kadang uang yang tidak seberapa itu, harus dia bayarkan cicilan hutang yang masih menumpuk. Indi sudah merasa tidak tahan dengan hidup sengs







