Share

Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat
Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat
Author: Keisha

Bab 1

Author: Keisha
Saat usia kehamilannya memasuki 25 minggu, Elara Wiratama memergoki suaminya berselingkuh di rumah sakit.

Seorang pria bertubuh tinggi dan tampan yang mengenakan mantel hitam melindungi seorang gadis yang lembut dan cantik dalam pelukannya. Gadis itu mengenakan mantel bulu rubah berwarna putih, pipinya merona, wajah mungilnya terbalut syal wol yang lembut, raut wajahnya halus bak boneka porselen.

Elara menggenggam erat hasil pemeriksaan kehamilannya hingga jari-jarinya memutih. Angin dingin menerpa pipinya, tetapi yang lebih dingin dari tubuhnya adalah rasa nyeri yang mencengkeram jantungnya.

Deon Atmadja melihatnya dari kejauhan. Ekspresinya datar, tanpa sedikit pun rasa malu karena ketahuan berselingkuh. Dia sendiri yang membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Sikapnya lembut dan penuh perhatian.

Seorang penguasa yang selalu dingin dan berada di puncak, ternyata juga memiliki sisi hangat dan penuh perlindungan seperti ini.

Gadis itu tampaknya menyadari keberadaan Elara. Gerakannya terhenti sejenak. Dia menatap Elara dengan bingung, lalu menoleh ke arah Deon dan bertanya, "Kenapa tante itu terus menatapmu? Kak Deon, kamu kenal dia?"

Angin dingin menderu di telinga. Elara tidak tahu apa lagi yang dikatakan gadis itu kepada Deon. Namun, dari gerakan bibirnya, Elara bisa memastikan satu kata, yaitu "tante".

Tante? Itu sebutan untuk dirinya. Elara tersenyum pahit di dalam hati. Usianya baru 24 tahun. Namun, tubuhnya memang sedikit berisi, penampilannya juga terlihat biasa saja. Dia terbungkus jaket bulu hitam dan topi rajut hitam. Tubuhnya membengkak menjelang akhir kehamilan, sementara wajahnya tampak letih.

Dia memang terlihat seperti perempuan berusia 30 atau 40 tahun. Jauh dari bandingan seorang gadis muda yang cantik dan berseri-seri.

Deon melindungi gadis itu masuk ke mobil. Elara berdiri kaku di tempat, menatap mobil yang menjauh.

Dia dan Deon menikah karena anak. Pernikahan yang dipaksakan ini, bagi pria seistimewa Deon, adalah noda dalam hidupnya. Anak di dalam perutnya pun adalah alat yang dia gunakan untuk menekan Deon. Dia sangat membencinya.

Elara telah diam-diam mencintainya selama delapan tahun. Namun, dia tahu betul bahwa dirinya sama sekali tidak pantas untuk Deon. Karena itu, dia terus belajar dengan keras, menjadikannya sebagai tujuan hidup, mengikuti jejak langkahnya.

Akhirnya, dia berhasil menjadi asisten Deon, bisa berdiri di sisinya dari jarak dekat.

Malam itu bukan hanya menghancurkan Deon, tetapi juga merobek seluruh harga diri Elara dan kebanggaannya di hadapan Deon dengan kejam.

Di tak akan pernah lupa tatapan jijik Deon setelah kejadian itu, seolah-olah dirinya telah menyentuh sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Karena itu, hanya gadis secantik dan seindah itu yang pantas berdiri di sisinya.

Setetes air mata hangat meluncur dari sudut matanya. Tak lama kemudian, perut bawahnya terasa nyeri berdenyut. Dia buru-buru menopang perutnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersandar pada pilar batu di sampingnya.

Seorang perawat yang lewat melihat kondisinya dan segera menghampiri, membantu menopangnya dan membawanya ke ruang periksa.

Elara hanya mengalami gangguan janin akibat gejolak emosi. Setelah kondisinya membaik, dia meninggalkan rumah sakit dan mengemudi sendiri kembali ke Shallow Bay dengan tubuh dan hati yang kelelahan.

Di sanalah vila milik Deon berada. Nyonya Tua Keluarga Atmadja, Nami, telah mengatur agar seorang pengasuh berpengalaman dari rumah lama datang untuk merawatnya.

Saat ini, dua pengasuh yang ditugaskan merawatnya justru duduk di ruang tamu yang hangat seperti pemilik rumah, menikmati makanan sambil tertawa dan mengobrol.

Salah satu pengasuh mendengar suara di pintu dan menoleh. Melihat Elara kembali, salah satu dari mereka bangkit dan bertanya, "Bagaimana hasil pemeriksaan kehamilannya?"

Nada angkuh dan sikap meremehkan. Mengaku sebagai pengasuh yang merawatnya, tetapi lebih mirip pengawas yang menganggap diri sebagai tuan rumah.

Elara hanya melirik dingin ke arah pengasuh itu, tidak menjawab, dan langsung berjalan menuju tangga.

Pengasuh itu mengerutkan kening dengan tidak puas. "Aku bertanya padamu!"

Elara tetap tidak menggubris.

Menatap punggung Elara, pengasuh itu berdecak kesal. "Seperti babi gendut saja. Benar-benar mengira dirinya Nyonya Muda Keluarga Atmadja. Sok amat."

Elara kembali ke kamar tidur dan duduk di tepi ranjang. Hatinya hampa. Baik Deon maupun Keluarga Atmadja tidak pernah memandangnya sebagai menantu.

Nami yang memutuskan agar dia dan Deon mendaftarkan pernikahan mereka. Itu pun karena Tuan Tua Keluarga Atmadja, Malik, sedang sakit parah. Dia kebetulan hamil dan datang ke rumah mereka. Demi membawa keberuntungan bagi Malik, pernikahan mereka akhirnya diatur.

Entah kebetulan atau benar-benar membawa hoki, kondisi Malik perlahan membaik. Setelah itu, sikap Nami terhadapnya berubah sedikit.

Namun, anggota Keluarga Atmadja lainnya tetap memandangnya dengan penuh rasa tidak hormat.

Hari ini, dia ke rumah sakit juga untuk memastikan jenis kelamin bayi di dalam kandungannya. Seorang anak perempuan. Pihak Keluarga Atmadja seharusnya sudah menerima pemberitahuan dari rumah sakit.

Saat itu, ponselnya bergetar. Elara tersadar dari lamunannya. Dia mengambil ponsel dari dalam tas. Melihat nama penelepon, dia tertegun sejenak. Itu panggilan dari dosen pembimbingnya.

Dia mengangkat telepon. "Profesor Arizo."

"Ada satu kuota untuk melanjutkan studi doktoral di Universitas Stafurd. Kamu mau mencobanya?"

Mendengar kata-kata Arizo, Elara terdiam lama.

Menyadari dia tak merespons, Arizo melanjutkan, "Kalau nggak mau ...."

"Aku mau." Elara tersadar dan langsung menjawab dengan tegas.

Kali ini, Arizo justru terdiam. Seberapa keras usaha Elara agar pantas berdiri di sisi Deon, dia tahu betul. Kini dia sudah menikah dan hamil, bagaimana mungkin dia rela pergi begitu saja? Soal kuota yang tersisa ini, dia hanya mencoba menanyakannya.

"Profesor Arizo," panggil Elara.

Arizo berkata, "Besok pagi jam 10 datang ke kantorku."

"Baik."

Arizo tidak mengatakan apa-apa lagi dan menutup telepon.

Elara meletakkan ponselnya dan mengembuskan napas panjang. Tiba-tiba, dia merasa seperti awan gelap yang tersibak dan cahaya bulan kembali terlihat. Dia memang harus sadar.

Pria itu tidak mencintainya. Anak yang dia lahirkan pun tidak akan menjadi ikatan mereka, apalagi membuat Deon menoleh dan memandangnya lebih lama.

Tak lama kemudian, dia menerima telepon dari Nami yang memintanya kembali ke rumah lama. Elara menyetujuinya. Kemungkinan besar karena urusan anak dalam kandungannya.

Kini, dia merasa lebih bersemangat. Dia pun masuk ke kamar mandi dan mandi dengan tenang.

Duduk di depan meja rias, Elara menatap dirinya di cermin. Wajah bulat yang bengkak, lingkar hitam di bawah mata, kantong mata, mata yang cekung, serta noda yang memenuhi pipinya.

Siapa yang tidak akan merasa jijik melihat wajah seburuk ini? Dengan kondisi seperti ini, bagaimana dia pantas berdiri di sisi Deon yang begitu sempurna?

Dia berdandan, lalu mengganti jaketnya dengan jaket bulu warna pink dan mengenakan topi bulat putih. Penampilannya tampak jauh lebih segar. Awalnya, dia berniat menyetir sendiri ke rumah lama.

Namun, baru saja keluar, dia menerima telepon dari Deon. Suara pria itu terdengar datar. "Keluar."

Elara terkejut sejenak. Mungkin Nami yang meminta Deon pulang ke rumah lama. Dia menjawab, "Baik."

Begitu keluar dari vila, mobil Rolls-Royce Deon sudah terparkir di depan. Dua jam sebelumnya, mobil inilah yang menjemput dan mengantar perempuan lain.

Elara menarik napas dalam-dalam, melangkah maju, membuka pintu, dan masuk. Begitu duduk, dia mencium aroma parfum lembut, aroma manis khas gadis muda. Di dalam mobil juga terdapat boneka beruang kecil berwarna pink, jelas barang kesukaan perempuan.

Saat mengangkat pandangan, dia melihat sebuah ikat rambut di pergelangan tangan pria itu. Itu adalah cara seorang perempuan menandai kepemilikan.

Deon pasti sangat menyukai gadis itu. Elara menekan rasa perih di hatinya, duduk dengan tenang dan mengenakan sabuk pengaman.

Mobil melaju perlahan. Elara menatap keluar jendela, diam tanpa berbicara. Dulu, setiap ada kesempatan berdua dengannya, dia akan sangat menghargainya. Dia akan berusaha mendekatkan diri, bahkan jika dicemooh, dia tetap tak bosan mencari topik pembicaraan.

Karena dia dengan naif berkhayal bahwa mereka sudah menjadi suami istri, memiliki anak, dan masih punya waktu yang panjang di masa depan. Selama dia menjadi istri dan ibu yang baik, mungkin suatu hari Deon akan menoleh dan memandangnya.

Namun pada akhirnya, semua itu hanyalah kebohongan yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri.

Pria itu sama sekali tidak peduli dengan suasana hatinya. Seperti biasa, dingin dan tidak acuh. Dia bertanya, "Anaknya laki-laki atau perempuan?"

Elara menjawab, "Perempuan."

Mendengarnya, tidak ada perubahan sedikit pun di wajah tampan Deon. Dia hanya berkata datar, "Setelah anak itu lahir, kita cerai."

Kata-kata itu terlontar, jari-jari Elara menegang. Jantungnya terasa seperti diremas erat, sementara napasnya menjadi sesak.

Pernikahan ini memang tidak mungkin bertahan lama. Meskipun sudah menduganya sejak awal, saat kata-kata itu benar-benar keluar dari mulut Deon, hati Elara tetap terasa begitu sakit.

Dia menggigit bibirnya dan menjawab, "Baik."

Deon menoleh dan meliriknya sekilas, seakan-akan agak terkejut dengan persetujuannya yang begitu cepat.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 100

    Pukul 1 siang, pesawat menuju Frabisco lepas landas tepat waktu.Elara duduk di kursi bisnis dekat jendela, menatap kota yang perlahan mengecil di luar sana. Di tangannya, dia menggenggam erat sebuah kalung. Di dalamnya tersimpan foto satu bulan Elise.Kepergiannya kali ini berarti dia dan anaknya akan semakin sulit untuk bertemu.'Sayang, Mama minta maaf padamu,' batin Elara. Dadanya terasa nyeri.Pada saat yang sama, di dalam mobil Bentley yang sedang melaju dari bandara menuju vila, Elise tiba-tiba menangis sangat keras.Deon menggendongnya, menghibur dengan segala cara, tetapi tetap tidak berhasil. Baru setelah dia kelelahan karena menangis dan tertidur, tangisan itu perlahan mereda.Deon memeluk putrinya, mengusap pipinya yang basah oleh air mata dengan hati-hati. Telapak tangannya menepuk-nepuk lembut tubuh kecil itu. Sorot matanya dipenuhi kelembutan dan kasih sayang seorang ayah.....Lima tahun kemudian, di kantor pusat Sprucera, di dalam ruang kerja presdir yang luas.Di mana

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 99

    Sebelum masuk ke rumah, Yurike sempat mengingatkan Gasper agar nanti tidak asal bicara.Gasper berkata, "Aku ini bukan orang yang suka bocor mulut.""Huh, kurang lebih sama saja!"Sesampainya di rumah Keluarga Wiratama, William dan Larissa segera menyambut mereka masuk. Arizo membawa beberapa bingkisan."Kenapa beli barang sebanyak ini lagi? Bukannya sudah bilang cukup datang untuk makan saja," tanya William."Mana mungkin datang dengan tangan kosong. Om jangan sungkan," jawab Arizo.William menerima barang-barang itu. "Ayo cepat masuk, duduk dulu. Sebentar lagi makan, tinggal dua menu yang masih dimasak."Sander masuk ke dapur untuk membantu. Elara menyapa semua orang satu per satu.Yurike maju, menarik Elara untuk duduk. "Kelihatannya kamu pulih dengan baik, wajahmu segar. Barang yang kuberikan kemarin cocok, 'kan?""Ya, cukup cocok.""Bagus kalau begitu."Beberapa orang mengobrol dengan santai di sofa. Tak lama kemudian, makan malam pun dimulai. Mereka duduk mengelilingi satu meja.

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 98

    Elara menerima foto dan video perayaan satu bulan Elise yang dikirim oleh Reynard.[ Elise terus menggenggam liontin gembok keberuntungan yang kamu berikan. Dia senang sekali. Anak kecil itu pasti tahu kalau itu disiapkan oleh mamanya. ]Melihat anak itu tertawa bahagia, sudut bibir Elara tanpa sadar terangkat. Saat ini, dia sudah bisa menerima semuanya dengan lebih lapang.Dia ingin melihat anaknya tumbuh besar, meskipun tak bisa mendampinginya.Menatap bayi kecil di foto itu, jelas terlihat bahwa Elise benar-benar dirawat dengan sangat baik. Keluarga Atmadja sungguh menyayanginya.[ Dia anak yang cerdas. ][ Sudah jelas, anak yang kamu lahirkan pasti pintar. ]Hari itu, tiba-tiba Elara menerima telepon dari Deon. "Aku akan pergi dinas beberapa hari. Datanglah untuk merawat anak."Mendengar ucapan pria itu, Elara langsung tertegun di tempat. Dia sempat mengira Deon mencarinya untuk membicarakan perceraian, tetapi masa tenang masih tersisa tiga hari lagi.Tak disangka, dia justru memin

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 97

    Namun, kenapa hari ini tidak terlihat istri Deon? Semua orang merasa heran, tetapi tidak ada yang berani bertanya lebih jauh.Deon menggendong anak itu, lalu meletakkannya ke dalam kereta bayi. Nami dan Malik segera mendekat, menatap cucu perempuan kesayangan mereka. Wajah yang dipenuhi keriput itu tak mampu menyembunyikan rasa bahagia.Nami menyerahkan hadiah satu bulan yang telah dia siapkan untuk cucunya. Perhiasan bernilai ratusan juta yang disimpannya dengan sangat hati-hati. Dia lalu bertanya, "Sayang, suka nggak?"Elise membuka mata besarnya, menatap lurus ke depan. Wajah kecilnya yang imut tidak menunjukkan reaksi khusus."Elise, lihat hadiah dari Kakek Buyut." Malik memperlihatkan sebuah gendang mainan yang dibuat khusus. Bahannya dari kayu berkualitas tinggi dan lukisan di permukaan gendang itu digambar sendiri olehnya.Irma dan Zayden juga telah menyiapkan hadiah dengan sungguh-sungguh. Mereka ingin melihat cucu perempuan mereka tersenyum.Namun, Elise hanya berkedip pelan,

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 96

    Reynard mengirimkan foto kembang api dan bertanya.[ Ingin lihat anakmu? ]Elara tidak pernah menyinggung soal anak kepada Reynard. Dia tahu Elara takut akan semakin terluka dan sedih jika melihatnya. Namun di dalam hatinya, Elara pasti sangat ingin melihat anak itu.Elara menatap pesan dari Reynard, terdiam cukup lama. Dia kembali ke kamarnya, barulah membalas.[ Mau. ]Pada akhirnya, dia memang tidak sanggup menahan diri.Reynard mengirimkan beberapa foto anak itu secara terpisah. Saat tidur, saat tersenyum .... Elise tumbuh dengan sangat cantik. Sepasang matanya yang besar dan cerah melengkung seperti bulan sabit saat tersenyum, hidungnya mungil dan rapi, bibir kecilnya merah muda, wajah mungilnya putih dan bersih.Elara menatap foto-foto itu. Matanya tanpa sadar memerah. Dia meletakkan ponselnya, lalu menengadah menatap ke luar jendela, berusaha menenangkan emosinya. Kemudian, dia baru mengirim pesan kepada Reynard.[ Apa Deon memperlakukannya dengan baik? ]Itulah yang paling dia

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 95

    Ekspresi Deon tetap tidak berubah saat mendengarkan ucapan Reynard. Dengan suara berat, dia berkata, "Jadi hanya karena dia, kamu bisa memberi penilaian seperti itu pada keluarga sendiri, pada kakek, nenek, dan orang tua di rumah ini."Reynard membuka mata dan menatapnya.Deon melanjutkan, "Kamu boleh membelanya dan memperjuangkan keadilannya, tapi Keluarga Atmadja bukan tempat untuk melampiaskan emosimu. Kamu juga bagian dari Keluarga Atmadja.""Kamu juga sudah nggak kecil lagi. Sekarang kamu sudah membuka perusahaan sendiri dan menjadi bos. Dalam berbicara dan bertindak, jangan terlalu dikuasai emosi."Jari-jari Reynard mengerat. Dia perlahan menunduk. Wajahnya tegang. Dia tidak berkata apa-apa lagi.Suasana pun tenggelam dalam keheningan.Saat itu, seorang pelayan naik ke lantai atas dan berkata, "Tuan, makan malam sudah siap."Deon menurunkan kakinya, lalu menyerahkan kantong itu kepada pelayan. "Bawa ke kamarku."Pelayan menerima dengan kedua tangan dan menjawab, "Baik."Pelayan p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status