LOGINVidi berkata, "Kalau begitu, kita pergi sekarang."Setelah berkata demikian, dia langsung berjalan lebih dulu.Mereka kembali ke ruang perjamuan. Vidi menemui Fathan dan berbicara sebentar dengannya. Fathan dan Vindy memandang Yurike yang berdiri di samping Vidi. Yurike pun menyapa mereka dengan sopan.Setelah itu, Yurike pergi bersama Vidi. Begitu masuk ke mobil Vidi, Yurike mengirim pesan kepada Chandler."Kamu mau makan apa?" tanya Vidi.Yurike meletakkan ponselnya dan berpikir sejenak."Kita ke restoran hidangan laut yang baru buka saja."Setengah jam kemudian, keduanya sudah duduk di dalam restoran. Mereka memesan mi telur kepiting, daging asam manis, angsa panggang, dan beberapa hidangan lainnya.Sambil menunggu makanan datang, Yurike tiba-tiba bertanya, "Gimana keadaan Bu Vitara?"Vidi mengangkat pandangan menatapnya. "Nggak ada masalah serius.""Jadi, dia benar-benar nggak berniat melakukan apa pun untuk Elara?""Bagus juga begini. Nggak ada gunanya mengakui hubungan mereka sek
"Yurike," panggil Chandler sambil bergegas menghampiri putrinya. "Apa yang terjadi? Kamu terluka?"Yurike mengangkat tangan untuk merapikan rambutnya. "Ayah, aku nggak apa-apa."Dia melirik Vidi yang berdiri di ambang pintu, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Frida.Wajah Elon tampak muram. Dia menatap para staf dan bertanya dengan dingin, "Apa yang sebenarnya terjadi?"Yurike berkata, "Seharusnya Pak Elon nggak nanya ke mereka. Tanyakan saja sama putri kesayangan Bapak apa yang sudah dia lakukan."Tubuh Frida menegang. Dia menatap Yurike dengan penuh kebencian."Kalau aku nggak dapat penjelasan hari ini, aku nggak akan membiarkan masalah ini selesai begitu saja."Elon kembali memandang pria yang tergeletak di lantai, lalu seketika mengernyit.Frida membela diri, "Kamu sendiri yang nggak bisa jaga diri dan malah main-main sama sembarang pria. Kenapa sekarang malah nyalahin orang lain?""Frida!" bentak Elon.Yurike mencibir. "Biar kukasih tahu langsung. Aku sama sekali nggak minum
Setelah turun ke lantai bawah, Vidi berbincang dengan Fathan. Dia sempat mengedarkan pandangan ke sekeliling, tetapi tidak melihat Yurike. Dia pun tidak terlalu memikirkannya.Tak lama kemudian, dia bertemu Fathan dan istrinya.Vidi berjabat tangan dengan Fathan, lalu menyapa Vindy. Dengan sikap rendah hati dan sopan, dia mengobrol bersama pasangan itu."Vidi, kamu memang pemuda yang luar biasa," puji Vindy. Tatapannya menunjukkan kekaguman yang tak disembunyikan."Bu Vindy terlalu memuji."Di tengah obrolan, Vindy mulai membicarakan putrinya. Sayangnya, putrinya baru akan kembali dari luar negeri besok. Kalau tidak, dia pasti sudah membawanya ke acara hari ini agar bisa berkenalan dengan Vidi.Saat itulah Chandler datang menyapa Vidi."Vidi, lama nggak ketemu. Kebetulan ada proyek yang ingin kubicarakan denganmu. Apa kamu punya waktu besok malam?"Chandler menyela pada saat yang sangat tepat. Vindy sebenarnya baru saja hendak mengundang Vidi makan malam di rumah mereka besok agar bisa
Chandler mengangkat dagu. "Jangan kurang ajar sama ayah sendiri.""Aduh, iya, tahu."Vidi keluar dari toilet. Saat itu, Elon kebetulan sedang berjalan ke arahnya. Begitu melihat Vidi, dia segera mempercepat langkah."Pak Vidi, aku benar-benar minta maaf. Aku sudah minta orang untuk siapin kemeja bersih. Silakan ganti pakaian dulu."Bagian kemeja Vidi yang terkena minuman memang sudah basah kuyup.Awalnya dia hendak menolak dan langsung berpamitan untuk pulang. Namun, Elon berkata, "Pak Fathan baru saja datang. Tadi dia juga nanya kamu ke mana."Mendengar hal itu, Vidi tidak mengatakan apa-apa lagi.Elon kemudian meminta kepala pelayan mengantar Vidi ke lantai atas untuk berganti pakaian. Saat menaiki tangga, dari sudut matanya Vidi menangkap sesosok wanita di lantai bawah.Langkahnya seketika terhenti. Dia menoleh ke bawah dan langsung melihat Yurike yang sedang bersandar santai di dekat meja minuman. Saat itu, seorang pria muda sedang mengajaknya mengobrol. Entah apa yang sedang merek
"Yurike."Mendengar seseorang memanggil nama itu, Frida menoleh ke arah sumber suara dan melihat Yurike.Wanita itu mengenakan gaun panjang tanpa tali dari bahan satin yang pas membalut tubuhnya. Tidak ada hiasan berlebihan pada gaunnya. Hanya sebuah kalung dengan batu permata biru yang menghiasi lehernya. Rambut panjang bergelombangnya tergerai indah, dipadukan dengan riasan wajah yang tegas dan menawan. Penampilannya terlihat anggun sekaligus memesona.Frida menatapnya. Rasa benci, bahkan kecemburuan, terlihat jelas di matanya.Berani sekali dia datang ke sini.Saat itu, Yurike sedang berbincang dengan seseorang."Yurike, kamu tadi nggak lihat gimana Frida berusaha cari perhatian? Vidi sama sekali nggak gubris dia."Hubungan Yurike dan Frida memang tidak pernah baik. Karena itu, Yurike hampir tidak pernah menghadiri acara yang diselenggarakan Keluarga Pradaksana. Namun, perselisihan mereka pada dasarnya hanyalah masalah pribadi di antara generasi muda.Undangan sebenarnya dikirimkan
"Oke."Malam itu, Vidi menghadiri sebuah acara jamuan.Acara tersebut diselenggarakan oleh Keluarga Pradaksana, tepatnya ayah Frida. Vidi memang memiliki hubungan kerja sama bisnis dengan Keluarga Pradaksana.Begitu Vidi memasuki aula perjamuan, kehadirannya langsung menarik perhatian banyak orang.Dia mengenakan setelan abu-abu yang membalut tubuhnya yang tinggi dan tegap. Bahunya lebar, pinggangnya ramping, dengan pembawaan elegan dan berkelas. Wajahnya yang tampan memiliki garis yang tampak tegas.Terutama para wanita lajang di sana. Begitu melihatnya, mereka nyaris tidak mampu mengalihkan pandangan.Mereka sudah sering bertemu generasi kedua keluarga kaya, tetapi pria seperti Vidi yang bukan hanya kaya dan tampan, melainkan juga sangat kompeten, benar-benar langka.Terlebih lagi, belum lama ini Vidi berhadapan dengan seluruh Keluarga Adhisti seorang diri dan akhirnya berhasil keluar sebagai pemenang. Hal itu membuat semakin banyak orang memandang tinggi dirinya, sekaligus membuat s






