LOGINDerap langkah heels terdengar menggema di koridor rumah sakit.
“Tiba-tiba menghilang dari pesta, lalu kita mendapat kabar kalau Elina di rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Apa dia sengaja ingin menghebohkan satu negara karena tindakan bodohnya?!” Samantha melangkah sambil menggerutu.
Ekspresi wajahnya cukup menjelaskan betapa kesal dan bencinya dia dengan sikap Elina.
Jhonny tak menanggapi perkataan istrinya itu. Dia lebih memilih diam dan terus mengayunkan langkah menuju kamar VIP tempat Elina dirawat.
Tadi saat mendapat panggilan dari pelayan rumah yang dihubungi oleh pihak rumah sakit, Jhonny tak langsung pergi karena Samantha mencegahnya dan meminta agar mereka menyelesaikan pesta lebih dulu. Ia berkata yang terpenting Elina sudah ditemukan.
Mereka tiba di depan kamar inap Elina. Ekspresi wajah Samantha masih sedingin es, dia mendorong pintu kamar inap lalu melangkahkan kaki dengan anggun masuk kamar itu.
Begitu berada di dalam, tatapan Samantha semakin dingin melihat Elina terbaring di ranjang dengan kening terluka dan ada beberapa goresan pecahan kaca di leher juga tangan.
Samantha melihat Elina memalingkan muka darinya, yang mana semakin membuatnya muak.
“Menghilang dari pesta dan dikabarkan masuk rumah sakit. Apa kamu berniat menciptakan kehebohan? Apa sulit untuk tetap patuh?” Suara Samantha begitu menusuk, tak ada nada empati sama sekali pada putri dari suaminya itu.
“Maaf, dia mengalami kecelakaan di jalan.”
Suara bariton itu membuat Samantha dan Jhonny menoleh bersamaan. Kedua orang tua itu menatap heran pada pria asing yang ada di kamar putri mereka.
“Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Samantha menatap curiga, lalu setelahnya menatap tajam pada Elina yang masih membuang muka.
Senyum tipis tersemat di bibir pria itu. Dia membungkuk kecil, lalu memperkenalkan diri.
“Saya Darren. Kebetulan saya sedang melintas di jalanan dan melihat mobilnya sudah terbalik di sisi jalan, juga ….” Darren menjeda ucapannya ketika menoleh pada Elina.
“Juga apa?” tanya Samantha penasaran.
Kepala Darren kembali berputar ke arah Samantha dan Jhonny. “Ada dua pria bersenjata yang ingin mencelakainya.”
Samantha dan Jhonny tak terlihat terkejut sama sekali, bahkan mereka saling lirik dengan sikap biasa.
“Imbalan apa yang kamu inginkan atas bantuan yang sudah kamu berikan?” Jhonny bicara dengan nada datar, tanpa rasa terima kasih karena sudah menyelamatkan putrinya.
Senyum samar kembali tersungging di bibir pria bernama Darren itu. Sikap dan cara bicara Jhonny cukup menunjukkan bahwa pria paruh baya ini adalah orang kaya yang sombong.
“Saya sebenarnya butuh pekerjaan,” balas Darren lalu menatap penuh arti pada Jhonny, “jika Anda menawarkan imbalan, maka cukup beri saya pekerjaan.”
Kedua sudut bibir Jhonny tertarik, ekspresi mencibir tercetak jelas di guratan wajahnya.
“Kemampuan apa yang kamu miliki sampai berani meminta pekerjaan dariku?”
Darren menipiskan senyum. Tubuhnya menegak, postur tubuhnya yang proporsional dan otot lengan tampak menyembul dari balik kaus hitam ketat yang dipakainya.
“Saya bisa membela diri. Bahkan, saya berhasil menghajar dua pria yang tadi berniat mencelakai putri Anda.” Darren menjelaskan dengan nada tegas, tak ada keraguan dalam setiap kalimat yang terlontar dari bibirnya.
“Hanya itu?” Satu sudut bibir Jhonny tertarik ke atas, meragukan.
“Tidak juga. Saya ahli IT, bahkan saya bisa menggunakan senjata dari belati, pistol, sampai senjata laras panjang. Apa saya perlu melakukan tes secara langsung di hadapan Anda?” Tatapan Darren begitu fokus, seolah mengintimidasi pria yang ada di depannya agar menerimanya.
Jhonny diam dengan tatapan tak terbaca, tapi bukan pandangan kagum akan kemampuan yang Darren sebutkan.
“Saya tahu pasti siapa Anda. Jadi, biarkan saya menjadi pengawal putri Anda. Bukankah Anda sedang mencari pengawal pribadi untuknya?” Darren memperlihatkan sebuah informasi tentang Jhonny yang mencari bodyguard terampil dan berani di ponselnya setelah bicara.
Samantha terkesiap. Matanya menyipit curiga karena Darren tahu soal informasi itu.
“Bantuanmu, apa hanya sebuah kebetulan mengingat kamu tahu soal lowongan yang seharusnya sangat privasi?” Nada suara Samantha begitu waspada.
Darren tersenyum, pandangannya tertunduk sejenak.
“Saya mendapat informasi ini dari salah satu kenalan yang mengakui kemampuan saya, dan loyalitas saya yang tak pernah diragukan.” Suara Darren terdengar rendah tapi begitu dalam.
Di ranjang, Elina menatap sambil mencerna keinginan Darren. Kenapa pria asing ini tiba-tiba mau menjadi pengawalnya?
Jhonny tersenyum mencibir lagi. Dia meragukan kemampuan dan kesetian pria muda itu.
“Kamu memiliki sertifikat pengawal?” tanya Jhonny, yang terlihat jelas ingin memupuskan harapan Darren.
Jhonny terlalu malu untuk menolak langsung, bagi dia yang seorang pengusaha kaya raya, akan menjadi bumerang baginya jika menjanjikan imbalan tapi menolak keinginan orang yang dia tawari.
“Sertifikat hanya sebuah kertas, sedangkan kemampuan adalah modal untuk melindungi pewaris Anda. Saya menjaminkan nyawa saya, silakan lakukan apa pun yang Anda mau pada saya jika gagal melindungi putri Anda.”
Darren tampaknya tak ingin menyerah. Sepasang matanya menyimpan sesuatu yang begitu dalam dan tak terbaca.
Jhonny melirik pada Elina yang sejak tadi hanya diam. Dia kembali memandang Darren dan berkata, “Baiklah, kalau begitu buktikan kalau kamu bisa menjaga putriku dengan nyawamu.”
Senyum Darren terangkat di bibir. Dia membungkukkan badan sambil mengucapkan terima kasih.
Samantha masih menatap curiga pada Darren. Sudah banyak pengawal pribadi Elina yang mengundurkan diri, dari cedera parah karena melindungi, sampai hampir mati karena penyerangan dari musuh suaminya.
Sekarang, apa alasan Darren sangat yakin ingin menjadi pengawal Elina?
“Sayang, Elina akan aman sementara di rumah sakit, di luar juga sudah ada pengawal tambahan kita. Kita harus pulang sekarang,” kata Samantha dengan ekspresi datar, bahkan sama sekali tak mengucapkan kalimat apa pun untuk menenangkan Elina.
Jhonny mengangguk. Pandangan matanya tertuju sejenak pada Elina, lalu pada Darren.
“Karena kamu sudah menjadi pengawal putriku, maka tinggallah di sini untuk membuktikan kalau kamu mampu menjaganya. Setelah Elina keluar dari rumah sakit, aku akan membahas kontrak kerja denganmu,” ucap Jhonny dengan nada datar.
“Baik, terima kasih, Tuan.” Darren membungkukkan badan di depan Jhonnya.
Samantha hanya memberikan lirikan pada Darren, setelahnya dia merangkul lengan suaminya dan mengajaknya meninggalkan kamar Elina.
Samantha dan Jhonny berjalan di koridor rumah sakit. Tiga pengawal berjalan di belakang mereka.
“Tidak tahu kenapa, aku curiga pada pria itu.”
Jhonny menghentikan langkah, lalu menoleh pada Samantha.
“Curiga?” Kening Jhonny berkerut dalam.
“Apa kamu tidak merasa aneh? Tiba-tiba dia muncul menjadi penolong Elina, lalu menawarkan diri menjadi bodyguardnya. Apa kamu pikir itu tidak mencurigakan?”
Jhonny diam dan memikirkan ucapan istrinya.
“Aku sudah minta orang menyelidikinya, dan nantinya aku akan melakukan tes untuk melihat apakah dia memiliki motif tersembunyi atau memang dia pria nekat yang sangat butuh pekerjaan dan tak takut tantangan.”
Di ballroom hotel bintang lima.Darren berdiri di depan altar, menunggu pengantinnya muncul dari pintu besar yang sejajar dengan tempatnya berdiri.Berulang kali, Darren mengembuskan napas kasar. Senyum tak luput dari wajahnya.Di depan altar. Claudia dan Marco duduk menunggu acara prosesi berlangsung.Sejak Elina dibawa Darren pulang, Claudia bersikap begitu baik, dia akhirnya mendapatkan menantu yang selama ini didambakannya.“Kenapa putramu begitu gugup?” tanya Claudia saat menoleh pada Marco. Claudia melihat Darren terus meremat jemari.“Wajar kalau gugup, itu artinya dia sangat menantikan momen ini,” balas Marco dengan santainya.Di depan pintu besar luar ballroom. Elina berdiri menunggu pintu di depannya terbuka.Dia ditemani MUA, mendengar suara MC yang bicara di dalam ballroom.Saat Elina begitu gugup, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh lengannya, lalu mengarahkan untuk melingkarkan tangannya di lengan pria berjas rapi ini.Elina tersentak, matanya melebar melihat Jhonny ada di
Satu minggu kemudian.Elina dan Darren turun dari mobil yang terparkir di depan rumah sakit jiwa.Samantha dinyatakan bersalah dan ditetapkan sebagai tersangka atas semua kejahatan-kejahatan yang dilakukannya. Tapi Samantha tidak diproses secara hukum karena polisi memasukkan surat kesehatan mental palsu atas permintaan Darren.Akhirnya, Samantha ditahan di rumah sakit jiwa, dia akan dikurung di sana dan mendapatkan obat-obatan yang tak seharusnya didapatkannya.“Kamu yakin mau menemuinya?” tanya Darren memastikan saat dia dan Elina sudah turun dari mobil.Elina tersenyum, napasnya begitu ringan ketika dia berkata, “Aku mau melihat, sudah sampai mana penderitaannya di dalam rumah sakit jiwa.”Darren ikut tersenyum melihat Elina begitu ceria sekarang. Dia mengangguk lalu mempersilakan Elina untuk berjalan lebih dulu.Mereka masuk ke bagian terdalam rumah sakit, di lantai atas tempat pasien gangguan jiwa dirawat dengan ketat agar tidak kabur.Elina meminta Samantha ditempatkan di kamar
Setelah kejadian yang terjadi begitu cepat.Berita soal penangkapan Samantha dan kematian Eleanor yang tragis menyebar luas. Bahkan sudah ada pemberitaan soal para pemegang saham yang akhirnya mengambil alih perusahaan Alva, karena tidak ada satu pun keluarga yang mau mengklaim perusahaan itu.Sedangkan Elina. Dia pulang bersama Darren dan Eliz, kembali ke villa membawa kotak peninggalan sang nenek yang sebelumnya ditinggalkan karena kabur dari rumah.“Aku akan membayar pihak polisi untuk memalsukan dokumen kesehatan mental Samantha, agar kita bisa menjebloskannya ke rumah sakit jiwa,” ucap Darren.Eliz menatap miris, sampai dia berkata, “Apa kalian yakin akan melakukannya? Mama sudah mengikhlaskan semua yang dilakukannya dulu, Mama hanya ingin melihat kalian hidup bahagia. Mama tidak mau lagi mengingat soal Samantha.”“Harus, Ma,” balas Elina dengan cepat, dia menatap begitu serius saat Eliz memandangnya. “Samantha harus mendapatkan ganjaran atas semua perbuatannya, pada Mama, padaku
“Ayo! Bunuh aku! Ini yang kamu mau, kan? Kenapa diam? Kamu takut?” teriak Samantha menggila, tatapannya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sama sekali.Elina ingin sekali menghujamkan pisau itu di leher Samantha agar wanita gila ini diam. Namun, bukan ini rencananya.Kematian hanya hukuman kecil untuk Samantha, wanita ini tidak akan merasakan apa yang namanya penderitaan jika mati begitu mudah.Menarik tangannya yang memegang pisau agar terlepas dari cengkraman Samantha, pisau yang ada di tangan Elina kini menggores telapak tangan Samantha.Samantha memekik kesakitan masih dalam posisi terbaring di lantai, dia melihat tangannya yang terluka.Elina berdiri dengan cepat, tatapannya begitu tajam pada Samantha, ketika dia berkata, “Kamu tidak akan mati dengan mudah. Kamu harus merasakan, apa yang namanya penderitaan.”Tangan kiri Samantha memegang tangan kanannya yang terluka, lalu dia tertawa keras, suaranya menggema di ruangan itu.“Kamu pengecut. Kamu seperti ibumu yang sangat le
Samantha menatap penuh amarah saat melihat Elina duduk dengan santai di depan foto putrinya.“Beraninya kamu muncul di sini, hah? Kamu ingin menghina kematian putriku!” hardik Samantha sambil menunjuk ke arah Elina.Elina menatap dingin mendengar ucapan Samantha, satu kaki yang sejak tadi disilangkan, kini diturunkan. Dia berdiri dari duduknya, masih dengan tatapan tertuju pada Samantha.“Menghina? Itu hanya pikiranmu saja,” balas Elina dengan santai.Samantha semakin geram melihat Elina baik-baik saja dan secara terang-terangan seperti menantang dirinya. Baru saja dia akan bicara, Elina sudah kembali berkata, “Bagaimana? Bukankah menyakitkan melihat orang yang kamu sayangi menderita lalu sekarang tiada?”Samantha terkesiap mendengar ucapan Elina, hingga matanya menyipit curiga.“Jadi benar, kamu yang sudah membunuh Eleanor, kan?” tuduh Samantha.“Kamu tidak punya bukti, jangan asal menuduh,” balas Elina begitu santai. “Aku datang ke sini hanya untuk melihat, sampai mana kamu menderit
Samantha kembali duduk setelah ditenangkan para pelayan. Dia kembali memandangi peti jenazah putrinya dengan tatapan kosong.Para pelayat satu persatu pulang, ada juga yang masih bertahan di sana.Ketika keheningan begitu menyelimuti suasana ruang tengah rumah mewah itu, kedatangan Jhonny di sana membuat semua orang terkejut, termasuk para pelayan.Jhonny mendapat kabar soal kematian Eleanor dari kabar berita salah satu stasiun televisi. Samantha terancam kehilangan Alva Group, sekarang Samantha malah kehilangan Eleanor lebih dulu.Berhenti di dekat peti mati Eleanor, Jhonny memberi penghormatan terakhir dengan meletakkan bunga putih di samping peti.“Istirahatlah dengan tenang,” ucap Jhonny sambil menatap wajah Eleanor.Saat melihat kedatangan Jhonny, Samantha kembali berdiri dari duduknya dengan langkah gontai, dia langsung mencengkram kedua lengan Jhonny, membuat pria itu menghadap ke arahnya.“Ele sudah pergi, Jhonny. Apa kamu juga akan meninggalkanku?” rengek Samantha dengan tata







