ログインTerima Kasih Kak Jaz, Kak Pengunjung6088, dan Kak Zulkifli atas dukungan Gem-nya. (. ❛ ᴗ ❛.) Othor jujur tidak menyangka, malam ini akan terakumulasi 11 Gem lagi (≧▽≦) Terima kasih banyak! itu artinya, besok akan ada 2 bab bonus ( ╹▽╹ ) Akumulasi Gem Bab Bonus: 16-10-2024 (malam): 1 Gem (reset) (2 bab bonus besok) Yuk, yang mau nambahin 4 Gem lagi biar besok othor bisa rilis 3 bab bonus seperti hari ini, hehehehe. othor makin bersemangat nih (✷‿✷) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Ryan mengangguk pelan.Ia memahami arti Tombak Ilahi Gungnir bagi dirinya. Senjata ini bukan sekadar tombak kuat yang baru ia dapatkan. Tombak itu seperti tanda bahwa ia benar-benar sudah melangkah ke Jalan Iblis.Sejak ia mulai mengultivasi Jalan Iblis dan berhasil menempa Tubuh Iblis, Ryan memang membutuhkan senjata yang sejalan dengan jalur barunya. Tombak Ilahi Gungnir sangat cocok untuk itu.Bukan hanya karena kekuatannya besar, tetapi karena tombak ini terasa menyatu dengan energi iblis di tubuhnya."Mata Iblis, masih ada hal lain yang perlu kulakukan di Samudra Sembilan Keterpencilan ini?" tanya Ryan.Demon Emperor menggeleng."Untuk saat ini, cukup. Tubuh Iblis dan Tombak Ilahi Gungnir sudah lebih dari cukup untuk membuatmu maju jauh lebih cepat. Sisanya bergantung pada dirimu sendiri."Ryan menarik napas pelan, lalu menatap ke arah luar."Kalau begitu, aku ingin segera keluar dari sini. Aku mengkhawatirkan Lina Jirk dan yang lainnya."Ia meninggalkan Lina Jirk, Yelena Cole
Wuuush!Sinar pedang menyilaukan turun dari atas.Bayangan prajurit iblis itu langsung mengangkat tombaknya untuk menahan serangan. Namun tebasan Ryan datang terlalu tajam. Begitu kedua kekuatan bertabrakan, tombak bayangan itu retak, lalu tubuh prajurit iblis tersebut terbelah dari kepala sampai kaki.Dalam sekejap, bayangan itu pecah menjadi serpihan energi iblis dan menghilang dari hadapan Ryan.Ryan tidak menyia-nyiakan peluang itu.Ia segera melesat maju.Kini jaraknya hanya tinggal tiga langkah dari Tombak Ilahi Gungnir.Esensi tombak di sekitarnya masih menghantam tubuhnya tanpa henti. Sayatan baru muncul di kulitnya, dan darah terus menetes dari lengan serta bahunya. Namun Ryan tidak lagi memperhatikan luka itu.Matanya hanya tertuju pada tombak hitam yang tertancap di dinding batu.Ia mengulurkan tangan.Saat jari-jarinya hampir menyentuh batang tombak, esensi tombak yang paling padat mendadak meledak dari dalam senjata itu.Buum!Gelombang keras menghantam telapak tangan
Ryan terus maju selangkah demi selangkah.Setiap langkah terasa seperti menyeret beban sebesar gunung. Tekanan dari Tombak Ilahi Gungnir menekan tubuhnya dari depan, sementara esensi tombak yang tajam terus menyayat kulitnya seperti bilah tipis yang tak terlihat.Darah segar mengalir dari luka-luka kecil di tubuhnya, lalu menetes ke tumpukan tulang putih di bawah kaki.Kedua kakinya mulai gemetar.Namun Ryan tidak mundur.Matanya justru semakin tajam. Ia sudah melewati terlalu banyak kematian, jebakan, dan pertarungan untuk sampai di tempat ini. Rasa sakit seperti ini tidak cukup untuk membuatnya menyerah.'Sebuah tombak pun berani menilai aku layak atau tidak?'Ryan menatap tombak hitam yang tertancap di dinding batu.'Kalau begitu, akan kubuktikan. Bukan kau yang memilihku sebagai tuan, tapi aku yang akan menaklukkanmu.'Semakin dekat Ryan melangkah, semakin kuat pula pen
Mata Iblis mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Jangan terburu-buru," katanya. "Karena kita sudah sampai di Samudra Sembilan Keterpencilan, ada beberapa hal yang harus diselesaikan lebih dulu." Ryan menatapnya tanpa bicara. Mata Iblis melanjutkan, "Tubuh Iblis yang baru kau dapatkan hanyalah permulaan. Itu baru peluang kecil." "Kesempatan yang sebenarnya tidak berada di tempat kita berdiri sekarang. Ikuti aku." Setelah berkata demikian, Demon Emperor bergerak maju. Ryan segera mengikutinya dari belakang. Keduanya terbang melintasi Samudra Sembilan Keterpencilan. Entah sudah berapa lama mereka bergerak, tetapi Ryan mulai merasakan perubahan besar di sekelilingnya. Energi iblis di tempat itu semakin tebal dan sulit ditekan. Tekanannya membuat napas terasa berat, bahkan dengan Tubuh Iblis yang baru ditempa. Semakin jauh mereka masuk, semakin Ryan merasa seolah tidak lagi berada di dunia nyata. Pemandangan di sekitarnya berubah. Di hadapan Ryan, muncul lautan mayat. Pulu
Immortal Divine Body terutama memperkuat daging, darah, tulang, dan daya tahan tubuh Ryan. Namun Tubuh Iblis berbeda. Tubuh Iblis bukan sekadar memperkeras fisik. Ia berhubungan langsung dengan Jalan Iblis. Begitu tubuh itu terbentuk, kekuatan Ryan akan naik ke tingkat lain. Jika suatu saat Immortal Divine Body dan Tubuh Iblis menyatu dengan sempurna, tubuh fisiknya pasti akan menjadi sesuatu yang sulit dibayangkan. Demon Emperor menatap Ryan yang masih tak sadarkan diri. Sorot matanya rumit. "Bocah, pertemuan kita memang takdir," gumamnya pelan. "Saat aku mencapai puncak Benua Valorisia, aku tidak pernah menyangka akan kembali terseret dalam urusan dunia. Namun takdir selalu bergerak dengan cara yang sulit ditebak." Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Kau mendapatkan manik iblis itu di Gunung Langit Biru. Benda itulah yang menjadi penghubung takdir kita." "Adapun sosok itu, ia adalah musuh yang bisa kita lawan bersama." Suara Demon Emperor tidak keras, tetapi tiap katan
Tiga kultivator Spirit Hall lainnya mengangguk pelan. Tak satu pun dari mereka berniat turun mengejar Ryan. Samudra Sembilan Keterpencilan bukan tempat yang bisa dimasuki hanya karena emosi sesaat. Bagi mereka, begitu Ryan melompat ke sana, nasibnya sudah selesai. Mau seberapa besar bakatnya, mau seberapa banyak kartu truf yang ia simpan, semuanya tidak berarti lagi jika ia mati. "Biarkan saja," ujar salah satu dari mereka sambil menahan nyeri di dadanya. "Tidak ada yang bisa keluar hidup-hidup dari tempat itu." Yang lain mengangguk. "Ayo kembali ke peti-peti mati itu. Uji cobanya belum selesai." "Benar. Waktu kita tidak banyak. Kalau pekerjaan ini terlambat, Kepala Spirit Hall pasti tidak akan senang." Setelah berkata demikian, mereka segera meninggalkan tepi jurang. Tak seorang pun menoleh lagi ke bawah. Bagi mereka, Ryan sudah menjadi mayat. ** Ryan tidak tahu sudah berapa lama tubuhnya terjatuh. Kesadarannya timbul tenggelam. Ia hanya merasakan tubuhnya terus dihanta







