로그인othor baru pulang dari bukber, jadi baru bisa rilis bab bonus hadiahnya. ini juga ban terakhir hari ini. Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
Di saat yang sama, Eliot Lane juga melihat Ryan.Mata pria berjubah putih itu perlahan berkaca-kaca. Setelah ribuan tahun terkurung di kota mati ini, ia sudah hampir menerima bahwa dirinya akan menua dalam kesunyian sampai akhir. Namun kini, murid yang selama ini ia tunggu benar-benar berdiri di hadapannya.Senyum muncul di wajah Eliot.“Bagus. Bagus. Sungguh bagus!”Hanya tiga kata, tetapi Ryan bisa merasakan betapa banyak emosi yang tertahan di dalamnya.“Guru!”Ryan hendak melangkah maju. Namun tepat pada saat itu, dua pilar cahaya putih tiba-tiba menjulang dari langit. Satu pilar menyelubungi tubuh Ryan, sementara pilar lain mengurung Eliot Lane.Eliot tampak mengatakan sesuatu dari balik cahaya itu. Bibirnya bergerak, tetapi Ryan sama sekali tidak mendengar suara apa pun. Suara gurunya seperti diputus oleh lapisan tak terlihat.Jelas, tingkat kultivasi Ryan masih belum cukup untuk menembus pemisah ini.Mereka berdiri begitu dekat.Namun rasanya seperti berada di dua ruang dan
Seluruh kota itu diselimuti hawa kematian yang pekat.Namun di balik aura maut yang menyesakkan itu, Ryan Pendragon merasakan sesuatu yang sangat ia kenal.Aura gurunya.Tanpa banyak bicara, Ryan mempercepat langkahnya. Ia bergerak mendekati kota mati itu, sementara pandangannya menyapu gerbang besar yang berdiri di hadapan mereka. Gerbang itu tampak tua, dingin, dan sunyi, seperti telah lama menunggu seseorang datang membukanya.Di atas gerbang, terukir sederet aksara kuno.‘Tahanan Kerajaan Ilahi.’Kening Ryan langsung berkerut.‘Jadi, Guru terperangkap di sini bukan karena kecelakaan?’Tatapannya menjadi dingin.‘Kerajaan Ilahi yang melakukannya?’Ryan sulit memahami alasannya. Pada masa itu, Eliot Lane hanyalah seorang Kultivator Ranah Creation. Mengapa Kerajaan Ilahi sampai repot-repot mengurungnya selama ribuan tahun?Yang tidak Ryan ketahui, semua ini bermula ketika Eliot tanpa sengaja mendengar rahasia dari beberapa kultivator Kerajaan Ilahi. Mereka tidak membunuhnya. Sebali
"Kael, aku malas membuang saripati darahku untuk orang-orang seperti ini. Habisi saja..."Ucapan Lina Jirk belum selesai ketika sudut matanya menangkap sosok Ryan.Seketika ia melompat berdiri. Wajahnya yang tadi penuh rasa kesal langsung berbinar."Ryan, dasar pembohong! Katamu hanya pergi sebentar. Sekarang lihat sendiri, sudah berapa lama aku menunggu?" "Kalau kau tidak kembali juga, aku bisa keburu tua di sini."Ia mengerucutkan bibir, lalu menunjuk para perampok di depan gua."Lagi pula, bedebah-bedebah kecil ini datang terus tanpa henti. Menyebalkan sekali."Mendengar diri mereka dihina begitu terang-terangan, wajah para Kultivator Ranah Star Seed itu langsung menggelap.Ryan hanya tersenyum tipis.Ia berjalan menghampiri Lina, lalu menoleh ke arah Kaelen."Kaelen, kuserahkan mereka padamu. Anggap saja ini kesempatan untuk unjuk gigi."Ryan sendiri tidak berniat turun tangan.
Saripati darah berputar cepat di sekitar tubuh Eliot Lane.Darah itu berpilin, lalu memadat menjadi seberkas cahaya raksasa. Pada saat yang sama, energi di dalam tubuh Eliot terus mengalir keluar, tersalurkan tanpa henti ke dalam darah tersebut.Cahaya itu melesat lurus ke langit.Pilar merah terang menjulang tinggi, seolah hendak menopang cakrawala. Di dalam pilar cahaya itu, sebilah pedang es perlahan naik dan berputar pelan. Ujung pedang menunjuk ke satu arah tertentu.Itulah tanda.Pedang itu akan menjadi penuntun bagi Ryan Pendragon.Setelah semua selesai, Eliot memejamkan mata dan menunggu. Napasnya berat. Wajahnya pucat karena hampir seluruh tenaganya telah dicurahkan untuk menciptakan mercusuar darah tersebut.Namun ia tidak menyesal.'Semoga kau melihatnya, Ryan.'Eliot menarik napas perlahan.'Semoga kau bisa menangkap tanda ini di Death Domain Universe.'
Di sebuah tempat yang diselimuti awan dan kabut di Benua Valorisia, pria berjubah emas yang duduk di atas naga ilahi tampak menahan amarah.Dadanya naik turun. Ia hampir saja menemukan orang yang dicari, tetapi pada saat paling penting, seseorang kembali menghalanginya.Bagaimana mungkin ia tidak murka?Matanya menyipit tajam, lalu ia mendengus dingin.“Aura barusan... sepertinya milik orang itu.”Suaranya rendah, tetapi penuh tekanan. “Jadi bedebah itu masih berada di Benua Valorisia.”Ia terdiam sesaat, kemudian tatapannya semakin dingin.“Jangan-jangan, ia masih berniat menyiapkan jebakan bagi Keluarga Pendragon dari Kerajaan Ilahi?”“Sudah bertahun-tahun berlalu, dan kau masih juga belum menyerah?”“Saint Immortal King, Saint Immortal King, apa kau benar-benar percaya legenda-legenda itu nyata?”Senyum mengejek muncul di bibirnya. “Bodoh. Menggelikan.”Setelah itu, pria berjubah emas menoleh ke arah pintu masuk aula. “Di mana Draven Krell?”Tak lama kemudian, seorang pria muncul d
Saint Immortal King kembali meneguk araknya, lalu berdiri dengan susah payah.“Sudahlah, Eliot Lane. Kali ini biar aku yang turun tangan.”Ia menatap ke arah kedalaman Death Domain Universe, wajah mabuknya perlahan berubah serius.“Sekat penghalang ini telah mengisolasi segalanya. Akan sangat sulit bagimu untuk membendung kekuatan orang itu dari sini.”Saint Immortal King menghela napas.“Urusan bocah itu di Death Domain Universe benar-benar memancing amarah sosok tersebut. Ia mungkin masih mampu menghadapi kemarahan faksi biasa, tetapi Dao Surgawi bukan lawan yang bisa ia tanggung sekarang.”Ia menoleh sekilas kepada Eliot.“Aku mengikutinya sampai ke tempat ini sejak Nexopolis. Aku tahu betapa besar beban yang ia bawa. Aku tak bisa membiarkan harapan kita mati begitu saja di saat semuanya baru dimulai.”Eliot Lane masih menatap jauh ke dalam Death Domain Universe. Setelah beberapa saat, ia akhirnya mengangguk pelan.“Identitasnya tak boleh diketahui Dao Surgawi. Jika aku memakai kek







