LOGINKarena Senior Feng tahu bahwa mereka bertiga telah meminta bala bantuan, ketika bala bantuan tiba, dia akan melihat apakah anak ini benar-benar akan mampu mempertahankan kesombongannya.
Meskipun dia telah pergi dari arena, Senior Feng masih mengawasi dari kejauhan, menunggu untuk menyaksikan kejatuhan Arthur Pendragon.Tatapan Ryan tertuju pada Travis Hayes yang sedang berlutut di tanah.Debu masih beterbangan di sekitar mereka, dan suasana tegang masih menyelimutBarlow Steen melihat isyarat dari anak buahnya, tetapi tidak langsung memberikan jawaban.Ia kembali memandang lintasan, terutama Dark Ray yang masih tertinggal jauh di belakang.Mereka memang memiliki cara rahasia untuk memastikan kemenangan. Namun menjalankannya membutuhkan persiapan, sedangkan keadaan sekarang sama sekali tidak terlihat mengkhawatirkan.Dengan jarak sejauh itu, bagaimana mungkin Dark Ray mengejar Saint Spirit?'Bahkan Binatang Spiritual legendaris milik Keluarga Dragvine mungkin tidak sanggup mengejar dari posisi seperti itu.'Barlow akhirnya menggeleng pelan. Para penjaga segera memahami keputusannya dan kembali duduk santai. Di mata mereka, selisih jarak sudah terlalu besar. Dark Ray bahkan masih berlari dengan petir hitam yang berkedip redup di punggungnya. Tidak seorang pun merasa perlu membuang tenaga menggunakan kartu truf mereka.Ryan menangkap pertukaran isyarat itu dari sudut mata. Ia hanya tersenyum kecil, lalu mengambil sepotong daging panggang dan me
Niat membunuh mulai memancar dari para penjaga yang mengelilingi Ryan.Aura mereka semakin kuat, menekan pemuda itu dari berbagai arah setelah melihat seratus Batu Saint tergeletak di atas meja.Namun sebelum seorang pun sempat bertindak, sebuah bentakan mengguncang panggung."Cukup!" Suara itu menggelegar seperti petir. Cawan-cawan arak bergetar, dan para prajurit langsung terdiam. Mereka buru-buru menarik kembali aura masing-masing lalu menoleh kepada orang yang baru saja membentak.Ternyata Barlow Steen sendiri.Barlow memandang Ryan cukup lama. Ekspresinya berubah beberapa kali sebelum akhirnya ia kembali tersenyum."Adik Ryan, sepertinya kami memang sudah meremehkanmu. Baiklah, kita lanjutkan taruhan ini!"Setelah berkata begitu, Barlow melirik tajam para bawahannya. Tatapan itu membuat mereka menggigil dan segera menunduk.Barlow bukan tidak tergoda melihat kekayaan Ryan. Namun ia sudah bertahun-tahun menjaga perbatasan dan tahu kapan harus menahan keserakahan.Seratus Batu Sai
Barlow Steen dan para penjaganya terpaku mendengar pertanyaan Ryan. Mereka mengira pemuda itu akan meminta mengganti Binatang Spiritual setelah mengetahui kelas Dark Ray, tetapi ia justru lebih dulu menanyakan taruhan.Ryan tetap terlihat tenang. Tidak ada kegugupan ataupun penyesalan di wajahnya, seolah memilih binatang yang dianggap paling lemah merupakan keputusan yang wajar.'Apa dia benar-benar bodoh? Atau hartanya terlalu banyak sampai tidak peduli kalah?' pikir Barlow.Perasaan janggal kembali muncul di hatinya. Selama bertahun-tahun mempersulit pendatang di gerbang perbatasan, Barlow belum pernah bertemu orang yang bersikap sesantai ini setelah masuk perangkap mereka. Biasanya, korban akan gugup, meminta kelonggaran, atau mencari alasan untuk menghindari taruhan. Ryan justru seolah menantang mereka terlebih dahulu.Namun keraguan itu segera disingkirkannya. Dark Ray pilihan Ryan masih berdiri lesu di lintasan, dengan tubuh kurus dan aura yang hampir tidak terasa.'Biarpun di
"Saudara Ryan, kau sungguh tertarik pada binatang yang cuma berbaring sambil mengunyah rumput itu?" tanya seorang penjaga sambil terkekeh."Benar. Aku memilih yang itu," jawab Ryan tanpa ragu.Jawabannya membuat Barlow Steen dan para prajurit kembali tertawa. Salah seorang bahkan menggeleng berkali-kali, seolah tidak habis pikir melihat pilihan Ryan."Saudara Ryan, kau tahu apa yang paling penting dari Binatang Spiritual? Auranya!" ujar seorang prajurit. "Binatang Spiritual yang benar-benar hebat seharusnya punya aura sekuat naga surgawi."Ia menunjuk makhluk hitam yang masih meringkuk di sudut lembah. "Lihat pilihanmu. Badannya kurus, auranya lemah, dan kelihatannya sakit-sakitan.""Orang yang tidak tahu mungkin mengira binatang itu tinggal menunggu mati. Bagaimana mungkin dia menang melawan yang lain? Sebaiknya pilih lagi."Beberapa penjaga bertukar pandang sambil menahan tawa. Mereka mulai bertanya-tanya apakah Ryan memang tidak mengerti apa pun tentang Binatang Spiritual atau s
Barlow Steen dan anak buahnya memang sering memanfaatkan pacuan Binatang Spiritual untuk mendapatkan uang tambahan. Cara itu jauh lebih aman daripada merampok pendatang secara terang-terangan, apalagi selama mereka bisa membungkusnya sebagai permainan sukarela.Ryan sudah memahami tujuan mereka. Ia hampir mengangkat tangan untuk menolak ketika suara Demon Emperor tiba-tiba terdengar dalam benaknya."Ada sesuatu di tempat ini yang sangat penting bagiku. Bagaimana kalau kita bertaruh dengan mereka?"Ryan tertegun. Tangan yang baru terangkat setengah langsung diturunkannya.'Sesuatu yang penting bagi Demon Emperor? Di tempat pacuan Binatang Spiritual seperti ini?'Meski penasaran, Ryan tidak membuang kesempatan untuk mengetahuinya. Ia memandang Barlow dan para penjaga yang menunggu jawabannya."Baiklah. Sepertinya permainan ini memang cukup menarik."Wajah mereka langsung berseri-seri. Beberapa prajurit
Barlow Steen memasang senyum palsu sambil mencondongkan tubuh ke arah Ryan. "Ryan, kami tidak bermaksud menyudutkanmu. Tapi kalau kau bahkan menolak bermain satu permainan sederhana, bukankah itu agak mencurigakan?" Ia mengangkat kedua tangan, seolah sedang menunjukkan niat baik. "Kami tidak mengatakan ada yang salah denganmu." "Hanya saja, demi keamanan Wilayah Selatan, kami tidak bisa membiarkanmu masuk. Kau pasti mengerti, bukan?" Ryan memejamkan mata sesaat dan menarik napas panjang. Ancaman itu cukup jelas. Kalau ia menolak, mereka akan memakai penolakan tersebut sebagai alasan baru untuk menggagalkan masuknya ke Wilayah Selatan. Ryan sudah tahu mereka sengaja mencari alasan untuk menahannya. Namun karena masih harus menjalankan tugas Quinton Greaves, ia memilih mencari tahu permainan apa yang sebenarnya mereka siapkan. "Permainan apa? Katakan." Barlow dan para penjaganya saling pandang. Senyum puas muncul di wajah mereka, seakan jawaban itu sudah mereka tunggu sejak t







