LOGINKetakutan mereka terhadap Arthur Pendragon telah sepenuhnya menguasai mereka, jadi bagaimana mereka bisa melawannya?
Para kultivator yang tersisa, meski memiliki kekuatan yang cukup untuk berhadapan dengan Ryan, kini hanya bisa berlutut dengan tubuh gemetar.Keberanian mereka telah lenyap, digantikan oleh kengerian melihat pemandangan bertumbangan mayat dari rekan-rekan mereka.Ryan menatap orang-orang ini dan mencibir.Wajahnya dingin tanpa emosi, mataRyan berdiri di hadapan tiga murid inti terkuat Divine Sword Palace. Setelah mengamati mereka satu per satu, tatapannya berhenti pada Konrad Ashgrove. Ada sesuatu yang tidak beres dengan aura pemuda itu.'Jadi, Konrad sudah mencapai Ranah Star Sealed. Dia sengaja menyembunyikan kultivasinya.'Dari luar, Konrad tampak tidak berbeda jauh dari dua rekannya yang masih berada di puncak Ranah Star Seed. Namun Ryan mampu menangkap perbedaan tersebut. Ini bukan lawan yang bisa dinilai hanya dari reputasinya.Konrad juga memancarkan hawa dingin yang berbahaya. Di mata Ryan, ketenangannya justru menyerupai ular yang sedang bersembunyi, menunggu kesempatan untuk menyerang.'Di seluruh Benua Valorisia, tidak banyak murid inti yang mampu mencapai Ranah Star Sealed. Orang ini bahkan menolak undangan Akademi Divine Wind.'Ryan teringat pula pada Jarvis Halden yang tidak pernah menunjukkan kekuatan sesungguhnya. Semakin lama berada di Divine Sword Palace, semakin jelas bahwa sekte tersebut menyim
Ryan belum tiba di arena ketika tiga orang naik ke panggung. Kemunculan mereka langsung memancing seruan kaget dari tribun yang sudah dipenuhi penonton.Para murid yang semula ramai membicarakan tantangan itu mendadak mengalihkan seluruh perhatian kepada ketiga pendatang."Astaga, mereka bertiga?""Tiga besar murid inti yang akan melawan Ryan? Apa Kepala Istana serius?"Ketiganya bukan murid inti biasa. Mereka menduduki tiga peringkat tertinggi di Divine Sword Palace, dengan kultivasi yang sama-sama mencapai puncak Ranah Star Seed.Tinggal satu langkah lagi mereka bisa menembus Ranah Star Sealed.Kekuatan mereka bahkan membuat dua belas kepala puncak harus berhati-hati. Jika ketiganya bertarung bersama, para kepala puncak pun belum tentu dapat menang tanpa mengalami luka.Bagi Divine Sword Palace, mereka merupakan calon penerus yang berpeluang menjadi kepala puncak, bahkan Kepala Istana. Tak mengherankan jika banyak orang langsung menganggap hasil pertandingan sudah ditentukan sebe
Sementara itu, Ryan sudah mengikuti Walton Crane memasuki istana utama Divine Sword Palace. Di atas singgasana, Kepala Istana Jarvis Halden memperhatikannya dengan mata menyipit, seolah ingin membaca segala rahasia yang disembunyikan pemuda tersebut. Ryan membalas tatapan itu dengan wajah polos, seakan sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperiksa. "Kepala Istana, seperti yang kau lihat, muridku sudah menjadi murid inti," ujar Walton. "Jadi, mengenai Tanah Terlarang Pedang..." Walton sengaja menggantung ucapannya. Ia tidak perlu mengulangi seluruh kesepakatan di hadapan Kepala Istana. Jarvis pasti mengerti bahwa janji kemarin sudah harus ditepati, terlebih Ryan sudah memenuhi satu-satunya syarat yang mereka tetapkan. "Paman Guru, bagaimana kalau kita membicarakannya lagi dengan para kepala puncak?" Jarvis tersenyum, mencoba mengulur waktu. "Kau sudah berjanji!" Walton menggebrak bangku. "Kalau sekarang kau melarang Ryan masuk, kau sendiri yang harus menanggung ak
Wajah Thane Zoller semakin masam. Sebagai salah satu murid inti terkuat Divine Sword Palace, ia justru dipaksa terus mundur oleh pendatang baru yang hanya menggunakan pedang kayu. Lebih buruk lagi, semua itu terjadi di hadapan ratusan penonton. Para penonton yang tadi yakin ia akan menang kini menyaksikannya terus terdesak. "Aaargh!" Thane meraung lalu melesat ke udara. Pedang beratnya terangkat tinggi sebelum ditebaskan ke arah Ryan dengan kekuatan penuh. Tekanan yang menyertainya begitu besar hingga ruang di sekitar lintasan pedang seolah membeku. Angin kencang menerpa arena, membuat pakaian Ryan berkibar. Thane mengerahkan tenaga yang selama ini membuatnya ditakuti bahkan oleh sesama murid inti. Namun Ryan tetap tenang. Ia mengakui tenaga Thane luar biasa meski tingkat kultivasinya tidak terlalu tinggi. Hanya saja, Ryan tidak berniat menggunakan teknik terkuatnya, apalagi mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengakhiri pertarungan seketika. 'Kalau terlalu banyak menunju
"Hah? Itu Thane Zoller! Kenapa justru dia yang datang?""Ryan pasti kalah!""Aku dengar Thane pernah bertahan tujuh hari tujuh malam di Gunung Myriad Dragon demi mengasah niat pedangnya." "Dia baru berhasil keluar setelah menghadapi binatang iblis yang hampir setara kultivator Ranah Star Sealed, itu pun dengan luka parah."Kemunculan Thane membuat para penonton langsung menjatuhkan vonis. Di antara murid inti, Thane terkenal karena kekuatan dan ilmu pedangnya. Bekas luka di wajah dan punggungnya menjadi bukti bahwa reputasi itu bukan sekadar hasil latihan di sekte. Kebanyakan orang yakin Ryan akan tumbang dalam satu serangan.Mereka menganggap Ryan kurang beruntung mendapat lawan seberat ini. Dalam tantangan semacam itu, kemampuan memang menentukan hasil, tetapi siapa yang menerima tantangan juga berpengaruh besar. Lagi pula, sebagian murid dalam berhasil naik menjadi murid inti karena kebetulan me
Kemunculan Ryan di arena wilayah murid dalam langsung mengundang perhatian. Beberapa murid menghentikan latihan dan memandangnya dengan heran. Mereka tahu Ryan baru saja lulus ujian dan belum lama berstatus murid dalam. Tidak ada yang mengerti apa urusannya datang ke arena yang biasa digunakan untuk memperebutkan kedudukan lebih tinggi. "Dia baru masuk menjadi murid dalam. Jangan bilang dia mau menantang murid inti?" "Mana mungkin? Barangkali cuma ingin melihat-lihat." Biasanya, murid baru harus menguji kemampuan dengan menantang sesama murid dalam terlebih dahulu. Menantang murid inti berarti berhadapan dengan orang-orang yang telah melewati persaingan jauh lebih berat. Tidak ada yang langsung membidik kedudukan itu, apalagi hanya beberapa hari setelah diterima. Ryan mengabaikan bisikan mereka dan menghampiri tetua yang bertugas. Melihatnya datang, tetua itu tersenyum ramah. Nama Ryan sudah terkenal di Divine Sword Palace sejak ia mengalahkan sembilan belas peserta sekal







