로그인Ini bab kedua siang ini. mohon maaf sebelumnya othor terlambat rilis. Othor tadi masih mengurus Akun Payoneer othor yg terblokir. Untung saja masih bisa dibuka. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
Sergio Moras berhenti di depan sebuah bangunan yang berdiri di antara pepohonan tua.Kabut tujuh warna mengambang di sekelilingnya, padat dan diam, tidak terusik angin sedikit pun. Bukan kabut biasa yang akan tersapu saat seseorang berjalan melewatinya. Kabut ini seolah sudah memilih tempatnya dan tidak akan bergeser ke mana-mana."Ini tempatmu." Sergio membuka pintu pagar dengan gerakan santai. "Silakan masuk."Ryan melangkah masuk dan berhenti begitu tangannya menyentuh lapisan kabut itu.Energi spiritual yang meresap ke dalam pori-pori kulitnya bukan energi yang biasa dia rasakan. Lebih bersih, lebih padat, dan ada sesuatu di dalamnya yang terasa seperti hidup, seperti bukan sekadar energi yang mengalir masuk dari luar.Dia mengangkat tangannya dan mengusir kabut itu pelan. Lapisan demi lapisan bergerak mengikuti gerakan tangannya, merekah seperti tirai yang disingkap.'Energi spiritual ini sudah mengkristal di udara.' Penilaian itu jatuh pelan di benaknya. 'Bukan energi yang ma
Ryan belum sempat menjawab ketika suara lain memotong duluan."Tentu saja mau, Guru!" Jessica Neuro melangkah ke depan dengan wajah bersinar, nyaris tanpa ragu. "Ambil saja dia."Ryan menatap Jessica dengan ekspresi datar.'Kau memutuskan ini untuk siapa?'Jessica menangkap tatapannya. Ia memiringkan kepala sedikit ke arah Ryan, lalu berbisik dengan volume yang secara teknis seharusnya tidak terdengar siapapun, tapi anehnya tetap sampai ke telinga semua yang berdiri di sekitar mereka."Guruku baru keluar dari pertapaan. Ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali." Jeda sedetik. "Dan soal benda itu... jangan sebut di sini."Benda itu.Ryan mengerti seketika. Tablet Reinkarnasi.Dia melirik sekali lagi ke arah Tetua Agung kurus itu, lalu mengangguk.Tetua Agung itu tidak terlihat senang. Juga tidak terlihat tidak senang. Wajahnya datar seperti batu, tidak berubah sama sekali."Baik."Tangannya bergerak dari belakang punggung ke depan, dan sebuah benda kecil melayang pelan ke arah R
Pandangan Xavier Dragvine menyapu ketiga tetua di hadapannya, pelan dan penuh perhitungan.Tetua Quincy berdiri tenang dengan rambut putih dan wajah yang tidak mengungkapkan apa-apa.Elgar Stroud menatap balik dengan mata biru yang tidak lazim itu, tanpa berkedip.Dan Tetua Jorvath, yang berdiri setengah langkah lebih maju dari dua rekannya, tubuhnya seperti tembok batu memancarkan aura yang paling dekat dengan sesuatu yang mengalir dalam darah Xavier sendiri.Xavier tidak perlu lama.Matanya berhenti di Jorvath.Perubahan di wajah tetua itu langsung terlihat. Kerutan dalam di sekitar mata emasnya mengendur. Garis rahang yang biasanya keras itu melembut.Sudah bertahun-tahun dia mencari murid dengan garis darah yang cukup serasi dengannya. Dan sekarang, akhirnya ada yang berdiri di depannya.'Anak ini.' Tekadnya sudah bulat sebelum langkah pertamanya selesai. 'Aku akan mewariskan semuanya padanya.'Dia
Eren Carster mengembuskan napas panjang. Dia berdiri dan menghadap ke aula. "Ryan Pendragon dan Xavier Dragvine resmi menjadi murid sejati Sekte Moon Flower!"Sesaat kemudian, siluet dari mural itu berubah menjadi kepulan asap hijau yang mengalir turun, melingkari Ryan dan Xavier sebelum kembali ke mural. Sesuatu yang sangat ringan hinggap di pikiran Ryan, seperti sentuhan jari yang bahkan tidak meninggalkan bekas tapi tetap terasa, dan sedetik kemudian sudah hampir hilang.Divine God Beast Tamer yang berdiri di sisi aula miring ke arah Ryan. Suaranya rendah. "Berhenti mencarinya. Dengan kultivasimu sekarang, kau tidak akan bisa merasakannya."Ryan menoleh."Leluhur Elgin Brance sudah lama melampaui batas dunia ini." Divine God Beast Tamer menyipitkan matanya. "Yang tadi itu bukan tubuhnya. Hanya sisa jejaknya. Tapi bahkan sisa jejak itu cukup untuk menitipkan sepotong berkah Dao kepada kalian berdua.""Berka
Senyum Yakou Zedd tidak pernah mencapai matanya. Bahkan setelah Pritha Zest sudah lama meninggalkan paviliun itu, dia masih berdiri diam di depan jendela. Matanya menatap ke arah aula utama sekte dengan tatapan yang tidak ada hubungannya dengan kesetiaan seorang murid. 'Semua orang adalah batu loncatan.' Kalimat itu berputar di kepalanya dengan dingin dan teratur. 'Tidak terkecuali siapa pun.' Suatu hari, singgasana Ketua Sekte Moon Flower itu akan menjadi miliknya. Bukan karena bakat, bukan karena nasib. Tapi karena dia sudah menyiapkan setiap langkahnya jauh sebelum orang lain bahkan menyadari ada permainan yang sedang berjalan. Di dunia kultivasi ini, yang paling bertahan bukan yang paling kuat. Yang paling bertahan adalah yang paling sabar menyembunyikan taringnya, yang paling rela terlihat lebih kecil dari yang sebenarnya, sampai momen yang tepat tiba. Dan Ryan? Pemuda dari dunia kultivasi tingkat rendah yang entah bagaimana berhasil kembali hidup-hidup dari situas
"Kakak Senior," Ryan mengalihkan pandangannya, "sudah berapa lama aku pergi? Apakah aku gagal Trialnya?" Jessica menghembuskan napas pelan. "Trial itu seharusnya sudah berakhir jauh sebelum ini. Xavier Dragvine bahkan harusnya sudah diangkat menjadi murid sejati." "Tapi?" Ryan menangkap nada menggantung di akhir kalimatnya. "Tapi untuk alasan yang tidak jelas, Ketua Sekte mengumumkan ada masalah dengan waktu pelaksanaan. Rapat Warisan ditunda. Hasilnya tidak diumumkan, penentuan murid baru tidak jadi dilaksanakan." Ryan terdiam. "Dan..." Jessica menatapnya dengan tatapan yang sedikit tidak percaya, "baru beberapa menit sebelum aku menemukan kau di sini, Ketua Sekte tiba-tiba mengumumkan bahwa Rapat Warisan akan dimulai hari ini." Hening sejenak. "Waktumu terlalu kebetulan untuk disebut kebetulan." Ryan memandang langit di atas pepohonan. Entah apa yang ada di benak Eren Carster, menunda seluruh agenda besar sekte tanpa alasan yang jelas lalu mengumumkannya kembali tepat saat
Di kejauhan, semua orang yang menonton tercengang! Awan Tribulasi! Awan Tribulasi yang tidak terlihat selama ribuan tahun benar-benar sedang dilahap oleh kedua hewan peliharaan Ryan! Ryan benar-benar menantang surga! "Naga! Ryan ternyata punya naga darah!" seorang Master Alkimia menatap Ryan dan
Walter Leon mengerutkan kening, wajahnya menunjukkan kekecewaan. Dia menggelengkan kepala tak berdaya saat mendengar penolakan itu. Kesempatan emas untuk mengikat Arthur Pendragon dengan keluarganya ternyata terlewatkan begitu saja.Jamie Leon, meski dalam hatinya tidak terlalu berharap terjadi s
Stuart Fenex mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Aku akan mengantarmu pergi sekarang dengan penyiksaan yang panjang!"Akan tetapi, sebelum Stuart Fenex bisa menyelesaikan ancaman mematikannya, sebuah suara tenang namun dingin datang dari kejauhan, menggetarkan seluruh arena."Apakah kamu yakin ing
Dia tahu betul bahwa kematian Tyler Campbell pasti akan membuat Keluarga Campbell waspada dan mencari pelakunya. Jika mereka menemukan tempat ini dan terjadi konfrontasi, itu akan sangat merepotkan!"Baiklah!" Ryan setuju tanpa ragu. Sebuah bola api kecil namun panas meledak dari ujung jarinya da







