LOGINIni bab bonus hadiah sekaligus bab terakhir hari ini. selamat beristirahat (◠‿・)—☆
Meski sudah melihat kekuatan Ryan, Tetua West masih menyimpan sedikit keraguan.Ia memang mengakui tubuh Ryan sangat kuat, tetapi apakah pemuda itu benar-benar mampu mengangkat palu tingkat True God masih menjadi persoalan lain.Tetua West sudah bertahun-tahun di Akademi Heavenly Flame dan melihat banyak genius dengan kekuatan fisik luar biasa.Namun selama semua tahun itu, tidak satu pun Kultivator Ranah Creation yang pernah berhasil mengangkat palu tingkat True God.Bahkan setelah mencapai Ranah Star Sealed, hanya segelintir orang yang mampu melakukannya.Sebagai salah satu pengajar paling senior, Tetua West tahu betapa tidak masuk akalnya pilihan Ryan.Tak lama kemudian, Ryan berdiri di depan palu hitam keemasan itu.Ia menggenggam gagangnya dengan kedua tangan lalu mengerahkan sebagian tenaga.Alis Ryan langsung berkerut. 'Berat sekali.'Palu itu terasa bukan seperti sebongkah logam, melainkan sebua
Tetua West membawa Ryan ke sebuah ruangan kecil di bagian dalam bengkel. Begitu masuk, perhatian Ryan langsung tertuju pada tiga palu yang diletakkan berjajar dari ukuran paling kecil sampai paling besar. Palu pertama berwarna perak kusam dan hanya sebesar lengan orang dewasa. Palu kedua jauh lebih besar, hampir sebesar tubuh anak kecil, dengan permukaan yang dipenuhi ukiran rune. Adapun palu terakhir berwarna hitam keemasan, kepalanya sebesar tong air dan gagangnya setebal betis pria dewasa. Tetua West menunjuk ketiganya. "Aku hanya menempa tiga jenis senjata. Artefak ruang-waktu, artefak Lesser God, dan artefak tingkat True God." "Kalau kau ingin menempa jenis senjata berbeda, kau harus sanggup mengangkat dan mengayunkan palu yang sesuai. Inilah tahap kedua." Ryan mengangguk, tetapi pandangannya langsung berhenti pada palu terbesar. Sudut bibirnya bahkan terangkat sedikit. Melihat benda sebesar itu, Ryan justru tampak seperti anak kecil yang baru menemukan mainan paling
Quinton Greaves langsung tersenyum puas. Ia mengeluarkan sebuah lempeng giok dari balik jubahnya lalu melemparkannya kepada Ryan. "Ryan, semua informasi mengenai keluarga itu sudah tercatat di dalam lempeng giok ini." "Kalau kau membutuhkan sumber daya untuk pergi ke Wilayah Selatan, gunakan tokenku dan minta para pengajar akademi menyiapkannya." Namun setelah mengatakan itu, raut wajah Quinton berubah serius. "Tapi kau harus berhati-hati. Utamakan keselamatanmu sendiri. Terima kasih sebelumnya." Ryan menangkap lempeng giok tersebut dan menyimpannya dengan baik. Ia tersenyum. "Sama-sama, Kepala Akademi Greaves." "Justru akulah yang harus berterima kasih karena kau memberitahuku soal ini. Kalau pewaris itu memang sahabatku, aku akan berutang budi besar padamu." Quinton tertawa. "Sudahlah. Kita tidak perlu sesungkan itu lagi." "Pergilah dan jangan khawatir. Dulu aku memang lengah, tapi kali ini aku akan tetap berada di akademi dan menjaga teman-temanmu untukmu." Ryan merasa sed
Quinton Greaves menatap Ryan cukup lama, seolah sedang menimbang seberapa banyak hal yang sebaiknya ia ungkapkan. "Kakak seperguruanku mungkin sudah mengganti nama warisannya setelah terdampar di tempat asalmu," ujar Quinton. "Karena itu, aku tidak tahu terlalu banyak tentang warisan yang dia tinggalkan." "Namun begitu mengetahui ada seseorang yang memakai teknik kultivasi serupa denganku, harapan yang sudah lama padam dalam diriku kembali menyala." Ryan mengangguk perlahan. "Tapi ketika aku hendak menyelidiki identitas orang itu lebih jauh, jejaknya justru menghilang." "Apa yang terjadi?" tanya Ryan sambil mengerutkan kening. Ia kembali duduk, tetapi tubuhnya condong ke depan. Bahkan kalau orang yang dimaksud bukan Silva Clint, Ryan tetap tidak mungkin mengabaikannya. Ryan tahu tidak semua orang yang datang ke Benua Valorisia memiliki keberuntungan sepertinya. Banyak kultivator dari alam kultivasi tingkat rendah dipandang sebelah mata, diusir dari sekte, dijadikan pelayan,
Ryan bukan orang yang melupakan budi. Kalau suatu hari Quinton Greaves benar-benar membutuhkan bantuannya, ia tidak akan menolak begitu saja tanpa memikirkannya."Bagaimana menurutmu soal teknik gerak itu?" tanya Quinton sambil tersenyum lebar.Ryan menatap wajah tua di hadapannya, lalu tersenyum pasrah. "Baiklah, Kepala Akademi Greaves. Katakan saja. Kau mau apa dariku?"Quinton langsung tertawa kecil dan mengibaskan tangan."Ryan, ucapanmu itu tidak benar. Memangnya aku terlihat seperti orang yang selalu punya maksud tersembunyi? Teknik itu kuberikan dengan tulus."Ryan memutar bola mata, lalu bangkit dan berjalan menuju pintu."Kalau memang tidak ada urusan lain, aku pamit."Wajah Quinton langsung berubah. Kakek berjubah putih itu melompat dari kursinya dengan kelincahan yang sama sekali tidak sesuai dengan usianya, lalu buru-buru menghadang Ryan."Sebentar, sebentar."Quinton tersenyum lem
Ryan tertegun.'Gadis bercadar?'Kenapa wanita itu muncul di Keluarga Celestedragon?Samar-samar, sebuah sosok muncul dalam ingatannya. Ryan pernah bertemu seorang gadis bercadar ketika mengunjungi Sekte Moon Flower.'Mungkinkah orang yang sama?'"Kepala Akademi, apa kau punya lukisan wajahnya?" tanya Ryan.Quinton Greaves mengangguk. Dengan satu kibasan tangan, sebuah lukisan muncul di hadapan Ryan.Ryan langsung memusatkan pandangan pada sosok di dalamnya.Semakin lama diamati, semakin kuat perasaan akrab yang muncul. Bentuk alis, garis dagu, bahkan cara wanita itu berdiri tegak membuat sebuah nama hampir keluar dari mulutnya.'Wendy?'Namun Ryan segera menggeleng.Wanita bercadar di dalam lukisan itu memiliki aura yang terlalu agung dan dingin. Dari informasi yang diterimanya, kekuatannya bahkan telah mencapai Ranah Great Void.Bagaimana mungkin Wendy memiliki kekuatan sebe







