LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu, Kak Alberth Abraham Parinussa, Kak Pengunjung5804, Kak Lola Ayu, Kak Pengunjung4701, Kak Recky Roger, dan Kak Othman Abdullah atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Sendy Zen atas hadiah Kopinya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih juga kepada para pembaca yang telah mendukung Novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Jumlah Koin masih kurang 475 koin sebelum mendapat bab bonus hadiah, jadi ini adalah bab terakhir hari ini. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 6/6 Bab Reguler: 1/1
Bayangan itu mendadak berubah seakan hidup.Begitu kata-kata "Hukum Bayangan" jatuh dari mulut Drew Shadowmist, seluruh naungan gelap yang menutupi lantai arena bergerak serentak. Seperti makhluk tak kasat mata yang menerima perintah dari tuannya, bayangan-bayangan itu mengalir ke arah kaki Drew, melilit naik melewati pergelangan, betis, paha, dan seluruh tubuhnya dalam hitungan detik. Lapisan kegelapan padat terbentuk melingkupi Drew dari ujung kaki hingga ke leher, bukan sekadar pelapis biasa. Seluruh substansi kegelapan di arena ini memutuskan untuk berdiri di sisinya.Xavier Dragvine mengepalkan kedua tangannya.'Ini bukan lagi tentang teknik gerak. Dia memanggil hukum alam itu sendiri.'Tidak ada waktu untuk berpikir lebih jauh. Drew Shadowmist melesat ke depan.WUUSSHH!Bukan kecepatan biasa yang bisa diikuti mata. Dia bergerak seperti bayangan yang meluncur di permukaan air, mulus, tanpa gesekan, tanpa hambatan. Barisan bayangan di bawah kakinya menjadi jalan yang ia tempuh
Ryan melihat transformasi itu dan tersenyum tipis.'Xavier berhasil mendorongnya sampai ke sana.'Garis darah naga bukan sekadar kekuatan tambahan. Di Benua Valorisia, Keluarga Dragvine dan Keluarga Celestedragon berdiri di puncak justru karena warisan itu. Naga adalah Dao tersendiri, makhluk yang menyelam ke dasar samudra dan menembus lapisan awan tertinggi, yang menyerap hampir semua elemen alam dan beradaptasi di lingkungan mana pun. Vitalitas mereka tidak tertandingi. Bahkan luka yang sudah menguras sebagian besar energi spiritual Xavier sebelum ini sekarang relevansinya mulai bergeser.Dan kini, sebagian dari esensi itu mengalir penuh dalam tubuh Xavier.Beberapa peserta di sisi arena menahan napas. Mereka yang punya cukup pengetahuan paham apa artinya transformasi semacam itu. Garis darah naga yang benar-benar aktif bukan hanya soal penampilan yang berubah.Seluruh fondasi pertarungan ikut ber
Ini bukan lagi pertarungan.Ini eksekusi yang sengaja diperlambat.Xavier Dragvine terlempar ke kiri. Sebelum kakinya sempat menapak, kepalan sudah menyambut dari sisi kanan, menghantam sisa pelindung darah naganya dengan kekuatan yang membelah permukaan arena satu jengkal ke bawah. Darah menyembur dari sudut bibirnya. Dia memaksakan energi spiritual ke telapak kakinya, mengerem laju tubuh, berhenti setengah meter dari tepi arena.Drew sudah menghilang lagi sebelum Xavier sempat menoleh ke arahnya.Tawa itu datang dari atas. Ringan dan ganjil, seperti seseorang yang sedang menikmati permainan yang hanya lucu bagi dirinya sendiri."Bocah Sekte Moon Flower!" Drew muncul sesaat di sisi kiri arena, kedua tangan dimasukkan santai ke dalam saku jubahnya, senyumnya lebar ke satu sisi. "Apa aku ini manusia atau anjing gila, menurutmu sekarang?"Xavier mendengus. Napasnya tersengal tapi matanya tidak lepas da
Suara tribun meledak. Xavier tidak menunggu. Begitu kata "dimulai" jatuh, jarinya bergerak membentuk segel tangan. Dari dalam tubuhnya, raungan naga bergema seperti petir yang meledak di balik dinding batu tebal, dalam dan berguncang, menembus sampai ke tulang. Aura darah naga berwarna kebiruan melingkupi seluruh tubuhnya dalam hitungan detik, memancarkan tekanan yang membuat udara di radius beberapa meter terasa seperti berdiri di dasar kolam yang dalam. 'Drew Shadowmist kuat. Kondisiku tidak ideal. Tidak ada pilihan selain langsung bertarung penuh sejak awal.' Drew menatap transformasi itu dari tempatnya berdiri. Senyumnya tidak goyah. "Menarik." Suaranya ringan, hampir seperti orang yang baru menemukan mainan baru. "Kau ini manusia atau binatang iblis?" Xavier mendengus. "Dan kau? Dengan senyum seperti itu... manusia atau anjing gila?" Drew terdiam satu detik. Lalu tawanya meledak, keras dan tiba-tiba, sampai beberapa penonton di baris depan tribun refleks menoleh. Kemudi
Tribun belum sempat mencerna apa yang baru saja terjadi ketika suara Tetua berbadan besar memecah keheningan. "Ryan Pendragon menang!" Satu dua kepala mulai menoleh. Lalu semua. Tavin Sanctum berlutut di atas bluestone dengan kedua tangan yang bukan lagi berbentuk tangan. Yang tersisa hanyalah kabut darah pekat dan remukan tulang yang hancur dari dalam, tanpa satu luka luar pun yang bisa dijadikan alasan untuk memprotes hasil ini. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang perlu bicara. Beberapa peserta yang belum bertanding menatap ke arah Tavin dengan ekspresi yang sama, bukan simpati, lebih ke perhitungan ulang soal lawan yang baru saja mereka lihat bertarung. Ryan berbalik dan menuruni arena. Langkahnya terukur. Tidak terburu-buru, tidak pula dibuat-buat lambat. Seperti seseorang yang baru selesai melipat kain setelah pekerjaan rumah beres. Tapi begitu tubuhnya melewati batas pandang tribun, rona di wajahnya turun tipis. 'Bahkan dengan menahan diri seperti ini, meridian yang
Tribun meledak.Keheningan yang tadi masih mengambang seketika digantikan oleh gelombang bisik-bisik dan teriakan yang saling tindih. Tidak ada yang memprediksi pertandingan ini akan terjadi di babak ini."Kenapa kau memilihku?" Tavin berdiri lima langkah dari Ryan, suaranya mengandung sesuatu di antara pertanyaan dan tuntutan."Apakah aku perlu alasan untuk memilihmu?" Ryan balik bertanya, santai.Tavin menghela napas pendek. "Kau tahu siapa kami? Dua keluarga di kawasan terpencil ini punya kedudukan istimewa yang tidak dimiliki siapa pun.""Keluarga Sanctum adalah keturunan para dewa. Apakah dengan memilihku, kau tidak merasa sedang meremehkan sesuatu yang tidak kau mengerti?"Ryan melirik Tavin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cara pandangnya singkat, sekilas, tapi cukup untuk membuat pemuda itu merasakan sesuatu berdiri di tengkuknya tanpa ia tahu alasannya."Keturunan para dewa?" Ryan mengula
Setelah selesai dengan tugas itu, Ryan akan menyesuaikan kondisi fisik dan spiritualnya, dan pada malam hari, dia akan menggunakan teknik pelacakan yang baru dipelajarinya untuk mengaktifkan esensi darahnya dan menemukan keberadaan Shirly Jirk dan Rindy Snowfield. Setelah Ryan pergi dan pintu ditut
"Baik!" Sphinx merespons dan langsung menyatu dengan tubuh Ryan. Seketika itu juga, esensi darah yang agung melonjak keluar dengan kilau yang memukau. Naga darah tidak berkata apa-apa. Sosoknya berubah dan langsung menyelam ke dalam tubuh Ryan, memberikan kekuatan yang lebih besar lagi! Naga d
"Kurang ajar!" "Ryan, lepaskan dia!" Sebuah sinar pedang yang menyilaukan melesat keluar dan merobek langit, mengejutkan semua orang yang menyaksikan. Energi yang terpancar begitu dahsyat hingga membuat bulu kuduk merinding. Sinar pedang ini mengandung kekuatan luar biasa yang mengguncang tanah
Dao Nirvana di belakang Ryan berwarna abu-abu. Panjangnya tiga ratus meter, tetapi lebarnya tiga ribu meter. Itu jelas telah berevolusi hingga batasnya! Dao Pembantaian berwarna hitam pekat. Panjangnya juga tiga ratus meter, dan lebar dua ribu meter. Dao ini sedang mengalami transformasi, dan a







