LOGINIni Bab kedua siang ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
Kata-kata yang dipenuhi keilahian itu menghantam tepat ke bagian paling rapuh dalam hati Cassian Weston.Dalam sekejap, setiap kalimat Ryan Pendragon seperti pisau tak terlihat yang menggerogoti hati Daonya.Setelah itu, bekasnya tertinggal jauh di dalam Jiwa Primordial Cassian.Cap milik Ryan, yang sarat dengan jejak keilahian, terukir begitu dalam hingga sulit digoyahkan.Bahkan seorang Kultivator Ranah Star Sealed pun belum tentu sanggup menghapusnya.Selene Chase yang semula hanya sedikit tertarik kepada Ryan kini memandanginya dengan tatapan yang sepenuhnya berubah.Ia berasal dari latar belakang yang tidak biasa. Sepanjang hidupnya, ia sudah melihat terlalu banyak genius berbakat gila. Ada yang lahir dengan garis darah kuno, ada yang membawa warisan langka, dan ada pula yang sejak kecil dipuja sebagai calon penguasa masa depan.Namun orang yang mampu melakukan hal seperti barusan bisa dihitung dengan jari.Berdasarkan ingatannya, hanya ada satu sosok yang pernah melakukannya sa
“Bukankah kau harus memenuhi syarat taruhanmu sendiri?” tanya Ryan Pendragon.Orang seperti Cassian Weston tidak layak mendapatkan belas kasihannya. Siapa pun yang berani menyinggungnya harus membayar harga yang pantas.“Karena kau sendiri yang mengajukan taruhan ini, mari kita selesaikan cepat-cepat,” Selene Chase ikut mendesak sambil tersenyum tipis.Ia cukup tertarik melihat Cassian berlutut. Seorang Kultivator Ranah Star Seed berlutut kepada Kultivator Ranah Creation. Tontonan semacam itu jelas tidak setiap hari bisa disaksikan.Zara Westalis membuka mulut, hendak memohon keringanan. Namun begitu pandangan Selene menyapunya sekilas, seluruh kalimat yang sudah tersusun di kepalanya langsung lenyap. Tekanan dari seorang Kultivator Ranah Star Sealed bukan sesuatu yang bisa ia lawan hanya dengan keberanian. Pada akhirnya, ia hanya sanggup menunduk.Cassian tahu dirinya sudah tamat. Rasa dingin merambat dari telapak kakinya sampai ke ubun-ubun.Mulai hari ini, ia tidak akan bisa me
Aura Cassian Weston akhirnya berhenti naik setelah menyentuh batasnya.Napasnya tersengal. Kedua tangannya terangkat perlahan, lalu seluruh energi spiritual di dalam tubuhnya dihimpun tanpa sisa. Kekuatan domainnya meledak keluar tanpa kendali, membuat udara di sekitar Gerbang Bulan bergetar kacau.Matanya terpaku pada gerbang kristal yang sudah menutup kembali.“Aaaah!”Cassian melolong panjang, kemudian menghantamkan kedua telapak tangannya ke Gerbang Bulan.Dentuman keras menggema di seluruh halaman.Tanah berguncang oleh hantaman itu. Momentum serangan Cassian benar-benar mencengangkan. Bahkan jika dibandingkan dengan dorongan Ryan Pendragon sebelumnya, gerakannya justru terlihat jauh lebih dahsyat. Debu terangkat setinggi pinggang, dan beberapa tamu di barisan belakang sampai mengangkat lengan untuk melindungi mata.Semua orang menatapnya dengan mata membelalak.Pertama, Cassian memakai teknik rahasia sampai auranya melonjak. Setelah itu, ia melepaskan serangan sebesar ini. W
Selene Chase tertawa manis, lalu menepukkan kedua tangannya.“Menarik. Menarik sekali. Aku tidak menyangka kesenangan yang kalian bawa hari ini bukan hanya soal Gerbang Bulan yang terbuka sepenuhnya.”Ia menoleh ke arah Cassian Weston yang masih berdiri kaku di kejauhan.“Yang di sana itu Kakak Seperguruan Weston, benar?”Senyum Selene semakin jelas di balik cadar tipisnya. “Cepat kemari. Aku sudah tidak sabar melihat kemampuan Kakak Seperguruan Weston.”Ia lalu memiringkan kepala ke arah Ryan Pendragon. “Boleh aku menjadi wasit untuk taruhan ini?”“Dengan kedudukan Nona Selene, tentu tidak ada masalah,” jawab Ryan sambil tersenyum.Selene mengangguk puas, kemudian menatap Cassian. “Kau yang di sana. Apa kau keberatan kalau aku menjadi wasitnya?”Wajah Cassian sudah berubah kehijauan. Giginya bergemeretak, tetapi satu kata pun tidak segera keluar dari mulutnya.Sejujurnya, ia ingin sekali berkata bahwa ia keberatan. Bukan hanya soal wasit. Ia bahkan tidak ingin melanjutkan taruhan ini
Kalimat Selene Chase membuat kerumunan di depan Paviliun Moonveil kembali bergemuruh.Ryan Pendragon resmi menjadi tamu kehormatan Paviliun Moonveil.Itu sama sekali bukan perlakuan biasa.Paviliun Moonveil adalah tempat kelas atas, titik berkumpulnya para murid berbakat dan orang-orang berpengaruh. Bisa dibayangkan seberapa istimewa layanan serta keuntungan yang diterima seseorang yang memegang status tamu kehormatan di tempat seperti ini.Belum lagi potongan setengah harga untuk seluruh pembelanjaan.Hidangan Paviliun Moonveil dikenal setara dengan hidangan Area Heaven di kantin akademi. Artinya, harganya pun sama-sama mencekik. Potongan setengah harga itu setara dengan jumlah harta yang tidak sedikit.Jika Ryan mau, ia tinggal mengajak orang lain makan di Paviliun Moonveil, lalu mengambil selisih harga dari potongan tersebut. Dengan cara itu saja, ia bisa mengumpulkan kekayaan yang tidak main-main tanpa perlu mengambil misi akademi.Beberapa murid di kerumunan bahkan sudah mengh
Cassian Weston menyesal telah mencari perkara dengan Ryan Pendragon tanpa alasan yang cukup.Kalau benar pemuda inilah yang membunuh tuan muda mereka di Ngarai Nether, sekarang ia justru mulai memahami kenapa peristiwa itu bisa terjadi.Siapa sangka, yang ia injak bukan semut di pinggir jalan.Melainkan ekor naga.Keringat dingin membasahi dahi dan punggung Cassian. Dadanya terasa sesak. Otaknya berputar cepat, mencari jalan keluar dari taruhan yang baru saja ia terima sendiri.Namun yang ia temukan hanya kekosongan.Siasat macam apa yang bisa dipakai untuk menghadapi kekuatan sebesar itu? Semuanya terasa seperti omong kosong. Teknik rahasia Lembah Myriad Demon yang tadi ia banggakan pun tiba-tiba tampak seperti ranting kering di hadapan kapak besar.Cassian menelan ludah.Tidak.Ia tidak bisa melanjutkan ini.Ia bahkan belum bergerak sedikit pun, tetapi ia sudah b







