LOGINIni bab kedua siang ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
Kabut darah menyembur dari permukaan lengannya dalam semburan tipis yang berkilauan di bawah cahaya formasi arena. Bukan luka dalam dari luar. Ini dari dalam, otot-otot yang melewati batas yang tidak seharusnya dilampaui. Otot-ototnya yang tadinya berlapis cahaya hitam-emas kini robek dari dalam oleh kekuatan yang ia paksakan melewati kapasitas normalnya.'Bahkan dengan Immortal Divine Body, ini masih terlalu berat untuk dikendalikan dengan sempurna.'Tanpa kilasan pemahaman hukum alam yang ia tangkap saat melawan Kraig Blazesky kemarin, tebasan ini tidak akan bisa diarahkan dengan presisi yang dibutuhkan. Kekuatan sebesar itu tanpa kendali yang cukup sama saja dengan ledakan yang tidak punya tujuan.Ia tidak mengeluarkan Pedang Iblis Darah. Bukan karena tidak mampu. Tapi senjata itu membawa terlalu banyak aura kuno yang akan menarik perhatian yang tidak ia inginkan di sini.Kecuali benar-benar tidak ada pilihan lain, simpan saja.**Cole Shadowmist merasakan tebasan itu bahkan s
"Hahahahaha!" Tawa Cole Shadowmist masih bergema keras di seluruh arena. "Jangan khawatir, kau tidak akan kulempar keluar dari panggung secepat itu. Kau harus membantu aku bersenang-senang dulu!"Ryan menatap Cole yang tertawa dengan mata yang setengah menggeleng, setengah geli.Lalu ia ikut tertawa. Ringan. Pendek."Kau tahu tidak," ucapnya santai sambil mengusap ujung bibirnya dengan punggung tangan, "orang-orang yang bicara padaku dengan cara seperti itu biasanya berakhir dengan sangat menyedihkan."Tawa Cole terhenti.Sesuatu dalam kalimat itu membuatnya diam. Bukan karena ancaman. Bukan karena takut. Lebih karena ada yang tidak pas, seperti kepingan puzzle yang dipaksa masuk tapi tidak benar-benar cocok di tempatnya.Matanya turun ke tombaknya sendiri.Dan kemudian ia mengerti.Tombak itu tidak menembus dada Ryan.Serangan Kilat Bayangan Ekstrem yang ia lepaskan tadi memang meluncur denga
Pemuda itu terdiam. Lalu matanya membulat sedikit. "Ketua Sekte, maksudnya... Kakak Senior Mervin yang akan masuk?"Eren menggeleng.Pemuda itu semakin bingung. "Kalau bukan Kakak Senior Mervin... Xavier?"Tidak ada jawaban yang datang. Hanya senyum yang tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan itu.**"Pertandingan kelima belas!"Suara lelaki tua itu bergema dan Ryan bangkit dari duduknya."Ryan Pendragon dari Keluarga Blazesky! Cole Shadowmist dari Keluarga Shadowmist!"Sorak sorai di bangku penonton meledak kembali, namun kali ini dengan warna yang berbeda. Ada tawa di dalamnya."Hei, aku tidak salah lihat? Lawannya anggota Shadowmist? Dan itu murid sekte luar yang cuma Ranah Primordial Chaos tingkat tiga?""Hahahaha, nasib buruk sekali. Kalau ketemu orang lain mungkin masih bisa bertahan. Tapi melawan Keluarga Shadowmist dengan level seperti itu?""Kasihan. Ini bukan pertandingan, ini
Setelah pertandingan pertama yang ditutup dengan cara yang tidak terduga itu, suasana di bangku penonton tidak pernah benar-benar kembali seperti semula. Ribuan pasang mata masih sesekali melirik ke tempat di mana tubuh Drake Darkgold diangkat keluar, beberapa mulut masih terbuka setengah, seolah tidak yakin apa yang baru saja mereka saksikan memang nyata. Pertandingan kedua, ketiga, keempat datang dan pergi. Cukup menarik, namun tidak benar-benar menggetarkan. Hingga tiba giliran pertandingan ketujuh. Semacam pergeseran terjadi di tengah kerumunan. Bisik-bisik yang tadinya santai berubah menjadi tegangan yang berbeda, dan kepala-kepala yang tadinya menunduk malas kini tegak kembali. Ryan merasakan perubahan itu bahkan sebelum ia melihat alasannya. Di atas panggung, seorang pemuda dari Keluarga Shadowmist berdiri. Penampilannya tidak istimewa di pandangan pertama. Rambut gelap, postur sedang, ekspresi yang terlalu tenang untuk seseorang yang berdiri di tengah arena di baw
Di bangku peserta Keluarga Woodholt, wajah-wajah memerah satu per satu. Beberapa kepala tertunduk. Hanya kepala keluarganya yang memandang panggung dengan sorot yang berbeda dari yang lain. Tidak ada rasa malu di matanya. Hanya tatapan orang yang sedang menunggu sesuatu terjadi. Drake sendiri melongo melihat pemandangan itu. Ia tidak menyangka musuhnya akan "melarikan diri" semudah dan secepat itu. Matanya beralih ke pedang emas pucat yang masih melayang pelan ke arahnya. Senyumnya kembali. 'Kalau begini, barang ini jadi milikku.' "Kalau mau lari, silakan lari. Tapi pedangnya aku ambil dulu sebagai bayaran atas waktu yang sudah terbuang!" Mervin, yang sudah hampir di tepi panggung, menjawab tanpa menoleh. "Kalau bisa diambil, ambil saja." Drake mengulurkan tangannya dan menggenggam ke arah pedang itu. SRITTT! Suara yang nyaris tidak terdengar. Kerumunan yang tadi riuh mendadak bisu. Drake menatap tangannya. Empat jarinya terputus bersih, jatuh ke lantai panggung bersama
Pertandingan pertama dimulai.Arena utama di pusat venue adalah panggung batu biru yang lebar dan rata, dengan lapisan pelindung berbentuk kubah setengah lingkaran yang melayang di atasnya. Formasi cahaya itu berfungsi ganda: menahan kerusakan agar tidak menjalar ke penonton, sekaligus membuat setiap gerakan di atas panggung terlihat jelas dari segala sudut.Dua peserta sudah berdiri di atas panggung.Suara lelaki tua itu bergema di seluruh venue. "Mervin Lux dari Keluarga Woodholt! Drake Darkgold dari Keluarga Darkgold! Pertandingan dimulai!"Sorak sorai meledak dari bangku penonton. Namun arahnya jelas, dan bukan untuk Mervin."Drake Darkgold! Habisi bocah dari Sekte Moon Flower itu!""Itu genius nomor satu Keluarga Darkgold! Murid sekte luar itu sudah tamat!""Murid-murid Sekte Moon Flower semua sampah! Apa yang mereka andalkan selain senjata mahal pemberian guru mereka?"Ryan mengerutkan dahinya.
Pemuda yang tadinya dianggap sombong dan tidak tahu diri itu ternyata masih berdiri tegak di arena. Meski tampak sangat lemah, fakta bahwa dia masih hidup membuat semua orang tercengang. "Dia... dia masih hidup?" "Bagaimana mungkin? Anak ini benar-benar beruntung!" Di tengah bisik-bisik kebing
Di kamar yang berbeda, Ryan sedang bermeditasi ketika sosok Peter Carter muncul. Sosoknya kini nyaris transparan, seperti kabut yang siap menghilang kapan saja. "Muridku," ucap Peter Carter sambil menatap Ryan yang masih bersila. "Awalnya aku ingin terus mengajarimu Dao Jimat Spiritual, tapi tamp
Jackson Jorge jelas tidak menyangka akan ada begitu banyak penjaga di sini. Dia dapat melihat bahwa orang-orang ini dan senjata mereka berbahaya. Jelas ada yang salah dengan informasi yang diberikan lelaki tua itu kepadanya. Kemungkinan besar pertempuran telah berakhir, dan dia sudah terlambat.
Sosok Ryan muncul bagai kilat, matanya merah membara dipenuhi nafsu membunuh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Pedang Suci Caliburn terhunus mengancam di tangannya saat dia melesat menghadang Yamamoto Yuto dengan kecepatan yang mustahil. Wajah Yamamoto Yuto memucat seketika. Dia tidak m







