로그인Ini Bab kedua siang ini. Selamat Beraktivitas (◠‿・)—☆
Ruang kecil itu sudah tidak lagi layak disebut tempat berlindung.Energi iblis berputar liar ke segala penjuru seperti ribuan tangan tak kasat mata yang mencengkeram udara, tanah, dan langit sekaligus. Bebatuan hitam keabuan yang tadinya menjulang kokoh kini bergetar sampai ke akarnya. Setiap tarikan napas terasa berat, seolah udara sendiri sudah berubah jadi sesuatu yang beracun.Di tengah semua itu, Ryan berdiri tegak.'Klon ini berbeda dari lawan-lawan yang pernah kuhadapi sebelumnya. Tidak boleh ada kelengahan sedikit pun.'Kedua matanya tidak berkedip. Ia mengangkat tangan."Enam Dao, keluarlah!"Enam aliran cahaya melesat dari tubuhnya sekaligus.Langit di atas Ruang Segel Iblis berubah seketika. Enam pusaran cahaya mengembang dan berputar mengelilingi Ryan, berdenyut dan bergemuruh, memancarkan tekanan yang meretakkan batu-batu di sekitarnya dari dalam tanpa perlu disentuh sama sekali.Klon itu mengangkat kepalanya.Tapi Ryan belum selesai."Pedang Iblis Darah, keluarlah!"S
"Ada dua cara," jawab Divine God Beast Tamer. "Pertama, energi iblis yang membawamu ke sini belum sepenuhnya memutus hubunganmu dengan kawasan terpencil. Jika kau punya kemampuan merobek ruang, kau bisa kembali secara langsung."Ryan menunggu sebentar. "Dan yang kedua?""Ruang ini dibangun dan dipertahankan oleh kehadiran klon iblis yang tersegel di dalamnya. Bunuh klon itu, dan dimensi ini runtuh. Kau akan kembali dengan sendirinya.""Klon iblis." Ryan mengernyitkan dahinya. "Seberapa kuat?""Kultivasinya ditekan selama proses penyegelan, sehingga di dalam sini ia hanya setara puncak Ranah Dao Integration. Tapi jangan remehkan itu." Ada penekanan dalam nada Divine God Beast Tamer yang tidak berubah dari datar. "Dalam kondisi seperti ini, ia sebanding dengan kultivator Ranah Creation awal yang sesungguhnya. Mungkin lebih."Ryan diam sebentar.Ia mengingat klon iblis yang pernah ia hadapi di Pulau Kebenaran. Kekuatan yang hampir membunuhnya bahkan ketika ia sudah memaksimalkan semua
Di sekitarnya, sebagian besar peserta dan penonton hanya mengerutkan dahi.Bola Segel Iblis? Nama yang tidak dikenal oleh kebanyakan dari mereka.Sampai seorang penonton di bangku tengah berdiri dan berteriak, "Aku pernah dengar soal itu!" "Bola Segel Iblis adalah artefak yang menyegel jiwa seorang iblis di dalamnya dan menciptakan dimensi tersendiri." "Siapa pun yang terkena benda itu akan terseret ke dalam dimensi itu dan dipaksa menghadapi sang iblis langsung!"Sunyi mendadak menguasai venue.Lalu suara mulai bermunculan satu per satu, seperti air yang mendidih dari bawah panci."Jadi aura mengerikan yang barusan kita rasakan itu... aura iblis sungguhan?""Itu bukan kekuatan Yakou Zedd sama sekali. Dia cuma menggunakan benda itu untuk membunuh Ryan!"Tatapan-tatapan bergerak ke arah Yakou yang duduk bersila di pinggir arena sedang menelan pil pemulihan. Sebagian mengandung kecaman. Sebagi
Yakou menghentikan langkahnya tiba-tiba.Kedua kakinya menapak keras di batu arena, dan ia menatap Ryan yang meluncur ke arahnya. Matanya sudah berbeda dari tadi. Tidak ada kepanikan di sana. Tidak ada sisa getarnya keringat dingin dari beberapa detik lalu.Ada ketenangan yang jauh lebih berbahaya dari itu."Mutiara Pelindung Laut Utara!"KRAANG!Bola cahaya biru muda meledak dari tubuh Yakou, mengembang jadi kubah perisai dalam radius dua meter. Tinju Ryan menghantamnya setengah detik kemudian.BOOOOMM!Kubah itu bergetar keras. Retakan cahaya muncul di permukaannya, menjalar ke berbagai arah sebelum menutup kembali dengan bunyi berdesis.Tapi ia bertahan.Bangku penonton bergolak."Artefak pelindung yang kuat! Pukulan Ryan tidak bisa menembusnya!"Namun seorang penonton tua di baris belakang hanya mendengus. "Bodoh. Sekarang dia tidak bisa bergerak cepat sambil me
Keduanya berjalan ke tengah arena. "Yakou Zedd dari Keluarga Blazehart, menantang Ryan Pendragon dari Keluarga Blazesky. Pertandingan dimulai!" Ryan menggerakkan jari-jari tangan kirinya satu per satu begitu kakinya menyentuh permukaan batu biru arena. Kaku. Aliran qi di sana masih seret, belum sepenuhnya kembali ke jalur yang seharusnya. Tapi cukup untuk ini. 'Justru ini kesempatan bagus untuk melatih gerakanku.' Tidak ada gunanya mengakhiri pertandingan ini terlalu cepat dengan Tebasan Pedang Golden Sword. Lebih baik manfaatkan setiap detiknya. Paksa tangan kiri tetap bergerak, tetap mengalir, pulih di bawah tekanan nyata. Ryan mengepalkan tangan kirinya perlahan. Keduanya sudah siap. Di hadapannya, Yakou Zedd tidak lagi terlihat seperti tadi. Senyum ejekan yang ia bawa masuk ke arena sudah lenyap sepenuhnya. Mulutnya kini tertutup rapat. Bahunya turun sedikit, berat badannya dialihkan ke telapak kaki depan. Napasnya keluar satu kali, pelan dan terkontrol. Postur s
Ryan memandang angka itu sebentar. 'Jelas.' Di babak kedua ini, formatnya berbeda dari babak pertama. Tidak ada lagi pengecualian untuk sesama anggota keluarga. Dan yang paling penting, urutan tampil ditentukan oleh angka undian. Peserta dengan nomor terkecil boleh memilih siapa yang ingin mereka tantang dari seluruh daftar, bebas tanpa syarat. Peserta dengan nomor terbesar hanya bisa menunggu dan menerima tantangan yang datang. Nomor dua puluh empat adalah nomor paling pasif yang bisa ditarik. Di sisi lain arena, seseorang mengangkat lempengannya dengan senyum yang lebih lebar dari seharusnya. Yakou Zedd. Nomor satu. Beberapa peserta di sekelilingnya meliriknya dengan tatapan yang mengandung sedikit iri. Nomor satu berarti kebebasan penuh: bisa memilih siapa saja, menghadapi lawan yang paling lemah atau paling kuat sesuai keinginan. "Peserta nomor satu, maju," kata lelaki tua itu. Yakou Zedd melangkah ke tengah arena dengan gaya yang ia susun agar terlihat santai, t
Tanpa ragu, Sheldon mengeluarkan pedang cadangan dan kembali menyerang Ryan yang masih bersandar lemah pada Pedang Surgawi EX-Caliburn. "Apakah kamu yakin tentang ini?" suara tenang Ryan menghentikan langkahnya. Sheldon terkejut melihat senyuman di wajah Ryan yang kini terlihat sepenuhnya tenang.
Pada saat ini, Jonathan Campbell menunjuk ke arah Alchemy Tower dan berteriak, "Ini jelas bukan pertama kalinya anak ini memasuki Alchemy Tower. Dia pasti pernah mempelajari Pil Spirit Void sebelumnya! Itu benar! Pasti itu dia!" Wajahnya memerah karena amarah dan ketidakpercayaan. Dia tidak bisa
Pak Tua Yong hendak menjelaskan ketika dia menyadari darahnya mengalir deras dan dia memuntahkan seteguk darah! "Uhuk!" Darah segar memercik dari mulutnya, mengotori jubahnya yang putih. Pak Tua Feng segera mengeluarkan setetes saripati darah, membentuk segel tangan, dan menggunakan teknik rahasia
Ryan tersenyum dingin mendengar kata-kata Walter Leon. Pikiran pria itu begitu transparan—dia hanya peduli pada keselamatan keluarganya, tak peduli jika Ryan harus mati untuk itu. Wajah Jamie Leon pucat. Ia teringat sesuatu dan segera menghampiri Jonathan Campbell. "Paman Jonathan, temanku ada di







