MasukIni bab kedua siang ini. Selamat makan siang (◠‿・)—☆
Pria berjubah kuning itu baru saja menyatakan ingin melihat cara Spirit Hall merampas garis darah ketika ia mengangkat tangan dan merentangkan kelima jarinya.Tiga pria berjubah hitam mendadak terseret masuk ke tengah aula. Tubuh mereka terhuyung, seolah ada tali tak terlihat yang menarik mereka dari luar istana. Ketiganya berusaha melawan, tetapi tak seorang pun mampu melepaskan diri.Rupanya, mereka adalah kultivator yang sejak tadi diam-diam mengintai pertemuan tersebut."Aku tidak suka diawasi," ujar pria berjubah kuning sambil meregangkan punggung, seakan baru saja menyelesaikan urusan kecil.Ia melirik Lucas Ravenclaw yang masih berdiri di dekat pilar retak."Subjek Sempurna, perlihatkan bagaimana kau mencuri garis darah mereka."Mata Lucas langsung berkilat. Niat membunuh yang sebelumnya tertahan meledak begitu ia menerjang ketiga orang itu.Pria pertama bahkan belum sempat mundur ketika Lucas sudah mencengkeram lehernya. Jari-jari Lucas menancap ke dalam daging, lalu darah
Jauh di pedalaman Wilayah Selatan, sebuah istana berdiri di wilayah kekuasaan Klan Spirit Blood. Di depan aula utamanya terdapat batu raksasa dengan ukiran nama klan yang tampak mencolok.Klan Spirit Blood!Ukiran bernoda darah itu konon ditinggalkan oleh seorang kultivator dari Klan Spirit Blood kuno.Pada zaman dahulu, Klan Spirit Blood dan Spirit Hall sebenarnya berasal dari satu faksi yang sama, Klan Anima Sanguis. Namun setelah terpecah, kedua pihak berjalan di jalan masing-masing. Hubungan mereka terputus selama bertahun-tahun. Sebagian bahkan saling bermusuhan sampai mati.Karena itulah, kedatangan Kepala Spirit Hall ke Klan Spirit Blood beberapa waktu lalu merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pertemuan itu jelas bukan urusan kecil.Yang lebih mengherankan, Klan Spirit Blood sebenarnya bukan termasuk faksi paling menonjol di Wilayah Selatan. Namun kini dua pria tua dengan aura menakutkan justru berjaga di pintu masuk wilayah mereka.Kedua tetua itu ber
"Kami yang berada di sini sebenarnya cuma hasil percobaan yang gagal," lanjut pria tinggi kurus itu dengan suara gemetar. "Untungnya, Kepala Spirit Hall menanamkan segel di tubuh kami." "Segel itu membuat garis darah yang dirampas dari kultivator lain bisa menyatu dengan tubuh kami, meskipun hanya untuk sementara." Ryan mengerutkan kening. Penjelasan tersebut sesuai dengan kejanggalan yang sebelumnya dirasakannya. Kekuatan para anggota Spirit Hall memang meningkat, tetapi tubuh mereka tidak cukup kuat untuk menampung garis darah asing. Tanpa segel penahan, mereka mungkin sudah mati akibat perubahan yang dipaksakan itu. "Ada lagi?" tanyanya. "Semalam aku melihat Kepala Spirit Hall bersama beberapa tetua Klan Spirit Blood memasuki sebuah taman terpencil," jawab tawanan itu cepat. "Aura para tetua itu luar biasa kuat. Sepertinya mereka hendak menemui seseorang yang sangat penting." "Kalau dugaanku benar, orang tersebut berasal dari Kerajaan Ilahi." Mata Ryan menajam. Kecurig
Ryan menghadapi pilar api merah darah yang menyambar ke arahnya tanpa sedikit pun mundur. Pedang Feralrot bergerak dalam genggamannya, lalu sebuah sinar pedang melesat menembus kegelapan gurun.Sinar itu tampak seperti bintang jatuh, tetapi kekuatannya justru seolah menyerap segala sesuatu yang dilaluinya. Begitu bertabrakan dengan pilar api, tebasan Ryan langsung membelahnya dari ujung hingga pangkal. Kobaran merah yang sebelumnya memenuhi pandangan hancur menjadi asap dan tersapu angin malam.Harapan yang baru saja muncul di wajah pria tinggi kurus itu lenyap. Teknik terlarang yang susah payah digunakannya ternyata tidak sanggup menahan satu tebasan Ryan.Pria itu tidak berani membuang waktu. Ia memaksa keluar sebagian esensi darahnya, kemudian mengeluarkan dua token giok sekaligus. Salah satunya merupakan token Spirit Hall, sedangkan yang lain memiliki lambang Klan Spirit Blood.Energi darah dan energi ib
Pria tinggi kurus dan pria botak membeku melihat apa yang terjadi pada kedua rekan mereka. Tinju Ryan memang tidak diarahkan kepada mereka, tetapi pemandangan itu sudah cukup untuk menghancurkan keberanian yang tadi masih tersisa.Kakak Kedua dan Kakak Ketiga tidak sekadar terlempar akibat pukulan. Kepala keduanya hancur lebih dulu, lalu tubuh mereka meledak karena tidak sanggup menahan sisa kekuatan tinju Ryan. Kabut darah perlahan turun ke pasir, bercampur serpihan tulang dan daging di dasar lubang.'Apa sebenarnya kekuatan bocah ini?'Kedua anggota Spirit Hall yang masih hidup tidak mampu memahami apa yang baru saja mereka saksikan. Kelelawar Haus Darah, binatang iblis yang bahkan sulit dilukai Kultivator Ranah Star Sealed, mendadak jatuh dengan darah mengalir dari mata dan telinganya.Belum selesai mereka memikirkan keadaan kelelawar tersebut, dua rekan yang memiliki tubuh hasil mutasi justru tewas hanya dengan sa
Pria tinggi kurus itu meraung, lalu menepuk tubuh Kelelawar Haus Darah yang berada di sampingnya. Di antara seluruh anggota kelompok, hanya dialah yang masih mampu mengendalikan binatang iblis tersebut, meski tidak sepenuhnya. Amarahnya sudah memuncak setelah mendengar ucapan Ryan. Namun firasat buruk jg muncul sejak pertama kali melihat pemuda bertopeng itu belum juga hilang. Karena itulah, ia tidak berniat menguji kekuatan lawan sedikit demi sedikit. Kalau memang harus bertarung, ia akan mengerahkan seluruh kekuatan sejak awal. Kelelawar Haus Darah membuka mulut dan mengeluarkan pekikan melengking. Suaranya menusuk telinga seperti logam yang digesekkan dengan keras. Sepasang sayap raksasanya terbentang, lalu tubuh hitam itu melesat ke langit, membawa embusan angin pekat yang menghamburkan pasir. Dalam sekejap, bayangannya menutupi cahaya bulan. Kelelawar itu berputar sebentar di udara sebelum menukik lurus ke arah Ryan dengan mulut terbuka lebar. Pada saat bersamaan, kee







