Mag-log inMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Lola Ayu, Kak Eny Rahayu, Kak Pengunjung5804, dan Kak Alberth Abraham Parinussa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Sendy Zen atas hadiah Kopi dan Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Juga Kakak-Kakak pembaca yang telah mendukung novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Karena jumlah Koin sudah mencapai target, maka akan ada bab bonus hari ini. Selamat membaca (◠‿・)—☆
Suasana di depan gerbang World Palace mendadak buntu.Tidak ada lagi yang berani mencoba.Dua Kultivator Ranah Star Seed tingkat puncak saja sudah dipermalukan karena darah mereka ditolak. Setelah melihat itu, siapa yang masih punya keberanian untuk maju? Jika darah mereka juga terpental, harga diri mereka akan hancur di depan semua orang.Tiga Kultivator Ranah Star Seed tingkat puncak pun tidak bisa memaksa orang lain.Semua orang hanya saling memandang dalam diam."Biar aku yang coba."Tiba-tiba, sebuah suara serak terdengar dari belakang kerumunan.Semua mata langsung beralih.Seorang pria berjubah hitam melangkah keluar. Seluruh tubuhnya tertutup kain gelap, dan wajahnya tidak terlihat sama sekali. Yang lebih aneh, tak seorang pun bisa merasakan tingkat kultivasinya. Seolah aura pria itu benar-benar kosong, atau sengaja disembunyikan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat.Pria berjubah hitam itu berjalan sampai ke depan pintu.Ia tidak banyak bicara.Jarinya tergores, lalu setetes
Ketiga Kultivator Ranah Star Seed tingkat puncak itu ikut terpaku.Mereka menyaksikan Ryan menyalip mereka dengan cepat. Yang lebih mengejutkan, wajah pemuda itu sama sekali tidak memerah. Napasnya pun tetap stabil, seolah tekanan Tangga Surgawi tidak menyentuhnya sedikit pun.Bagi mereka, setiap langkah membutuhkan tenaga dan ketahanan mental. Namun bagi Ryan, tangga itu tak ubahnya jalan biasa.Ryan tidak peduli pada tatapan orang lain.Ia terus bergerak sampai akhirnya tiba di puncak. Di hadapannya berdiri gerbang besar World Palace.Daun pintu itu terbuat dari bahan yang tidak ia kenali.Warnanya gelap, permukaannya halus, dan dari sana memancar tekanan samar yang membuat orang biasa enggan mendekat.Ryan melangkah maju dengan ringan.Namun begitu tubuhnya mendekati pintu, tekanan tak kasat mata langsung mendorongnya mundur.Ryan mengernyit.'Ada apa ini? Apa aku tidak bisa masuk?
"Saudara Ryan, apa kita naik sekarang?" tanya Bram sambil mendekat.Ryan menatap Tangga Surgawi yang menjulur dari World Palace, lalu menggeleng pelan."Tidak perlu terburu-buru."Ia ingin mengamati lebih dulu. World Palace memang menyimpan peluang besar, tetapi kemunculan tempat semacam ini mustahil tanpa bahaya. Harta karun dan maut sering berjalan berdampingan, apalagi di Death Domain Universe.Tak lama kemudian, beberapa kultivator mulai menaiki Tangga Surgawi.Begitu kaki mereka menginjak anak tangga pertama, ekspresi mereka berubah. Mereka mendadak merasa seperti sedang diawasi oleh sesuatu. Seolah ada sepasang mata tersembunyi di langit yang memandang semua orang tanpa suara.Para kultivator itu terus naik setapak demi setapak.Namun tak lama kemudian, hal aneh terjadi.Jarak di antara mereka mulai melebar. Beberapa kultivator Ranah Creation tertinggal, sementara ada kultivat
Saat itu, Bram Herstone berjalan menghampiri Ryan.Tatapannya sudah jauh berbeda dibanding sebelumnya. Bukan lagi menilai seorang anggota baru yang kebetulan ikut rombongan, melainkan memandang seorang sosok kuat yang pantas dihormati."Saudara," kata Bram dengan nada serius, "kau seharusnya menjadi pemimpin Aliansi Kultivator Bebas."Begitu ucapan itu terdengar, para anggota aliansi di sekitarnya tidak ada yang membantah.Siapa yang masih berani meremehkan Ryan?Mereka semua melihat sendiri apa yang baru saja terjadi. Sepuluh kultivator Ranah Creation tingkat puncak dari Keluarga Celestedragon dibantai begitu mudah olehnya. Di mata mereka, Ryan bukan lagi kultivator Ranah Dao Integration biasa. Ia adalah sosok yang mampu membunuh Ranah Creation semudah menebas rumput.Namun Ryan hanya menggeleng pelan."Aku tidak tertarik."Ia memang tidak punya niat menjadi Ketua Aliansi Kultivator Bebas. Tujuannya memasuki Death Domain Universe bukan untuk membangun pengaruh, melainkan mencari
Di samping Ryan, Bram Herstone tanpa sadar mundur dua langkah.Aura yang meledak dari tubuh Ryan membuat dadanya terasa sesak. Tekanan itu seperti tangan tak kasat mata yang mencengkeram jantungnya, membuat napasnya berat dan punggungnya dingin.'Sebenarnya sosok macam apa yang baru saja kurekrut?'Bram benar-benar bingung.Awalnya ia mengira Ryan hanya kultivator Ranah Dao Integration tingkat sembilan biasa yang kebetulan ingin ikut rombongan. Namun aura yang terpancar sekarang jelas tidak sebanding dengan tingkatan itu.Karena tak sanggup menahan tekanan tersebut, Bram memilih mundur diam-diam. Ia tidak berani berkata apa pun.Ryan tidak memedulikan reaksi orang-orang di belakangnya.Tubuhnya melesat maju seperti bayangan.Pedang di tangannya berkelebat. Seberkas sinar pedang tajam menyayat udara, meninggalkan jejak putih tipis sebelum mengunci salah satu kultivator Ranah Creation tingkat puncak dari Keluarga Celestedragon.Boom!Sinar pedang itu menghantam telak.Kultivator ters
Wajah Bram Herstone mengeras.Ia terjebak dalam pilihan yang sama-sama buruk. Harta yang mereka bawa bukan didapat dengan mudah. Banyak di antara mereka mempertaruhkan nyawa di Death Domain Universe hanya untuk memperoleh sedikit peluang dan benda berharga.Namun sekarang, hanya dengan satu kalimat, Aldric Celestedragon hendak merampas semuanya.Bram menarik napas dalam, lalu mencoba menahan nada suaranya."Tuan Muda Celestedragon, kau tentu tahu hidup kami para Kultivator Bebas tidak mudah. Apa mungkin kau bisa..."Ucapannya belum selesai.Sebuah tendangan menghantam dadanya.Bam!Tubuh Bram terlempar ke belakang dan jatuh keras ke tanah."Aku meminta harta kalian karena aku masih cukup baik hati," ujar Aldric sambil tersenyum meremehkan. "Jangan tidak tahu diri."Bagi Aldric, orang-orang ini tidak lebih dari segerombolan Kultivator Bebas tanpa sandaran. Jika ia ingin membunuh mereka, tidak ada yang akan membelanya. Karena itu, ia sama sekali tidak merasa perlu menjaga perasaan me







