Mag-log inKilatan pedang pria berjubah emas melintas di hadapan Silva Clint. Sesaat kemudian, salah satu tangan Silva terputus tepat di pergelangan dan jatuh ke lantai batu dengan bunyi tumpul. Belenggu yang semula menahan tangannya kini bergoyang tanpa beban, sementara darah terus mengalir dari luka yang baru terbuka.Namun Silva tidak menjerit ataupun memohon ampun. Kepalanya masih terangkat, dan pandangannya tetap tenang ketika menatap orang yang telah menyiksanya selama berbulan-bulan.Pria berjubah emas justru bernapas memburu. Ia mencengkeram gagang pedang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kemarahannya belum reda, tetapi ia tahu tidak boleh membunuh tawanan itu.Batu dan warisan yang disembunyikan Silva belum ditemukan. Dibandingkan lokasi warisan tersebut, batu legendaris itulah yang paling diinginkan Keluarga Harrow.Menurut kabar yang mereka peroleh, batu itu menyimpan kekuatan reinkarnasi. Bahkan keluarga-keluarga besar di Kerajaan Ilahi mungkin akan berebut memilikinya
Kepastian mengenai jejak Silva Clint membuat Ryan sulit menahan kegembiraannya. Teknik Telapak True Martial Pembalik Langit yang disebutkan Kai Warrick bukan sesuatu yang mudah tertukar dengan jurus milik orang lain. Pemuda bertopeng yang pernah mempermalukan Kai hampir pasti adalah sahabatnya.Dari cerita itu, Ryan juga mengetahui bahwa kekuatan Silva telah meningkat pesat sejak mereka berpisah. Satu jurus saja cukup untuk melukai Kai, sampai Keluarga Warrick berusaha mencari keberadaannya demi membalas dendam.'Perkembanganmu ternyata tidak kalah cepat, Silva.'Ryan sendiri telah mendapatkan berbagai kesempatan luar biasa selama berada di Benua Valorisia. Ia pun bertanya-tanya apakah Silva juga menemukan warisan atau peluang yang membuat kultivasinya melesat.Namun ada persoalan yang jauh lebih penting. Mengapa Silva datang ke Wilayah Selatan, tempat yang begitu jauh dari Kota Immortal Ascension?Silva merupakan sahabat pertama yang diperoleh Ryan di Benua Valorisia. Keduanya b
Ketika sinar pedang Ryan menyapu aula, Mordecai Hargrove merasakan sesuatu yang sudah lama tidak menghampirinya. Ketakutan. Justru karena telah hidup selama ribuan tahun, Mordecai memahami betapa berbahayanya tebasan tersebut. Esensi pedang yang memenuhi pandangannya bukan sekadar serangan kuat, melainkan kekuatan yang sudah mencapai tingkatan yang belum pernah disaksikannya. Namun ia segera menekan rasa takut itu. Jika membiarkan nyalinya runtuh, ia pasti kalah sebelum benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan. Harga dirinya tidak mengizinkan hal tersebut. 'Kalaupun harus kalah, aku akan kalah setelah menggunakan seluruh kekuatanku!' Sepersekian detik kemudian, cahaya pedang bertabrakan dengan naga-naga energi yang tersisa. Boom! Ledakan besar mengguncang Rumah Makan Heavenly Wind. Gelombang kejut menyapu jalanan di sekitarnya, menerbangkan genteng dari atap bangunan dan merobek panji-panji yang tergantung di sepanjang jalan. Para penduduk yang berada jauh dari lokasi
Mordecai Hargrove berusaha mengikuti kilatan petir yang melintas di antara puing-puing Rumah Makan Heavenly Wind. Namun bahkan dengan indra spiritualnya, ia hanya sanggup menangkap bayangan yang muncul sesaat sebelum menghilang kembali. Ryan rupanya tidak terkena serangan naga tadi. Pemuda itu menghindar menggunakan teknik gerak dengan kecepatan yang melampaui pengamatan hampir semua orang di aula. Hanya Mordecai yang mampu merasakan jejak pergerakannya, itu pun tidak cukup jelas untuk menentukan posisinya. Wajah pria tua itu berubah. Mordecai semula mengira Ryan menggunakan semacam cara untuk menyembunyikan diri. Namun jejak petir yang berkali-kali melintas membuktikan bahwa pemuda tersebut memang sedang bergerak, bukan menghilang melalui ruang. Perbedaan itu justru membuatnya semakin terkejut. 'Bagaimana mungkin seorang Kultivator Ranah Creation bergerak secepat ini? Bahkan banyak ahli Ranah Star Sealed tahap awal tidak mampu melakukannya!' Kecepatan seperti itu biasanya
Ryan sama sekali tidak melirik naga energi yang sedang menerjang ke arahnya. Bahkan raungan makhluk itu tidak mengalihkan perhatiannya sedikit pun. Perhatiannya tetap tertuju kepada Kai Warrick yang berusaha melarikan diri. Saat pemuda itu baru mengambil beberapa langkah, tangan Ryan sudah bergerak. Gerakannya sekilas tampak biasa, tetapi kecepatannya jauh melampaui kemampuan Kai untuk bereaksi. Sebelum naga bentukan Mordecai Hargrove mencapai sasaran, telapak Ryan lebih dahulu menyambar wajah Kai. Plak! Jeritan memilukan menggema begitu keras hingga terdengar ke penjuru Kota Heavenly Capital. Tubuh Kai terangkat dari lantai, lalu dibanting keras hingga terdengar dentuman yang membuat para pelanggan tersentak. Wajahnya berlumuran darah. Hidung Kai patah dan miring ke samping, sementara tulang pipinya amblas akibat hantaman tersebut. Beberapa giginya yang masih tersisa ikut terlepas. Ia tergeletak di lantai, hanya mampu mengeluarkan erangan lemah dari mulut yang dipenuhi
Mordecai Hargrove bukan orang yang gemar mencampuri urusan kekuasaan. Meskipun sudah lama tinggal bersama Keluarga Warrick, ia tidak pernah membantu mereka memperluas wilayah atau menyingkirkan keluarga pesaing. Janjinya kepada kepala keluarga itu hanya satu: melindungi keturunan langsung Keluarga Warrick selama seratus tahun. Karena itulah Mordecai jarang terlihat turun tangan. Selama anggota keluarga tersebut tidak menghadapi bahaya yang mengancam nyawa, ia lebih memilih berdiam diri. Namun keberadaannya saja sudah cukup membuat kekuatan lain berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengan Keluarga Warrick. Selama beberapa dekade, keluarga tersebut mampu mempertahankan kedudukannya sebagai salah satu kekuatan yang disegani di Kota Heavenly Capital. Tidak banyak orang berani mengusik keluarga yang memiliki pelindung seorang ahli Ranah Star Sealed. Mordecai sebenarnya tidak menyukai perangai Kai Warrick. Pemuda itu terlalu sombong, gemar bertindak sewenang-wenang, dan serin







