MasukDi langit, sosok berjubah hitam turun perlahan. Tidak terburu-buru, tidak ada urgensi dalam gerakannya. Pria tua dengan tubuh kurus yang sama sekali tidak mencerminkan tekanan yang menguar dari setiap langkahnya. Matanya cekung dan tajam, dan di dalamnya ada sesuatu yang sudah lama tersimpan dan baru sekarang menemukan sasaran untuk dilepaskan."Tuan Tobias!" Felix Skye memanggil dari tempatnya berdiri. Suaranya mengandung kelegaan yang tidak disembunyikan.Tobias Vane tidak merespons dengan kata-kata. Matanya menemukan Felix Skye, dan tanpa peringatan apapun, telapak tangannya melayang.PLAK!Felix Skye terpelanting ke samping. Tulang-tulangnya berderit dari benturan yang lahir dari seseorang lima level di atasnya. Dia tidak jatuh karena refleks yang sudah terlatih selama bertahun-tahun, tapi butuh dua langkah penuh untuk menemukan keseimbangan kembali, dan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya setelah itu.Tobias Vane menatapnya dari atas."Satu kultivator Primordia
BOOM!Ryan mengangkat kakinya dan menendang ke arah tongkat yang bergerak turun. Tendangan itu tidak memblokir sempurna, tapi cukup untuk menggeser sudut serangan Felix Skye. Tongkat emas-ungu itu meleset beberapa sentimeter dari kepala Ryan dan menghantam tanah di sisinya. Batu-batu di sekitar titik benturan retak dan menyebar ke segala arah.Felix Skye terdorong setengah langkah ke belakang dari reaksi benturannya.Ryan menggunakan jarak yang terbuka itu untuk menarik napas dan menilai.'Kekuatan dan ketahanan fisik, aku tidak bisa menang di sana. Esensi Pedang Abadi bisa menekannya, tapi tidak cukup untuk mengakhiri ini sendirian.'Itu fakta yang tidak bisa dipungkiri. Felix Skye adalah ahli Ranah Creation tingkat tiga dalam kondisi yang masih jauh dari hancur, dan meski sudah terluka dari serangan pertama tadi, perbedaan fondasi antara keduanya tetap nyata. Ryan sudah menguji apa yang ingin dia uji.Tetua Laurel muncul di sisinya."Tuan Muda, sisanya serahkan padaku."Ryan mel
"Pedang Pembunuh Waktu!"Hukum temporal meledak dari mata pedang Ryan. Di dalam jalur serangan itu, waktu terasa sedikit lebih rapat, sedikit lebih berat, tidak kooperatif terhadap siapapun yang berdiri di dalamnya. Bukan serangan yang membunuh langsung, tapi serangan yang membuat pertahanan menjadi lebih lambat dari yang seharusnya, tepat cukup untuk menciptakan celah.Felix Skye merasakan perubahan itu. Keningnya berkerut, langkahnya terhenti sesaat. Dia mengangkat tongkat emas-ungunya untuk menahan, tapi ada sesuatu dalam serangan itu yang tidak bisa sepenuhnya diblokir dengan kekuatan fisik semata.Mereka terdorong terpisah lagi.Ryan menarik napas. Dalam sepersekian detik dia sudah mengevaluasi.'Kekuatan fisik dia luar biasa. Pertarungan jarak dekat terlalu menguntungkan dia.'Dia bergerak mundur, memberi jarak.Dari dalam tubuhnya, sesuatu bergerak merespons keputusan itu. N
"Serangan lemah seperti itu?"Felix Skye mendengus pendek. Matanya mengikuti garis pedang yang terangkat itu seperti menonton orang yang salah mengangkat barang berat, lebih tertarik pada gerakannya daripada ancamannya. Dalam benaknya, dia sudah menghitung setidaknya tiga cara untuk menghentikan serangan sekelas ini tanpa perlu menggerakkan satu kaki pun.Di belakang Ryan, Aster Dread berdiri dengan alis turun dan mulut setengah terbuka, matanya tidak berpindah dari pedang yang terangkat itu. Ketika Ryan kembali tadi, auranya terasa berbeda, lebih berat, lebih dalam dari sebelumnya. Tapi gerakan yang sedang disiapkan di depannya ini tidak mencerminkan hal itu sama sekali. Tidak ada tekanan yang keluar. Tidak ada aura yang bergolak. Hanya seorang pria yang mengangkat pedang dengan cara yang terlihat hampir tidak berbahaya.'Apa yang sedang dilakukannya?'Ryan tidak merespons ejekan siapapu
Fernando Chester sudah bergerak bahkan sebelum Ryan selesai berdiri dari kursinya.Kurang dari dua jam kemudian, semua anggota Sekte Slaughter yang masih bisa digerakkan sudah berdiri di lapangan latihan. Formasi mereka tidak sempurna. Tapi ada sesuatu di sana yang tidak bisa dibeli dengan uang atau dipaksakan dengan perintah, kesiapan yang datang bukan dari takut, tapi dari memilih.Ryan berdiri di depan mereka semua dan tidak berbicara dulu.Dia menatap wajah-wajah itu satu per satu. Tidak ada satu pun yang perlu dipaksa untuk berdiri di sana. Banyak di antara mereka adalah kultivator yang seumur hidup tidak pernah punya sekte, tidak pernah punya nama besar yang jadi tameng, tidak pernah punya sumber daya yang mengalir tanpa harus berjuang keras mendapatkannya. Mereka sudah terbiasa jadi yang paling lemah di manapun mereka berada, yang paling mudah disingkirkan, yang paling tidak diperhitungkan.Sampai sekarang."Klan Spiritum Sanguis mengepung Pulau Iblis Darah dan memperlakuka
Aroma darah menyambut Ryan bahkan sebelum bangunan markas sekte terlihat.Bukan aroma pertarungan yang baru saja terjadi. Ini aroma yang sudah ada cukup lama untuk meresap ke udara, ke batu, ke tanah di sekitarnya. Sudah berhari-hari.Ryan mempercepat langkah.'Klan Spiritum Sanguis.'Mereka sudah menemukan jejaknya dan bergerak. Pulau Iblis Darah yang mestinya berada di luar perhatian utama mereka karena letaknya yang jauh dari wilayah barat ternyata tidak cukup jauh. Entah dari mana bocornya, tapi kenyataannya sudah di sini. Tidak ada gunanya memikirkan dari mana sekarang.Di persimpangan menuju markas, seseorang berlari dari arah tambang.Aster Dread.Pria itu mengenali Ryan dari jarak yang cukup jauh dan langsung mempercepat. "Tuan Muda! Saya baru dari tambang, belum tahu situasi di atas.""Ikuti aku."Ryan tidak melambat sedikit pun. Aster Dread menyesuaikan langkah di belakangnya tanpa perlu diperintah dua kali.**Di dalam aula utama markas Sekte Slaughter, udara terasa leb
Ryan tidak membuang waktu dan mengeluarkan batu spirit bermutu tinggi. Mata pemilik kios itu berbinar. Ia mengusap tangannya dan mengambil batu spirit itu. "Ini milikmu, anak muda. Aku suka berurusan dengan orang-orang yang jujur sepertimu." Ryan tersenyum tipis. Pemilik kios ini benar-benar tah
Itu Sphinx!Tubuh kuning kecil itu melesat di udara seperti kilatan api. Para penonton tercengang melihat makhluk yang biasanya selalu bersantai di bahu Ryan itu kini menyerbu maju tanpa ragu. Bulu-bulu oranye di sekujur tubuhnya berdiri tegak, berkilau ditimpa cahaya matahari."Sphinx, kembalila
Sebelum kedua lelaki tua itu sempat bergerak, Ryan sudah berdiri terlebih dahulu dan berjalan ke arah mereka. Langkahnya ringan namun penuh percaya diri. Jarum perak bercahaya dingin di tangannya saat dia berkata dengan nada yang membuat semua orang beku. "Minta ayahmu untuk datang ke sini. Dia
Wajah Luis Kincaid memucat drastis mendengar tuntutan itu. Ekspresi ketakutan kini jelas terlihat di wajahnya yang biasanya angkuh. Dengan tangan gemetar, ia menggertakkan gigi dan mencoba melangkah maju. Dalam hatinya, ia berpikir bahwa ia masih bisa maju dua langkah lagi, setidaknya untuk meny







