LOGINWendy tidak memperhatikan kata-kata mereka. Tangannya yang ramping bergerak sedikit, dan token giok di tangan leluhur Sekte Absolute Zero muncul di tangannya.
Senyum muncul di wajahnya saat dia melihat ke arah Kota Spiritum."Absolute Zero Palace telah berada dalam kekacauan terlalu lama. Sudah waktunya untuk memberi tahu orang-orang Benua Valorisia bahwa kita telah kembali.""Benua Valorisia, mimpi burukmu kembali!"Senyumnya menghilang, tetapi sentuhan ke“Paman Guru Walton, muridmu ternyata pandai menyembunyikan kekuatannya.”Lucan Jory menatap Ryan yang masih berdiri di arena dengan senyum getir.Walton Crane langsung tertawa puas. “Hahaha! Sudah kubilang muridku genius tiada tanding!”Lucan meliriknya. “Paman Guru benar-benar sudah tahu sebelumnya?”Tawa Walton sempat tersendat. “Tentu saja!”Beberapa kepala puncak langsung memalingkan wajah. Tidak seorang pun percaya.Walton sendiri baru mengetahui kekuatan Ryan setelah melihat pertandingan tadi, tetapi mana mungkin ia mengakuinya sekarang?Ia menepuk pahanya. “Sudahlah. Yang penting kalian jangan lupa taruhan kita. Kitab rahasianya siapkan sekarang!”Senyum Lucan langsung kaku. “Paman Guru, bukankah tadi kita hanya bercanda?”“Bercanda?” Walton berdiri. “Ketika yakin muridku akan kalah, kalian semua bersemangat sekali. Sekarang tiba-tiba jadi bercanda?”Salah seorang kepala puncak berdeham. “Saudara Walton, kitab yang kami pertaruhkan bukan barang biasa.”“Justru karena bukan bara
Ina menyaksikan kemenangan Ryan dari tribun dengan tenang. Senyum kecil bahkan terbit di bibirnya. Ia sudah tahu Ryan bukan Kultivator Ranah Creation biasa. Sebelum mereka tiba di Divine Sword Palace, Ryan pernah menghabisi kultivator pada ranah itu hanya dalam sekejap.Pertandingan berikutnya pun tidak jauh berbeda. Ryan selalu mengakhirinya dengan satu serangan pedang kayu, tanpa gerakan berlebihan. Ada lawan yang terpental dari panggung, ada yang pedangnya terlepas, dan ada pula yang memilih menyerah ketika ujung pedang kayu berhenti sejengkal dari wajahnya.Bagi Ryan, menghadapi murid-murid itu terasa seperti menyaksikan anak kecil bermain. Ia mulai bosan, tetapi tetap menyelesaikan setiap pertandingan sesuai aturan. Bahkan teknik yang digunakan lawan-lawannya belum cukup membuatnya mengeluarkan kekuatan sebenarnya.Di tribun kehormatan, Walton Crane justru semakin bersemangat. Murid barunya sudah memasuki lima puluh besar. Tinggal melewati tiga puluh peringkat lagi sebelum
Tatapan Harlow Linden langsung berubah mengejek ketika melihat Ryan berdiri di seberangnya.“Ryan, aku sudah mendengar tentangmu. Tapi apa gunanya disebut genius kalau hari ini kau tetap kalah di tanganku?”Harlow tersenyum penuh semangat. Bayangan tentang dirinya mengalahkan seorang genius yang baru saja mengguncang Divine Sword Palace membuatnya semakin bernafsu bertarung. Genggamannya pada gagang pedang pun mengencang.Ryan tidak menanggapi ejekan itu. Ia hanya mengeluarkan sebilah pedang kayu.Bagi Ryan, menghadapi Kultivator Ranah Creation seperti Harlow tidak jauh berbeda dengan orang dewasa yang harus melawan anak kecil. Ia sama sekali tidak membutuhkan senjata sungguhan.'Kalau aku menggunakan pedang tajam, mereka mungkin harus membersihkan darah di arena sebelum pertandingan berikutnya.'Namun Harlow justru menganggap pedang kayu itu sebagai penghinaan.“Teknik Pedang Hujan Seribu!”
Sebagian murid Divine Sword Palace memandang Ryan dengan iri, tetapi jauh lebih banyak yang diam-diam merasa senang melihat nasibnya.Siapa di antara mereka yang tidak mengenal reputasi Walton Crane?Selama bertahun-tahun, hampir semua murid berbakat yang mengakuinya sebagai guru justru mengalami kemajuan lambat. Di mata banyak orang, Ryan hanya akan menjadi korban berikutnya.Seorang genius yang awalnya bersinar kemungkinan besar akan berubah menjadi orang biasa.Pikiran itu memberi mereka sedikit hiburan.Walton Crane tentu menyadari tatapan para murid. Ia hanya mendengus dingin.Seketika, orang-orang yang tadi berbisik langsung menundukkan kepala.Mereka boleh membicarakannya diam-diam, tetapi tidak seorang pun cukup bodoh untuk mengejek Walton terang-terangan.“Paman Guru Walton, kenapa kau datang sepagi ini?”Sera Winterhall berjalan mendekat bersama Ina.Ia memang sengaja membaw
Menembus Ranah Star Sealed bukan sesuatu yang bisa dicapai hanya dengan pil obat.Kalau semudah itu, para Kultivator Ranah Star Sealed pasti sudah berkeliaran di setiap sudut dunia.Ketika leluhur Divine Sword Palace yang dulu membawa Walton Crane ke sekte wafat, ia meninggalkan satu aturan khusus.Tidak seorang pun boleh mencampuri Walton Crane dalam urusan menerima murid.Bahkan Kepala Istana pun tidak berhak melarangnya.Walton sadar bakat kultivasinya buruk. Karena itu, setelah bertahun-tahun, ia tidak lagi terlalu memaksakan diri mengejar terobosan.Sebaliknya, ia terus menerima murid.Awalnya memang ada beberapa murid berbakat yang mengakuinya sebagai guru.Sayangnya, mereka semua akhirnya pergi.Yang lebih parah, murid-murid berbakat itu justru berkembang lebih lambat dibandingkan rekan seangkatan mereka.Ryan sudah memahami penyebabnya selama dua hari terakhir.Walton Crane memberikan terlalu banyak teknik kultivasi kepada murid-muridnya.Kitab pedang, teknik tubuh, teknik per
Keadaan di sekitar istana es itu sama sekali berbeda dari dunia luar.Kalau bagian luar gunung merupakan tanah beku yang hampir tidak memiliki energi spiritual, wilayah di sekitar istana justru dipenuhi energi yang sangat pekat. Bahkan sebagian energi spiritual sudah mencair dan membentuk sungai yang membelah hamparan gletser.Di atas gerbang istana terukir beberapa kata besar.Istana Absolute Zero.Tidak ada seorang pun di dunia luar yang menyangka bahwa kebangkitan Istana Absolute Zero kuno justru dimulai dari tempat terpencil seperti ini.Lebih mengejutkan lagi, wilayah tersebut menyimpan kesempatan dan kekayaan hampir tidak terbatas. Kalau para kultivator kuat mengetahui apa yang tersembunyi di sini, mereka pasti akan berebut datang.Di luar istana, sebuah arena bela diri luas dipenuhi suara dentang pedang.Seratus murid perempuan sedang memperagakan tarian pedang secara serempak.Pedang di tangan mereka memancarkan cahaya putih kebiruan. Setiap ayunan meninggalkan jejak embun







