MasukMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Sendy Zen atas hadiah Kopinya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
Henry memutar pikiran. Apakah orang tua gadis ini menyembunyikan sesuatu selama ini? Apakah ada seorang anak laki-laki yang lahir diam-diam tanpa sepengetahuannya?Tidak ada penjelasan lain yang masuk akal. Seorang gadis dalam kondisi seperti ini, setengah alam, setengah manusia, dibelenggu tanpa bisa bergerak, masih memanggil nama seseorang dengan nada seperti itu. Itu bukan panggilan biasa. Itu panggilan seseorang yang masih punya alasan untuk bertahan.Henry Celestedragon segera berbalik."Sebelum memindahkannya," ucapnya kepada pelayan tua yang masih berdiri di belakangnya, "cari tahu dulu segala sesuatu tentang dataran bawah tempatnya berasal. Semua orang yang pernah berhubungan dengannya. Semua yang bisa kamu temukan.""Siap, Tuan."Pelayan tua itu mengangguk dan langkahnya menghilang ke dalam kegelapan koridor.Hanya Henry Celestedragon yang tersisa, dan Luna Celestedragon yang masih terbungkus bayangan naga yang tidak berhenti berputar.**Di area formasi teleportasi Sekte
"Tuan, apakah tempat ini benar-benar tidak mampu menahannya?"Pelayan tua itu menatap Luna Celestedragon yang masih terbungkus bayangan naga dengan mata tak percaya. Rantai-rantai batu kuno yang melingkupinya sudah aktif sejak sebulan lalu, namun bayangan itu tidak melemah sedikit pun. Justru semakin pekat dari hari ke hari.Henry Celestedragon menatap gadis itu beberapa saat sebelum menjawab."Aku meremehkan garis darahnya." Suaranya datar. "Waktu itu aku ceroboh, aku membiarkan mereka membawanya ke Langit Biru begitu saja.""Kalau sejak awal aku tahu kekuatannya akan sampai di titik ini, sudah lama kukirim orang ke sana untuk membereskannya.""Tapi sekarang..."Henry Celestedragon tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak perlu."Membunuhnya sekarang sudah sangat sulit." Dia berbalik perlahan dari Luna. "Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah mengekangnya selamanya.""Aku baru bisa benar-benar
Ryan mengalihkan pandangan ke bawah, ke apa yang tersisa dari Korvan. Di tengah gundukan daging dan tulang yang sudah tidak berbentuk, ada satu benda aneh.Tulang rusuk seukuran jari, mulus dan tidak tergores, seolah pertarungan tadi tidak menyentuhnya sama sekali.Ryan mengerutkan dahi. Seluruh tubuh Korvan hancur, tapi ini tetap utuh?Ia memungutnya dan menyimpan ke dalam sakunya. Belum waktunya menganalisis. Yang terpenting sekarang adalah keluar.Selvia masih berdiri di antara pepohonan gelap ketika langkah kaki Ryan mendekat.Saat melihat sosoknya muncul dari kegelapan, hidup, utuh, dengan Pedang Iblis Darah tersarung di punggung, sesuatu di dalam dadanya runtuh begitu saja. Semua yang ia tahan sejak masuk ke alam rahasia ini lepas dalam satu tarikan napas.Ia tidak berkata apa-apa. Hanya melangkah maju, kemudian berlari, dan memeluk Ryan erat-erat dengan kedua tangannya. Bah
Tidak ada waktu untuk bereaksi. Seratus Langkah Mengejar Petir bukan teknik yang memberi lawan kesempatan. Dalam hitungan sepersekian detik, Ryan sudah berada di belakang Korvan, dan Pedang Iblis Darah melesat bersih membelah lengan yang mencengkeram Selvia tepat dari pangkal bahu. BRAK! Darah menyembur ke udara. Selvia jatuh, namun sebelum tubuhnya sempat menyentuh tanah, Ryan sudah berada di sisinya. Satu tangan menangkapnya, satu tangan lain menggenggam Pedang Iblis Darah yang masih basah. "Pakai Zirah Sisik Surgawi dan menjauh." Suaranya datar. Singkat. Selvia tidak bertanya. Cahaya perak langsung membungkus tubuhnya saat ia mundur ke balik pepohonan. Kilatan merah darah melesat pergi. Korvan melarikan diri ke dalam hutan. Ryan mengangkat kepala. 'Masih mau kabur?' Ia melesat. Dalam hitungan napas, jarak yang mestinya butuh waktu lama sudah terpangkas habis. Ryan muncul tepat di depan Korvan, memblokir jalur pelariannya, dan melepaskan sinar pedang keemasan yang
Suara itu terdengar seperti orang yang menahan tangis terlalu lama. Selvia Windson berlari dari arah yang berlawanan, rambutnya berantakan, jubahnya masih berbekas dari kondisi ketika Ryan menemukannya di dalam sangkar tadi. Dia sudah menunggu di tempat persembunyian yang Ryan siapkan. Tapi terlalu lama tanpa kabar. Ledakan-ledakan itu terasa bahkan menembus formasi pelindung yang Ryan pasang dengan susah payah, sampai batu tempatnya bersandar bergetar berulang kali. Selvia tidak bisa lagi diam. Dia tidak tahu situasinya secara jelas. Tapi ia tahu, diam di tempat sementara Ryan ada di sana sendirian adalah sesuatu yang tubuhnya menolak untuk lakukan. Di dasar lubang, kepala Ryan terangkat. Ia melihat Selvia yang berlari panik di kejauhan. Dan ia tersenyum. Bukan senyum yang tertekan. Bukan senyum yang dipaksakan. Melainkan senyum yang muncul dari seseorang yang baru mendapat kabar yang sudah lama ia tunggu. Korvan melihat senyum itu dan rahangnya mengencang. Tidak suk
Tebasan Ryan mengguncang domain itu.Korvan merasakan getaran itu menjalar ke seluruh telapak tangannya yang menerima serangan. Bukan guncangan ringan. Getaran itu cukup untuk membuat lapisan dasar domainnya berderit selama setengah detik.Ini seharusnya tidak mungkin. Kultivator Creation biasa tidak akan mampu membuat domain miliknya bergetar sama sekali. Tapi domain ini memang tidak stabil sejak awal, dan manusia di depannya bukan kultivator Creation.Tapi perbedaan dua ranah tetaplah dua ranah. Getaran sesaat tidak akan mengubah hasil akhirnya.Telapak tangan merah darah yang menutupi seluruh langit di dalam domain itu tidak hancur. Ia hanya goyah sebentar sebelum kembali menekan ke bawah dengan kekuatan yang tidak berkurang.Ryan melihat telapak raksasa itu mendekat dan ia tidak mengelak sama sekali.Seluruh kapasitas fisik tubuhnya yang sudah ditempa melampaui batas normal reaktif sepe
Saat Zodiac Hellheim mengatakan ini, semua orang di lembah langsung meledak dalam kegemparan. Bisikan-bisikan ketakutan dan kemarahan memenuhi udara."Mengakui?" seru salah seorang dengan tidak percaya.Tak seorang pun yang menyangka bahwa seorang jenius seperti Zodiac Hellheim yang memiliki statu
"Kurang ajar! Bocah sialan! Kau harus segera dihukum!" Wajah sang Alkemis berubah merah padam, pembuluh darah di pelipisnya menonjol dengan jelas. Aura mengerikan mengalir dari tubuhnya seperti gelombang panas yang membakar udara di sekitarnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa seorang junior yang
"Liontin giok Senior Yulaw Hodge ada padamu. Apakah Senior Yulaw Hodge sudah pulih dari penyakitnya?" tanya Master Alkimia Ling Yi dengan nada penuh harap. "Senior Yulaw Hodge tidak pernah sakit," jawab Ryan dengan nada tenang namun penuh makna. "Adapun cincin ketua sekte, itu diberikan kepadaku o
"Kau seharusnya mengerti mengapa aku tidak membunuhmu, kan?" Suara acuh tak acuh Ryan terdengar, namun ada nada ancaman yang tak terbantahkan di dalamnya. "Aku tidak tahu!" Orang tua berwajah bijak itu menatap pedang dingin yang memancarkan cahaya merah darah dan mencibir. Meski kondisinya menye







