MasukMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Sendy Zen atas hadiah Coklatnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Eny Rahayu atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Akumulasi Hadiah: 330/1000 (reset) Karena jumlah Hadiah sudah mencapai target, maka ada bab bonus setelah ini (≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
"Kalau aku tidak datang merapikan meridianmu sekarang, meridian yang baru tumbuh itu bisa putus lagi dari latihan seperti tadi," kata Ryan sambil tersenyum tipis.Ekspresi Ethan berubah seketika. Dia menatap Ryan dengan panik, dahi masih basah oleh keringat, tangan kanannya refleks meraba pergelangan tangan sendiri. "Itu kesalahanku karena terlalu ceroboh. Lalu... apa yang harus aku lakukan sekarang?""Tenang." Ryan mengulurkan tangannya, meletakkan dua jari di atas pergelangan tangan Ethan. "Setelah aku selesai merapikannya, kau tidak perlu khawatir meridianmu terluka lagi saat berlatih." "Justru cara itu akan membantu melatih meridianmu dan mempercepat pemulihanmu."Dia menatap Ethan sebentar."Yang perlu kau lakukan hanyalah bertahan terus."Ethan menghela napas lega dan mengangguk.Ryan menutup matanya.Indranya mengalir masuk ke dalam tubuh Ethan, bergerak perlahan menyusuri setiap jalur meridian yang masih rapuh. Seperti benang yang baru dipintal, mudah putus kalau ditarik te
"Untuk apa?" Divine God Raging Flame menggeleng lebih tegas. "Kau sudah mendengar cerita tentang Sekte Moon Flower." "Meski peringkat mereka ada di bawah kita, soal fondasi, kita tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka."Dia berhenti sejenak."Sekte Moon Flower adalah kunci pertumbuhan Ryan saat ini. Mengganggu prosesnya hanya akan merugikan dia, dan sama sekali tidak ada manfaatnya bagi kita."Dia berbalik menghadap semua orang.Matanya berbeda dari beberapa bulan lalu. Saat itu ada kelelahan di sana, lapisan yang terbentuk dari terlalu banyak bertahan dan terlalu sedikit bergerak maju. Sekarang lapisan itu sudah terkelupas. Yang tersisa lebih tajam, lebih terang, lebih tidak sabar dari sebelumnya."Kita sudah terlalu lama menjadi pihak yang bertahan. Sudah waktunya kita yang bergerak menyerang."Tidak seorang pun bersuara.Namun tidak ada yang perlu bersuara. Pesan itu sudah sampai.
Memang, masih ada beberapa titik kunci dalam Seratus Langkah Mengejar Petir yang belum bisa dia kendalikan dengan sempurna.Tapi setidaknya, apa yang sudah dia pahami cukup untuk meningkatkan kecepatan gerak dasarnya secara nyata. Untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.Ryan menghitung mundur dalam kepala. Setengah bulan lagi sebelum Ujian Darah Roh dimulai.Waktunya tidak banyak. Dia memutuskan untuk beralih ke prioritas berikutnya: Teknik Membakar Darah.Dasarnya sudah dia pahami dan bisa digunakan secara kasar. Tapi untuk benar-benar menyatukan Api Mistik ke dalam teknik itu, dibutuhkan lebih dari sekadar pemahaman di permukaan. Api itu harus meresap ke dalam meridian, ke dalam darah, ke dalam setiap serat tubuhnya, sampai keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa lagi dipisahkan satu sama lain.Dia duduk bersila dan mulai membentuk segel tangan.Pola ungu-emas muncul merayapi permukaan k
Sehari kemudian, Ryan menatap bola api kecil yang berputar di antara jari-jarinya sambil tersenyum. Warnanya sudah berubah. Dari ungu muda yang samar, kini menjadi hijau keabu-abuan yang tampak biasa secara kasat mata. Tapi aura yang dipancarkannya hampir dua kali lipat lebih kuat dari sebelumnya. Divine God Beast Tamer tidak langsung bersuara. Ada jeda yang cukup panjang sebelum akhirnya dia bersuara. "Benar-benar berhasil." Nada tidak percayanya tidak bisa disembunyikan. "Kau ini dari mana sebenarnya?" "Kalau bukan karena terlalu banyak menyerap daging binatang iblis bisa merusak fondasi kultivasimu, sungguh aku ingin melihatmu melahap berbagai jenis binatang dan menghitung berapa banyak kemampuan yang bisa kau kumpulkan..." Ryan menyimpan Benih Api itu kembali. Matanya sudah berbinar ke arah bangkai berikutnya. Dia melambaikan tangannya lagi. ** Sepuluh hari berlalu. Ryan yang duduk bersila tiba-tiba membuka kedua matanya. Seberkas cahaya ungu melesat dari pupilnya,
"Perlu kau ketahui, tidak semua orang bisa menggunakan Roh Binatang Iblis untuk membentuk avatara," ujar Divine God Beast Tamer dengan nada serius. "Syaratnya adalah fondasi yang cukup kuat. Jika tidak, ada risiko roh itu malah berbalik dan merebut alih tubuh utamanya." Dia berhenti sejenak. "Tapi untuk kondisi tubuh dan fondasi kultivasimu saat ini, itu bukan masalah sama sekali." Ryan mengangguk pelan. "Lalu berapa lama waktu yang diperlukan sebelum roh itu bisa digunakan?" "Tergantung orangnya." Singkat. "Untuk sekarang, lupakan dulu soal itu. Serahkan kendali tubuhmu kepadaku. Aku yang akan menyegel makhluk itu ke dalamnya." Jeda pendek. "Kita lihat juga apakah Naga Darah dalam tubuhmu bisa bereaksi terhadapnya." Ryan merasakan sedikit kekecewaan, tapi langsung dia tepis. Kekuatan Roh Binatang Iblis itu akan tumbuh seiring perkembangannya sendiri, jadi menunggu bukan masalah besar. Dan bahkan jika belum siap dijadikan avatara, masih ada opsi lain yang tidak kalah menar
Petugas itu memproses pesanan tanpa suara, bergerak dua kali lebih cepat dari biasanya.Wyrm Zamrud kecil muncul dari belakang rak dalam kandang portable yang jauh lebih kecil dari kandang pavilion, dan Ryan menerimanya dengan tangan bebas.Kemudian dia menyebutkan beberapa nama binatang iblis lagi. Petugas mencatat semuanya tanpa bertanya.Ryan mengeluarkan kartu murid sejati yang diberikan kepadanya dan meletakkannya di atas meja.Berita tentang kejadian tadi akan menyebar ke seluruh sekte dalam waktu singkat. Tapi Ryan tidak ingin memperlihatkan kartu murid rahasianya terlalu cepat. Biarlah dulu. Kartu murid sejati masih punya saldo yang bisa dipakai.Petugas kasir menatap kartu itu.Mukanya pucat dua tingkat. Matanya sedikit melebar sebelum dia berhasil mengontrolnya kembali.'Murid sejati.' Dia mengatur napasnya sambil mengumpulkan semua bahan yang dipesan. 'Bukan cuma murid baru yang belum dapat
Suara familiar yang telah lama ditunggunya akhirnya terdengar. Wajah Ryan seketika berseri, kegembiraan tak terbendung terpancar dari matanya. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman penuh kepercayaan diri. "Aku bersedia!" serunya lantang tanpa sedetik pun keraguan. Jika lelaki tua berwajah
"Aku ingin tahu," Ryan bertanya hati-hati, "apakah nama keluarga Mastermu adalah Hodge?" "Itu bukan nama keluarga Masterku," jawab gadis itu polos sambil menggelengkan kepala. "Klan Spirit Blood?" Ryan mencoba lagi. Begitu mendengar kata-kata 'Klan Spirit Blood', ekspresi gadis itu langsung berub
Senior Rin tidak membuang-buang waktu dengan basa-basi dan langsung ke intinya. "Luna, kamu sudah mengikutiku selama bertahun-tahun. Aku tahu kamu memiliki banyak keraguan dan pertanyaan yang tidak terjawab di hatimu, jadi sekarang aku akan memberimu dua pilihan." Gadis itu menatap gurunya dengan p
Pria paruh baya itu jelas tidak menyangka pemuda misterius bertopeng itu akan berbicara dengan nada seperti itu—begitu lancang dan tidak menunjukkan rasa hormat sedikitpun. Dia telah mengikuti Yulaw Hodge ke Alam Rahasia Spirit Blood berkali-kali selama bertahun-tahun, tetapi ini adalah pertama kal







