로그인Sore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Akumulasi Hadiah: 365/1000 Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
"Oh iya, aku Ryan, salam kenal."Suara santai itu membuat dada Wade Samian seperti dihantam palu.Ia sama sekali tidak menyangka akan ada orang yang muncul di dekatnya tanpa peringatan. Yang membuatnya lebih waspada, pemuda itu datang tanpa aura yang sempat tertangkap indranya.Sebagai putra Kepala Lembah Myriad Demon, Wade Samian memiliki indra yang jauh lebih tajam daripada kultivator biasa. Namun pemuda berpedang hitam itu seolah baru saja keluar dari celah udara, tanpa langkah, tanpa jejak, tanpa suara.Di bawah telapak kaki Wade, Feldora Sink membelalakkan mata."Ryan...?"Dia tidak pernah menyangka akan bertemu Ryan di tempat seperti ini. Yang lebih mengejutkan, aura Ryan jelas sudah berbeda dari sebelumnya.Ranah Dao Integration.Kenaikan itu memang mengejutkan. Namun setelah melihat monster-monster di sekeliling mereka, hati Feldora tetap tenggelam.Apa kenaikan itu benar-benar cukup untuk mengubah keadaan?Darah kembali menyembur dari mulut Feldora. Dadanya naik turun be
'Rombongan sebanyak ini, dan semuanya berdarah iblis,' pikir Ryan sambil memperlambat langkah. 'Tempat ini benar-benar sarang serigala.' Ia menajamkan indranya, memastikan tak ada yang menyadari kehadirannya sebelum ia tahu apa yang sedang terjadi di depan sana.Meski Ryan punya standar yang tinggi, ia harus mengakui bahwa Feldora Sink memang kuat. Terlebih lagi, dari cerita Xavier Dragvine dulu, latar belakang Feldora Sink tidaklah biasa. Kemungkinan besar dia berasal dari keluarga kerajaan salah satu dari lima wilayah di Benua Valorisia. Dulu Feldora Sink sempat berkata ingin bertemu Ryan di Kompetisi Rising Dragon, tapi tampaknya keduanya tak sempat bertatap muka. Rupanya keluarga kerajaan yang menaungi Feldora Sink pun mengincar Tablet Reinkarnasi milik Mordane Lethe.Sepuluh mil dari tempat itu, darah tercecer ke mana-mana. Mayat bahkan lebih banyak lagi.Seorang pemuda berambut hijau menginjak tubuh seorang pemuda lain yang bersimbah darah, senyum bermain di bibirnya. Pemu
Rindy Snowfield menatap dingin deretan huruf pada papan perunggu itu, Kampung Halaman Demon Emperor. Jarinya terangkat sedikit, seolah ingin menyentuh ukiran itu, lalu berhenti di udara.Entah mengapa, dia merasa tempat ini punya kaitan dengan dirinya sendiri, meski tak bisa menjelaskan dari mana perasaan itu datang.Ada sesuatu yang terasa akrab dari hawa maut yang menyelimuti reruntuhan ini, seolah sebagian dari dirinya pernah berdiri di sini jauh sebelum dia dilahirkan.Ia menoleh ke arah Yuriel Leviathan yang berdiri di sampingnya, lalu menghela napas pelan.Bagaimana keadaan Ryan di Kompetisi Rising Dragon sekarang? Rindy yakin dia pasti termasuk dalam empat puluh sembilan pemenang teratas.Ia sendiri memang sudah masuk ke alam rahasia, tapi tak sempat berbaur dengan siapa pun, hanya mengikuti perintah Yuriel dan langsung menuju Ngarai Nether.Baru di sinilah dia tahu bahwa Ryan ikut serta dalam Kompetisi
"Tanda Heavenly Flame? Akademi Heavenly Flame?" Brentley mengucapkannya perlahan, seolah sedang menimbang."Bukan tidak mungkin. Nanti bila kau sudah masuk ke Akademi Heavenly Flame, kau bisa menyelidiki hal ini pelan-pelan."Ryan tenggelam dalam pikirannya. Tatapannya kosong menerawang ke arah hamparan kabut di bawah mereka.'Segala hal di sekelilingku ini seakan terikat pada sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kubayangkan.''Sepertinya Keluarga Pendragon dari Langit Biru memang tidak sesederhana kelihatannya.''Kalau tidak, bagaimana mungkin seorang anak yang lahir di Kota Golden River bisa terseret sampai ke situasi seperti ini?' 'Bagaimana mungkin aku memiliki Garis Darah Reinkarnasi yang menentang langit itu?'Brentley tersenyum tipis."Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir. Urusan Kerajaan Ilahi masih sangat jauh.""Kau mungkin baru akan bersinggungan dengannya setelah mencapai Ranah Star
Ryan terpaku di tempatnya. Tubuhnya kaku, bahkan untuk sekadar mengedipkan mata. Bahkan Mata Iblis di dahinya ikut bergolak pelan, seolah baru saja tersentuh oleh sesuatu yang asing baginya sendiri. Ini adalah hal yang bahkan tidak diketahui oleh Mata Iblis. Setelah hening cukup lama, Brentley Holt akhirnya bersuara. "Kau masih menginginkan Tablet Reinkarnasi itu?" tanyanya perlahan. "Sekalipun taruhannya adalah nyawa Kakak Seperguruanmu, Jessica?" Ryan terdiam. Napasnya terasa berat, dadanya naik turun lebih lambat dari biasanya. Tablet Reinkarnasi memang penting, kunci untuk membangunkan lebih banyak kekuatan dalam tubuhnya. Tapi ia tidak mungkin membiarkan Jessica Neuro mati demi benda itu. "Guru," katanya akhirnya, "apakah benar tidak ada cara lain untuk menyembuhkan penyakit Kak Jessica?" "Tidak ada." Brentley menggeleng pelan. "Bahkan para tabib terbaik di seluruh Benua Valorisia pun angkat tangan." "Kecuali... Kerajaan Ilahi di Benua Valorisia." Ryan mengerutkan dahi
Ryan menunduk ke bawah. Saat itu mereka sudah tiba di atas sebuah lembah yang diselimuti kabut kelabu. Kabut tebal itu memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang, sedingin liang kubur yang tak pernah tersentuh matahari. Inilah hawa maut yang sesungguhnya. Brentley melepaskan indra spiritualnya yang perkasa, menyapu seluruh lembah di bawah mereka. Beberapa saat kemudian, ia berkata pada Ryan, "Ini Ngarai Nether. Sebaiknya kita bicara baik-baik dulu sebelum masuk." Ryan sedikit terkejut mendengarnya. Brentley sama sekali tak membuka mulut soal ini di hadapan kedua Tetua Agung lainnya tadi. Tapi sekarang, sepertinya dia justru hendak membuka semua kartunya. "Kau datang ke Sekte Moon Flower demi Tablet Reinkarnasi, kan?" Sorot mata Brentley dingin saat menatap Ryan. "Ya," jawab Ryan tegas, tanpa ragu sedikit pun. "Kenapa kau menginginkan Tablet Reinkarnasi? Apa kau tahu, Sekte Moon Flower telah menjaga Tablet Reinkarnasi secara turun-temurun?" "Kami tak akan pernah menyerahk
Mata pelayan itu langsung berbinar melihat Batu Spirit berkualitas tinggi tersebut. Dia dengan cepat menyimpannya dan tersenyum lebar. "Tentu saja, Tuan Muda! Anda bisa menanyakan apa saja. Saya akan menjawab semua pertanyaan Anda dengan senang hati!" Ryan mengangguk sedikit, namun dalam hati dia t
Gelombang kejut menyebar ke segala arah dari titik impact-nya. Saat ini, dia telah mencapai tingkat pertama Supreme Emperor, tetapi kekuatan tempurnya sudah sebanding dengan Kultivator Ranah Demigod tingkat kelima. Dia yakin bisa mengalahkan Wutzen Wrath sendirian sekarang. Ryan menatap sisa-sisa f
"Tidak... mungkin..." desah Demon King Tigre sambil terbatuk darah. "Kekuatan apa ini? Bahkan dengan seluruh kekuatanku, aku masih tidak bisa menandingimu!" Adegan ini mengejutkan para jenderal, yang awalnya mengira bahwa Demon King Tigre dan Arthur Pendragon akan seimbang. "Ini gila," bisik Jende
Suara Brave Knight mengandung otoritas mutlak, seolah dia sedang memberikan perintah kepada seluruh dunia.Pada saat itu, gelombang energi agung mengalir ke tubuh Ryan.Energi emas murni mengalir bagai sungai deras ke dalam dantian Ryan. Setiap sel dalam tubuhnya berge







