INICIAR SESIÓNIni bab kedua pagi ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
"Mordane Lethe, berlutut!"Kalimat Ryan membuat suasana di sekeliling mereka membeku.Dalam sekejap, wajah semua orang berubah.Galen Yin dan Brentley Holt sama-sama pucat. Bahkan napas mereka sempat tertahan.Apa yang baru saja Ryan lakukan?Dia menyuruh Mordane Lethe berlutut?Itu bukan sekadar provokasi.Itu sama saja seperti menampar wajah sosok kuno yang bisa membunuh mereka semua hanya dengan satu gerakan tangan.Mordane Lethe bukan kultivator biasa. Dia bawahan Demon Emperor yang melegenda, penjaga Kampung Halaman Demon Emperor, dan sosok dari era kuno yang kedudukannya jauh melampaui bayangan para kultivator biasa.Di seluruh Benua Valorisia, siapa yang berani menyuruhnya berlutut?Tidak ada.Bahkan para tokoh puncak sekalipun belum tentu punya nyali untuk mengatakan hal semacam itu di depan wajahnya.Wajah Yordan Dragvine jauh lebih garang.Rahangnya mengeras, dan matanya dipenuhi amarah yang hampir tak bisa ditahan.Bocah ini benar-benar gila.Ryan memang selalu berani, tet
Wajah Galen Yin dan yang lainnya menjadi semakin muram. Seandainya lawan mereka kultivator biasa, bukan tak mungkin mereka melawan berbekal fondasi Sekte Moon Flower. Namun lawan mereka adalah Mordane Lethe, sosok yang dahulu berdiri di sisi Demon Emperor kuno. Sekte Moon Flower jelas tak cukup kuat. Karena itu, kalau mereka ingin menyelamatkan Mira, mau tak mau Ryan harus menyetujui permintaan lawan.Ryan sendiri tentu sudah memikirkan hal ini. Setelah hening sejenak, ia berkata kepada siluet berjubah iblis, "Aku setuju." Sebenarnya ia sudah menduga apa permintaan itu. Sekalipun Mordane Lethe tak menyebutkannya, kemungkinan besar Mata Iblis pun akan memintanya melakukan hal serupa.Mendengar itu, Galen Yin menatap Ryan dengan secercah rasa syukur di matanya. Menghadapi sosok ganjil seperti siluet berjubah iblis, seandainya Ryan menolak permintaan lawan pun, ia takkan bisa menyalahkan Ryan. Namun Ryan justru menyetujuinya!"Bagus. Tapi, aku masih punya satu ujian kecil untuk men
Siluet berjubah iblis itu menatap Ryan. Api biru di sepasang matanya berkedip-kedip, dan bibirnya perlahan membuka lalu menutup. Ia mengeluarkan suara serak yang teramat memekakkan telinga, seolah datang dari dasar jurang neraka. "Siapa kau? Kenapa energi iblis di sekeliling tubuhmu terasa begitu akrab?"Ryan berharap Mata Iblis mau melepaskan sedikit saja auranya. Namun Mata Iblis tetap membisu. Ia pun hanya bisa menjawab, "Aku mengenal Demon Emperor!"Namun begitu kalimat itu terucap, siluet berjubah iblis itu langsung dilanda amarah. Menurutnya, mana mungkin seorang bocah yang baru berumur dua puluhan mengenal Demon Emperor? Ini sebuah penghinaan! Meski begitu, ada satu hal yang ganjil. Energi iblis yang dipancarkan pemuda ini memang menyerupai aura Demon Emperor. 'Mungkinkah orang ini memperoleh sebuah harta peninggalan Demon Emperor?'Ia menatap tajam Ryan, lalu menunjuk ke arah Brentley Holt
Pada saat itu, sosok misterius berjubah iblis perlahan mengangkat tangannya.Gerakannya tidak cepat, tetapi tekanan yang muncul darinya membuat udara di sekitar Ngarai Nether terasa membeku.Di telapak tangannya, seolah ada bintang-bintang kecil yang tak terhitung jumlahnya sedang berputar. Bintang-bintang itu hancur, lalu terbentuk kembali, terus berulang tanpa henti.Energi di dalamnya bukan sekadar kuat.Itu adalah kekuatan yang berada jauh di luar jangkauan Ryan.Siluet berjubah iblis itu jelas hendak melancarkan serangan berikutnya.Wajah Brentley Holt berubah tegang.Ia menggertakkan gigi, lalu bersiap menggunakan kekuatan ruang untuk melemparkan Ryan dan Rindy keluar dari tempat itu. Kali ini, ia akan menahan serangan itu seorang diri.Namun sebelum Brentley sempat bergerak, sesosok tubuh sudah lebih dulu berdiri di depannya.Ryan.Pemuda itu menghadang tepat di depan
Seiring kata-kata itu keluar dari mulut Ryan, sorot matanya berubah dingin.Tatapannya menancap lurus ke arah Binatang Nether yang melingkari tubuh Mira."Ini akan segera berakhir."Mira menatap Ryan dengan mata basah.Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan karena takut.Itu air mata lega.Terlalu lama ia terjebak di tempat mengerikan ini. Terlalu lama ia menahan rasa takut sendirian, dikepung aura iblis, warisan yang tidak stabil, dan makhluk buas yang hendak merampas tubuhnya.Sekarang, orang yang paling ia harapkan akhirnya datang.Ryan benar-benar datang.Namun saat pandangannya bergerak ke samping Ryan dan melihat Rindy Snowfield berdiri di sana, mata Mira sempat berhenti.Jemari Ryan dan Rindy masih saling bertautan.Senyum di wajah Mira sedikit memudar.Hanya sesaat.Detik berikutnya, ia menekan perasaan itu kembali. Sekarang bukan waktunya memikirkan hal semacam itu. Ia masih berada di ambang bahaya, dan Binatang Nether itu belum benar-benar keluar dari tubuhnya
"Lagi pula, aku merasakan aura seorang tetua Spirit Hall di tubuh orang yang baru saja kau lukai parah itu."Brentley Holt mengerutkan dahi."Ada yang aneh dengan dirinya."Setelah mengatakan itu, Brentley mengalihkan pandangannya ke istana di depan mereka. Bangunan kuno itu tetap berdiri kokoh di tengah kabut kelabu Ngarai Nether, seolah ledakan mengerikan barusan tidak pernah menyentuhnya.Brentley menghela napas pelan."Rasanya seperti ada dua kesadaran berbeda yang tinggal di satu tubuh."Matanya sedikit menyipit."Hubungan mereka bukan sekadar kerja sama biasa."Ryan tidak langsung menjawab.Ia juga menatap ke arah Kampung Halaman Demon Emperor. Istana itu terlalu sunyi, tetapi justru kesunyian itulah yang membuatnya terasa menekan.Brentley melanjutkan, "Mordane Lethe benar-benar licik. Bahkan ledakan diri seorang kultivator Ranah Star Seed pun tidak mampu meruntuhkan tempat ini."Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan nada lebih berat, "Tablet Reinkarnasi yang disembunyikan
Di kejauhan, Jacob Campbell juga mendengar percakapan antara Master Alkimia Teddy Sichs dan Master Alkimia Ling Yi. Dia tertawa dingin dalam hatinya! 'Hmph, Ryan ingin membuat Pil Hundred Spirit? Sungguh konyol!' Jacob Campbell merasa jijik, dan sudah membayangkan mahkota pemenang di kepalanya.
Bobby Hellheim merasakan wajahnya terbakar malu dan marah. Dia menatap Ryan dengan mata menyala-nyala, berharap dia bisa mengulitinya hidup-hidup! Para jenius muda dari lima sekte, harapan masa depan mereka, semuanya telah dibantai oleh bajingan kecil ini! "Bajingan sialan!" Tuan Jimmy tiba-tiba b
Nada bicara lelaki tua itu penuh keheranan dan sedikit ketakutan. Jelas, lelaki tua itu mengenali Monica, yang pastilah sosok penting dalam pertempuran kuno yang pernah terjadi. Secara logika, Monica seharusnya terjebak di tempat itu dan tak mungkin muncul di sini! "Bagaimana kau bisa muncul di
Tatapan dingin Shirly Jirk menyapu ke arah Ketua Sekte. Wajahnya yang cantik kini mengeras karena emosi yang ditahan. "Guru, Anda mengatakan bahwa Anda akan memberi saya wewenang penuh dan tidak mencampuri urusan saya," balas Shirly dengan suara tenang namun tajam. "Mengapa Anda meminta Tetua Kel







