LOGINTerima Kasih Kak Zuperapto, Kak Josehp, Kak Anton, Kak Teguh, dan Kak Handroy734 atas dukungan Gem-nya (. ❛ ᴗ ❛.) Bab Bonus: 6/6 Bab (komplit) Antrian: 51 Ini adalah bab terakhir hari ini. Selamat membaca dan selamat beristirahat (◠‿・)—☆
Quillon Wynn memandangi dua bola cahaya merah dan biru tempat Sphinx memurnikan dirinya.“Kalau makhluk ini pulih sampai keadaan puncaknya, aku sendiri belum tentu sanggup menanganinya,” ujarnya pelan.Ryan Pendragon menoleh. Kalimat itu membuat matanya bergerak sedikit.Quillon melanjutkan, “Untuk memurnikan tulang rusuk itu, dia mungkin membutuhkan setidaknya seribu tahun.”“Kalau begitu, sampai kapan aku harus menunggu?” tanya Ryan dengan senyum masam.Quillon menggeleng.“Aku juga tidak tahu. Tapi satu hal sudah pasti. Dia akan muncul tepat ketika kau paling membutuhkannya.”Setelah berkata begitu, Quillon seperti teringat sesuatu. Tatapannya bergeser ke arah Ryan.“Oh iya, hati-hati besok. Corwin Samian itu bukan orang sederhana.”Mata Ryan menyipit. Ia sama sekali tidak menyangka Quillon sampai memberinya peringatan khusus.‘Sekuat apa sebenarnya orang ini?’**Malam berlalu dalam sunyi.Keesokan harinya, seluruh perhatian Akademi Heavenly Flame tertuju ke lapangan latihan terbu
Setelah waktu yang cukup lama, kabut racun di sekeliling tubuh Lina Jirk akhirnya menipis, lalu lenyap tanpa sisa.Semuanya kembali sunyi.Namun wilayah sejauh belasan kilometer di sekitar Lina sudah berubah menjadi hamparan pasir kuning. Tidak ada rumput, tidak ada pohon, bahkan tidak ada bebatuan yang masih utuh. Tanah yang semula tandus kini menjadi jauh lebih mati, seolah tidak akan pernah bisa pulih lagi.“Letak Keluarga Foxcroft tidak sulit diselidiki,” gumam Lina.Matanya dipenuhi tekad.“Hanya saja, dilihat dari aura mereka di dalam bayangan tadi, orang-orang itu sebenarnya tidak terlalu kuat.” “Kemungkinan besar ada keberadaan yang jauh lebih mengerikan berdiri di belakang Keluarga Foxcroft.”Ia mengepalkan tangan kecilnya. “Aku tidak mungkin melawan mereka sendirian.”“Aku harus mencari Ryan.”Lina mengembungkan pipi, lalu menghentakkan tongkat kayunya ke tanah.
Semangat bertarung meluap di mata Ryan Pendragon. Aura di sekeliling tubuhnya bergolak tipis, membuat udara di sekitar meja makan terasa sedikit lebih tajam. Ia justru menantikan pertarungan besok melawan Corwin Samian. Sudah terlalu lama Ryan tidak bertemu lawan yang mampu memaksanya mengeluarkan sesuatu yang benar-benar ia simpan. Bagi orang lain, berhadapan dengan sosok semengerikan Corwin mungkin hanya membawa tekanan dan keputusasaan. Namun bagi Ryan, itu justru membawa antusiasme. Sejak awal, jalan kultivasinya memang selalu ditempa oleh lawan yang seharusnya tidak sanggup ia hadapi. Setiap kali ia melewati batas, selalu ada keberadaan yang lebih kuat berdiri di depannya. Dan justru karena itulah pedangnya, tubuhnya, serta hatinya bisa ditempa sampai titik sekarang. ** Di sebuah tempat terpencil di Benua Valorisia, sesosok tubuh mungil tiba-tiba muncul. Lina Jirk. Entah dari mana, gadis kecil itu mengenakan kacamata berbingkai merah muda dan sebuah topi. Di tangan
Ryan Pendragon melirik surat tantangan di tangannya. Ia tidak menyangka waktu yang tersisa sampai perjanjian satu tahun ternyata sudah setipis ini. Pada titik waktu seperti sekarang, Sekte Bloody Sword dari Klan Spirit Blood juga seharusnya sudah mulai bergerak menuju Gunung Langit Biru. Artinya, sudah waktunya ia bertandang ke Sekte Bloody Sword dan menyelamatkan para kultivator Gunung Langit Biru. Dulu, setelah meninggalkan Death Domain Universe, Ryan sempat bertanya kepada gurunya kapan waktu terbaik untuk bergerak ke Sekte Bloody Sword. Jawaban gurunya waktu itu sangat jelas. Ada seorang sosok perkasa dari Kerajaan Ilahi yang sedang berada di Klan Spirit Blood. Menghadapi mereka secara langsung pada saat itu bukan pilihan yang bijak. Karena itu, Ryan hanya bisa menunggu. Menunggu bukan hal yang ia sukai, apalagi ketika orang-orang di Gunung Langit Biru mungkin sedang menghitung hari. Namun ia tidak boleh gegabah. Menyelamatkan orang dengan kepala panas hanya akan mengan
Pemegang rekor sebelumnya adalah seorang genius yang mewarisi garis darah kuno yang melawan langit. Kecepatan kultivasinya pernah mengguncang Akademi Heavenly Flame, dan kecocokannya dengan energi spiritual begitu tinggi hingga membuat banyak tetua terdiam. Selama ratusan tahun, namanya tetap menjadi tolok ukur yang tidak bisa disentuh para murid setelahnya. Namun sekarang, Ryan Pendragon melampauinya. Bukan sedikit. Melainkan lebih dari seratus kali lipat. Apa kecocokan Ryan dengan energi spiritual benar-benar setinggi itu? Apakah tubuhnya bahkan melampaui genius yang mewarisi garis darah kuno tersebut? Hal semacam ini seharusnya hanya mungkin dilakukan keturunan dewa dalam legenda. Namun siapa pun Ryan sebenarnya, itu tidak penting bagi Corwin Samian. Mata Corwin menyipit. Esensi pedang beriak keluar dari tubuhnya, membuat udara di sekelilingnya seperti terbelah oleh ribuan bilah tak terlihat. “Sekalipun dia dewa, aku, Corwin Samian, tetap akan memenggalnya dengan satu te
“Kepala Akademi,” ujar Corwin Samian dengan tenang, “seandainya jatah itu tetap menjadi milik murid angkatan kedua, siapa yang akan Kepala Akademi bawa ke perayaan hari kelahiran keluarga kerajaan Kerajaan Nine Nether?” “Tentu saja kau,” jawab Quinton Greaves santai. “Kau genius nomor satu angkatan kedua.” “Bahkan Serena Stuart, Ferris Yule, dan yang lainnya tidak bisa dibandingkan denganmu.” Ia menatap Corwin dengan mata berbinar. “Kalau dugaanku tidak salah, sekarang kau hanya tinggal setengah langkah dari Ranah Star Sealed, bukan?” “Bagaimana? Kau yakin bisa menembusnya tahun ini?” Corwin tersenyum tipis. “Kepala Akademi terlalu memuji saya. Hmm, sembilan puluh persen.” Quinton memperlihatkan senyum puas. “Bagus. Kau tidak perlu terburu-buru.” “Dengan keadaanmu sekarang, kau pasti mendapat kesempatan pergi ke Kerajaan Nine Nether begitu masuk angkatan ketiga.” “Kau tentu tahu seperti apa keluarga kerajaan Kerajaan Nine Nether. Kesempatan tidak akan pernah kurang untukmu.”







