LOGINTerima Kasih Kak Sofyan atas dukungan Gem-nya.(. ❛ ᴗ ❛.) akumulasi Gem: 04-10-2024 (pagi) : 1 Gem Selamat Membaca(◠‿・)—☆
Lima ratus meter.Bukan jarak yang jauh dalam kondisi normal. Tapi dengan ratusan anggota Klan Spiritum Sanguis yang mulai bergerak dari segala penjuru sekaligus, setiap meter terasa seperti sepuluh.Sepuluh detik berlalu. Dua puluh. Tiga puluh.Anggota Sekte Slaughter berlari dalam formasi yang mulai berantakan. Beberapa sudah melewati separuh jarak, beberapa lagi masih berjuang menembus kerumunan yang mengejar dari belakang dengan kecepatan yang tidak memberi banyak ruang.Ryan membalik arah."Teknik Pedang Es!"KRAAAK!Es meledak dari mata pedangnya ke segala arah, menjalar di tanah seperti retakan yang hidup dan punya tujuan sendiri, membekukan kaki-kaki yang mencoba mengejar dari belakang. Aura es yang menusuk memaksa barisan depan Klan Spiritum Sanguis mundur dua langkah, membuka celah yang cukup lebar untuk beberapa anggota Sekte Slaughter menerobos lewat.SYIIING!P
"Bunuh mereka!"Seruan itu bergema seperti sinyal yang sudah lama ditunggu tanpa ada yang mau mengakuinya. Dalam hitungan detik yang terasa terlalu cepat untuk diantisipasi, pertempuran pecah di seluruh area pintu keluar Alam Rahasia Demon Saint. Suara benturan pedang, ledakan energi, dan teriakan kesakitan berbaur menjadi satu kekacauan yang mengguncang tanah di bawah kaki mereka. Darah mewarnai rerumputan kering, mengalir mengikuti retakan di batu, membentuk genangan yang tidak peduli siapa yang jatuh di dalamnya.Ryan dan rombongan Sekte Slaughter tidak bergerak. Tidak satu pun dari mereka mengucapkan kata-kata yang tidak perlu.Mereka bersembunyi di balik barisan pepohonan dengan napas yang ditahan secara setengah sadar. Menunggu. Menonton. Menghitung.'Belum. Belum waktunya.'Di depan sana, lima kultivator Ranah Creation dari berbagai faksi wilayah barat berhadapan langsung dengan formasi Klan Spiritum S
'Satu jam.' Ryan diam selama beberapa detik. Membiarkan satu angka itu bergulir di dalam kepalanya tanpa terburu-buru disimpulkan, merasakan bobot yang dibawa angka itu. Satu jam itu ketat. Kalau semuanya berjalan mulus, cukup. Kalau satu hal saja meleset, tidak ada ruang untuk koreksi. Tapi pilihan lainnya adalah menunggu sampai kultivator Klan Spiritum Sanguis yang lebih kuat mulai mengalir keluar dari lorong satu per satu. Dan itu pilihan yang jauh lebih buruk dari apa pun yang bisa ia bayangkan sekarang. "Teknik rahasianya ada di mana?" Harlen Kenz tidak bisa menyembunyikan rasa lega di wajahnya. Tangannya merogoh lipatan jubahnya dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah lusuh di tepinya. "Di sini. Lihat sendiri." Ryan mengambilnya. Membaca dari awal sampai akhir, lalu membaca sekali lagi dari awal. Tidak ada jebakan yang bisa ia temukan. Tekniknya jelas, cara kerjanya masuk akal, dan untuk seseorang dengan fondasi kultivasi tubuh seperti miliknya, setengah har
"Lepaskan aku sekarang, atau kau yang mati!" Harlen Kenz meronta dalam cengkeraman Ryan, wajahnya memerah dari campuran amarah dan malu yang tidak bisa ia sembunyikan meski setiap ototnya mencoba keras untuk tetap terlihat gagah dan berwibawa. Dagunya ditegakkan, seolah-olah sikap itu bisa menggantikan kekuatan yang jelas tidak ia miliki dalam posisi seperti ini. "Harlen Kenz bukan seseorang yang bisa diperlakukan sembarangan oleh semut rendahan sepertimu!" Ryan meliriknya dengan tatapan yang tidak mengandung rasa takut, tidak juga rasa hormat. Hanya penilaian datar seseorang yang sedang mempertimbangkan apakah sebuah alat masih berguna atau sudah waktunya diletakkan. 'Orang ini tidak sadar posisinya.' "Baiklah." Ryan mencabut pedangnya. "Kita lihat seberapa keras tulangmu." CRAT! Mata pedang menghantam betis Harlen Kenz dalam satu tebasan bersih dan terukur. Tidak cukup dalam untuk memotong habis, tapi lebih dari cukup untuk membuat pria itu mengeluarkan jeritan panjang y
Ryan mengeluarkan beberapa pil penyembuhan dari kantong ruangnya dan membagikannya satu per satu kepada yang terluka. Setelah itu ia duduk sedikit menjauh dari kerumunan, matanya jatuh ke wajah Lina Jirk yang masih tidak sadar di sisinya.'Apa sebenarnya yang disembunyikannya?'Pertanyaan itu sudah lama mengendap. Sejak pertemuan pertama mereka di Benua Valorisia, Lina Jirk selalu terasa seperti lebih dari yang ia tunjukkan. Kenaifannya yang dulu terasa asli kini kadang-kadang tergantikan oleh sesuatu yang lebih berat, lebih dewasa dari usianya, seolah ada beban yang ia pilih untuk tidak pernah ceritakan kepada siapa pun.Ryan menggeleng pelan.Kalau Lina Jirk mau bicara, ia pasti akan bicara. Memaksa tidak pernah menjadi caranya.**Sehari berlalu dalam ketenangan yang lebih menegang dari kebisingan mana pun.Mereka bergerak keluar dalam formasi yang rapat: Ryan di depan, Yue Lane menjaga L
Anehnya, Ryan tidak terlihat seperti orang yang baru keluar dari situasi genting. Langkahnya tetap, wajahnya datar, dan tangannya menggendong Lina Jirk dengan cara yang lebih menyerupai seseorang yang membawa anak tertidur daripada seseorang yang baru selesai membuat para kultivator Ranah Creation berlarian keluar dari ruangan dalam kepanikan.Di sekelilingnya, para kultivator Ranah Creation dan Dao Integration yang masih berdiri menunggu di area pintu keluar memandang kepergiannya dengan rasa takut yang tidak berhasil mereka sembunyikan. Mata-mata itu mengikutinya dari kejauhan, tidak satu pun yang berani mengucapkan apa pun, tidak satu pun yang berani bergerak ke arah yang sama.Zander Yule menyaksikan semua itu dari tempatnya berdiri tanpa bersuara. Sesuatu di dalam dadanya memutuskan dengan tenang bahwa keputusannya untuk menunggu tadi adalah salah satu yang terbaik yang pernah ia buat, dan ia cukup tua untuk tahu kapan harus mensy
Travis Hayes mengepalkan tangannya erat-erat, matanya dipenuhi amarah! "Bajingan kecil, aku hanya akan mengatakannya sekali saja. Namaku Travis Hayes! Jika kau berani mengatakan omong kosong lagi, aku pasti akan membuatmu..." Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, Ryan menyela dengan santai,
"Wendy, aku tahu kau menyukai Ryan, tetapi apakah kau pikir dia menyukaimu?" bisik suara itu, dingin dan menusuk. "Tempat ini adalah Gunung Langit Biru, dan energi spiritualnya sangat padat. Sangat cocok untukku. Selama kau melepaskan batu itu, aku dapat membantumu berdiri bahu-membahu dengan anak
"Kakak, terakhir kali aku melihatnya, dia masih di Ranah Foundation Establishment. Tapi sekarang dia telah mencapai Ranah Heavenly Soul!" Lina yang sudah tak sabar menceritakan semuanya melanjutkan dengan antusias. "Aku menduga anak ini pasti mengalami pertemuan luar biasa mengingat seberapa cepat p
Ryan tidak tahu mengapa Lin Qingxun mengajukan pertanyaan ini di tengah situasi dengan manik naga. Namun, dia tahu bahwa ahli kuno ini pasti memiliki maksud tertentu. Dia merenung selama beberapa detik, mengingat kembali perjalanannya selama ini."Dao Pembantaian," ja







