Mag-log inTerima Kasih Kak Pengunjung5804, Kak Pengunjung1805, Kak Patricia Inge, Kak Alberth Abraham Parinussa, Kak Hari, Kak mohd sidi, dan Kak aday wijaya ayas hadiah koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Eny Rahayu atas hadiah Buket dan Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Ricky Wenas atas hadiah Kue, coklat, dan Pulpennya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih kepada para pembaca yang telah mendukung novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Dengan ini, target telah tercapai, jadi akan ada bab bonus hadiah (≧▽≦) Tapi othor baru bisa kasih bab bonus hadiahnya senin besok karena masih sibuk pameran, jadi harap sabar ya (。•̀ᴗ-)✧ selamat beraktivitas (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 1/6 Bab Bab Reguler: 1/1 Bab (Komplit)
Rex muncul tepat di belakang Ryan, kepalan tangannya sudah terangkat.Serangan itu cukup untuk menghancurkan bahu seorang kultivator Creation biasa.BOOM!Kepalan Rex menghantam batu lapangan, menghancurkan lapisan yang sudah diperkuat khusus menjadi lubang sedalam setengah hasta. Asap mengepul tipis dari retakan batu di sekelilingnya.Ryan tidak ada di sana.Di belakang Ketua Sekte, seorang murid muda menutup mulutnya dengan kedua tangan.Rex memandang lubang di depannya. Keningnya berkerut. Tangannya masih mengepal, punggungnya sedikit membungkuk dalam posisi serangan yang tidak menyentuh apa pun. Ia tetap dalam posisi itu selama dua detik sebelum perlahan menegakkan tubuhnya.'Tidak mungkin.' Ia tidak merasakan pergerakan Ryan sama sekali. 'Tidak ada hembusan angin, tidak ada getaran tanah, tidak ada apa pun.'"Hanya segini?"Suara itu muncul dari belakangnya.Rex berbalik cepat. Ryan berdiri di sana, dua langkah di belakangnya, tangan masih di sisi tubuh, ekspresinya tidak ber
Murid perempuan itu mendarat dan langsung menoleh ke Ketua Sekte dengan wajah berbinar. "Ketua Sekte! Senior Selvia selamat! Pria ini yang akan menyelamatkannya dari alam rahasia." Ia menunjuk Ryan dengan jari yang gemetar karena antusias. "Namanya Ryan. Senior Selvia pernah menyebutnya kepadaku.""Katanya Ryan sangat kuat dan bisa melampaui batasnya sendiri dalam bertarung. Dengan kemampuannya, membawa Senior Selvia keluar dari sana pasti bukan hal yang sulit!"Semua orang di pelataran serempak menatap Ryan.Lalu pandangan mereka turun ke aura yang memancar dari tubuh pemuda itu.Puncak Ranah Primordial Chaos.Para tetua tidak perlu bertukar kata. Angka itu sudah berbicara sendiri.Beberapa tetua menggeleng pelan. Ketua Sekte menarik napas, matanya berkilat antara harapan dan kekhawatiran. Tidak peduli seberapa sering seseorang "melampaui batas," melampaui batas dengan selebar itu antara Primordial Chaos puncak dan Creation tingkat tujuh adalah perkara yang berbeda sama sekali.Rex
Evan tidak mundur.Sebuah bayangan putih muncul di belakangnya, bukan awan biasa. Ini siluet naga panjang yang terbungkus lapisan kabut tipis. Pedang panjang muncul di tangannya dalam sekejap, dan jarinya bergerak membentuk kuda-kuda yang dalam dan stabil."Dao Naga Awan, Naga Mendaki Cakrawala!"Energi pedangnya meledak keluar dalam bentuk naga putih raksasa yang menerkam ke depan. Di sekitar naga itu, kabut berputar seperti mahkota yang terus mengalir, dan siapa pun bisa merasakan betapa tiap lapisan kabut itu padat seperti baja.Naga putih menabrak lautan petir.BOOM!Ledakan cahaya biru dan putih memenuhi lapangan. Para penonton melindungi mata mereka. Ketika cahaya reda, naga Evan tampak terluka, tubuh bayangannya terkoyak di beberapa tempat. Tapi ia masih berdiri di sana, dan Rex pun tidak bergerak dari posisinya.Serangan pertama selesai.Di bari
"Evan!"Ketua Sekte Cloud Nether melangkah maju, wajahnya yang tadi tegang melunak seketika saat melihat putranya berjalan santai ke pelataran. Pemuda berbaju hitam itu melangkah ringan, aura di tubuhnya padat dan mantap seperti batu yang sudah lama diasah.Evan Lux menyapu pelataran dengan satu pandangan. Ayahnya, para tetua, Silas Lux di sudut, dan dua orang asing di tengah. Yang berambut merah dengan mata kosong lebih berbahaya dari semua yang ada di sini, bahkan tanpa ia melakukan apa pun. Yang satu lagi mengenakan jubah Sekte Silver Frost."Ayah, ada apa?" tanyanya, suaranya ringan seperti seseorang yang baru pulang dari jalan-jalan. "Aku dengar ada murid perempuan yang terjebak di alam rahasia?"Ketua sekte menjelaskan semuanya singkat dan padat, cukup untuk Evan memahami gambaran besarnya.Di akhir penjelasan, tatapan Evan beralih ke Rex Sallow. Tidak ada kesan yang berarti di wajahnya.
Vera Stone mengambil posisi berdiri. Hukum nomologinya mengalir keluar seperti bendungan yang dibuka seluruh pintunya sekaligus. Langit di atas pelataran berubah dalam hitungan detik. Biru pagi berganti abu-abu berputar yang semakin pekat, semakin gelap. Bayangan awan gulita memenuhi udara dari segala arah, mengembang seperti tirai raksasa yang dijatuhkan dari langit. "Samudra Kabut Gulita!" BOOOOM! Kabut hitam keabu-abuan meledak dari tubuh Vera, menelan seluruh area dalam radius puluhan meter. Di dalamnya tersimpan lapisan formasi yang dibangun dari pemahaman hukum ruang dan jiwa. Siapa pun yang terjebak di dalamnya akan kehilangan orientasi secara bertahap, indra spiritualnya teredam, dan setiap gerakan terasa berat seperti berjalan di lumpur yang menarik ke bawah. Silas Lux yang berdiri di luar radius kabut menelan ludah. Bahkan ia tidak ingin masuk ke dalam sana tanpa persiapan yang panjang. Di tengah kegelapan gulita itu, Chester berdiri diam. Matanya yang kosong
Rex Sallow berdiri di pelataran Sekte Cloud Nether dengan kedua tangan terlipat santai di belakang punggung. Senyumnya dipasang rapi, topeng yang sudah terlalu terlatih untuk perlu dipikirkan lagi. Jubah putih Sekte Silver Frost yang ia kenakan bersih tanpa noda, dan di setiap lipatannya terasa keangkuhan yang sudah lama menjadi kebiasaan, bukan sekadar sikap. Dari luar, pria itu terlihat seperti seorang kenalan baik yang datang dengan niat mulia. Di sekitarnya, murid-murid muda di pelataran bergerak mundur sedikit tanpa mereka sadari, memberi ruang yang tidak diminta. Tapi bukan aura Rex yang membuat seluruh pelataran tercekam diam. Semua orang bisa merasakan sumber yang sesungguhnya. Melainkan sosok dua langkah di belakangnya. Tuan Chester berdiri diam seperti patung yang dilupakan. Pria berambut merah itu tidak melakukan apa-apa. Matanya menatap lurus ke depan tanpa fokus, napasnya tidak terdengar, ekspresinya tidak berubah. Namun tekanan yang memancar darinya nya
Di dalam Kuburan Pedang, Li Qiye dan Monica melihat pemandangan ini. Mereka mengangguk sedikit, tetapi alis mereka dipenuhi kekhawatiran."Klan Spirit Blood sangat kuat." Li Qiye menyipitkan matanya dan berkata dengan nada serius, "Pemilik Kuburan Pedang harus mencapai Ranah Supreme Emperor dalam w
Ryan mengangkat tangannya dalam satu gerakan mematikan. Seketika, petir Ilahi menyambar dari langit disertai untaian qi tombak yang memenuhi cakrawala—udara bergetar dengan niat membunuh yang mencekam!Naga darah dalam tubuhnya meraung ganas, memberontak keluar dengan kekuatan yang menge
Suara familiar yang telah lama ditunggunya akhirnya terdengar. Wajah Ryan seketika berseri, kegembiraan tak terbendung terpancar dari matanya. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman penuh kepercayaan diri. "Aku bersedia!" serunya lantang tanpa sedetik pun keraguan. Jika lelaki tua berwajah
"Aku ingin tahu," Ryan bertanya hati-hati, "apakah nama keluarga Mastermu adalah Hodge?" "Itu bukan nama keluarga Masterku," jawab gadis itu polos sambil menggelengkan kepala. "Klan Spirit Blood?" Ryan mencoba lagi. Begitu mendengar kata-kata 'Klan Spirit Blood', ekspresi gadis itu langsung berub







