Share

Bab 4

Author: Ding
Keesokan paginya, ruang konferensi firma itu sudah berubah total. Sebuah spanduk merah membentang di dinding.

[ Menjunjung Rekrutmen yang Adil, Membela Supremasi Hukum. ]

David dan dua pewawancara lainnya duduk di meja utama.

Heri dan Desna duduk di kursi tamu, dengan Bella di tengah mereka.

Para jurnalis dari berbagai media hukum memenuhi ruangan. Kamera berjajar dalam dua baris. Peralatan siaran langsung berkedip merah.

Aku duduk di kedai kopi lantai bawah sambil membuka ponsel.

Siaran langsung pun dimulai.

David merapikan dasinya lalu berjalan ke podium.

"Hadirin sekalian dari media, terima kasih sudah datang. Konferensi hari ini membahas penolakan tanpa sebab yang dilakukan mantan partner kami, Evelyn Surian, terhadap seorang kandidat luar biasa dalam proses rekrutmen kami."

Dia berhenti sejenak, wajahnya mengernyit.

"Firma ini selalu berdiri di atas prinsip keadilan dan kebenaran. Setelah investigasi, kami memastikan bahwa Bu Evelyn menyingkirkan kandidat dengan peringkat tertinggi, Bella, tanpa alasan yang sah. Ini benar-benar keterlaluan."

Layar besar menyala. Resume Bella muncul di sana.

Lulusan terbaik di Fakultas Hukum Universitas Negara, juara nasional kompetisi peradilan semu, enam makalah yang diterbitkan di jurnal hukum ternama.

Para jurnalis mulai berbisik-bisik. Siaran langsung itu langsung dibanjiri oleh komentar.

[ Dengan prestasi begitu malah ditolak? Gila. ]

[ Dia pikir dia siapa? ]

Bella melirik layar itu. Ekspresinya tetap serius, tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat.

David mundur selangkah dan memberi isyarat.

"Sekarang, mari kita dengarkan dari keluarga korban. Profesor Heri."

Heri berdiri, membetulkan jasnya, lalu berjalan perlahan menuju podium.

"Rekan-rekan." Dia menggenggam mikrofon, pandangannya menyapu seluruh ruangan. "Saya berasal dari daerah pedesaan di Barat. Karena saya tahu betapa beratnya perjuangan itu, saya paham benar betapa berharganya keadilan."

Suaranya bergetar, dipenuhi kesedihan yang tampak begitu nyata.

"Tapi saya nggak pernah membayangkan, di profesi yang begitu mulia ini, ada orang yang tega menginjak-injak keadilan. Hari ini, saya bicara bukan hanya untuk cucu saya, tapi untuk semua mahasiswa. Masa depan mereka nggak boleh dihancurkan begitu saja!"

Tepuk tangan menggema. Banyak orang berdiri dari kursinya. Komentar kembali membanjiri layar.

[ Dia benar. Profesor Heri sudah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan hukum. Benar-benar pendidik sejati. ]

[ Aku sampai berkaca-kaca. Lihat, tangannya sampai gemetaran. ]

[ Evelyn nggak pantas ada di profesi ini. Cabut izin praktiknya. ]

Profesor Heri mengangguk, menyerahkan kembali mikrofonnya, lalu kembali ke tempat duduknya. Desna menepuk punggung tangannya dengan pelan.

Kemudian, Bella dipanggil ke depan. Dia mengenakan setelan rok hitam formal. Matanya memerah. Dia menerima mikrofon dan terdiam sesaat, seolah-olah sedang menenangkan diri.

"Halo semuanya. Saya Bella, korban dari kejadian ini." Suaranya bergetar. "Sejak hari pertama masuk fakultas hukum, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya akan menggunakan hukum untuk membantu masyarakat. Saya bekerja keras selama empat tahun dan berhasil meraih beberapa pencapaian."

Dia menarik napas dalam-dalam, matanya semakin merah.

"Tapi bahkan sebelum saya benar-benar masuk ke profesi ini, seseorang dengan santainya merusak masa depan saya. Saya bahkan nggak tahu apa kesalahan saya pada Bu Evelyn."

Dia berhenti sejenak.

"Belakangan saya tahu, dalam wawancara sebelumnya, Bu Evelyn sering memihak kandidat laki-laki. Bahkan ketika kandidat perempuan punya prestasi lebih baik, dia tetap menyingkirkan mereka dengan berbagai alasan."

Jarinya mencengkeram mikrofon semakin erat.

"Mungkin dia nggak bisa menerima ada perempuan hebat lain di firmanya. Tapi kakek saya selalu mengajarkan bahwa hukum nggak mengenal gender. Perempuan bisa unggul. Perempuan bisa memperjuangkan keadilan. Apa yang dilakukan Bu Evelyn adalah penghinaan terhadap pendidikan dan penghinaan terhadap setiap perempuan yang mencari pekerjaan."

Dia mengangkat dagunya.

"Hari ini, saya berdiri di sini bukan untuk diri saya sendiri. Saya berdiri untuk semua perempuan yang mendambakan keadilan."

Profesor Heri mengangguk puas. Desna menyeka sudut matanya.

Komentar kembali meledak.

[ Itulah didikan Profesor Heri. Gadis ini benar-benar berani. ]

[ Evelyn benci perempuan? Menjijikkan. ]

[ Bella benar-benar pembela perempuan. Dukung dia! ]

Kemudian, terdengar tepuk tangan yang sengaja dipelankan dari arah pintu. Aku berjalan masuk sambil bertepuk tangan.

"Pidato yang bagus, Bu Bella."

Semua kepala menoleh. Kamera-kamera langsung berputar ke arahku.

Aku berjalan ke depan dan berhenti.

"Kamu bilang kamu mewakili semua perempuan pencari kerja. Kalau begitu, jawab ini. Saat kamu menjiplak karya tulis akademik, apa kamu sempat memikirkan para mahasiswi yang hasil kerjanya kamu curi?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Untuk Nenekku yang Dikhianati   Bab 8

    Suara sirene terdengar semakin dekat.Dua polisi masuk ke ruangan."Heri Hartanto dan Desna Jafar. Kalian ditahan atas tuduhan pemalsuan identitas dan pengambilalihan hak hukum orang lain secara ilegal."Heri langsung diborgol. Saat mereka menggiringnya pergi, dia menoleh ke guci di pelukan ibuku."Maafkan aku, Garcia. Maafkan aku."Terlambat 50 tahun. Nenekku tidak bisa lagi mendengarnya.Namun, tidak apa-apa. Utang itu akhirnya lunas.Malam itu, universitas mengeluarkan pernyataan resmi.Universitas Negeri secara permanen memecat Heri, mencabut semua gelarnya, dan menyerahkannya untuk proses pidana.Akademi Seni Nasional juga mengumumkan bahwa keanggotaan Desna dicabut, semua gelarnya dibatalkan, dan dia dilarang bergabung kembali seumur hidup.Sementara itu, Bella kehilangan semua gelarnya dan dilarang masuk ke profesi hukum seumur hidup.Aku membaca pengumuman itu satu per satu, lalu mematikan ponselku.Ibuku duduk di sampingku. Tangannya masih gemetar. Sejak dia masuk ke ruangan i

  • Pembalasan Untuk Nenekku yang Dikhianati   Bab 7

    Punggung ibuku sudah bungkuk.Usianya bahkan belum genap 50 tahun, tetapi sebagian besar rambutnya sudah memutih.Di pelukannya, dia membawa sebuah guci hitam. Di atas guci itu ada sebuah foto. Itu adalah abu jenazah nenekku.Dia melangkah perlahan menuju depan ruangan, lalu dia mengangkat kepala dan menatap Heri.Wajah itu. Itu wajah Heri.Seluruh ruangan langsung hening. Tak ada seorang pun yang bicara, tetapi lampu kamera terus berkelap-kelip.Kemudian, ibuku mengangkat selembar kertas. Akta kelahirannya.Di sana tertulis jelas tahun 1976, tahun ketika Heri meninggalkan desa kecil di Barat.Tanggal lahir 13 Juni. Tanggal itu persis sama seperti yang tertulis di surat-suratnya.Komentar siaran langsung meledak lagi.[ Lihat wajah mereka. Nggak perlu tes DNA, jelas banget. ][ Monster macam apa yang meninggalkan istrinya yang sedang hamil di desa cuma demi jadi profesor? ][ Tadi dia pidato soal keadilan. Gimana dia bisa hidup seperti itu? ][ Dan cucunya dididik dengan cara seperti i

  • Pembalasan Untuk Nenekku yang Dikhianati   Bab 6

    Untuk sesaat, ketenangan Heri runtuh. Rahangnya menegang.Namun sedetik kemudian, dia kembali menegakkan tubuh dan menatapku dengan dingin."Bu Evelyn, aku nggak tahu ada dendam apa kamu sama keluargaku. Tapi semua orang tahu, aku dan istriku sudah saling setia selama 50 tahun.""Istrimu?" potongku sambil menunjuk wanita di sampingnya. "Maksudmu dia, atau Garcia yang kamu tinggalkan di kampung terpencil itu?"Dia terdiam. Sudut bibirnya bergerak.Wanita itu langsung berdiri. "Omong kosong! Siapa kamu berani-beraninya membuat fitnah seperti ini?!"Aku bahkan tidak meliriknya. Aku menekan remot sekali lagi.Sebuah foto lama muncul di layar. Seorang perempuan muda berkepang dua berdiri di bawah pohon besar. Wajahnya sangat mirip denganku. Kemiripannya begitu mencolok.Aku menatap Heri. "Profesor, kamu masih ingat wajah ini?"Dia menatap layar itu. Jakunnya bergerak naik turun sekali."Itu hanya perempuan muda yang kukenal saat aku tinggal di daerah pedalaman Barat. Dia memang punya perasa

  • Pembalasan Untuk Nenekku yang Dikhianati   Bab 5

    Ekspresi wajah Bella membeku sesaat. Kemudian, dia mengernyit, matanya masih merah."Bu Evelyn, apa ini nggak kelewatan? Memfitnahku di depan umum?"Aku menatapnya dengan tenang."Bu Bella, semua orang bilang kamu pintar. Jadi, coba jawab. Dari enam makalahmu itu, kasus apa saja yang kamu kutip? Prinsip hukum mana? Buku apa yang kamu jadikan referensi?"Mulutnya ternganga. Kepanikan sempat melintas di wajahnya, tetapi dengan cepat dia sembunyikan lagi."Aku nggak akan masuk perangkapmu."Semua orang langsung bersorak di komentar.[ Dia pintar sekali! ]Aku mengangguk, lalu melangkah lebih dekat."Kalau begitu, biar aku yang jelaskan. Di tahun pertamamu, kamu membeli makalah dari seorang mahasiswa miskin. Satu lagi di tahun kedua. Di tahun ketiga dan keempat, masing-masing dua. Keenam makalah itu ditulis oleh mahasiswa-mahasiswa yang selama ini kubimbing secara sukarela." "Kamu mengambil semuanya dan mencantumkan namamu sendiri. Mereka nggak berani bicara karena kamu cucu Pak Heri."A

  • Pembalasan Untuk Nenekku yang Dikhianati   Bab 4

    Keesokan paginya, ruang konferensi firma itu sudah berubah total. Sebuah spanduk merah membentang di dinding.[ Menjunjung Rekrutmen yang Adil, Membela Supremasi Hukum. ]David dan dua pewawancara lainnya duduk di meja utama.Heri dan Desna duduk di kursi tamu, dengan Bella di tengah mereka.Para jurnalis dari berbagai media hukum memenuhi ruangan. Kamera berjajar dalam dua baris. Peralatan siaran langsung berkedip merah.Aku duduk di kedai kopi lantai bawah sambil membuka ponsel.Siaran langsung pun dimulai.David merapikan dasinya lalu berjalan ke podium."Hadirin sekalian dari media, terima kasih sudah datang. Konferensi hari ini membahas penolakan tanpa sebab yang dilakukan mantan partner kami, Evelyn Surian, terhadap seorang kandidat luar biasa dalam proses rekrutmen kami."Dia berhenti sejenak, wajahnya mengernyit."Firma ini selalu berdiri di atas prinsip keadilan dan kebenaran. Setelah investigasi, kami memastikan bahwa Bu Evelyn menyingkirkan kandidat dengan peringkat tertingg

  • Pembalasan Untuk Nenekku yang Dikhianati   Bab 3

    Malam itu, aku melangkah masuk ke sebuah kedai kopi yang sepi.Heri duduk di kursi kulit bersandaran tinggi. Kini dia sudah tua, tubuhnya yang berisi mengenakan jas wol berwarna gelap.Namun, aku langsung mengenalinya.Wajah itu. Alis itu. Persis seperti foto pudar yang sudah kutatap selama 30 tahun."Profesor Heri."Aku duduk di hadapannya.Dia menyesap kopinya, lalu mendongak."Bu Evelyn. Aku sudah mencari tahu tentangmu. Gadis dari pedalaman Barat, tapi sudah bisa mencapai posisi sejauh ini. Mengesankan."Dia menuangkan secangkir kopi untukku."Aku juga berasal dari pedalaman Barat. Aku tahu betapa berat perjuangannya. Apa pun kekhawatiranmu, aku bisa memastikan Bella lebih dari cukup untuk memenuhi standarmu. Katakan ya, dan aku jamin masa depanmu di bidang ini akan sangat cerah."Nada suaranya ringan dan terkesan meremehkan. Ketenangan seorang pria yang sudah memegang kekuasaan selama puluhan tahun.Dia menatapku sambil tersenyum. Dia tidak tahu siapa aku. Di matanya, tidak ada se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status