Share

BAB 3 - Rapat Pengalihan Kekuasaan

“Bagaimana ini? Siapa yang dapat melanjutkan tahta kekaisaran?” tanya salah seorang Marquess yang menjadi salah satu perdana menteri istana.

“Jika pertanyaannya seperti itu tentu saja jawabannya adalah Yang Mulia Putra Mahkota,” jawab menteri yang lain.  

“Pertanyaannya adalah siapa yang akan mengisi kekosongan tahta kaisar sebelum Yang Mulia Putra Mahkota cukup umur dan layak untuk diangkat menjadi kaisar.”.

Sementara itu Adam yang masih berduka karena kematian Ayahanda dan Ibundanya harus terpaksa mengikuti rapat para manusia kapitalis ini. “Yang Mulia Putra Mahkota sudah cukup layak untuk diangkat menjadi kaisar!” jawab salah satu Viscount penjilat.

Mendengar dirinya disebut Adam mendongak dan seketika semua tatapan menuju kepadanya. Di umurnya yang sekarang Adam belum pernah mengikuti rapat secara langsung, dia tidak tahu harus melakukan apa. Hari-harinya dia gunakan untuk belajar pedang dan mempelajari teori untuk menjadi kaisar nantinya.

“I-itu . . . menurut Penasihat Edward bagaimana?” tanya Adam, dia benar-benar belum berpengalaman.

Penasihat Edward angkat suara, dia sudah menduga Adam tidak akan bisa tegas dalam pengangkatan Kaisar ini. “Para Bangsawan sekalian, pengalihan kekuasaan ini tentunya tidak bisa kita perdebatkan karena satu-satunya keturunan dari mendiang Yang Mulia Kaisar  dan Permaisuri hanya Yang Mulia Putra Mahkota. Saya paham kekhawatiran kalian semua, tetapi di sini Yang Mulia Putra Mahkota tidak sendirian, banyak para ahli istana yang akan membimbingnya menjadi Kaisar yang layak,” jelas Edward memberikan keputusannya.

Para bangsawan berdiskusi lagi terkait pendapat dari Penasihat Edward. Memang betul secara garis keturunan yang pantas meneruskan tahta kekaisaran ini adalah Adam. Pertimbangan yang ada membuat salah satu Menteri angkat suara, “Mohon izin Yang Mulia Putra Mahkota dan Penasihat Edward, saya paham betul akan peraturan dari kekaisaran ini terkait penerus kaisar. Saya sama sekali tidak meragukan Yang Mulia Putra Mahkota, hanya saja isu yang bertebaran terkait kematian mendiang Kaisar dan Permaisuri telah tersebar di seluruh penjuru. Hal itu menjadi bom waktu untuk Vanrize jika kita tidak memiliki kekuatan yang mumpuni. Jika Kaisar selanjutnya adalah Yang Mulia Putra Mahkota yang masih belum cukup umur, apakah Yang Mulia sanggup menanggung beban Vanrize yang sedang jatuh ini dan mewujudkan rasa aman pada rakyat yang kini merasa terancam?”

Pendapat yang logis dari Menteri istana membuat Adam merasa semakin tidak pantas. Dia tahu betul kemampuannya tidak ada apa-apanya, sikapnya dalam mengambil keputusan pun masih melibatkan emosi yang mana seorang pemimpin tidak diperbolehkan demikian.

“Apakah Ayahanda akan marah padaku? Apakah beliau akan malu mempunyai anak sepertiku?” seru Adam dalam hati.

“Betul apa yang dikatakan Menteri. Simpati rakyat pada Yang Mulia Putra Mahkota memang menguntungkan untuk saat ini, tetapi kita sebagai orang dewasa tidak berhak menaruh beban yang begitu besar pada Yang Mulia hanya karena dia penerus satu-satunya.”

Pendapat-pendapat yang bertentangan akan pendapat Edward bermunculan menjadi pendapat mayoritas di sana. Seruan persetujuan menggema dengan indah sampai membuat salah seorang tersenyum di sana.

Langkah kakinya kian pasti untuk memasuki ruang rapat setelah menghilang saat kematian Kaisar dan Permaisuri. Mendapat kabar meninggalnya kakaknya selaku Kaisar membuat Jean segera pulang untuk menjemput apa yang seharusnya jadi miliknya.

“Aku bersedia menanggung beban berat demi menggantikan Adam menjadi pemimpin Kekaisaran!” Suara Jean yang tiba-tiba muncul membuat ruangan rapat hening seketika.

Semua mata memandangi asal suara yang dengan arogannya datang tanpa diminta. Sepasang mata tajam dari banyaknya faksi Kaisar sebelumnya menyalang dengan ganas, tetapi yang diduga sebagai pelaku dari pembunuhan keji itu tak gentar. Dia tahu, dia akan menjadi yang paling berkuasa di sini.

“Paman ...,” gumam Adam merasa lega melihat Pamannya datang bagai penyelemat.

“Apa maksud Anda Tuan Jean. Anda, ingin menggantikan Yang Mulia Putra Mahkota sebagai pemimpin kekaisaran? Omong kosong macam apa ini?” tukas Duke Ellian dengan lantang.

Semua orang di sana terdiam melihat kekuatan besar saling bertentangan. Duke Ellian, pemilik kekuatan militer terbesar di kekaisaran Vanrize yang mana merupakan sahabat dekat Yurize tentu saja menentang kemunculan Jean untuk menjadi Kaisar.

Sementara itu Jean tersenyum dengan tenang. Dia berjalan menuju tempat duduk kosong yang harusnya diduduki kaisar.

“Kelancangan apa yang Anda lakukan Tuan Jean? Tidak diperkenankan seseorang yang bukan Kaisar menduduki kursi beliau-“ Cerrish yang menyerukan pendapatnya dicegat oleh Adam.

“S-sudahlah Cerrish, lagi pula Paman kan Kakak Ayahanda. Perginya Ayahanda membuat Paman otomatis menggantikannya, bukan?” seru Adam yang membuat banyak mata menatapnya tak percaya.

Jika Adam yang ingin mereka bela justru berada dalam genggaman Jean, mereka bisa apa? Permainan ini sudah dimenangkan oleh Jean sejak awal.

“Keponakanku Adam memang sangat pintar,” kata Jean.

“Semuanya dengarkan aku. Aku ingin menebus kesalahanku karena tidak bisa mencegah pembunuhan Kaisar dan Permaisuri. Aku merasa malu, sebagai kakaknya dan anggota keluarga kekaisaran, aku justru tidak ada di samping kalian semua saat kejadian berlangsung,” kata Jean menjelaskan penyesalannya.

Semua orang di sana tentu tidak percaya pada apa yang Jean katakan, kecuali Adam.

“Namun, kini aku akan menggunakan penyesalan itu untuk membaktikan diriku di kekaisaran ini!”

Adam merasakan hatinya tersentuh pada setiap kata yang Jean ucap. Dia tahu betul bagaimana pamannya itu merutuki dirinya karena tidak bisa melindungi Ayahanda.

“Benarkah begitu, Tuan Jean? Bukankah saat-saat ini yang Anda tunggu sepanjang hidup Anda? Menduduki kursi Kaisar dengan cara paling keji, membunuh adik Anda sendiri,” ujar salah satu menteri dengan emosi yang membara.

“Menteri! Tolong jaga perkataanmu itu, kamu sedang berbicara dengan anggota keluarga kekaisaran. Apa kamu diangkat menjadi menteri dengan perilaku seperti itu?” Adam naik pitam, suara yang sebelumnya dia redam kini meluap.

Para faksi Yurize justru merasa kecewa, mengapa saat berdebat mengenai dirinya Adam justru melimpahkannya pada Penasihat Edward, tapi saat mengenai Jean dia justru menjadi orang garda terdepan.

“Adam, tenanglah,” titah Jean memberikan senyum tenang pada Adam.

“Menteri, atas dasar apa Anda menuduh saya demikian? Apakah Anda memiliki bukti?” tanya Jean dengan nada dingin menusuk tepat pada jantung Menteri.

Rasanya Menteri itu tahu mengapa banyak orang takut pada sosok Jean, dulu dia jarang membuat tingkah, langkahnya kali ini mengejutkan satu kekaisaran. Siapa sangka Jean akan melakukan pembunuhan pada adiknya sendiri? Walaupun sebenarnya, gosip Jean sebagai dalang adalah sebuah konspirasi. Bagaimana Jean membunuh Kaisar dan Permaisuri tanpa mengotori tangannya masih menjadi sebuah misteri.

Ditanya bukti, menteri itu duduk terdiam. Dia tidak bisa berkata nyalang karena memang bukti tersebut tidak ada.

“Apakah kualitas menteri kita menurun? Bagaimana seorang menteri melayangkan tuduhan hanya berdasarkan pada konspirasi tidak berdasar?” tanya Jean yang sialnya tidak bisa dibantah oleh banyak orang di sana.

Jean menang telak.

“Baiklah, jika sudah seperti ini, kita pakai cara tercepat. Kita adakan pemungutan suara rahasia, dilakukan saat ini juga. Gallan, tolong bagikan kertasnya,” usul Jean.

Gallan, asisten Jean memberikan kertas dan pena pada setiap orang yang hadir di sana.

“Silakan tulis 1 jika kalian setuju pengangkatanku menjadi Kaisar. Tulislah X jika kalian tidak setuju.”

Semua orang di sana segera menuliskan pendapat mereka. Melihat bagaimana rapat berjalan dengan sengit menyuarakan penolakan terhadap Jean, bukankah cara ini justru akan merugikan Jean?

“Pengangkatannya sebagai Kaisar? Itu mustahil.” Setidaknya itu yang terpikirkan oleh Cerrish, Duke Ellian, dan Penasihat Edward.

Namun, siapa sangka yang mereka kira mustahil justru sebaliknya.

“Baik, saya akan menunjukkan hasilnya,” ujar Gallan ketika pemungutan suara tersebut berakhir.

Setiap kertas ditunjukkan pada publik, jadi tidak akan terindikasi adanya kecurangan dari pihak Jean.

“Hasil pemungutan suara, berjumlah 3 menolak pengangkatan Tuan Jean sebagai Kaisar, 7 setuju.”

“TIDAK MUNGKIN!”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status