LOGIN“Apa?!”Mata Jason langsung membola dengan sempurna usai mendengar nominal utang ayah Maria yang akan Jonas bayarkan.Dia lantas berdiri dari kursinya dengan gerakan refleks, telapak tangannya menekan permukaan meja kerja seolah berusaha menahan keterkejutan yang mendadak menyerangnya.Ruang kerja itu yang biasanya tenang, kini terasa penuh dengan ketegangan yang menggantung di udara.“Dua ratus juta?” ulang Jason dengan nada tidak percaya.Jonas berdiri di hadapan kakaknya dengan sikap tegap, meski raut wajahnya menunjukkan kesungguhan yang nyaris kaku.Dia tidak menghindar dari tatapan Jason, seolah sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan reaksi yang akan ia terima.Jason menyunggingkan senyum miring, bukan karena lucu, melainkan karena heran.“Bahkan ketika aku membayar Ariana dulu, jumlahnya tidak sebesar itu,” ujarnya datar namun tajam. “Namun sekarang kau ingin membayar utang ayah Maria sebanyak itu?”Jonas mengangguk pelan. “Aku hanya ingin menolong Maria,” jawabnya t
Jonas melangkah satu langkah mendekati Maria. Jarak di antara mereka kini begitu dekat, namun bukan kedekatan yang menenangkan.Ada ketegangan yang mengendap di udara, bercampur dengan rasa marah, iba, dan kepedihan yang tak terucap.Jonas menatap Maria dengan sorot mata serius, seolah sedang menimbang setiap kemungkinan yang ada di kepalanya.“Berapa jumlah utang ayahmu?” tanya Jonas akhirnya, dengan nada tegas namun tetap terkendali.Maria terkejut mendengar pertanyaan itu. Dia mengangkat kepalanya perlahan menatap Jonas sekilas, lalu segera menggeleng dengan pelan. Wajahnya memucat, dan bibirnya bergetar seolah menahan sesuatu yang sangat berat.“Aku … aku tidak sanggup mengatakannya,” jawab Maria lirih. “Utangnya terlalu banyak.”Jonas mengerutkan keningnya. “Terlalu banyak bagaimana maksudmu?” tanyanya kembali.Maria menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak.Dia menundukkan kepalanya, lalu berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar.“Ayahku terjerumus dalam banyak ha
Pagi itu, suasana rumah megah milik keluarga Jason terasa lebih tenang dari biasanya.Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar, memantulkan kilau lembut di lantai marmer yang mengilap.Di area bermain anak-anak, beberapa mainan berserakan rapi dalam keranjang besar.Maria berlutut di lantai sedang membersihkan satu per satu mainan itu dengan lap bersih, memastikan tidak ada debu yang tersisa sebelum anak-anak kembali bermain.Wajah Maria tampak tenang, meski sorot matanya menyimpan kelelahan yang tak sepenuhnya sirna.Rambutnya terikat rapi ke belakang, dan gerakannya cekatan, mencerminkan kebiasaan bertahun-tahun bekerja di rumah itu. Sesekali dia menghela napas ringan dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.Dari kejauhan, Jonas berdiri memerhatikan Maria. Ia tampak ragu untuk melangkah mendekat. Tangannya sesekali mengepal, lalu mengendur kembali.Raut wajahnya menunjukkan kegugupan yang jarang sekali dia perlihatkan. Dia lalu menarik napas dalam-dalam, se
Jason dan Jonas kini berada di ruang kerja Jason. Ruangan itu tampak tenang, dengan dinding kayu gelap yang dipenuhi rak buku dan beberapa pigura foto keluarga.Cahaya lampu meja menyinari tumpukan dokumen yang tersusun rapi di atas meja kerja besar. Jason berdiri di dekat jendela, lalu berbalik menghadap Jonas sambil melipat tangan di dadanya. Raut wajahnya serius, namun tetap tenang.“Ada apa?” tanya Jason lugas.Jonas yang berdiri di hadapannya menarik napas panjang.Dadanya naik turun cukup kentara, seolah ia sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang telah lama ia pendam.Pandangannya sempat berkeliling ruangan, sebelum akhirnya kembali tertuju pada Jason.“Aku ingin menikah,” ujar Jonas akhirnya, dengan nada suara yang mantap meski terdengar sedikit kaku.Jason terdiam sejenak. Alisnya terangkat tipis, lalu ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih santai.Tak lama kemudian, dia tertawa pelan, seolah pernyataan itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan baginya.“Kal
Dua minggu telah berlalu sejak kepulangan Ariana dari rumah sakit. Kondisinya kini semakin membaik, meski dia masih membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaga sepenuhnya.Pagi itu, suasana kamar terasa tenang. Cahaya matahari menembus tirai tipis, menerangi ruangan dengan sinar lembut.Ariana duduk bersandar di kepala ranjang dan menggendong salah satu bayi kembarnya yang tengah disusui dengan penuh kehati-hatian.Wajah Ariana tampak teduh. Setiap gerakan tangannya dilakukan dengan lembut, seolah ia takut mengganggu kenyamanan bayi mungil dalam dekapannya.Detak jantungnya terasa lebih tenang saat mendengar isapan kecil yang teratur. Momen itu menjadi saat-saat berharga yang selalu ia nantikan setiap hari.Pintu kamar terbuka perlahan. Jason melangkah masuk dengan sikap hati-hati, memastikan kehadirannya tidak mengusik ketenangan.Dia menghampiri Ariana, lalu duduk di sisi ranjang, cukup dekat hingga bahunya bersentuhan dengan bahu sang istri. Tatapannya tertuju pada bayi dalam gendong
Maria baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Jonas ketika suara langkah kaki terdengar dari arah depan rumah.Seorang pelayan datang dengan wajah sigap, lalu menyampaikan kabar bahwa dua babysitter untuk bayi kembar telah tiba. Mendengar itu, Maria menarik napas pelan, lalu menoleh ke arah Jonas.“Kita bahas ini lain kali saja,” ujar Maria dengan suara tenang namun tegas. “Aku harus mengurus mereka terlebih dahulu.”Maria hendak melangkah pergi, namun baru beberapa langkah, Jonas tiba-tiba menggenggam tangannya. Sentuhan itu membuat Maria terhenti.Dia menoleh dengan sedikit terkejut, sementara Jonas menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.“Biarkan aku yang melakukan wawancara pada mereka,” kata Jonas serius. “Aku ingin memastikan semuanya sesuai dengan kebutuhan keluarga ini.”Maria terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia memahami tanggung jawab besar yang kini berada di pundak mereka semua, terlebih menyangkut keselamatan dan kenyamanan dua bayi yang







