MasukMatahari siang itu bersinar cukup terik, memayungi gerbang sekolah internasional yang mulai dipadati oleh kendaraan jemputan.Ariana melangkah keluar dengan senyum yang tak pudar dari wajah cantiknya.Di lengan kirinya, Lucas yang masih berusia tiga tahun berada dalam gendongannya, sementara tangan kanannya menggenggam erat jemari Ethan yang berjalan dengan langkah tegap di sampingnya.“Mommy! Tadi di kelas, Lucas gambar dinosaurus yang besaaar sekali! Lehernya panjang sampai ke awan!” seru Lucas dengan mata berbinar-binar, tangan kecilnya memeragakan ukuran yang ia maksud.Ariana tertawa renyah, mengecup pipi gembul putra bungsunya itu. “Benarkah? Wah, jagoan Mommy hebat sekali. Nanti tunjukkan pada Daddy, ya? Daddy pasti bangga melihat gambar dinosaurus Lucas.”Ariana kemudian menoleh ke arah Ethan yang tampak lebih tenang, meskipun sisa-sisa keusilan masih terpancar dari wajahnya yang sangat mirip dengan Jason.“Kalau Ethan bagaimana? Kegiatan apa yang kau lakukan di kelas tadi, Sa
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Jonas. Penting!”Jonas merasakan hawa dingin yang tiba-tiba merayap di sepanjang tulang belakangnya, kontras dengan sisa kehangatan tubuh Maria yang masih tertinggal di kulitnya.Dia menjauhkan ponsel dari telinga sejenak, menatap layar yang menunjukkan durasi panggilan yang baru berjalan beberapa detik, namun atmosfer di sekitarnya sudah berubah mencekam.“Hal penting … apa?” tanya Jonas terdengar parau, berusaha menekan kegelisahan yang mendadak muncul.“Gavin benar-benar pecundang, Jonas! Bajingan tua itu membawa lari uangmu dan tidak membayarkannya kepada Ramos!” Suara Jason di seberang telepon meledak dengan nada bicara yang penuh dengan kekecewaan dan amarah yang tertahan.“Sekarang pria itu kabur entah ke mana, menghilang tanpa jejak seperti asap!”Jonas tertegun, lidahnya mendadak kelu. Ia tidak tahu harus berkata apa. Rasa bersalah mulai menghimpit dadanya karena dialah yang bersikeras memberikan cek itu langsung kepada Gavin.Dia beran
Cahaya matahari pagi yang hangat menyeruak masuk melalui celah gorden vila mewah di tepi pantai itu, menyirami permukaan tempat tidur yang berantakan dengan rona keemasan.Namun, kehangatan mentari tak sebanding dengan suhu yang meningkat drastis di dalam kamar tersebut.Jonas dan Maria masih terperangkap dalam jaring gairah yang jauh lebih intens dibandingkan malam-malam sebelumnya.Pagi itu, tidak ada kata-kata lembut yang memulai segalanya. Hanya tatapan mata yang dalam, yang kemudian berubah menjadi serangan ciuman lapar yang seolah ingin menelan satu sama lain.Jonas mengunci tubuh Maria di bawah kungkungannya, sementara tangannya menelusuri setiap inci lekuk tubuh istrinya dengan pemujaan yang posesif.“Kau terlihat jauh lebih menggoda di bawah sinar matahari pagi ini, Maria,” bisik Jonas dengan suara berat dan serak, napasnya yang panas menerpa permukaan kulit leher Maria, mengirimkan gelombang elektrik yang membuat wanita itu meremang.Maria membalasnya dengan tarikan napas pe
Di sebuah ruang kerja yang luas namun pengap oleh aroma cerutu dan kemarahan, Ronald Alexander berdiri dengan napas memburu.Keheningan ruangan itu baru saja pecah oleh dentuman keras saat Ronald menggebrak permukaan meja mahoninya dengan segenap tenaga.Wajahnya yang biasa terlihat licin dan sombong, kini memerah padam dengan urat-urat yang menonjol di pelipis.“Apa kau bilang?! Ulangi sekali lagi!” teriak Ronald dan suaranya menggelegar menembus dinding kedap suara ruangan tersebut.Anak buahnya yang berdiri di hadapannya tertunduk dalam, tubuhnya gemetar ketakutan.“Maaf, Tuan Muda. Kami sudah mendatangi kediaman Gavin, namun rumah itu sudah kosong melompong. Gavin melarikan diri entah ke mana. Kami juga memantau rumah Tuan Jason, namun Maria tidak terlihat di sana.”Ronald menarik napas kasar, matanya melotot tajam. “Lalu di mana wanita itu? Dia seharusnya sudah berada di bawah pengawasanku sekarang!”“Informan kami melaporkan bahwa Maria dan Jonas sedang bepergian jauh, Tuan. Dan
Pagi itu, kediaman keluarga Lubis diselimuti oleh pancaran sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela besar di ruang makan.Ariana baru saja menyesap kopi hangatnya ketika ponsel yang terletak di atas meja marmer bergetar hebat. Sebuah notifikasi panggilan video muncul di layar, menampilkan nama Maria.Tanpa membuang waktu, Ariana menggeser ikon hijau dan segera memasang wajah pura-pura galak begitu wajah cantik Maria muncul di layar.“Maria! Apa-apaan ini?” semprot Ariana seketika, meski binar jenaka terpancar dari matanya.“Bisa-bisanya kau menghubungi aku di saat kau seharusnya sedang menikmati setiap detik bulan madumu? Letakkan ponselmu dan kembalilah pada Jonas. Jangan menggangguku!”Di seberang sana, Maria justru terkekeh mendengar omelan yang sudah dia duga sebelumnya.Latar belakang video memperlihatkan hamparan pantai berpasir putih dengan air laut biru jernih yang memanjakan mata.“Maaf, Ariana,” jawab Maria di sela tawa kecilnya. “Aku hanya tidak tahan untuk tidak
Pukul sebelas malam, di kediaman keluarga Lubis telah tenggelam dalam keheningan yang dalam, namun di kamar utama, atmosfernya justru memanas dengan tegangan yang berbeda.Jason masih bersandar pada kepala tempat tidur, kacamata bertengger di hidungnya sementara matanya terpaku pada layar tablet yang menampilkan grafik saham dan laporan hukum.Namun, fokus pria itu pecah berkeping-keping saat pintu balkon yang sedikit terbuka membawa semilir angin, diikuti oleh aroma parfum vanila dan melati yang sangat ia kenal.Ia mendongak, dan sedetik kemudian, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.Ariana berdiri di sana, hanya beberapa langkah dari tempat tidur. Cahaya lampu tidur yang temaram membiaskan bayangan yang menggoda pada tubuhnya.Dia mengenakan lingerie hitam transparan dari bahan lace halus yang nyaris tidak menyembunyikan apa pun dari lekuk tubuhnya yang indah.Potongan kain itu begitu berani, hingga mengekspos kulit putihnya yang kontras dengan warna gelap bahan tersebut.Jason







