Share

Bab 2

Penulis: Dhiena
Aditya menatap kain lap di tangannya, wajahnya menunjukkan campuran kebingungan, bengong, dan kacau. "Iya. Kalau tidak nggak, mengepel lantai, menyapu, mencuci pakaian, atau pekerjaan rumah lainnya juga boleh. Kamu lihat saja mau mengerjakan yang mana."

Dia bertanya dengan tidak percaya. "Tunggu dulu, kamu beli aku hanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah?"

Aku mengedipkan mata. "Iya. Kalau nggak, untuk apa lagi?"

Detik berikutnya, suara aneh di tenggorokan iblis laki-laki itu mendadak terhenti.

....

Benar. Aku membeli Aditya untuk membantuku mengerjakan pekerjaan rumah.

Ide bagus ini kudapat secara tidak sengaja saat mendengar obrolan rekan kerja. Rekan kerjaku juga membeli iblis laki-laki lewat internet. Dia sering memuji iblis laki-laki di rumahnya yang rajin dan penurut, selalu memasak, mencuci pakaian, dan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah untuknya, sampai dia bahagia setengah mati setiap malam.

Entah mengapa, rekan kerja lainnya tertawa aneh. Aku yang agak lambat menangkap maksudnya, hanya mendengar sebuah kata kunci. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah.

Mataku langsung berbinar. Aku ini budak kerja yang setiap hari terlalu sibuk sampai tidak punya waktu membereskan rumah. Rumahku sudah berantakan. Hal itu benar-benar membuatku pusing.

Jadi, memiliki iblis laki-laki yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah jelas sangat menguntungkan.

Itulah alasan aku memesan Aditya, yang paling bisa diandalkan.

Melirik sosok tinggi yang sedang mencuci piring di dapur dengan wajah dingin, aku pun pergi tidur dengan nyaman.

Selama sepekan berikutnya, iblis laki-laki yang andal ini mulai menundukkan kepala dan fokus membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Awalnya masih agak canggung, tapi dalam dua hari sudah terbiasa. Dia sangat pintar.

Aku bangun tidur, dia membantuku melipat selimut. Aku mencuci muka, dia menyerahkan handuk. Aku pulang kerja, makan malam yang melimpah sudah siap di meja.

Sebelum tidur malam, bahkan ada layanan menghangatkan ranjang. Saat berbaring di selimut yang sudah dihangatkan oleh aroma tubuh dan suhu badannya, aku menghela napas panjang dengan puas. Rasanya seluruh tubuhku jadi lemas.

Bagus ... bagus sekali ....

Tidak heran harganya paling mahal, iblis laki-laki ini benar-benar sepadan dan sangat praktis. Satu-satunya hal yang membuatku bingung adalah Aditya selalu mengeluarkan suara "gur ... gur ..." dari tenggorokannya.

Awalnya aku mengira itu karena dia masih baru di sini, merasa takut atau gugup. Namun sebulan berlalu, dia tetap saja terus bersuara. Setiap malam dia hanya berbaring di samping tempat tidurku, tidak bicara, juga tidak bermain sendiri.

Dia hanya menatapku tanpa berkedip. Ekornya yang cantik menyapu lantai pelan. Terlihat sangat murung dan menyedihkan.

Dengan khawatir aku menyentuh dahi Aditya. Panas. Jangan-jangan iblis laki-laki ini terkena penyakit serius?

Aku buru-buru menepuk sisi tempat tidurku. "Aditya, hari ini jangan tidur di lantai. Tidur di sebelahku."

"Aku boleh tidur di tempat tidur?" Aditya tertegun.

Dengan perasaan iba aku menggenggam tangannya. "Tentu saja boleh. Mulai sekarang kamu selalu tidur di sebelahku."

Setelah mendapat izin, Aditya memeluk selimutnya lalu berbaring di sampingku. Seekor iblis laki-laki yang cantik dan dingin berbaring di atas bantal pink milikku. Wajahnya tetap tegas dan indah. Pemandangan itu benar-benar memanjakan mata. Tanpa sadar tenggorokanku terasa kering.

Hanya saja, dia tetap bersuara dan suhu tubuhnya masih panas berlebihan.

"Aditya, hari ini kamu istirahat saja. Besok nggak perlu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan."

"Tapi kamu akan lapar."

"Aku bisa keluar beli telur gulung saja."

"Makanan begituan nggak higienis. Aku yang masakkan untukmu." Dia menatapku. Atau lebih tepatnya, menatap bibirku yang bergerak saat berbicara, dengan sorot mata gelap yang tertahan.

Aku yang kurang peka, malah sibuk terharu. 'Huhu. Kenapa bisa ada iblis laki-laki yang begitu penurut dan perhatian?'

Ini pasti salahku yang ceroboh karena tidak merawat dia dengan baik sampai dia sakit dan menderita. Aku merasa bersalah, tanpa sadar aku mendekat dan mengecup keningnya sebagai ungkapan penyesalan.

Bulu mata Aditya bergetar halus.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 10

    Saat ini, dia menatapku dengan tajam, seperti arwah yang menyeramkan."Yuri, berani-beraninya kamu menelantarkanku?"Gawat. Ketahuan.Aku buru-buru ingin menutup pintu dan berpura-pura sedang berjalan sambil tidur, tetapi Aditya langsung mengangkat kakinya dan masuk.Dia tidak mengerahkan banyak tenaga, tetapi langsung menekanku ke dinding."Mau lari ke mana? Menelantarkanku saja sudah keterlaluan, masih berani membeli iblis laki-laki lain? Yuri, waktu aku pergi, seharusnya aku mengikat majikan berhati hitam sepertimu dengan tali anjing dan membawamu pergi."Dia mengancam dengan dingin. Satu tangannya mencekik leherku, seolah-olah sedang mengukur berapa panjang tali anjing yang dibutuhkan untuk mengikatku.Hanya saja .... Gur ... gur .... Di tengah ancaman ganas iblis laki-laki itu, terselip bunyi yang sulit ditahan. Panjang dan terasa familier.Aku yang tadinya mengernyit dan hampir berlutut memohon ampun, langsung menatapnya dengan tak percaya.Dia berbunyi, artinya dia lapar. Itu ju

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 9

    Ekspresiku menegang. Seketika, aku menyadari sesuatu.Kalau setelah memulihkan ingatannya, Aditya merasa bahwa mencuci kaus kaki, mencuci celana dalam, plus mengerjakan segala macam pekerjaan rumah adalah sebuah penghinaan, apakah dia akan datang mencariku untuk menuntut balas dendam?Jawabannya adalah ... iya.Kemungkinan besar dia akan mencincangku, si manusia tak berguna ini, lalu memberikannya kepada anjing untuk melampiaskan amarah.Aku langsung menghubungi pemilik kontrakan. Untuk apa? Tentu saja mengakhiri sewa dan kabur! Kalau tidak, mau menunggu digigit Aditya sampai mati?Aku pindah dari rumah lamaku dengan pontang-panting. Untungnya, dulu saat Aditya tinggal bersamaku, aku hanya sibuk menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah atau bermesraan dengannya, tidak pernah memberi tahu lokasi tempat kerjaku secara detail. Jadi dalam waktu singkat, dia seharusnya tidak bisa menemukanku.Setelah bersembunyi dan bertahan hidup beberapa waktu, tetap tidak ada yang datang mencariku untuk m

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 8

    "Baik."Aditya melepas atasannya dengan patuh. Di bawah lampu kamar tidur berwarna kuning hangat, tubuhnya yang bagus terlihat sepenuhnya.Perut six pack dan pinggang ramping. Garis V memanjang masuk ke bagian tersembunyi celana tidur…Aku menelan ludah. Jantungku berdegup begitu keras. Untuk sesaat, suaraku bahkan lebih keras daripada suara Aditya yang biasanya."Sudah.""Celana ... celananya juga dilepas. Iblis laki-laki yang baik harus tahu diri, ngerti?""Yuri."Dia tidak bergerak, malah mengangkat pandangan dan menatapku lekat-lekat. Kemudian, dia menarik tanganku dan meletakkannya di tali serut celananya."Kamu yang lepaskan, karena segala sesuatu tentangku adalah milikmu.""Tuanku."Satu panggilan yang melambangkan penyerahan diri itu langsung membuat kakiku lemas. Dengan gemetar, aku mengulurkan tangan.....Permainan gila berlangsung sepanjang malam. Untungnya, keesokan harinya hari Sabtu, jadi aku tidak perlu khawatir bangun kesiangan dan dipotong uang kehadiran.Namun, saat

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 7

    Aditya setampan itu, mana tega aku membiarkannya menjalani hari-hari susah bersamaku.Datanglah rezeki. Datanglah rezeki besar buatku!Sambil terus merapal doa agar cepat kaya, aku pulang ke rumah. Namun, saat aku tiba, aku mendapati rumah gelap gulita. Lampu tidak menyala.Iblis laki-lakiku pergi beli sayur? Bukannya sudah kubilang agar dia patuh di rumah dan jangan keluyuran?Aku berbalik hendak pergi ke pasar di depan kompleks untuk mencarinya, tetapi begitu menoleh, aku tepat berpapasan dengan Aditya yang sedang naik ke lantai atas. Saat melihatku, ekspresinya tampak agak aneh."Kamu sudah pulang?"Aku mengangguk, lalu bertanya dengan santai, "Kamu ke mana? Kok nggak di rumah?""Aku keluar beli sayur.""Hah? Terus sayurnya?"Aku menatap iblis laki-laki itu dengan curiga. Kedua tangannya kosong.Aditya terdiam sejenak, lalu meminta maaf, "Maaf, aku akan pergi beli lagi."Sambil berkata begitu, dia berbalik, hendak turun tangga dan keluar lagi. Aku menariknya dan berkata dengan lembu

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 6

    Tentu saja tidak akan ditelantarkan. Kalau harus memakai satu jenis hewan untuk menggambarkan Aditya, pria ini seperti kucing tabi. Dingin, punya pendirian sendiri. Untung dia tidak berniat meninggalkanku.Manusia berpenampilan biasa dan miskin sepertiku bisa ditemani iblis laki-laki setampan ini …. Jelas sangat beruntung.Keesokan harinya sebelum berangkat kerja, aku tiba-tiba merasa enggan meninggalkan ranjang yang hangat. Sebelumnya mungkin aku hanya menganggap Aditya sebagai rekan yang membantu pekerjaan rumah.Namun, sejak semalam aku berciuman dengannya, perasaan itu jelas berubah. Bertambah satu rasa posesif yang tak terlukiskan."Aditya, akhir-akhir ini di luar agak kacau. Jangan keluyuran. Iblis laki-laki setampan kamu pasti akan ditangkap manusia jahat dan dijual ke orang lain. Aku sudah nggak punya uang lagi untuk membelimu.""Oke.""Untuk bahan makanan, aku saja yang beli sepulang kerja atau aku temani kamu belanja.""Oke."Aditya menanggapi dengan wajah dingin seperti bias

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 5

    Akibat memanjakan iblis laki-laki, bibirku dicium sampai bengkak, bahkan lidahku juga terluka sedikit. Tidak bicara saja sudah terasa sakit. Sementara pelaku utamanya memegang kantong es untuk membantuku mengempiskan bengkaknya.Aditya yang sudah kenyang kembali ke sikapnya yang dingin dan pendiam. "Masih sakit?""Nggak." Aku menggeleng sambil tersipu. Tanganku masih mencubit ringan ekornya. Lagi pula, aku yang tidak tahu malu ini barusan juga menikmati ciumannya sampai puas.Iblis laki-laki memang mengerikan, terlalu pandai membuat manusia kehilangan akal sehat. Sungguh menggoda jiwa, membuat orang ingin menyingkirkan segalanya, sampai pikiran hanya dipenuhi keinginan untuk bermesraan dan bermain bersama mereka.Mengingat adegan barusan yang menegangkan dan membuat jantung berdebar, aku terbatuk pelan, memulihkan kewarasanku dengan susah payah. Harus yang polos dulu. Kalau tidak, aku takut tidak bisa menahan diri untuk bertindak tak senonoh."Aditya, kalian para iblis laki-laki begitu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status