Share

Pembantu Tampan Tak Kasat Mata
Pembantu Tampan Tak Kasat Mata
Penulis: Dhiena

Bab 1

Penulis: Dhiena
Aku menghabiskan banyak uang di internet untuk membeli seekor iblis laki-laki. Di detail produk tertulis bahwa iblis laki-laki ini tampan, dingin, dengan perut six-pack dan pinggang ramping. Yang paling penting, dia hebat. Sifat ini benar-benar tepat mengenai seleraku. Tanpa banyak ragu, aku langsung membayarnya.

Namun baru saja selesai memesan, layanan pelanggan malah menghubungiku lewat pesan pribadi.

[ Kak, kamu ada di sana? ]

[ Hah? Kenapa? ]

[ Begini, iblis laki-laki yang kamu pilih barusan memang punya penampilan yang bagus, tapi sifatnya agak dingin. Selain itu, karena sudah memasuki masa dewasa, stamina dia juga agak kuat. ]

[ Kalau kamu nggak bisa menerima tipe seperti ini, aku sarankan kamu mengajukan pengembalian dana dulu. Toko kami bisa merekomendasikan iblis laki-laki tipe lembut. ]

Aku membalas.

[ Nggak perlu. Tipe dingin dan hebat seperti ini justru yang sedang sangat aku butuhkan. ]

Mendengar hal itu, layanan pelanggan mengirimkan satu kalimat doa yang maknanya agak sulit ditebak.

[ Baik Kak, kalau begitu iblis laki-laki ini akan tiba di rumahmu tepat waktu. Semoga kamu dan dia menjalani kehidupan yang bahagia setiap hari. ]

Beberapa hari kemudian.

Seekor iblis laki-laki dengan bahu lebar, pinggang ramping, dan wajah dingin mengetuk pintu rumahku. Saat melihatnya untuk pertama kali, pikiranku sempat kosong sesaat.

Penampilan iblis laki-laki memang terkenal luar biasa cantik dan menawan. Itu adalah hal yang diketahui semua manusia. Akan tetapi, bukankah ini terlalu tampan? Kalau tidak tahu latar belakangnya, orang bisa saja mengira ada tuan muda bangsawan yang dingin dan anggun, entah kenapa memilih turun ke dunia fana.

"Majikan." Iblis laki-laki itu memanggilku lebih dulu dengan suara dingin dan datar. Namun, suaranya menggelitik telingaku hingga terasa gatal dan menggelikan.

Aku mengibaskan tangan dengan canggung. "Ng ... nggak usah panggil aku majikan. Panggil saja aku Yuri. Oh ya, apakah kamu punya nama?"

"Namaku Aditya."

Sambil berkata demikian, Aditya mengulurkan ekornya ke arahku. Seekor ekor dengan hiasan hati kecil di ujungnya. Sangat indah.

"Sesuai ketentuan, kamu perlu memegang ekorku agar pesanan ini dianggap sudah diterima."

"Oh, oh." Aku buru-buru memegang ekornya.

Permukaannya licin dan lembut, rasanya enak di tangan seperti mainan. Tanpa sadar, aku meremasnya pelan.

"Hm ...." Aditya langsung mengeluarkan dengusan tertahan.

Mengira aku terlalu kuat sampai membuat dia kesakitan, aku buru-buru melepaskan ekornya dan meminta maaf. "Maaf, apa aku membuatmu sakit?"

Aditya menunduk menatapku, jakunnya bergerak pelan, dari tenggorokannya samar-samar terdengar suara aneh. "Gur ... gur ...."

"Nggak, hanya saja aku belum siap."

"Oh, syukurlah, syukurlah."

Mengira suara itu muncul karena dia terlalu gugup, aku segera menenangkannya, "Jangan tegang, nanti kamu masih perlu melakukan banyak pekerjaan yang menguras tenaga."

"Kalau kamu menginginkannya, sebenarnya sekarang juga bisa."

"Sekarang?"

Aku sedikit ragu. "Hm ... ya, boleh juga."

"Baik."

Suara aneh dari tenggorokan Aditya terdengar makin jelas.

....

Aku mengangkat tangan dan menarik lengannya dengan lembut. "Kenapa kamu masih setegang ini? Nggak apa-apa, nanti setelah mulai dikerjakan pasti nggak tegang lagi. Ikut aku dulu."

Dia menurut dan mengikutiku ke dapur. Lalu ekspresinya terhenti.

"Di dapur? Iya, di dapur. Kenapa, kamu lebih suka mulai dari kamar tidur?" Aku bertanya dengan penuh perhatian. Tatapannya menjadi makin dalam dan panas. "Dapur saja."

Aku mengangguk, lalu berbalik. Kemudian di bawah tatapannya yang membara, aku menyelipkan kain lap baru ke tangannya. Dengan suara lembut aku berkata, "Baiklah, Aditya. Hari ini mau merepotkan kamu untuk membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci piring seharusnya bisa, 'kan?"

"Cu ... cuci piring?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 10

    Saat ini, dia menatapku dengan tajam, seperti arwah yang menyeramkan."Yuri, berani-beraninya kamu menelantarkanku?"Gawat. Ketahuan.Aku buru-buru ingin menutup pintu dan berpura-pura sedang berjalan sambil tidur, tetapi Aditya langsung mengangkat kakinya dan masuk.Dia tidak mengerahkan banyak tenaga, tetapi langsung menekanku ke dinding."Mau lari ke mana? Menelantarkanku saja sudah keterlaluan, masih berani membeli iblis laki-laki lain? Yuri, waktu aku pergi, seharusnya aku mengikat majikan berhati hitam sepertimu dengan tali anjing dan membawamu pergi."Dia mengancam dengan dingin. Satu tangannya mencekik leherku, seolah-olah sedang mengukur berapa panjang tali anjing yang dibutuhkan untuk mengikatku.Hanya saja .... Gur ... gur .... Di tengah ancaman ganas iblis laki-laki itu, terselip bunyi yang sulit ditahan. Panjang dan terasa familier.Aku yang tadinya mengernyit dan hampir berlutut memohon ampun, langsung menatapnya dengan tak percaya.Dia berbunyi, artinya dia lapar. Itu ju

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 9

    Ekspresiku menegang. Seketika, aku menyadari sesuatu.Kalau setelah memulihkan ingatannya, Aditya merasa bahwa mencuci kaus kaki, mencuci celana dalam, plus mengerjakan segala macam pekerjaan rumah adalah sebuah penghinaan, apakah dia akan datang mencariku untuk menuntut balas dendam?Jawabannya adalah ... iya.Kemungkinan besar dia akan mencincangku, si manusia tak berguna ini, lalu memberikannya kepada anjing untuk melampiaskan amarah.Aku langsung menghubungi pemilik kontrakan. Untuk apa? Tentu saja mengakhiri sewa dan kabur! Kalau tidak, mau menunggu digigit Aditya sampai mati?Aku pindah dari rumah lamaku dengan pontang-panting. Untungnya, dulu saat Aditya tinggal bersamaku, aku hanya sibuk menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah atau bermesraan dengannya, tidak pernah memberi tahu lokasi tempat kerjaku secara detail. Jadi dalam waktu singkat, dia seharusnya tidak bisa menemukanku.Setelah bersembunyi dan bertahan hidup beberapa waktu, tetap tidak ada yang datang mencariku untuk m

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 8

    "Baik."Aditya melepas atasannya dengan patuh. Di bawah lampu kamar tidur berwarna kuning hangat, tubuhnya yang bagus terlihat sepenuhnya.Perut six pack dan pinggang ramping. Garis V memanjang masuk ke bagian tersembunyi celana tidur…Aku menelan ludah. Jantungku berdegup begitu keras. Untuk sesaat, suaraku bahkan lebih keras daripada suara Aditya yang biasanya."Sudah.""Celana ... celananya juga dilepas. Iblis laki-laki yang baik harus tahu diri, ngerti?""Yuri."Dia tidak bergerak, malah mengangkat pandangan dan menatapku lekat-lekat. Kemudian, dia menarik tanganku dan meletakkannya di tali serut celananya."Kamu yang lepaskan, karena segala sesuatu tentangku adalah milikmu.""Tuanku."Satu panggilan yang melambangkan penyerahan diri itu langsung membuat kakiku lemas. Dengan gemetar, aku mengulurkan tangan.....Permainan gila berlangsung sepanjang malam. Untungnya, keesokan harinya hari Sabtu, jadi aku tidak perlu khawatir bangun kesiangan dan dipotong uang kehadiran.Namun, saat

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 7

    Aditya setampan itu, mana tega aku membiarkannya menjalani hari-hari susah bersamaku.Datanglah rezeki. Datanglah rezeki besar buatku!Sambil terus merapal doa agar cepat kaya, aku pulang ke rumah. Namun, saat aku tiba, aku mendapati rumah gelap gulita. Lampu tidak menyala.Iblis laki-lakiku pergi beli sayur? Bukannya sudah kubilang agar dia patuh di rumah dan jangan keluyuran?Aku berbalik hendak pergi ke pasar di depan kompleks untuk mencarinya, tetapi begitu menoleh, aku tepat berpapasan dengan Aditya yang sedang naik ke lantai atas. Saat melihatku, ekspresinya tampak agak aneh."Kamu sudah pulang?"Aku mengangguk, lalu bertanya dengan santai, "Kamu ke mana? Kok nggak di rumah?""Aku keluar beli sayur.""Hah? Terus sayurnya?"Aku menatap iblis laki-laki itu dengan curiga. Kedua tangannya kosong.Aditya terdiam sejenak, lalu meminta maaf, "Maaf, aku akan pergi beli lagi."Sambil berkata begitu, dia berbalik, hendak turun tangga dan keluar lagi. Aku menariknya dan berkata dengan lembu

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 6

    Tentu saja tidak akan ditelantarkan. Kalau harus memakai satu jenis hewan untuk menggambarkan Aditya, pria ini seperti kucing tabi. Dingin, punya pendirian sendiri. Untung dia tidak berniat meninggalkanku.Manusia berpenampilan biasa dan miskin sepertiku bisa ditemani iblis laki-laki setampan ini …. Jelas sangat beruntung.Keesokan harinya sebelum berangkat kerja, aku tiba-tiba merasa enggan meninggalkan ranjang yang hangat. Sebelumnya mungkin aku hanya menganggap Aditya sebagai rekan yang membantu pekerjaan rumah.Namun, sejak semalam aku berciuman dengannya, perasaan itu jelas berubah. Bertambah satu rasa posesif yang tak terlukiskan."Aditya, akhir-akhir ini di luar agak kacau. Jangan keluyuran. Iblis laki-laki setampan kamu pasti akan ditangkap manusia jahat dan dijual ke orang lain. Aku sudah nggak punya uang lagi untuk membelimu.""Oke.""Untuk bahan makanan, aku saja yang beli sepulang kerja atau aku temani kamu belanja.""Oke."Aditya menanggapi dengan wajah dingin seperti bias

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 5

    Akibat memanjakan iblis laki-laki, bibirku dicium sampai bengkak, bahkan lidahku juga terluka sedikit. Tidak bicara saja sudah terasa sakit. Sementara pelaku utamanya memegang kantong es untuk membantuku mengempiskan bengkaknya.Aditya yang sudah kenyang kembali ke sikapnya yang dingin dan pendiam. "Masih sakit?""Nggak." Aku menggeleng sambil tersipu. Tanganku masih mencubit ringan ekornya. Lagi pula, aku yang tidak tahu malu ini barusan juga menikmati ciumannya sampai puas.Iblis laki-laki memang mengerikan, terlalu pandai membuat manusia kehilangan akal sehat. Sungguh menggoda jiwa, membuat orang ingin menyingkirkan segalanya, sampai pikiran hanya dipenuhi keinginan untuk bermesraan dan bermain bersama mereka.Mengingat adegan barusan yang menegangkan dan membuat jantung berdebar, aku terbatuk pelan, memulihkan kewarasanku dengan susah payah. Harus yang polos dulu. Kalau tidak, aku takut tidak bisa menahan diri untuk bertindak tak senonoh."Aditya, kalian para iblis laki-laki begitu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status