LOGINAku tidak sempat berpikir panjang. Ketika Nathaniel melangkah keluar dan mobil hitamnya mulai bergerak meninggalkan halaman, tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Tanpa ragu, aku berlari mengejarnya. Sepatu hakku berdentum keras di anak tangga, lalu bergema di aspal yang dingin. "Nathaniel! Tunggu!" Suaraku pecah di udara malam. Mobil itu melambat, lalu berhenti dengan lampu rem yang menyala merah. Pintu belakang terbuka dari dalam, dan tanpa ragu aku meluncur masuk, duduk di sebelahnya dengan napas yang masih memburu. Nathaniel menatapku dengan tatapan bingung, satu tangannya masih bertengger di setir. "Sera? Kau..." "Ayah mengizinkanku ikut denganmu," kataku, masih berusaha mengatur napas. Nathaniel terdiam sejenak. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya—semacam kelegaan yang tertahan, sebuah ketegangan yang akhirnya terurai. Kemudian, senyum tipis terukir di bibirnya. Tanpa berkata apa-apa, dia menarikku ke dalam pelukan di kursi belakang yang luas. Lengan kekarnya me
Aku duduk di meja makan malam yang terlalu besar untuk tiga orang. Ayah di ujung meja, Ethan di sisi kirinya. Aku di sebelah kanan, tepat di depan kursi kosong yang biasanya diisi tamu.Mereka berdua diam.Bukan diam yang nyaman. Diam yang penuh kata-kata tidak terucap. Ayah memotong dagingnya dengan gerakan lambat, Ethan menggulir sesuatu di tablet sambil sesekali mengangguk pada ayah. Pembicaraan bisnis. Saham, merger, kerugian yang diderita perusahaan Voss sejak skandal meledak. Namaku tidak disebut, tapi setiap angka yang mereka bicarakan terasa seperti tamparan.Aku makan pelan. Nasi terasa hambar, sayuran seperti kapas. Sejak dikunci di kamar kemarin, nafsu makanku belum kembali sepenuhnya. Tapi aku memaksa diri. Ethan sempat melirikku tadi, memberi isyarat agar aku makan. Aku menurut.“Proyeksi kuartal depan turun 18 persen. Investor asing mulai menarik diri. Mereka menunggu pernyataan resmi dari keluarga," kata Ethan.Ayah mengangguk tanpa menoleh. “Kita keluarkan pernyataan m
Derek memarkir mobilnya di basement gedung itu dengan kasar. Mesin dimatikan, tapi dia masih duduk diam beberapa detik, tangan mencengkeram setir. Seharian penuh dia bertemu pengacara, mencoba menarik dana yang dibekukan, mencoba menyangkal laporan korupsi. Semuanya buntu. Nama Whitmore yang dulu membuka setiap pintu kini menjadi tembok.Dia naik lift ke lantai 48. Pintu penthouse terbuka otomatis saat kartu aksesnya didekatkan tapi hanya untuk beberapa detik. Di dalam, suasana sudah berbeda. Tidak ada lampu menyala. Perabotan masih ada, tapi terasa kosong.Anita berdiri di koridor luar, bayi laki-laki itu digendong di dada, dibungkus selimut tebal. Wajahnya pucat, mata merah. Di sampingnya ada dua koper besar dan tas bayi.“Mereka datang pagi ini. Orang-orang dari pengadilan. Mereka bilang tempat ini disita. Aset perusahaan. Kita harus keluar sebelum sore.”“Apa?”“Penthose ini sudah bukan milik kita lagi. Mereka kasih waktu sampai jam enam," kata Anita.Derek mengusap wajahnya kasar
Author'sNathaniel duduk di kursi belakang mobil yang sedang melaju kencang menuju gedung kantor pusat. Wajahnya tenang, tapi jari-jarinya mengetuk-ngetuk lutut dengan tidak sabar. Dia mencoba nomor Sera untuk yang kelima kalinya pagi itu. Nada sibuk. Lalu pesan otomatis: nomor tidak aktif.Dia menghela napas, lalu menekan nama lain di daftar kontak. Harisson Voss.Layar ponsel menyala. Beberapa detik kemudian wajah Harisson muncul. Latar belakangnya ruang kerja di rumah, tirai masih tertutup.“Nathaniel,” sapa Harisson datar. Tidak ada basa-basi.“Kenapa nomor Sera tidak aktif? Aku sudah mencoba sejak tadi pagi. Apa yang kau lakukan?”Harisson menatap kamera tanpa berkedip. “Jangan menghubunginya lagi.”Nathaniel mengangkat alis. “Kekanakan sekali, kau mengunci anakmu sendiri di kamar dan mematikan nomornya? Kita bukan hidup di abad ke-19.”“Orang gila mana yang meniduri menantunya sendiri? Kau yang kekanakan. Kau yang tidak tahu malu. Kau seumuran denganku, kau seharusnya menjadi co
Ponselku bergetar di atas meja nakas. Aku masih terbungkus selimut, tubuh telanjang masih hangat oleh sisa-sisa malam bersama Nathaniel, saat nama “Ethan” muncul di layar. Aku ragu sejenak sebelum mengangkatnya.“Sera.” Suara kakakku terdengar serak, seolah dia tidak tidur semalaman. “Pulang sekarang. Setidaknya jangan melarikan diri.”Aku duduk, selimut turun ke pinggang. “Aku tidak melarikan diri, aku hanya butuh waktu.”“Ayah sakit.”Dua kata itu membuat darahku seolah berhenti. “Apa?”“Ayah sakit, dokter bilang tekanan darahnya naik drastis sejak kemarin. Dia tidak mau dirawat di rumah sakit. Dia hanya diam di rumah. Pulang lah ke rumah sebelum semuanya lebih parah.”Aku menelan ludah. “Aku segera pulang.”Telepon terputus. Aku duduk mematung beberapa detik, lalu menoleh ke Nathaniel yang sudah berdiri di ambang pintu balkon, masih bertelanjang dada, rokok di jari.“Ethan bilang ayahku sakit. Aku harus pulang.”Nathaniel mematikan rokok, masuk, lalu mengangguk sekali. “Aku antar.
SERA'S POV.Aku terjaga di antara seprai yang masih berantakan. Selimut tebal hanya menyisakan dada ke atas, menyisakan kulit telanjangku yang masih lengket oleh keringat dan sisa-sisa malam tadi.Aku menoleh pelan, menatap sekeliling kamar. Dindingnya berwarna krem hangat, perabotan kayu gelap yang minimalis tapi mahal. Ada vas bunga kosong di meja nakas, cermin besar di sudut, dan pintu kaca yang terbuka ke balkon. Bau rokok samar masuk bersama angin pagi.Nathaniel berdiri di luar, punggungnya menghadapku. Bahu bidangnya masih telanjang, celana longgar digantung rendah di pinggang. Asap rokok mengepul pelan dari jarinya, terbawa angin menuju pepohonan. Dia terlihat tenang, terlalu tenang untuk pria yang kemarin baru saja menghancurkan segalanya di ruang rapat.Aku menarik selimut lebih tinggi, menutupi dada. Tubuhku masih pegal, terutama di antara paha, pengingat jelas bahwa beberapa jam lalu aku membiarkan dirinya mengisi setiap bagian diriku tanpa ampun.Nathaniel mematikan rokok







